Memahami Laba Rugi Dalam Investasi Pasar Modal

Ilustrasi investasi
Shutterstock, Kompas.com

Laba dan Rugi merupakan suatu proses yang hampir pasti akan dialami oleh setiap orang yang melakukan investasi di produk pasar modal, baik itu saham, obligasi, maupun reksa dana.

Tidak terbatas pada produk pasar modal, hal yang sama sebenarnya juga berlaku untuk instrumen lainnya seperti emas, barang berharga seperti lukisan, perhiasan, kendaraan, hingga yang sedang tren belakangan ini seperti bitcoin.

Definisi Laba dan Rugi Menurut KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian Laba dan Rugi sebagai berikut

Laba :  selisih lebih antara harga penjualan yang lebih besar dan harga pembelian atau biaya produksi; keuntungan (yang diperoleh dengan menjual barang lebih tinggi daripada pembeliannya, membungakan uang, dan sebagainya)

Rugi : (terjual) kurang dari harga beli atau modalnya

Sumber: https://kbbi.web.id/

Mengacu ke definisi di atas, investasi di pasar modal dan instrumen apa saja baru bisa disebut Laba atau Rugi apabila sudah terjual. Jika hanya beli saja dan kemudian harganya naik atau turun, belum bisa disebut Laba / Rugi.

Laba dan Rugi dalam Praktek

Continue reading “Memahami Laba Rugi Dalam Investasi Pasar Modal”

Insentif Pajak Berkurang, Bagaimana Kinerja Reksa Dana ?

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2009 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan Berupa Bunga Obligasi, besaran pajak atas kupon dan diskonto obligasi yang diterima reksa dana naik dari 5% hingga 2020 menjadi 10% untuk 2021 dan seterusnya.

Dibandingkan dengan investor umumnya yang membayar pajak sebesar 15%, reksa dana masih mendapat insentif namun memang berkurang. Bagaimana dampaknya terhadap kinerja reksa dana?

Jenis reksa dana yang paling terdampak pada aturan ini adalah reksa dana terproteksi dan reksa dana pendapatan tetap yang menempatkan seluruh dana kelolaan pada obligasi, diikuti dengan reksa dana campuran dan reksa dana pasar uang yang menempatkan sebagian dana kelolaan pada obligasi.

Pajak Penghasilan Atas Kupon

Perpajakan atas obligasi dikenakan atas Kupon dan Diskonto obligasi. Kupon adalah tingkat imbal hasil yang ditetapkan oleh penerbit obligasi dan dibayarkan setiap tanggal pembayaran kupon.

Pembayaran kupon obligasi bervariasi, setiap bulan pada Obligasi dan Sukuk Ritel, setiap 3 bulan pada obligasi yang diterbitkan perusahaan swasta, dan setiap 6 bulan pada obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah.

Besaran kupon ditetapkan dalam persentase terhadap nilai pokok obligasi. Semakin lama waktu jatuh tempo, semakin besar pula besaran kuponnya. Untuk obligasi korporasi, besaran kupon juga tergantung persepsi risiko gagal bayar / ratingnya. Semakin rendah rating, semakin besar pula kupon obligasinya.

Misalkan suatu obligasi membayarkan kupon sebesar 8% per tahun dan investor membeli senilai Rp 1 M. Maka besaran kupon yang diterima oleh investor adalah 8% dikalikan Rp 1 M atau setara Rp 80 juta, selanjutnya dipotong pajak penghasilan.

Berdasarkan peraturan, pajak atas kupon setelah 2021 adalah sebesar 10% atau setara Rp 8 juta. Sehingga nilai kupon yang diterima investor adalah Rp 72 juta.

Nilai pajak ini lebih besar dibandingkan sebelum 2021 yang sebesar 5%. Meski demikian masih ada insentif dibandingkan investor umum yang dikenakan pajak 15%.

Pajak Penghasilan Atas Diskonto

Diskonto adalah selisih lebih harga jual atau nilai nominal di atas harga perolehan obligasi. Sederhanyanya disebut capital gain. Capital gain dalam obligasi bisa terjadi dalam 2 kondisi, pertama; investor membeli dan menjualnya dengan harga lebih tinggi, kedua; investor membeli obligasi di bawah nilai par / nominal dan memegangnya hingga jatuh tempo. Untuk kondisi kedua, diskonto terjadi pada saat obligasi jatuh tempo.

