Ini Efek Positif Omnibus Law Terhadap Investasi Reksa Dana

Ilustrasi rupiah.
Sumber : Kompas.com dan Thinkstocks

Terlepas dari segala pro kontranya, UU Omnibus Law telah disahkan oleh pemerintah bersama DPR. Khusus untuk sektor pasar modal dan investasi reksa dana, omnibus law memiliki dampak positif yang dirasakan secara langsung dan positif yaitu tentang dividen. Seperti apa ketentuan yang dimaksud?

Dividen Bukan Objek Pajak
Dividen adalah bagian dari keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. Pembagian ini biasanya diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Pembagian dividen tidak bersifat wajib, ada perusahaan yang membagikan sebagian, seluruhnya, atau tidak sama sekali dimana keuntungan disimpan untuk kebutuhan perusahaan di masa mendatang.

Untuk bisa mendapatkan dividen, tentu harus menjadi pemegang sahamnya dulu. Secara umum, investasi saham dapat dilakukan terhadap perusahaan di dalam negeri dan perusahaan di luar negeri.

Dividen Dari Perusahaan Dalam Negeri
Sebelum aturan ini berlaku, ketentuan atas dividen yang dibagikan oleh perusahaan di Indonesia secara umum adalah sebagai berikut
• Wajib Pajak Perorangan sebesar final 10%
• Wajib Pajak Badan Dalam Negeri sebesar final 15%
• Wajib Pajak Luar Negeri sebesar final 20%

Berdasarkan pasal kluster perpajakan dalam omnibus law, apabila dividen tetap diinvestasikan dalam negeri maka ketentuan pajak menjadi sebagai berikut :


• Wajib Pajak Perorangan dari final 10% menjadi 0%
• Wajib Pajak Badan Dalam Negeri dari final 15% menjadi 0%
• Wajib Pajak Luar Negeri tetap final 20%

Continue reading “Ini Efek Positif Omnibus Law Terhadap Investasi Reksa Dana”

Strategi Investasi Untuk Antisipasi Resesi

Resesi ekonomi Indonesia sudah di depan mata. Jika tidak ada kejutan, seharusnya pada saat pengumuman angka Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III-2020 sekitar akhir Oktober / awal November nanti, secara resmi Indonesia akan dinyatakan resesi. Bagaimana strategi investasi untuk mengantisipasi resesi tersebut ?

Resesi merupakan status yang diberikan kepada suatu Negara yang PDBnya negatif dua kuartal berturut-turut. Pada kuartal II 2020, tingkat pertumbuhan PDB Indonesia yang disebabkan PSBB pertama akibat Pandemi COVID-19 adalah -5.32%. Jika Kuartal III-2020 kembali negatif, maka Indonesia akan menyandang status resesi.

Dalam pemaparan Menteri Keuangan, ibu Sri Mulyani beberapa waktu yang lalu, pertumbunan PDB Kuartal III-2020 diperkirakan antara 0 – minus 2.1% dengan kecenderungan mengarah ke minus 2.1% karenanya adanya PSBB lebih ketat di Jakarta.

Apakah status resesi ini berdampak terhadap kinerja investasi reksa dana?
Status resesi bukan hal yang baru dan juga bukan hanya terjadi di Indonesia. Untuk itu, ketika suatu Negara mengalami resesi bukanlah suatu hal yang mengejutkan lagi.

Yang menjadi perhatian dari investor bukanlah resesi atau tidak, tapi seberapa dalam persentase penurunan ekonominya dan apakah sesuai ekspektasi atau tidak.

Jika angkanya sesuai ekspektasi, maka hal tersebut bukan menjadi kejutan sehingga tidak terlalu berdampak juga terhadap volatilitas pasar. Namun jika ternyata turunnya lebih dalam dari 2.1%, maka bisa menjadi kejutan negatif. Sebaliknya jika ternyata naik, maka hal ini akan menjadi kejutan positif.

Baik itu kejutan negatif ataupun positif, efek dari pengumuman PDB ini paling hanya bertahan beberapa hari saja. Sebab data PDB itu keluarnya setiap 3 bulan, sementara harga saham, obligasi dan reksa dana berubah setiap hari. Untuk itu, dampak pengumuman ini terhadap kinerja reksa dana juga tidak lama.

Data-data ekonomi lain seperti laporan keuangan, pergerakan suku bunga, data inflasi, data neraca perdagangan dan transaksi berjalan, nilai tukar, perkembangan bursa saham Negara lain, aliran dana asing, dan sebagainya yang akan menjadi faktor penggerak.

Apa Strategi Investasi untuk mengantisipasi kondisi ini?
Resesi atau tidak, harus diakui kondisi reksa dana khususnya reksa dana berbasis saham memang kurang kondusif selama 3 tahun terakhir.

