Forum Diskusi

Halaman ini saya buat bagi anda yang mau menanyakan sesuatu namun tidak menemukan artikel yang berkaitan. Namanya juga forum diskusi. Jadi, jika ada rekan pembaca lain yang mau memberikan jawaban atau sharing atas pertanyaan juga bisa di bagian ini.

578 thoughts on “Forum Diskusi

  1. Dear Pak Rudi,

    Saya ingin bertanya apakah ada topik penelitian lain untuk reksa dana saham terbuka (open end fund), selain topik evaluasi kinerja (dengan RAR, CAPM, dsb) dan persistensi kinerja reksa dana saham? Topik penelitian apa lagi yang bisa dikaitkan dengan kinerja reksa dana saham dan data untuk analisis penelitiannya tersedia dan dapat diakses oleh publik?

    Semoga Bapak berkenan memberikan masukan. Terimakasih, Pak Rudi.

    Like

  2. @Rizky
    Salam Rizky,

    Komentar saya, adalah data return daripada SBI dan Deposito itu harus disesuaikan dengan pajak lagi karena hasil yang diterima bersih oleh investor tidak sebesar angka yang ditunjukkan. Dan jika memang setelah hal tersebut sudah kamu lakukan dan tidak ada yang salah dalam proses perhitungannya, berarti kesimpulannya memang kinerja reksa dana pasar uang tidak lebih baik daripada deposito.

    Semoga bermanfaat.

    Like

    1. NAB RD saya saat ini,rendah.tetapi saat ini saya sedang memerlukan uang.sebaiknya gimana???apakah saya jual saja?dari pada mengajukan pinjaman ke bank?

      Like

      1. Salam Richa,

        Kalau menurut saya, yang namanya investasi memang ada risiko. Dan sayang sekali pada saat anda butuh dana, malah risiko sedang terjadi.

        Kalau boleh usul, sebaiknya dijual saja. Sebab kalau kamu jual, kamu merealisasikan kerugian. Betul memang kalau dibiarkan lagi mungkin saja bisa naik, tapi kan belum waktunya cocok dengan kebutuhan uang anda.

        Sementara kalau anda meminjam, berarti harus ada pembayaran bunga. Belum tentu keuntungan yang anda terima lebih besar daripada biaya dan bunga yang dibayarkan.

        Untuk ke depannya, menurut saya bisa dibuat lebih terarah untuk investasinya dalam hal:
        – Menyiapkan dana darurat setara 3-12 bulan pengeluaran di reksa dana pasar uang untuk antisipasi kondisi seperti saat ini
        – Kelebihannya baru diinvestasi ke reksa dana yang bisa potensi naik turun
        – Sehubungan dengan kondisi pasar saham yang fluktuatif, walaupun jangka panjang bisa pertimbangkan juga untuk lakukan diversifikasi dengan reksa dana pendapatan tetap

        Semoga bermanfaat

        Like

        1. Kalau mau mengetahui NAB RD hari ini secara online,caranya gimana pk?sekali lagi,NAB RD hari ini atau NAB pada saat saya browsing.bukan NAB kemaren

          Like

          1. Selamat malam Richa,

            Data NAB reksa dana di update 1 hari sekali dan baru diinformasikan pada hari kerja berikutnya di koran. Memang ada website yang menyediakan update pada malam hari, tapi ada kemungkinan koreksi NAB walaupun sangat jarang.

            Semoga bermanfaat

            Like

  3. @Gabby
    Salam Gabby,

    Topik2 yang kamu kemukakan di atas, menurut saya adalah topik dari mahasiswa “malas” mencari terobosan baru karena cuma mau menggunakan teori yang perhitungannya gampang tinggal datanya di update.

    Kalau topik2 yang ada tantangan dan mungkin juga bermanfaat bagi industri adalah misalnya seperti survey, kenapa masyarakat Indonesia tidak mau berinvestasi di reksa dana, dan apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan minat investasi masyarakat.

    Datanya sudah pasti tersedia dipublik, data = orang yang bisa disurvey. Tidak usah pusing2 cari data dan lain2. Kalau analisa menggunakan risk and return menurut saya sudah sangat umum dan pada akhirnya mahasiswa hanya mencari yang versi “mudah” karena tinggal copy paste materi lama dengan data yang lebih baru.

    Semoga bermanfaat.