Perusahaan sekuritas dan bank yang melayani transaksi jual beli obligasi diwajibkan mencatat harga pembelian obligasi investor. Oleh sebab itu, ketika ada transaksi penjualan atau obligasi jatuh tempo, mereka akan bertindak sebagai pemotong atas pajak penghasilan tersebut.

Misalkan seorang investor membeli obligasi di harga Rp 102 juta dan menjualnya di harga Rp 104 juta, maka atas keuntungan Rp 2 juta tersebut menjadi objek pajak penghasilan dan dipotong 10% x Rp 2 juta setara Rp 200.000. Nilai yang diterima investor atas penjualan obligasi adalah Rp 103.8 juta.

Bagaimana jika investor menjual rugi? Dalam konteks reksa dana, kerugian tersebut dapat digunakan untuk mengkompensasi kupon yang diterima sehingga mengurangi pajak atas kupon obligasinya.

Dampak terhadap kinerja reksa dana

Continue reading “Insentif Pajak Berkurang, Bagaimana Kinerja Reksa Dana ?”

Persiapan Menjadi Investor Reksa Dana 2021

Kinerja dari rata-rata reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, campuran, dan saham berturut-turut pada tahun 2020 dengan menggunakan sumber data dari Infovesta adalah +4.61%, +9.00%, -0.36%, dan -10.29%. Bagaimana dengan tahun 2021 dan seperti apa persiapan bagi masyarakat yang ingin menjadi investor reksa dana di tahun ini?

Kinerja reksa dana cenderung mengikuti kinerja daripada aset dasar yang mendasarinya. Untuk reksa dana saham, biasanya mengacu pada IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan), reksa dana pendapatan tetap mengacu ke Indeks Harga Obligasi (biasanya dikeluarkan oleh IBPA atau Infovesta), dan bunga deposito untuk reksa dana pasar uang.

Bagaimana dengan reksa dana campuran? Karena terdiri dari kombinasi saham, obligasi dan deposito, maka tinggal disesuaikan dengan bobot reksa dana pada masing-masing instrumennya. Jika memang lebih condong ke saham, maka cenderung mengikuti kinerja IHSG dan sebaliknya jika lebih condong ke obligasi maka mengikuti kinerja obligasi.

Continue reading “Persiapan Menjadi Investor Reksa Dana 2021”

Ini Efek Positif Omnibus Law Terhadap Investasi Reksa Dana

Ilustrasi rupiah.
Sumber : Kompas.com dan Thinkstocks

Terlepas dari segala pro kontranya, UU Omnibus Law telah disahkan oleh pemerintah bersama DPR. Khusus untuk sektor pasar modal dan investasi reksa dana, omnibus law memiliki dampak positif yang dirasakan secara langsung dan positif yaitu tentang dividen. Seperti apa ketentuan yang dimaksud?

Dividen Bukan Objek Pajak
Dividen adalah bagian dari keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. Pembagian ini biasanya diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Pembagian dividen tidak bersifat wajib, ada perusahaan yang membagikan sebagian, seluruhnya, atau tidak sama sekali dimana keuntungan disimpan untuk kebutuhan perusahaan di masa mendatang.

Untuk bisa mendapatkan dividen, tentu harus menjadi pemegang sahamnya dulu. Secara umum, investasi saham dapat dilakukan terhadap perusahaan di dalam negeri dan perusahaan di luar negeri.

Dividen Dari Perusahaan Dalam Negeri
Sebelum aturan ini berlaku, ketentuan atas dividen yang dibagikan oleh perusahaan di Indonesia secara umum adalah sebagai berikut
• Wajib Pajak Perorangan sebesar final 10%
• Wajib Pajak Badan Dalam Negeri sebesar final 15%
• Wajib Pajak Luar Negeri sebesar final 20%

Berdasarkan pasal kluster perpajakan dalam omnibus law, apabila dividen tetap diinvestasikan dalam negeri maka ketentuan pajak menjadi sebagai berikut :


• Wajib Pajak Perorangan dari final 10% menjadi 0%
• Wajib Pajak Badan Dalam Negeri dari final 15% menjadi 0%
• Wajib Pajak Luar Negeri tetap final 20%

Continue reading “Ini Efek Positif Omnibus Law Terhadap Investasi Reksa Dana”

Strategi Investasi Untuk Antisipasi Resesi

Resesi ekonomi Indonesia sudah di depan mata. Jika tidak ada kejutan, seharusnya pada saat pengumuman angka Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III-2020 sekitar akhir Oktober / awal November nanti, secara resmi Indonesia akan dinyatakan resesi. Bagaimana strategi investasi untuk mengantisipasi resesi tersebut ?

