Paska pengumuman HSC, investor mengkhawatirkan akan terjadi penurunan IHSG dan net sell oleh investor asing. Yang menjadi pertanyaan, berapa perkiraan IHSG akan turun dan dana asing yang net sell?
Berikut perkiraannya dalam data dan angka
BUKAN REKOMENDASI BUY SELL HOLD
Berdasarkan pengumuman IDX 2 April 2026, terdapat 9 saham sebagai berikut :
ROCK
IFSH
SOTS
AGII
BREN
MGLV
DSSA
LUCY
RLCO
Bahkan BREN dan DSSA berdasarkan Statistik IDX 2 April adalah saham dengan Market Cap urutan 2 dan 3 setelah BBCA.

“Seandainya” terjadi penurunan pada kedua harga saham ini, tentu efek ke IHSGnya besar. Opini tersebut tidak salah, tapi perlu diketahui bahwa IHSG tidak dihitung berdasarkan Market Capitalization (MC) saja, tapi Free Float Adjusted Market Capitalization (FFAMC).
Contoh BREN Rp 642 T, bukan angka itu yang dipakai. Pertama kalikan Free Float dulu, misalnya 12% – free float versi IDX ya, bukan MSCI. Kemudian dibandingkan dengan semua saham dalam IHSG, jika bobotnya di atas 9%, maka akan dikurangi – Adjusted.
Nah baru angka itu yang dipakai.
Angka FFAMC dan bobotnya dalam IHSG per 2 April 2026 adalah sebagai berikut:

Jadi contoh BREN kalau Full MC adalah Rp 642 T FFAMC-nya 78.9 T. DSSA Full Rp 542 T, FFAMCnya Rp 110 T. Angka FFAMC saham dibagi semua saham dapat kontribusi bobotnya dalam IHSG.
Contoh jika BREN 2.5203% harganya naik 10% dan semua saham lain tetap, maka IHSG akan naik 10% x 2.5203% = +0.25%, sebaliknya jika BREN turun 10%, IHSG akan turun -0.25%. LUCY dan MGLV bahkan tidak ada bobot sama sekali.
Masuknya saham ke HSCL adalah sentimen negatif, untuk itu ada kemungkinan harganya turun. Saya membuat skenario harga turun -10%, -20%, -30%, -40%, dan -50%, efek ke IHSG dengan asumsi semua saham lain harganya tidak berubah adalah sebagai berikut :

Jadi jika 9 HSCL turun, maka efek terhadap IHSG dari 7026 bisa turun hingga 6807.
Apakah harga saham HSC akan turun paska diumumkan? Belum tentu juga. Sebab harga saham turun itu kalau investor punya saham dan dia jual dengan harga yang sangat rendah, entah itu karena panik, berubah view, atau tidak sesuai dengan ketentuan perusahaan. Kalau investornya tidak jual, ya harganya akan normal-normal saja.
Sebaliknya kalau ada investor yang berani membeli dengan harga tinggi karena pertimbangan valuasi, teknikal, story, kebijakan investasi, dan atau lemparan koin dengan sisi buy / sell, harga saham akan naik. Yang merespon secara negatif untuk saham HSC biasanya adalah Reksa Dana Asing yang berbasis indeks. Untuk lokal, walaupun mungkin akan merespon secara negatif juga, tapi karena hal baru belum ada SOPnya. Untuk Individual Lokal, biasanya relatif FOMO, tapi bisa juga kontrarian tergantung “gembalanya”. Untuk itu, perlu melihat struktur dari pemegang saham.
Berdasarkan data kepemilikan saham KSEI dan harga saham per 31 Maret 2026, sesuai urut abjad adalah sebagai berikut :
AGII
Reksa Dana Asing hanya memiliki Rp 10 M, dengan asumsi 30% adalah indeks fund, cuma Rp 3 M. Investor Lokal perorangan ada Rp 215 M.

BREN
MF Asing ada Rp 25.6 T, asumsi 30% pasif maka sekitar Rp 7.6 T.
Individual Lokal juga cukup besar dengan Rp 1.8 T.
Ternyata MF Lokal (reksa dana) “cuma” pegang saham ini sekitar Rp 23 M di Maret 2026.

DSSA
MF Asing “cuma” Rp 5.8 T, asumsi 30% reksa dana indeks maka sekitar Rp 1.7 T. MF Lokal memegang sekitar Rp 83 M dan Individual lokal memegang sekitar Rp 393 M.

IFSH, LUCY dan MGLV
Bahkan tidak ada pemegang saham sama sekali dari MF Asing. Kebanyakan mungkin masih terkonsentrasi di kelompok pemilik tersebut dan lokal.



RLCO
Sempat heboh beberapa kali karena ada riset sekuritas yang menyatakan harga masih berpotensi naik tinggi dan juga sempat disebut dalam rapat dengan regulator. MF Asing tidak punya sama sekali. Tapi Individual Lokal ada sekitar Rp 1.5 T

ROCK dan SOTS
Juga tidak ada pemegang saham MF Asing sama sekali. Pemegang saham terbesarnya masih Individual dan Perusahaan Lokal.


Dibandingkan data >1% kemudian ditambah pengungkapan apakah para pihak afiliasi atau bukan, pengungkapan HSC ini lebih to the point. Semoga concern dari Global Index Provider dan investor asing terjawab dan tidak ragu lagi untuk menambah alokasi investasinya di Indonesia.
Sekarang ini seperti mengulang Perang Russia – Ukraina di awal 2022an. Harga komoditas seperti batu bara, kelapa sawit, emas, logam naik tinggi. Dalam masa-masa seperti ini, Top of Mind adalah Indonesia karena persepsi asing Indonesia negara komoditas, jadi uangnya bisa ke sini.
Jangan sampai karena ada concern soal transparansi kepemilikan saham, investor asing menahan atau bahkan mengurangi bobotnya ke Indonesia. Semoga setelah ini, inflow asing bisa lebih banyak dan emiten yang naik, memang yang berkualitas.
Have a nice day
Data diambil dari sumber langsung yaitu IDX dan KSEI dan diolah dengan upaya terbaik, namun tidak menjamin tanpa kesalahan sama sekali dalam pengolahan dan penyajian.
Bukan Rekomendasi Buy Sell Hold


Tinggalkan komentar