    Like

  4. Dear pak rudy

    artikel dan pembahasan bapak ini betul mencerahkan dan menjawab banyak pertanyaan saya mengenai reksadana. Ada beberapa pertanyaan yang ingin saya tanyakan pak

    1. pernah saya mendapat pelatihan CFP dari perusahaan tempat saya bekerja, pengajar pada saat itu mengatakan bahwa manajer investasi hanya dapat melakukan transaksi beli saja, dan menjual pada saat ada nasabah melakukan withdrawal, apakah benar seperti itu pak? saya mencoba mencari artikel yang membahas tentang pernyataan ini tetapi belum menemukan

    2. kalau benar, berarti pembentukan NAB berdasarkan pada pembelian saham, penerimaan deviden dan biaya saja ya pak?

    terima kasih banyak sebelumnya pak rudy

    Like

  5. @dicka christama
    Salam Dicka Christama,

    Terima kasih sebelumnya. Terkait pertanyaan anda
    1. Manajer Investasi bisa melakukan jual beli tergantung pada transaksi nasabah seperti kata kamu di atas dan juga kalau saham yang dia beli / mau beli dianggap sudah terlalu mahal atau terlalu murah. Sebenarnya ini bukan teori atau apa, tapi logika saja. Karena mandatnya adalah mengelola dana nasabah, maka ketika ada dana segar masuk atau ketika nasabah menarik, dia harus melakukan sesuatu dengan uang tersebut.
    2. Kalau tentang itu, silakan baca artikel lama http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/11/09/back-to-basic-memahami-mekanisme-naik-turunnya-harga-reksa-dana/ atau bisa mencarinya di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/arsip-artikel/

    Terima kasih.

    Like

  6. Selamat sore pak Rudiyanto, saya Rian yang berkonsultasi via twitter dengan bapak sebelumnya. Saya sedang dalam penelitian tentang reksa dana saham “Pengaruh Kompensasi Manajemen Investasi, Ukuran Reksadana, dan Tingkat Risiko terhadap Kinerja Reksada Saham”. Tetapi saya mengalami kesulitan dalam menemukan perhitungan (operasionalisasi variabel) untuk menentukan jumlah Kompensasi Manajemen Investasi. Namun dari dimensi yang saya dapatkan, disana dijelaskan bahwa Kompensasi Manajemen Investasi : Merupakan biaya-biaya yang harus dibayarkan oleh investor terhadap manajer investasi. Saya masih bingung apakah harus menggunakan perhitungan Biaya Pembelian, Biaya Penjualan, dan Biaya Pengalihan? Atau harus menggunakan tarif yang telah ditetapkan masing-masing reksa dana saham yang sudah terteta pada masing-masing Prospektusnya (biasanya 0% -4%)?
    Mohon bantuan untuk solusi dari Penelitian ini pak Rudiyanto 🙂

    Like

  7. Sudah pak, saya sudah membaca artikel tersebut sebelumnya dan sangat membantu dalam penulisan skripsi saya pada saat ini.

    Namun saya masih belum mengerti apakah kompensasi terhadap manajer investasi tersebut dibayarkan oleh investor melalui pembelian yang telah dilakukan investor tersebut dan dimasukkan ke dalam NAB Reksa Dana Saham yang bersangkutan? Setelah didapat NAB-nya, baru kita bisa menghitung persentasi kompensasi yang didapat manajer investasi (biasanya dalam prospektus 0%-4% dari NAB)?

    Maaf sebelumnya pak terlalu banyak pertanyaan, karena saya masih baru belajar tentang reksa dana ketika menulis penelitian ini 🙂
    @Rudiyanto

    Like

  8. @Rian Arga Putra
    Baik Rian, sebagai referensi kamu, kira2 prosesnya seperti ini
    1. Fee Subscription, Redemption dan Switching. Ketika investor berinvestasi reksa dana katakan Rp 1.020.000 dimana Rp 20.000 adalah fee, prosedurnya hanya Rp 1 juta yang dimasukkan ke reksa dana dan 20.000 diambil oleh bank kustodian kemudian dibayarkan ke Manajer Investasi. Manajer Investasi kemudian akan sharing lagi fee tersebut dengan agen penjual sesuai kesepakatan. Namun mekanisme ini bisa agak lain kalau dijualnya via bank. Fee ini agak sulit ditentukan karena selalu ditulis maks ..% jadi bisa sama, lebih kecil atau bahkan nol.
    2. Untuk Management Fee, adalah ketika dana anda mengendap di reksa dana, katakan reksa dana tersebut punya management fee 2%, maka perhitungannya adalah 2% / 365 x nilai aset reksa dana (yang merupakan akumulasi dari hasil investasi dan data nasabah yang dinilai dengan harga pasar). Selanjutnya biaya ini akan mengurangi nilai aktiva reksa dana. Makanya kalau publikasi harga reksa dana disebut Nilai Aktiva Bersih per Unit. Maksudnya bersih itu sudah dikurangi segala biaya dan kewajiban salah satunya biaya manajer investasi. Fee ini dibayarkan ke Manajer Investasi atau Manajer Investasi dan Agen Penjual sesuai kesepakatan. Kalau fee ini semakin tidak bisa dihitung lagi karena bisanya hanya diambil dari laporan keuangan reksa dana.

    Semoga bermanfaat.