Resesi merupakan status yang diberikan kepada suatu Negara yang PDBnya negatif dua kuartal berturut-turut. Pada kuartal II 2020, tingkat pertumbuhan PDB Indonesia yang disebabkan PSBB pertama akibat Pandemi COVID-19 adalah -5.32%. Jika Kuartal III-2020 kembali negatif, maka Indonesia akan menyandang status resesi.

Dalam pemaparan Menteri Keuangan, ibu Sri Mulyani beberapa waktu yang lalu, pertumbunan PDB Kuartal III-2020 diperkirakan antara 0 – minus 2.1% dengan kecenderungan mengarah ke minus 2.1% karenanya adanya PSBB lebih ketat di Jakarta.

Apakah status resesi ini berdampak terhadap kinerja investasi reksa dana?
Status resesi bukan hal yang baru dan juga bukan hanya terjadi di Indonesia. Untuk itu, ketika suatu Negara mengalami resesi bukanlah suatu hal yang mengejutkan lagi.

Yang menjadi perhatian dari investor bukanlah resesi atau tidak, tapi seberapa dalam persentase penurunan ekonominya dan apakah sesuai ekspektasi atau tidak.

Jika angkanya sesuai ekspektasi, maka hal tersebut bukan menjadi kejutan sehingga tidak terlalu berdampak juga terhadap volatilitas pasar. Namun jika ternyata turunnya lebih dalam dari 2.1%, maka bisa menjadi kejutan negatif. Sebaliknya jika ternyata naik, maka hal ini akan menjadi kejutan positif.

Baik itu kejutan negatif ataupun positif, efek dari pengumuman PDB ini paling hanya bertahan beberapa hari saja. Sebab data PDB itu keluarnya setiap 3 bulan, sementara harga saham, obligasi dan reksa dana berubah setiap hari. Untuk itu, dampak pengumuman ini terhadap kinerja reksa dana juga tidak lama.

Data-data ekonomi lain seperti laporan keuangan, pergerakan suku bunga, data inflasi, data neraca perdagangan dan transaksi berjalan, nilai tukar, perkembangan bursa saham Negara lain, aliran dana asing, dan sebagainya yang akan menjadi faktor penggerak.

Apa Strategi Investasi untuk mengantisipasi kondisi ini?
Resesi atau tidak, harus diakui kondisi reksa dana khususnya reksa dana berbasis saham memang kurang kondusif selama 3 tahun terakhir.

Ada sebagian kecil yang terkena kasus dan sedang masih dalam proses hukum saat ini, ada juga sebagian besar dengan pengelolaan sesuai aturan namun kinerjanya masih negatif karena faktor IHSG yang juga turun.

Di sisi lain, dengan kondisi suku bunga yang terus menurun baik dari dalam maupun luar negeri, kinerja reksa dana berbasis obligasi seperti reksa dana pendapatan tetap dan campuran membukukan kinerja yang positif.

Meski demikian, tren negatif tidak berlangsung selamanya dalam pasar modal. Harga saham yang terus terkoreksi menunjukkan bahwa valuasi saat ini sudah semakin murah. Di sisi lain walaupun asing terus net sell, peranan dari investor domestik mampu mengangkat IHSG.

Dengan membeli reksa dana berbasis saham di valuasi yang rendah, ketika harganya rebound investor berpeluang mendapatkan capital gain yang relatif tinggi.

Untuk itu, dalam melakukan investasi reksa dana, terdapat 3 strategi yang dapat diambil adalah sebagai berikut :

  1. Dana Darurat dan Dana Persiapan Investasi
    Tempatkan investasi minimal sejumlah 6 – 12 bulan dari kebutuhan hidup sebagai dana darurat di Reksa Dana Pasar Uang. Alternatifnya bisa juga di deposito, tabungan atau instrumen lainnya.

Kemudian untuk dana baru yang rencananya mau dimasukkan ke reksa dana saham, campuran, pendapatan tetap atau terproteksi, apabila masih menunggu “waktu” yang tepat, dapat diparkir sementara juga di Reksa Dana Pasar Uang.

