Sell in May and Go Away, Mitos atau Fakta?

Kompas / Pexels

Mengacu ke Wikipedia, Sell in May and Go Away adalah suatu strategi investasi saham berdasarkan teori bahwa pada periode November hingga April kinerja saham lebih baik dibandingkan rata-rata pertumbuhan bulan lainnya.

Dalam strategi ini, saham dijual pada awal Mei dan hasil penjualannya disimpan dalam bentuk kas atau reksa dana pasar uang. Baru kemudian masuk lagi di pasar saham pada bulan November nanti.

Berdasarkan definisi di atas, strategi ini mengasumsikan bahwa dari bulan Mei – Oktober merupakan periode yang tidak baik untuk investasi di saham. Sebaliknya periode November – April merupakan periode terbaik untuk berinvestasi di saham.

Apakah kenyataannya memang demikian? Pembahasan berdasarkan data IHSG dari tahun 2001 adalah sebagai berikut.

Continue reading “Sell in May and Go Away, Mitos atau Fakta?”

Mengenal Inflasi Gaya Hidup dan Kiat Mengatasinya

Referensi : Kompas.com

Pernahkah anda merasa, dengan gaji pertama kali waktu anda bekerja, uang yang bisa ditabung baik secara nominal dan atau persentase lebih besar dibandingkan gaji anda saat ini? 

Jika tidak, selamat!! Anda adalah individu luar biasa yang mampu mengendalikan kebutuhan dan keinginan serta mampu melakukan pengelolaan keuangan dengan baik.

Jika iya, tidak masalah juga karena anda tidak sendiri. Fenomena ini dikenal juga dengan istilah Inflasi Gaya Hidup. Banyak terjadi pada masyarakat terutama kaum pekerja milenial yang hidup di kota besar.

Inflasi Gaya Hidup (Lifestyle Inflation) adalah kenaikan pengeluaran ketika pendapatan meningkat. Ada pengeluaran yang sifatnya mungkin hanya sekali saja, seperti pesta untuk merayakan diterima kerja, promosi pekerjaan, atau kenaikan gaji yang signifikan. 

Ada juga pengeluaran yang sifatnya bisa terus menerus, seperti menggunakan merek pakaian yang lebih mahal, menggunakan perhiasan dan skincare yang lebih baik, ganti dari motor menjadi mobil, mulai mencicil rumah / apartemen, dan atau mulai punya hobi unik yang butuh modal tidak sedikit.

Hal ini sebetulnya cukup wajar. Menikmati hidup juga bagian dari menjalani proses kehidupan. Hanya saja yang namanya Inflasi Gaya Hidup ini harus dikendalikan.

Jika tidak, bukannya ada kelebihan dana, yang ada malah habis bulan habis gaji, atau lebih parahnya terlilit hutang kartu kredit, KTA, atau pinjaman online dengan minimum payment setiap bulannya. 

Bagaimana kiat untuk mengendalikan Inflasi Gaya Hidup ini? 

Continue reading “Mengenal Inflasi Gaya Hidup dan Kiat Mengatasinya”

Cara Akses Data Bulanan NAB Reksa Dana Dari Situs OJK (Update 2021)

Sumber : Situs http://www.reksadana.ojk.go.id

Akses terhadap data historis harga atau lazimnya dikenal dengan NAB/Up (Nilai Aktiva Bersih per Unit Penyertaan) reksa dana merupakan salah satu kendala yang sering dialami oleh para peneliti.

Data itu bukan tidak tersedia, tapi kebanyakan website Manajer Investasi dan Agen Penjual tidak menyediakan format yang mudah untuk diunduh. Kalaupun anda, mesti berbayar dan harganya tidak ramah untuk kantong mahasiswa.

Mungkin saja, peneliti bisa mendapatkan data dari sumber lain. Namun, dalam konteks penelitian, sumber data tentu juga harus berasal dari sumber yang terpercaya dan bisa dipertanggung jawabkan.

Setelah mengalami berbagai perbaikan, untunglah saat ini data reksa dana kembali tersedia di situs OJK. Melalui situs ini, anda bisa melakukan pengolahan sehingga bisa mendapatkan data NAB/Up bulanan untuk kepentingan penelitian dan sebagainya.

Memang perlu ada kerja manual sedikit dan juga perlu ada pemahaman untuk MS Excel. Tapi paling tidak gratis dan sumbernya resmi dari regulator.

Cara untuk mengambil dan mengolah data adalah sebagai berikut

Continue reading “Cara Akses Data Bulanan NAB Reksa Dana Dari Situs OJK (Update 2021)”

Menabung dan Mengumpulkan Modal Investasi Dengan Aturan 30 Hari

Sumber : Kompas / Shutter

Apakah anda termasuk orang yang ingin memulai investasi di pasar modal, tapi tidak kunjung punya modal? Atau bahkan gaji sudah habis sebelum akhir bulan?

Anda tidak sendiri, masyarakat di kota besar juga banyak memiliki masalah yang serupa. Sebagian mungkin karena pendapatannya yang terbatas, tapi saya yakin sebagian besar lebih karena tidak mampu menahan keinginan untuk berbelanja sehingga dananya selalu habis tidak bersisa.

Menabung dan mengumpulkan modal memang membutuhkan komitmen dan disiplin yang kuat. Sebab dengan melakukan secara berulang-ulang itulah, kebiasaan menabung baru dapat terbentuk. Dan jika dilakukan secara terus menerus, selanjutnya akan menjadi “karakter” dari seseorang.

Proses ini tidak sebentar, butuh waktu bulanan untuk membentuk suatu kebiasaan dan tahunan untuk bisa sampai menjadi karakter. Cara ini juga bukan cara cepat untuk kaya, tapi membuat anda lebih kaya dari waktu ke waktu.