    Like

  9. Selamat malam pak Rudiyanto.

    Bagaimana keadaan bapak, sehat2?
    Syukurlah sekarang skripsi saya sudah di acc sampai bab III pak.
    Sekarang untuk bab IV, saya harus mencari data NAB bulanan beberapa perusahaan Reksa Dana Saham.
    Kira-kira link yang validnya dimana bisa saya temukan ya pak? 🙂

    Like

  10. selamat malm pak..
    ada yang masih mengganjal dihati saya pak sebelum saya mau berinvestasi direksadana..
    didalam kalkulator penghitungan finansial kalau kita seandainya berinvestasi reksadana saham selama 20 tahun keatas maka akan menghasilkan return yang bagus.contoh:klo seandainya saya berinvestasi dengan cara lump sum sebesar 50 juta direksadana saham dan dana akan ditarik 20 tahun kemudian, dipenghitungan kalkulator finansial dengan mengambil ekspektasi imbal hasil pertahun 18% maka dana saya berkembang menjadi Rp.1,369,651,730.
    yang menjadi ganjalan saya apakah berarti UP yang pertamakali kita beli tersebut selalu bertambah atau perkurang dengan sendirinya setiap satu tahun tanpa kita redemption/ subcription..mengingat fluktuasinya harga NAB bervariasi dalam setiap tahunnya (seandainya rata-rata naik 18%/ tahun).

    Like

  11. @Rian Arga Putra
    Salam Rian,

    Saya sehat2 saja, terima kasih atas perhatiannya. Untuk datanya silakan anda coba browsing di website OJK atau BAPEPAM. Mencari data juga bagian dari skripsi dan proses pembelajaran.

    Semoga sukses dengan skripsinya.

    Like

  12. @fieba andalas
    Selamat Siang Fieba,

    Terkait pertanyaan anda, jika terjadi kenaikan, maka yang naik adalah harga reksa dana dan bukan unit penyertaan. Jadi misalkan anda beli di harga Rp 1000, setelah 20 tahun, sesuai perhitungan anda, naik menjadi 200ribuan. Unit yang anda punya ya tetap.

    Beberapa referensi artikel yang bisa anda baca seperti
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/11/09/back-to-basic-memahami-mekanisme-naik-turunnya-harga-reksa-dana/

    Semoga bermanfaat.

    Like

  13. Selamat siang pak Rudianto.

    Saya sudah menemukan data NAB masing-masing reksa dana saham yang saya butuhkan.
    Cuma disitu hanya ditampilkan nilai NAB per hari-nya saja pak. Apakah cara untuk mendapatkan NAB bulanan reksa dana tersebut harus dengan cara:
    total NAB bulan ke-n / jumlah NAB harian pada bulan ke-n?

    Like

  14. @Rudiyanto

    Maaf pak, maksudnya NAV bulanan dan ternyata dapat diakses langsung dari Bapepam 🙂

    O ya pak, Rian udah baca artikel pak Rudi : http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/04/09/mengenal-laporan-keuangan-reksa-dana/ tentang “PROSPEKTUS PEMBAHARUAN”, dimana disana dijelaskan apa itu Perputaran Portofolio (Portfolio Turnover).
    Untuk menghitung jumlah perputaran portofolio per-bulan dari sebuah reksa dana saham bagaimana ya pak?

    Like

  15. O ya pak, tambahan dari data yang tersedia dari Pak Rudi di http://pusatdata.kontan.co.id/reksadana/ disana Rian dapat mengakses setiap produk reksa dana saham untuk melihat daily return masing-masing reksa dana saham.

    Yg ingin Rian tanyakan, apakah Daily Return = Perputaran Portofolio Harian?
    Kalau sama, bagaimana cara menghitung Perputaran Portofolio bulanan-nya ya Pak? 🙂

    Like

  16. ada pertanyaan lagi pak..apakah agen penjual (bank yang ditunjuk MI)mematok jumlah investasi seandainya kita menggunakan strategi lump sum tersebut..klo seandainya iya berapa besaran minimum dan maksimumnya…sebelumnya saya ucapkan terima kasih

    Like

  17. @Rian Arga Putra
    Salam Rian,

    Definisi portofolio turnover bisa kamu baca lebih detail lagi di artikel yang bersangkutan begitu pula dengan rumus perhitungannya. Pada dasarnya angka ini dihitung oleh auditor dan membutuhkan data detail transaksi reksa dana hingga harian. Data ini tidak dipublikasikan, jadi memang tidak bisa dihitung dengan mengandalkan semua data publik yang bisa kamu kumpulkan.

    Mengenai return, kamu bisa coba baca
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/12/29/mengenal-macam-macam-return-dalam-investasi-1/
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/01/01/mengenal-lebih-dalam-return-dan-risiko-investasi-2/
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/02/06/mengenal-lebih-dalam-risk-and-return-investasi-3/
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/03/31/mengenal-lebih-dalam-risk-and-return-investasi-4-quantified-risk/

    Semoga bermanfaat.

    Like

  18. @fieba andalas
    Salam Fieba,

    Besaran minimum investasi sudah tercantum dalam prospektus. Jadi anda harus membeli prospektus reksa dana yang ingin anda beli. Terkadang memang ada Agen Penjual yang menetapkan angka yang lebih tinggi daripada angka di prospektus. Hal ini menurut saya memang tidak bisa disalahkan karena ada skala ekonomis yang harus dipertahankan.

