Free Folat Direvisi: Bagaimana Menghitung Potensi Inflow-Outflow Dana Asing?

Keterbukaan Data 1% akan berdampak ke data Free Float. Pada kebanyakan kasus, free float turun sehingga bobot saham juga turun.

Bagaimana cara menghitung potensi Rp inflow atau outflow asing akibat perubahan data Free Float tersebut?

BUKAN REKOMENDASI BUY SELL HOLD

Pada dokumen yang sempat dipublikasikan MSCI pada September lalu, dimana terdapat 2 skenario perubahan data sebagai berikut :

Informasi FIF Mcap Impact ($Million) contoh :
Skenario 1 BBCA FIF Change -0.125 setara (7.050)
Skenario 2 BBCA (2.820) FIF Change -0.05 setara (2.820)

Apakah jika terjadi skenario 1, maka BBCA akan mengalami outflow 7.050 juta USD setara Rp 118 T atau 2.820 juta USD setara Rp 47.3 T ?

Salah besar, cara bacanya tidak seperti ini. Yang lebih tepat adalah membandingkan FIF before dan after dengan Total FIF Mcap indeks total.

Contoh – BBCA pada harga 6875, total Market Capsnya Rp 847.52 T dengan kurs Rp 16.800 setara USD 50,447 Juta.

Dengan skenario 1 dimana FIF Impact -0.125 atau -12.5%, maka FIF Impact adalah:
– 12.5% x USD 50,447 juta
– 6.305 juta USD setara Rp 105.9 T

Yang sebenarnya jadi fokus bukan FIF Impact tapi FIF Current dan Pro Forma FIF.

BBCA
Current FIF 0.45 x USD 50.447 = USD 22.701 juta
menjadi
Proforma FIF 0.325 x USD 50.447 = USD 16.395 juta

Angka ini kemudian dibandingkan dengan total FIF Mcaps seperti MSCI Emerging Market.

Selanjutnya bandingkan FIF Mcap BBCA vs total Mcap dari MSCI Emerging Market.

Current BBCA 22.701 / 11.730.129 = 0.1653%
Proforma BBCA 16.395 / 11.730.129 = 0.1398%

Jadi efek dari FIF turun 45% menjadi 32.5% bagi BBCA adalah Bobot BBCA di MSCI Index turun dari 0.1653% menjadi 0.1398% atau turun -0.0255%.

Nah, berapa outflow apabila Bobot BBCA dalam MSCI Emerging Market turun 0.0255%?

Untuk itu harus dikalikan dengan Total Dana Kelolaan reksa dana indeks dan ETF yang menggunakan MSCI Emerging Market sebagai acuan.

Contoh iShares MSCI Emerging Market per 12 Maret 2025 USD 27.708.728.935.
Jika ETF ini 100% mengikuti MSCI, maka akan terjadi outflow
– 0.0255% x USD 27.708.728.935
– USD 7.065.725 setara Rp 118,7 M

Tapi itu hanya 1 ETF saja, harus dihitung dengan semua ETF dan Reksa Dana Indeks sejenis, tapi sepengetahuan saya, tidak informasi berapa total dana kelolaan untuk kategori ini. Belum lagi MSCI juga bermacam-macam, ada MSCI Emerging Market, MSCI All Country World Index, dan berbagai variasi lainnya yang total Free Float Mcaps berbeda-beda sehingga bobot BBCA di masing-masing tempat juga berbeda. Kemudian pengelolaan Indeks dan ETF juga memiliki kebijakan untuk tidak copy paste 100% index, bobotnya bisa lebih besar atau kecil, atau tidak memiliki saham itu sama sekali.

Untuk itu yang menurut saya lebih tepat dalam estimasi potensi outflow sebagai berikut:

1. Tetap menggunakan Angka Current FIF dan Proforma FIF
Namun untuk proforma FIF menggunakan data estimasi seperti konten sebelumnya yang mempertimbangan data >1%. Contoh BBCA dari 45% menjadi 42.5%.

2. Menggunakan kepemilikan Reksa Dana (Mutual Fund – MF) Asing per Februari 2026 sesuai data KSEI.
Contoh BBCA per Februari MF Asing 17,520,869,051 lembar.
Dengan harga akhir Februari 2026 yaitu 7,175 setara Rp 125.7 T.
Tidak semua MF adalah reksa dana indeks, untuk itu harus buat asumsi. Di Indonesia, Reksa Dana Aktif sekitar Rp 80 T dan untuk Indeks dan ETF sekitar 30 T, sehingga reksa dana pasif sekitar 27%, untuk itu dibulatkan jadi 30%.

3. Menghitung efek outflow BBCA.
MF Asing Rp 125.7 T.
Asumsi 30% Pasif Rp 37.7 T.
Jika FIF MSCI turun dari 45% menjadi 42.5% maka Rp 37.7 T / 45% x 42.5% = Rp 35.61 T. Sehingga sehingga estimasi Outflow untuk BBCA adalah sekitar Rp 2.1 T.

Proses di atas kemudian diulang pada saham Indonesia dalam MSCI Standar.
Sedikit koreksi atas konten sebelumnya, dimana untuk Kelipatan FIF untuk free float:
< 5% menggunakan 0.1%
5 – 25% menggunakan 0.5%
>25% menggunakan 2.5%.
Tapi dalam perhitungan, ternyata mata saya silap, dimana untuk 5-25% saya menggunakan kelipatan 1% bukan 0.5%.

Saham terdampak ada di
DSSA dari 20% menjadi 20.5%
CUAN dari 12% menjadi 11.5%
Mohon maaf untuk kesalahan ini.

Berdasarkan langkah-langkah di atas dan 30% MF Asing, simulasi terhadap list saham dalam MSCI sebagai berikut :

Untuk Worst Case Scenario yaitu :
Skenario 1, ada kemungkinan terjadi Net Outflow Rp 15.3 .
Sementara untuk Skenario 2, terjadi net Outflow Rp 3.8 T.

Saham masuk atau bertambah bobotnya dalam MSCI tidak berarti akan naik. Sebaliknya saham keluar atau berkurang bobotnya dalam MSCI tidak berarti harga akan turun.

Pembahasan bukan rekomendasi Buy Sell Hold.
Semua data dan perhitungan menggunakan best effort, tapi ada kemungkinan terjadi kesalahan dalam pengambilan dan pengolahan data

Have a nice day

Rudiyanto

Tinggalkan komentar

  1. avatar Rudiyanto
  2. avatar AMA
  3. avatar Rudiyanto
  4. avatar Franciskus
  5. avatar Rudiyanto