My Experience With Unit Link 2

Memahami Lebih Dalam Tentang Unit Link

Sebelum membaca lebih lanjut tentang artikel ini, saya mau mempertegas disclaimer yang biasanya dipasang pada bagian akhir artikel. Tulisan ini bukan merupakan rekomendasi untuk membeli atau tidak membeli produk tertentu. Jadi ketika saya menggunakan contoh produk nyata sebagai materi pembahasan, bukan berarti saya merekomendasikan untuk membeli produk tersebut ataupun untuk tidak membelinya. Semua contoh yang saya lampirkan adalah fakta untuk mendukung tulisan.

Untuk memulai artikel ini saya ingin memulainya dengan contoh nyata dengan sebuah unit link yang keluarga saya miliki. Tulisan ini juga merupakan sambungan dari tulisan sebelumnya yang berjudul My Experience With Unit Link.

Ilustrasi Asuransi

Pada bulan Maret 2013 saya mengambil unit link untuk istri saya dengan keterangan sebagai berikut :

  • Pembayaran premi sekaligus Rp 6 juta per tahun
  • Manfaat yang diperoleh:
    • Asuransi Jiwa Rp 148 juta
    • Asuransi Penyakit Kritis Rp 400 juta
    • Asuransi Kecelakaan Rp 35 juta
    • Pru Waiver Rp 6 juta hingga usia 65*
  • Tanggal pembayaran saya agak lupa, tapi mungkin sekitar tanggal 15 an. IHSG waktu itu di 4819

Kemudian karena suatu hal, saya mengubah uang pertanggungan. Alasan lengkapnya bisa dibaca di buku kedua saya dengan data yang lebih update daripada blog di Fit Focus Finish.

Setelah perubahan, asuransi saya menjadi sebagai berikut :

  • Pembayaran premi sekaligus Rp 4.2 juta per tahun
  • Manfaat yang diperoleh:
    • Asuransi Jiwa Rp 102 juta
    • Asuransi Penyakit Kritis Rp 280 juta
    • Asuransi Kecelakaan Rp 36 juta
    • Pru Waiver Rp 4.2 juta hingga usia 65*
  • Tanggal pembayaran sudah berjalan 2 kali yaitu 21 Maret 2014 dan 11 Maret 2015. IHSG pada waktu itu masing-masing 4700 dan 5419
  • Total pembayaran yang sudah saya lakukan selama 3 tahun adalah Rp 14.4 juta ( 6 juta + 4,2 juta +4,2 juta)

*Yang dimaksud dengan Pru Waiver adalah jika terdeteksi mengalami penyakit kritis, maka pembayaran premi dibebaskan hingga usia 65 tahun. Asuransi ini mirip seperti KPR. Misalkan anda mengambil KPR dengan pembayaran cicilan hingga usia 65 tahun, jika meninggal di tengah jalan, maka cicilannya dianggap lunas. Jadi manfaat asuransinya semakin menurun sesuai dengan jangka waktu.

Orang yang meninggal di usia 42 akan mendapat uang pertanggungan yang lebih besar dibandingkan uang pertanggungan orang yang meninggal di usia 62 tahun. Meskipun demikian, manfaat itu tidak diterima uang tunainya karena hanya berupa cicilan rumah yang tidak perlu dibayar lagi alias lunas jika yang berutang meninggal dunia.

Konsep Pru Waiver ini juga sama, anda “seharusnya” membayar asuransi hingga usia tertentu jika ingin terus menikmati manfaat asuransinya. Namun jika terdeteksi, maka nilai Rp 4.2 juta atau Rp 6 juta sesuai premi akan dibayarkan ke Unit Link anda sampai usia 65.

Manfaat waiver juga tidak berupa uang tunai yang dinikmati langsung, akan tetapi dibayarkan ke dalam asuransi anda. Ketika sudah masuk ke asuransi, berarti ketika ditarik tentu akan dipotong biaya dan kewajiban (jika ada)

Nah, yang menarik disini. Pada tanggal 15 Mei 2015 (IHSG di angka 5227) saya bertanya kepada petugas customer service berapa Nilai Tunai yang saya miliki. Pertanyaan ini saya lakukan via phone, tapi karena kurang jelas saya meminta informasi tersebut dikirimkan secara tertulis.