    Sementara untuk besaran maksimum tidak disebutkan. Mau 50 juta atau 5 triliun, Manajer Investasi dan Agen Penjual biasanya sudah siap.

    Like

  19. Salam Pak Rudi.

    Tulisan pak Rudi sangat bermanfaat untuk memperluas wawasan saya.
    Saya ada beberapa pertanyaan tentang Reksa dana:

    1. Apakah di indonesia ada pemeringkatan untuk MI seperti Stewardship di Morningstar?
    2. RD Pasar uang:
    – Instrumen investasi apa yang dipakai pada RD tersebut?
    – Apakah instrumen tersebut diatur dengan regulasi oleh Bapepam/OJK?
    – Apakah perorangan juga bisa berinvestasi langsung pada instrumen tersebut seperti halnya berinvestasi langsung di saham?

    Terima kasih.

    Like

  20. @Endra
    Salam Endra,

    Terkait pertanyaan anda:
    1. Utk penilaian berdasarkan stewardship diperlukan data kualitatif dan juga mungkin agak sensitif karena terkait internal manajemen perusahaan. Penilaian seperti ini agak sulit untuk dilakukan, tapi bukan tidak mungkin. Kalaupun nantinya sudah ada, rasanya juga tidak gratis. Tapi yang jelas, saat ini belum ada yang melakukan hal tersebut.

    2. Untuk reksa dana pasar uang
    – Investasi di Instrumen pasar uang (Jatuh tempo kurang dari 1 tahun), antara lain Deposito dan Obligasi yang mau jatuh tempo
    – Deposito = Bank, Obligasi = Pasar Modal. Semua itu di atur OJK
    – Tentu bisa. Datang saja ke Manajer Investasi yang punya produk pasar uang ini.

    Semoga informasi ini bermanfaat.

    Like

  21. Pak Rudiyanto, saya sangat tertarik dengan isi artikel mengenai Roy Safety First Ratio. Kalau boleh, saya ingin tahu referensi buku (baik bahasa Indonesia atau Asing) yang membahas lebih detail mengenai Roy Ratio. Sulit sekali mencari informasi yang panjang dan benar men-detail di google. Terimakasih banyak sebelumnya.

    Like

  22. pak rudiyanto, saya ingin bertanya kira-kira buku referensi mengenai roy safety first ratio bisa didapat dimana ya? saya ingin tahu lebih detil mengenai ratio satu ini. saya sedang menyusun skripsi yang mengangkat judul mengenai safety first ratio ini. trimakasih.

    Like

  23. malam pak rudiyanto, saya sedang menghitung beta saham.. apakah benar beta suatu saham harus dihitung minimal 36 bulan pak?misalnya saya mau menghitung beta saham asii periode 2009, maka saya harus mengetahui return asii dan pasar selama 36bulan? trimakasih pak

    Like

  24. Pagi pak rudiyanto, saya mau bertanya perihal diversifikasi nh pak.
    Pengertian diversifikasi bagi saya itu kan membagi uang kita ke berbagai investasi sehingga tidak di satu bidang saja.
    Nah, saya sedikit bingung pak, pertanyaan saya:
    1. Saya ingin fokus investasi di reksadana saja sebagai investor pasif, apakah itu tidak aman sesuai dengan pendapat org tentang diversifikasi?
    2. Dan direksadana pun saya hanya ingin fokus investasi di reksadana saham karena profile saya risk taker dan time horizon saya jangka panjang, apakah itu aman??
    3. Dan direksadana saham pun akan ada bermacam2 pilihan, apakah saya harus fokus pada 1 atau 2 reksadana saham saja, atau harus mendiversifikasi ke beberapa reksadana saham?? Kalau saran bapak, butuh berapa jenis reksadana saham yg perlu saya invest agar teori diversifikasi bs sy gunakan??

    Terimakasih pak, mohon pertanyaan saya dijawab.

    Like

  25. @charles
    Pagi Charles,

    Kalau menurut saya, anda perlu lebih mendefinsikan lagi Diversifikasi tersebut. Memang benar, itu adalah membagi uang ke berbagai investasi sehingga tidak satu bidang, tapi untuk apa?

    Apakah untuk mengurangi risiko dalam artian kalau yang satu turun yang lainnya naik? Kalau hal ini rasanya agak susah karena sebagai besar reksa dana yang sejenis di Indonesia bergerak dengan arah yang sama. Jadi kalau satu naik lainnya juga naik dan sebaliknya. Bedanya hanya di besaran persentase saja, ada yang lebih kecil dan ada yang lebih besar.

    Apakah untuk mendapatkan “peace of mind” Sebab secara natural, orang memang merasa nyaman kalau asetnya tersebar di beberapa tempat. Urusan di beberapa tempat hasilnya kurang optimal itu, tidak jadi soal karena dia sudah dapat Peace of Mind.

    Atau ada tujuan lain yang ingin kamu dapatkan dari diversifikasi tersebut?

    Terkait pertanyaan no 2, definisi aman itu apa?