Meski sama-sama di Reksa Dana Pasar Uang, sebaiknya tidak dicampur kecuali anda memiliki money management yang baik. Sebagai alternatif, anda bisa menempatkan misalkan dana darurat di Reksa Dana Pasar Uang Syariah dan dana persiapan investasi di Reksa Dana Pasar Uang Konvensional. Bisa juga dibalik.

Maksimal 50% dari Dana Darurat anda juga dapat dipertimbangkan untuk ditempatkan di Reksa Dana Teproteksi apabila anda yakin situasi “kedaruratan” tidak akan terjadi untuk 2-3 tahun ke depan. Sebab imbal hasil dari terproteksi biasanya lebih tinggi dibandingkan reksa dana pasar uang.

  1. Aset Alokasi
    Karena semua jenis reksa dana memiliki plus minus, maka untuk memanfaatkan peluang sekaligus meminimalkan risiko, investasi reksa dana dapat dibagi ke beberapa jenis reksa dana yang berbeda. Pembagian bisa dilakukan ke Reksa Dana Saham, Reksa Dana Campuran, Reksa Dana USD, Reksa Dana Pendapatan Tetap, dan Reksa Dana Terproteksi.

Pembagian diutamakan pada jenis, bukan nama. Jika anda punya 5 produk dari Manajer Investasi yang berbeda namun jenisnya sama-sama reksa dana saham maka anda tidak melakukan diversifikasi.

Beli dari 1 Manajer Investasi untuk 3 jenis produk yang berbeda saja, sudah merupakan contoh diversifikasi yang baik.

Tidak ada aturan baku dalam persentase alokasi yang ideal. Investor bisa melakukan menyesuaikan dengan profil risikonya. Misalkan jika agresif, maka bobot reksa dana sahamnya lebih besar. Jika konservatif, bobot reksa dana pendapatan tetapnya lebih besar.

Karena diversifikasi sangat penting, bobot ke 1 jenis reksa dana sebaiknya tidak lebih dari 70%. Jika tidak ada gambaran, bisa menggunakan kisaran antara 30 – 70% untuk 1 jenis reksa dana. Sebab jika terlalu kecil, maka efek diversifikasinya juga akan kurang terasa.

Kemudian untuk jumlah produk dalam 1 jenis itu kembali ke preferensi investor. Ada baiknya tidak lebih dari 5, apakah itu hanya di 1 manajer investasi atau kombinasi dari beberapa manajer investasi.

  1. Investasi Berkala dan Market Timing
    Ketika nama dan pilihan produk sudah siap, langkah berikutnya adalah “eksekusi”. Untuk anda yang tidak bergerak di bidang keuangan dan investasi, tidak memantau IHSG setiap hari, metode eksekusi yang ideal adalah investasi berkala.

Investor bisa melakukan investasi berkala dengan autodebet dari rekening tabungan bank setiap bulan ke reksa dana tujuannya. Bisa juga melakukan autoinvest yang sumber dananya berasal dari reksa dana pasar uang.

Dengan demikian, tidak perlu terlalu memusingkan apakah pasar akan naik atau turun, yang penting setiap bulan dilakukan investasi ke berbagai reksa dana yang menjadi tujuan.

Namun untuk nominalnya bisa antara 50 – 75% dari rencana investasi. Misalkan niatnya autodebet Rp 1 juta per bulan, maka cukup Rp 500rb per bulan dulu, sisanya ke reksa dana pasar uang. Dana ini sebagai “dana taktis” untuk masuk ketika ada kesempatan.

Ketika ada volatilitas yang tinggi seperti IHSG sampai koreksi di atas 2% atau ada pengumuman suku bunga dan inflasi yang membuat harga obligasi anjlok, dana taktis ini bisa digunakan. Bisa sekaligus, bisa juga dibagi beberapa kali karena volatilitas pasar bisa berlangsung selama beberapa hari.

Untuk investor yang memang kerjaannya memantau pasar atau dibantu tenaga pemasar yang memberikan informasi kondisi pasar secara up to date dan memiliki dana investasi relatif besar, biasanya lebih memilih market timing.

Cara ini memang tidak salah, namun tingkat keberhasilan sangat tergantung pada kemampuan membaca kondisi pasar dan eksekusi strateginya.

Demikian artikel ini, semoga bermanfaat.

Artikel ini dimuat di Kompas dengan link https://money.kompas.com/read/2020/09/21/141124826/strategi-investasi-untuk-antisipasi-resesi

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Instagram : https://www.instagram.com/rudiyanto_zh/

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

Belajar Reksa Dana : www.ReksaDanaUntukPemula.com