Menabung dan berinvestasi adalah kebiasaan dan karakter yang baik. Sekalipun anda tipe orang yang konvensional atau tidak terlalu percaya dengan yang namanya investasi, cukup menabung saja juga sudah bagus.

Aturan 30 Hari

Untuk anda yang ingin membentuk kebiasaan menabung dan mengumpulkan modal investasi, tapi selalu kesulitan, bisa mencoba suatu konsep yang cukup populer di dunia barat yaitu Aturan 30 hari. Istilah ini juga bisa anda Google dengan kata kunci 30 Days Money Saving Rule

Teori dari aturan ini adalah pada dasarnya bahwa dalam perilaku belanja, orang cenderung impulsif. Daripada didasarkan pada kebutuhan, seringkali belanja lebih disebabkan karena iklan / ulasan influencer yang menarik, tampilan produk / jasa yang menawan, atau ingin pamer kepada teman.

Karena impulsif, terkadang kita tidak bisa berpikir secara rasional. Apalagi sekarang sudah banyak fasilitas kartu kredit atau paylater dengan model cicilan sehingga yang dilihat bukan Rp harga beli tapi Rp cicilan per bulannya.

Sebagai manusia, impulsif sebenarnya adalah sifat juga. Tidak ada yang salah dengan itu. Namun jika anda ingin punya kebiasaan menabung dan mengumpulkan modal investasi, sifat ini sebaiknya bisa dikurangi.

Aturan 30 Hari ini cukup sederhana…

Continue reading “Menabung dan Mengumpulkan Modal Investasi Dengan Aturan 30 Hari”

Punya Investasi Saham, Obligasi, dan Reksa Dana.. Bagaimana Cara Lapor Pajaknya?

Thinkstock – Kompas

Bagi Wajib Pajak Orang Perorangan (WP OP), tanggal 31 Maret 2021 adalah batas akhir untuk pelaporan SPT Masa Tahun 2020. Dengan bertambahnya jumlah investor secara signifikan pada tahun lalu dan terus berlanjut hingga saat ini, pemilik harta pasar modal seperti Saham, Obligasi dan Reksa Dana juga terus meningkat. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana cara lapor pajaknya?

Cara yang paling praktis untuk melaporkan pajak adalah via online melalui situs djponline.pajak.go.id. Meskipun juga tersedia pelaporan secara manual, investor pasar modal sangat disarankan untuk melaporkan SPT melalui situs karena praktis, mudah, dan ada kesinambungan data dari tahun lalu.

Yang dimaksud dengan kesinambungan, informasi  Harta dan Kewajiban yang sudah diinput pada tahun lalu dapat dimunculkan pada tahun ini tanpa harus dimasukkan ulang setiap tahun. WP cukup menambahkan atau melakukan revisi apabila terdapat penambahan atau pengurangan.

Selain itu, data pajak juga sudah terhubung dengan beberapa Lembaga keuangan dan pemotong pajak. Nilai pajak yang sudah dibayarkan secara otomatis sudah muncul dan masyarakat bisa mengkonfirmasi apakah data tersebut mau digunakan atau tidak.

Pada dasarnya SPT pajak untuk WP Perorangan terdiri dari 3 bagian, yaitu Penghasilan, Harta, dan Kewajiban. Bagian Penghasilan dibagi lagi menjadi 3 bagian lagi yaitu Penghasilan yang kena tarif pajak progresif, Penghasilan yang kena tarif pajak final, dan Penghasilan yang bukan objek pajak.

Secara sederhana, atas kepemilikan aset pasar modal, berarti dicatat sebagai Harta. Apabila modal untuk berinvestasi tersebut berasal dari pinjaman, berarti dicatat di Kewajiban. Dan jika investor memperoleh keuntungan baik dalam bentuk selisih jual beli dan kupon, dividen, dan bagi hasil, maka dicatatkan dalam Penghasilan sesuai kategorinya.

Kode Harta dan Kewajiban

Secara umum, kode dalam SPT yang berkaitan dengan tulisan ini antara lain

Kas dan Setara Kas
011 = Uang tunai
012 = Tabungan
013 = Giro
014 = Deposito
015 = Setara kas lain

Investasi
031 = Saham yang dibeli untuk dijual kembali
032 = Saham
033 = Obligasi perusahaan
034 = Obligasi pemerintah
035 = Surat utang lain
036 = Reksa dana
037 = Instrumen derivatif
038 = Penyertaan modal perusahaan lain seperti penyertaan modal pada CV, firma dan sebagainya
039 = Investasi lainnya

Pelaporan Harta dalam SPT selalu menggunakan nilai perolehan, artinya jumlah modal yang dikeluarkan untuk memperoleh harta tersebut.

Kewajiban
101      Utang Bank / Lembaga Keuangan Bukan Bank
102      Kartu Kredit
103      Utang Afiliasi
109      Utang Lainnya

Untuk pelaporan kewajiban, apabila terdapat cicilan dan sisa jumlah cicilan bisa menggunakan pengalian daripada angka tersebut. Namun jika berbentuk pinjaman dengan jangka waktu dan bunga tertentu, bisa mencatat nominal pinjaman dan informasi bunga dalam kolom keterangan.

Bentuk Kolom Penghasilan Kena Pajak Final sebagai berikut

Bentuk Penghasilan Bukan Objek Pajak

Pelaporannya adalah sebagai berikut :

Continue reading “Punya Investasi Saham, Obligasi, dan Reksa Dana.. Bagaimana Cara Lapor Pajaknya?”