    Kalau pertanyaan nomor 3, menurut saya 1 tujuan keuangan 1 reksa dana, bukan untuk diversifikasi tapi lebih kepada kemudahan pemantauan.

    Semoga bermanfaat.

    Like

  26. pagi pak,

    maaf nih nanya-nanya terus, lagi bingung nih soal reksa dana. yang mau saya tanyakan adalah:
    1. apakah tepat bila saya mulai investasi dalam bentuk reksa dana sekarang? karena kan sudah dekat pemilu dan katanya kalau mau pemilu harga NAB reksa dana jadi tinggi.
    2. untuk reksa dana berikut ini mana yang bisa saya miliki sebagai seorang pendatang baru : a. reksa dana panin dana prima atau panin dana maksima atau trim kapital untuk reksa dana saham; b. reksa dana panin dana unggulan atau reksa dana danamas untuk reksa dana campuran; c. reksa dana investasi pasar uang untuk reksa dana pasar uang (sementara baru ini yang terpikirkan)
    3. apakah lebih baik saya auto debet atau manual untuk top up nya?

    rencananya saya mau beli 3 jenis reksa dana dengan masing-masing setoran awalnya 2 jt. dan saya masih ada tanggungan auto debet di rek pendidikan dan rek pensiun. saya juga tidak mematok jangka waktunya, investasi yang tidak ada tujuannya (bisa untuk pendidikan anak, pensiun, liburan atau yang lainnya)

    terima kasih pak

    Like

  27. @rima
    Salam Rima,

    Terkait pertanyaan anda:
    1. Masalah diinvestasi itu bukan kapan waktu yang tepat, tapi apakah kondisi keuanganmu sudah sehat atau belum dan tujuan kamu apa. Untuk detailnya bisa baca di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2010/11/04/sehat-dulu-investasi-kemudian/ dan http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/05/07/seni-menyusun-tujuan-investasi-dengan-prinsip-smart/
    Kalau kamu pakai “Katanya” nanti pada saat PEMILU dibilang harganya sudah tinggi, bisa jadi setelah PEMILU “Katanya” lagi nanti akan terus turun. Jadi tidak akan pernah ada waktu yang tepat untuk investasi.
    Berbicara soal waktu adalah BERAPA LAMA kamu akan investasi bukan soal KAPAN.
    Mengenai lama waktu investasi di saham yang ideal bisa di
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/01/26/berapa-lama-periode-investasi-berkala-yang-ideal/ – Untuk Autodebet dan
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/02/20/berapa-asumsi-return-investasi-saham-yang-wajar/ untuk Sekaligus di depan

    2. Pemilihan reksa dana bukan soal pendatang baru atau lama, tapi soal ada berapa tujuan investasi, Kepercayaan (Trust) dan ketenangan hati (Peace of Mind).
    Menurut saya 1 tujuan investasi sebaiknya 1 reksa dana, pemilihan bisa ke produk yang kamu percaya tergantung dari kinerja dan servisnya, dan jika kamu merasa lebih nyaman dengan memiliki beberapa produk (in case apa2 terjadi pada produk yang satunya lagi entah itu faktor kinerja atau lainnya) maka membeli lebih dari 1 tidak masalah. Sepanjang kamu memiliki fasilitas untuk memantau perkembangan beberapa produk tersebut.

    3. Kalau enggak mau repot2 mending autodebet saja. Bisa dapat diskon fee 50% jika menggunakan autodebet di Panin AM.

    Demikian, semoga bermanfaat.

    Like

  28. hai pak rudi ,
    saya ingin bertanya tntg nilai penerbitan obligasi syariah ,itu seperti apa ya cara menghitungnya , saya baca itu menggunakan sukuk equity ratio , mksdnya sukuk equity ratio itu seperti apa prosesnya ,.mohon jawabannya ..terimakasih

    Like

  29. Selamat siang pak, saya nasabah Panin-am yang baru beli reksadana bulan Februari 2014, saat ini menggunakan fasilitas auto debet tiap awal bulan. yang mau saya tanyakan, kenapa sampai sekarang bulan April saya belum terima notifikasi pembelian & dokumen lainnya yang katanya akan dikrimkan ke alamat rumah?? Apakah ada laporan bulanan yang didirimkan ke alamat? “saya membeli reksadana hanya melalui online/email dengan marketing an. Jerry Hutagalung”.. Apakah aman dana reksadana saya pak?

    Like

  30. Dear Pak Rudi,

    Dilihat lihat fotonya sepertinya familiar, siapa ya…ternyata setelah diingat-ingat Pak Rudi dulu mantan dosen saya di Untar.

    Mantap Pak, saya selalu pantengin terus blok ini hehe..

    Like

  31. @windar
    Selamat Siang Pak Windar,

    Terima kasih atas kepercayaan kepada Panin Asset Management. Terkait surat konfirmasi yang belum diterima, sesuai dengan peraturan dari Otoritas Jasa Keuangan, kewajiban untuk mengirimkan surat konfirmasi memang dilakukan oleh Bank Kustodian dan bukan oleh Manajer Investasi. Kami akan membantu mengecek ke Bank Kustodian yang bersangkutan.