Ada sebagian kecil yang terkena kasus dan sedang masih dalam proses hukum saat ini, ada juga sebagian besar dengan pengelolaan sesuai aturan namun kinerjanya masih negatif karena faktor IHSG yang juga turun.

Di sisi lain, dengan kondisi suku bunga yang terus menurun baik dari dalam maupun luar negeri, kinerja reksa dana berbasis obligasi seperti reksa dana pendapatan tetap dan campuran membukukan kinerja yang positif.

Meski demikian, tren negatif tidak berlangsung selamanya dalam pasar modal. Harga saham yang terus terkoreksi menunjukkan bahwa valuasi saat ini sudah semakin murah. Di sisi lain walaupun asing terus net sell, peranan dari investor domestik mampu mengangkat IHSG.

Dengan membeli reksa dana berbasis saham di valuasi yang rendah, ketika harganya rebound investor berpeluang mendapatkan capital gain yang relatif tinggi.

Untuk itu, dalam melakukan investasi reksa dana, terdapat 3 strategi yang dapat diambil adalah sebagai berikut :

  1. Dana Darurat dan Dana Persiapan Investasi
    Tempatkan investasi minimal sejumlah 6 – 12 bulan dari kebutuhan hidup sebagai dana darurat di Reksa Dana Pasar Uang. Alternatifnya bisa juga di deposito, tabungan atau instrumen lainnya.

Kemudian untuk dana baru yang rencananya mau dimasukkan ke reksa dana saham, campuran, pendapatan tetap atau terproteksi, apabila masih menunggu “waktu” yang tepat, dapat diparkir sementara juga di Reksa Dana Pasar Uang.

Meski sama-sama di Reksa Dana Pasar Uang, sebaiknya tidak dicampur kecuali anda memiliki money management yang baik. Sebagai alternatif, anda bisa menempatkan misalkan dana darurat di Reksa Dana Pasar Uang Syariah dan dana persiapan investasi di Reksa Dana Pasar Uang Konvensional. Bisa juga dibalik.

Maksimal 50% dari Dana Darurat anda juga dapat dipertimbangkan untuk ditempatkan di Reksa Dana Teproteksi apabila anda yakin situasi “kedaruratan” tidak akan terjadi untuk 2-3 tahun ke depan. Sebab imbal hasil dari terproteksi biasanya lebih tinggi dibandingkan reksa dana pasar uang.

  1. Aset Alokasi
    Karena semua jenis reksa dana memiliki plus minus, maka untuk memanfaatkan peluang sekaligus meminimalkan risiko, investasi reksa dana dapat dibagi ke beberapa jenis reksa dana yang berbeda. Pembagian bisa dilakukan ke Reksa Dana Saham, Reksa Dana Campuran, Reksa Dana USD, Reksa Dana Pendapatan Tetap, dan Reksa Dana Terproteksi.

Pembagian diutamakan pada jenis, bukan nama. Jika anda punya 5 produk dari Manajer Investasi yang berbeda namun jenisnya sama-sama reksa dana saham maka anda tidak melakukan diversifikasi.

Beli dari 1 Manajer Investasi untuk 3 jenis produk yang berbeda saja, sudah merupakan contoh diversifikasi yang baik.

Tidak ada aturan baku dalam persentase alokasi yang ideal. Investor bisa melakukan menyesuaikan dengan profil risikonya. Misalkan jika agresif, maka bobot reksa dana sahamnya lebih besar. Jika konservatif, bobot reksa dana pendapatan tetapnya lebih besar.

Karena diversifikasi sangat penting, bobot ke 1 jenis reksa dana sebaiknya tidak lebih dari 70%. Jika tidak ada gambaran, bisa menggunakan kisaran antara 30 – 70% untuk 1 jenis reksa dana. Sebab jika terlalu kecil, maka efek diversifikasinya juga akan kurang terasa.

Kemudian untuk jumlah produk dalam 1 jenis itu kembali ke preferensi investor. Ada baiknya tidak lebih dari 5, apakah itu hanya di 1 manajer investasi atau kombinasi dari beberapa manajer investasi.

  1. Investasi Berkala dan Market Timing
    Ketika nama dan pilihan produk sudah siap, langkah berikutnya adalah “eksekusi”. Untuk anda yang tidak bergerak di bidang keuangan dan investasi, tidak memantau IHSG setiap hari, metode eksekusi yang ideal adalah investasi berkala.

Investor bisa melakukan investasi berkala dengan autodebet dari rekening tabungan bank setiap bulan ke reksa dana tujuannya. Bisa juga melakukan autoinvest yang sumber dananya berasal dari reksa dana pasar uang.

Dengan demikian, tidak perlu terlalu memusingkan apakah pasar akan naik atau turun, yang penting setiap bulan dilakukan investasi ke berbagai reksa dana yang menjadi tujuan.