Yang dimaksud dengan nilai tunai adalah porsi uang kita yang diinvestasikan. Atau buat anda yang awam, pada saat ditawarkan produk asuransi pastinya ditunjukkan bahwa di usia sekian nanti uang anda akan ada sekian ratus juta, milliar atau puluhan milliar. Uang tersebut, oleh tenaga pemasar biasanya dijelaskan bahwa bisa digunakan untuk pensiun dan lain-lain. Uang inilah yang dimaksud dengan nilai tunai.

Silakan tebak, berapa kira-kira nilai tunai pada polis asuransi tersebut? Mohon diingat bahwa total premi yang saya bayarkan adalah Rp 14,4 juta selama 3 tahun dan tidak ada klaim apapun. Untuk mempermudah, saya berikan pilihan sebagai berikut :

  1. Rp 3 juta – Rp 5 juta
  2. Rp 5 juta – Rp 6 juta
  3. Rp 6 juta – Rp 14,4 juta
  4. > Rp 14,4 juta
  5. < Rp 3 juta

Sebagai data pendukung, berikut saya lampirkan juga data sebagai berikut :

Informasi Biaya Akuisisi dan Porsi Investasi

Screen Shot 2015-06-01 at 6.07.31 PM

Informasi Biaya Administrasi

Screen Shot 2015-06-01 at 6.12.04 PM

Sudah menebak?? Kalau mau melihat jawabannya silakan membaca lebih lanjut. Continue reading “My Experience With Unit Link 2”

Advertisement

Mengenal Literasi Keuangan

Klik untuk melihat video pendek 20131225-112820.mov

Sebelumnya saya ingin mengucapkan”

Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2014

Semoga Tahun 2014

Menjadi Tahun Yang Penuh Dengan Kesuksesan,

Berkat dan Rahmat Bagi Kita Semua

Tahun Baru 2014

Apakah anda pernah mendengar istilah “Literasi Keuangan” ? Atau Jika belum pernah, apakah anda:

  • Tahu bahwa kredit kita di bank yang satu juga akan terlihat di bank lainnya?
  • Tahu bahwa ketika kita memiliki KPR dan KPM, secara langsung juga sudah diikutkan pada asuransi jiwa?
  • Tahu bahwa barang yang sudah digadaikan di pegadaian, masa gadainya dapat diperpanjang apabila kondisi keuangan kita tidak memungkinkan untuk melunasinya?
  • Tahu bahwa kalau mobil rusak karena kelalaian kita sendiri tidak bisa diklaim di asuransi?
  • Tahu bahwa ada skema manfaat pasti dan iuran pasti dalam persiapan dana pensiun di perusahaan?
  • Tahu bahwa Manajer Investasi berhak menolak redemption anda ketika dalam hari yang sama terjadi redemption dalam jumlah besar?

Jika ada lebih dari 3 point yang tidak anda ketahui, maka bisa dibilang anda belum “Literate” secara keuangan. Dan jika belum jangan khawatir, anda bukan orang satu-satunya. Masih banyak sekali orang-orang di Indonesia yang kondisinya sama dengan anda. Untuk itulah, bulan lalu dan bulan Desember ini, dimana ketika anda melihat artikel di blog “kosong” cukup lama, ini bukan berarti saya lagi malas (he he..) tapi karena saya berpartisipasi dalam Kelompok Kerja (POKJA) peningkatkan Literasi Keuangan yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan.

Anggota POKJA ini terdiri dari pelaku berbagai industri yaitu dari Perbankan, Asuransi, Pasar Modal, Pembiayaan (Multi Finance), Pegadaian, Dana Pensiun dan tentu juga Otoritas Jasa Keuangan sendiri. Ada 2 pekerjaan utama dari POKJA ini, yang pertama yaitu menyusun cetak biru Strategi Literasi Keuangan Nasional dan kemudian mendukung pelaksanaan cetak biru tersebut. Adapun tujuan dari pekerjaan utama adalah bagaimana pada waktu yang tidak terlalu lama di masa depan, kita maupun anak2 kita bisa menjawab pertanyaan di atas. Tidak hanya Tahu, tapi juga yakin dengan produk keuangan dan terampil menggunakan produk keuangan.

Hal ini sesuai dengan definisi Literasi Keuangan yaitu Tahu, Yakin dan Terampil terhadap Produk dan Jasa Keuangan. Mau tahu apa saja hasil kerja POKJA sejauh ini? silakan baca lebih lanjut

Continue reading “Mengenal Literasi Keuangan”