    Namun memang harus diakui pengiriman surat konfirmasi dari bank kustodian terkadang bermasalah dan kami cukup kerepotan karena hal tersebut. Untuk itu, anda bisa mengecek saldo via website http://www.panin-am.co.id. Apakah anda sudah melakukan pengajuan log in? Jika belum anda bisa menghubungi Customer Service Panin Asset Management via telp 021 29654222 atau email di cs@panin-am.co.id. Keluhan anda juga bisa disampaikan ke Customer Service agar secara resmi masuk dalam pencatatan perusahaan.

    Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.

    Terima kasih.

    Like

  32. Selamat pagi bapak widar (darmawan widyantoro), saya dengan jerry hagai yang handle bapak saat pembelian reksadana panin asset management. Memang sesuai prosedur pihak yang mengirim surat konfirmasi dan laporan bulanan adalah bank kustodian. Namun saya sudah mengecek kepada kustodian melalui customer service dan laporannya adalah surat konfirmasi bapak :
    Status : sudah diterima
    Oleh : a.n dedi (prt)
    Tanggal : 8 maret 2014

    Untuk keperluan selanjutnya bapak bisa menghubungi ke nomer handphone saya seperti yang tertera di signature email saya. Atau ke customer service panin asset management.
    Terima kasih.

    Like

  33. Dear Pak Rudi,

    Mohon pencerahannya, sy sebagai new customer, apakah nomor CIF dari Panin dan dari bank kustodian memang berbeda? Fyi CIF sy di panin 34xxx dan di kustodian 33xxx. Terimakasih

    Salam,
    Slamet Mulyadi

    Like

  34. @Slamet Mulyadi
    Salam Pak Slamet,

    Sebagai informasi CIF adalah singkatan daripada Customer Information File. CIF adalah kode unik untuk masing-masing nasabah di suatu institusi keuangan, termasuk Panin Asset Management sendiri.

    Permasalahan yang terjadi, kami menggunakan 2 bank kustodian yaitu Deustche Bank dan BCA untuk produk kami. Dan karena penyimpanan data di kedua bank tersebut formatnya tidak sama persis, maka masing-masing bank kustodian menerbitkan CIF sendiri untuk kepentingan pencatatannya. Contoh, jika anda punya Panin Dana Maksima dan Panin Dana Bersama Plus yang bank kustodiannya berbeda, maka anda akan memiliki 2 nomor CIF di kustodian yang berbeda.

    Di internal, kami juga melakukan pencatatan. Untuk itu kami juga memiliki CIF sendiri. Dan karena kegiatan menangani nasabah dilakukan oleh Panin Asset Management, maka ketika anda berhubungan dengan Panin Asset Management anda bisa menggunakan CIF nomor Panin tersebut termasuk pengajuan user id dan lainnya.

    Namun jika seandainya yang anda ingat adalah nomor kustodian, juga tidak masalah, kami akan melakukan beberapa verifikasi untuk memastikan data anda benar.

    Semoga informasi ini bermanfaat. Terima kasih

    Like

  35. Selamat siang Bapak
    Saya senang dengan dunia investasi baik berupa bacaan maupun praktek langsung ( khususnya RD ). Kesenangan saya ini ternyata ditiru oleh anak saya. Dia senang juga dalam dunia investasi dan kebetulan saat ini dia sedang menyelesaikan tugas akhirnya di UKSW Salatiga Fak Ekonomi Akuntansi. Anak saya pingin belajar lebih banyak dalam dunia investasi kalau dapat bisa menjadi Wakil Perantara Pedagang Efek (WPPE) atau Wakil Agen Penjual Efek Reksa Dana (WAPERD) atau Wakil Manajer Investasi (WMI) atau yang lainnya. Di lembaga manakah sebaiknya anak saya mengikuti pendidikan tersebut ( di Jakarta ) karena dia sendiri tidak tahu harus kemana demikian juga saya sebagai orang tuanya. Demikian pertanyaan saya, terimakasih atas petunjuknya.

    Like

  36. Terimakasih informasinya pak
    Dari bacaan di TICMI, benar tidak kesimpulan saya ini bahwa “pemegang WPPE” itu dalam tugas kesehariannya lebih berhubungan dengan calon nasabah ( semacam salesman ) ?
    Jika bersedia, mohon dijelaskan tentang tugas kesehariannya baik WPPE, WMI, WAPERD
    Jika dari sisi jenjang karier, WPPE itu apakah yang paling bawah, atau bagaimana ?
    terimakasih, semoga saya berdiskusi dengan anak saya.

    Like

  37. Dear pak Rudy,

    Jika saya ada dana rutin untk rd sebesar 4 juta/ bulan untk 10 th. Apakah sebaiknya saya ambil rd panin dana maksima yg kinerja sdh terbukti baik tp harganya tinggi, atau panin dana ultima yg baru akan launching tp harga juga baru rp. 1000. Tolong masukannya ya pak. Terimakasih

    Like

  38. Dear Pak Rudy,

    Sebelumnya terima kasih karena sudah banyak masukan lewat akun twitter Bapak.