Namun untuk nominalnya bisa antara 50 – 75% dari rencana investasi. Misalkan niatnya autodebet Rp 1 juta per bulan, maka cukup Rp 500rb per bulan dulu, sisanya ke reksa dana pasar uang. Dana ini sebagai “dana taktis” untuk masuk ketika ada kesempatan.

Ketika ada volatilitas yang tinggi seperti IHSG sampai koreksi di atas 2% atau ada pengumuman suku bunga dan inflasi yang membuat harga obligasi anjlok, dana taktis ini bisa digunakan. Bisa sekaligus, bisa juga dibagi beberapa kali karena volatilitas pasar bisa berlangsung selama beberapa hari.

Untuk investor yang memang kerjaannya memantau pasar atau dibantu tenaga pemasar yang memberikan informasi kondisi pasar secara up to date dan memiliki dana investasi relatif besar, biasanya lebih memilih market timing.

Cara ini memang tidak salah, namun tingkat keberhasilan sangat tergantung pada kemampuan membaca kondisi pasar dan eksekusi strateginya.

Demikian artikel ini, semoga bermanfaat.

Artikel ini dimuat di Kompas dengan link https://money.kompas.com/read/2020/09/21/141124826/strategi-investasi-untuk-antisipasi-resesi

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Instagram : https://www.instagram.com/rudiyanto_zh/

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

Belajar Reksa Dana : www.ReksaDanaUntukPemula.com

Rapat Umum Anggota PWMII 2020

Bagi anda yang menjadi pemegang Izin PWMII silakan mendaftar untuk mengikuti Rapat Umum Tahunan Anggota PWMII 2020 melalui situs http://bit.ly/rutapwmii2020

Apakah Indonesia Bisa Mengalami Resesi di 2020 ?

Ilustrasi resesi ekonomi
Shutterstock – Kompas

Pada kuartal II 2020 yang lalu, meskipun angka pertumbuhan PDB negatif, Indonesia belum masuk dalam kategori resesi karena pertumbuhan pada kuartal I nya masih positif. Bagaimana dengan kuartal III dan IV? Apakah Indonesia bisa mengalami resesi di 2020?

Resesi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara. Setiap kuartal, yaitu Januari – Maret, April – Juni, Juli – September, dan Oktober – Desember, Badan Pusat Statistik (BPS) menghitung Produk Domestik Bruto (PDB) yang dihasilkan Indonesia.

Secara rumus, PDB merupakan penjumlahan dari angka Konsumsi (C), Investasi (I), Pengeluaran Pemerintah (G) dan selisih Ekspor dan Impor (X – M).  Biasanya diberi rumus PDB = C + I + G + (X-M)

Secara sederhana, Konsumsi adalah seluruh belanja masyarakat, Investasi adalah pendirian perusahaan dan pabrik, Pengeluaran Pemerintah adalah angka realisasi dari program pemerintah, dan Selisih Ekspor dan Impor adalah selisih bersih antara jumlah uang yang dihasilkan dari kegiatan ekspor dikurangi yang dikeluarkan untuk impor.

Dalam kondisi normal, biasanya hampir 60% dari PDB Indonesia berasal dari aktivitas Konsumsi masyarakat. Hal ini menjadikan negara Indonesia relatif kebal dengan resesi dan krisis. Sebagai contoh, ketika terjadi perang dagang antara China dan US, usaha ekspor impor memang terganggu, tapi karena kontribusinya kecil, ekonomi Indonesia tetap tumbuh hanya saja lebih lambat.

Pada tahun 2008 yang lalu dimana terjadi krisis subprime mortgage di Amerika Serikat yang menjalar menjadi krisis keuangan di seluruh dunia, Indonesia juga masih tetap adem ayem bahkan masih tetap positif. Lagi-lagi karena besarnya kontribusi konsumsi domestik.

Pandemi COVID-19 menjadi ujian berat bagi perekonomian Indonesia. Sampai sekarang, sekolah masih mayoritas belum dibuka. Kegiatan hiburan seperti bioskop dan konser masih dilarang. Resepsi dan pesta juga masih sangat terbatas. Belum lagi PHK dan berkurangnya penghasilan membuat daya beli turun.

Dengan kondisi seperti di atas, apakah masih bisa selamat dari resesi dan krisis dengan mengandalkan konsumsi domestik seperti sebelumnya?

Secara matematis, suatu negara dinyatakan resesi apabila tingkat pertumbuhan PDB lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya selama 2 kuartal berturut-turut. Angka PDB Indonesia untuk tahun 2019 dan 2020 adalah sebagai berikut :

Continue reading “Apakah Indonesia Bisa Mengalami Resesi di 2020 ?”

Untung Mana, Emas atau Pasar Modal?