    Sudah lebih dari satu tahun ini saya berusaha belajar investasi (untuk jangka menengah dan panjang). Banyak buku investing/trading yang saya baca, dan rasanya passive investing dengan buy and hold merupakan strategy yang cocok dengan tujuan investasi saya. Setelah membaca banyak buku tentang index investing (A Random Walk Down Wall Street, The Little Book of Common Investing, Four Pillars of Investing, The Elements of Investing, etc) – saya percaya dengan investasi pada broad index, dengan dollar cost averaging, diversification and rebalancing.

    Saya berusaha menyusun asset alocation untuk sebisa mungkin consists of 1) indonesia broad index fund (saham) 2) broad global index fund 3) indonesia broad bond index.. Saya juga ada ETFs, tapi karena sangat tidak liquid, saya sering dapet slippage yang lumayan lebar..

    Pertanyaan yang ingin saya diskusikan:

    1. Apa ada reksadana di indonesia yang bisa cover 1) indonesia broad bond index dan 2) global index?

    2. Karena index investing masih belum populer di indonesia, kemungkin masih sulit untuk mencari investment vehicle untuk asset allocation seperti yang saya sebutkan di atas. Apakah bapak ada saran bagi penganut index investing di indonesia?

    3. Apakah prospek index investing di Indonesia akan berkembang dalam waktu dekat ini?

    Saat ini saya nasabah Panin Dana Prima and Bersama Plus, untuk capture index saham, dan membeli sukuk/obligaso untuk rebalancing porsi bond di portfolio saya.

    Terima kasih atas bantuan bapak.
    Azerobart

    Like

  39. @Yanti
    Salam Yanti,

    Kalau menurut saya, bukan ke reksa dana apa yang menjadi pilihan, tapi pertama-tama adalah tujuannya apa dulu. Kalau belum jelas, anda bisa baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/05/07/seni-menyusun-tujuan-investasi-dengan-prinsip-smart/

    Kemudian kalau tujuannya sudah jelas, biasanya saya suka menyarankan 1 reksa dana 1 tujuan investasi. Dan saya yakin orang memiliki beberapa tujuan keuangan, jadi bisa membeli beberapa reksa dana sekaligus dan juga memudahkan pemantauan.

    Terkait pilihan Panin Dana Ultima atau Panin Dana Maksima, menurut saya kembali ke apakah anda nyaman atau tidak dengan strategi dan pengelolaan investasi kedua reksa dana tersebut. Untuk detailnya, anda bisa datang ke acara talkshow yang akan diselenggarakan Sabtu minggu depan http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/05/14/launching-panin-dana-ultima-dan-talkshow/

    Jika sedang berhalangan, bisa anda tanyaka ke tenaga marketing di Panin Asset Management atau agen penjual Panin Sekuritas. Terima kasih.

    Like

  40. @azerobart
    Selamat Pagi Azerobart,

    Terima kasih juga karena sudah menjadi follower di twitter saya.

    Terkait pertanyaan dan cara investasi anda, sebetulnya saya kurang begitu sreg. Karena saya sendiri adalah penganut 1 tujuan keuangan 1 reksa dana. Yang anda lakukan biasanya adalah investor yang (menurut saya) tidak memiliki tujuan keuangan yang spesifik. Tujuan anda mungkin hanya membangun suatu portofolio yang dianggap paling optimal / efisien dengan alokasi tertentu dan membiarkan dia terus menerus berkembang.

    Cara di atas tidak salah, dan memang dipraktekkan oleh berbagai investor kelas dunia seperti buku-buku yang anda baca tersebut. Namun perlu diperhatikan bahwa orang-orang tersebut umumnya kalau bukan fund manager (Manajer Investasi), mereka adalah orang-orang sangat kaya yang sudah tidak butuh duit lagi karena seluruh tujuan keuangannya sudah tercapai.

    Yang menjadi tujuan dari kelompok tersebut adalah bagaimana uangnya terus berkembang. Jika anda sudah masuk ke kelompok seperti ini, tidak masalah kalau mau anda terapkan. Tapi kalau beli rumah baru sanggup bayar DP saja, atau masih belum punya cukup uang untuk pensiun sekarang, yang merupakan ciri2 dari mayoritas penduduk Indonesia termasuk saya sendiri, rasa-rasanya strategi di atas bukan strategi yang paling tepat.

    Yang menurut saya tepat bisa anda baca di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/05/07/seni-menyusun-tujuan-investasi-dengan-prinsip-smart/

    Namun demikian, saya akan coba menjawab pertanyaan anda:
    1. Produk reksa dana indeks / ETF obligasi yang kamu tanya tersebut sebenarnya sama seperti yang saya sebut di Twitter yaitu ABF IBI Bond Fund yang dikelola Bahana TCW Asset Management. Jika ETF ini tidak likuid, bisa jadi memang digunakan sebagai benchmark untuk penyusunan indeks saja sehingga transaksi di bursa tidak likuid. Tapi jika kamu mencoba beli langsung ke Bahana TCWnya siapa tahu kamu beruntung.

    Alternatif di atas, sebenarnya kamu juga bisa membeli reksa dana pendapatan tetap yang komposisinya obligasi pemerintah. Ada banyak Manajer Investasi yang menawarkan produk ini dari lokal sampai asing. Namun untuk obligasi korporasi biasanya agak kurang karena obligasi ini kurang likuid.

    Perlu kamu ketahui juga bahwa kinerja obligasi terkadang bisa fluktuatif. Tahun 2013 contohnya, kerugian di obligasi pemerintah lebih dalam daripada kerugian di reksa dana saham. Untuk global index, rasanya tidak bisa kamu peroleh di Indonesia. Namun jika kamu memiliki akses ke private banking di singapura produk ini harusnya tersedia. Kebijakan investasi di Indonesia untuk instrumen luar negeri adalah cuman 15% saja sehingga produk global tidak tersedia.

    2. Saya sendiri bukan penganut index investing karena menurut saya dengan pemilihan yang tepat, Manajer Investasi di Indonesia masih bisa memberikan tingkat return di atas IHSG meski tidak banyak. http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/01/16/apakah-ada-reksa-dana-saham-yang-konsisten-mengalahkan-ihsg/

    Meski demikian, ada Manajer Investasi yang sepaham dengan kamu yaitu Indo Premier Investment Management dimana mereka sangat aktif menerbitkan produk reksa dana indeks dan ETF. Jadi seharusnya investment vehicle sudah tersedia tinggal masalah likuid atau tidak saja yang kamu keluhkan di atas.

    3. Terkait prospek index investing, menurut saya apa yang kamu baca di buku-buku tersebut bahwa ternyata mayoritas dari Manajer Investasi di AS kalah dengan Index itu memang benar. Dan kalaupun menang, selisihnya tidak besar mungkin hanya sekitar 1-5% annualized return dalam kurun waktu 10 tahun. Akan tetapi hal tersebut, ketika diterapkan di Indonesia, menurut saya harus ada beberapa penyesuaian lagi.

    Pertama, dalam buku literatur mereka selalu menggunakan angka annualized return misalkan S&P 5% dan reksa dana 7% dalam 10 tahun. Sehingga meskipun kelihatan reksa dana mengalahkan market, namun selisihnya “hanya” 2% per tahun. Biaya reksa dana yang nilainya sekian persen itu dipermasalahkan. Angka annualized return itu masih asing di Indonesia, yang kita kenal itu total return. Angka 5% dan 7% dalam 10 tahun itu sama dengan sekitar 62% dan 96%. Kalau orang Indonesia baca 62% dan 96%, rasa-rasanya dia tidak akan keberatan dengan tingkat return tersebut.

    Kedua, tingkat bunga deposito (Fed Fund Rate) di luar negeri sangat rendah. Lihat saja KPR yang bunganya hanya 1 digit. Sementara di Indonesia, tingkat bunga depositonya bisa 3 – 4 kali lipat bunga di AS. Jadi kalau bunga deposito AS 2%, S&Pnya memberikan return 8%, sudah dianggap hebat sekali. Sementara di Indonesia dengan bunga deposito 6%-8%, IHSGnya bisa saja sampai 15-20%. Katakanlah return IHSG 15% per tahun. Jika dibandingkan dengan S&P yang 8% per tahun, dalam 10 tahun itu sama dengan total return 115% vs 404%. Apakah investor akan mempermasalahkan biaya manajer investasi yang 1 – 3% tersebut? rasa-rasanya tidak.

    Biaya reksa dana itu akan menjadi persoalan di industri reksa dana di Indonesia apabila Indonesia sudah sedemikian amannya sehingga bunga deposito serendah bunga deposito di Singapura yang mungkin sekitar 2-3%. Pada saat itu, tentu tingkat return di saham juga akan menyesuaikan. Jika tingkat deposito masih tinggi seperti sekarang, rasa-rasanya belum akan jadi permasalahan.

    Seperti halnya di Amerika yang membutuhkan beberapa dekade dimana persepsi investor yang tadinya active investing menjadi index investing, rasa-rasanya diperlukan waktu yang sama juga di Indonesia. Namun sekali lagi dengan catatan, pasar sudah sedemikian efisien dan kondisi sudah sedemikian aman sehingga tingkat return saham akan semakin rendah dari waktu ke waktu. Jika tidak, rasa-rasanya masih sulit.

    Yang saya lihat sekarang adalah perubahan strategi investasi. Dimana jika dulu reksa dana ditradingkan seperti saham, mulai ada pemikiran reksa dana itu di hold jangka panjang. Banyak nasabah yang sudah mengerti dan menyadari bahwa tindakan mengejar reksa dana dengan return tertinggi atau mentransaksi reksa dananya hanya akan menguntungkan agen penjual saja.

    Demikian, semoga informasi ini bermanfaat bagi anda.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s