Prediksi Return Reksa Dana Pendapatan Tetap

Dalam kondisi suku bunga turun, salah satu instrumen investasi yang menjadi perhatian adalah obligasi atau reksa dana pendapatan tetap. Sebab secara teori, ketika Suku Bunga Turun maka harga Obligasi akan naik dan sebaliknya.

Reksa dana pendapatan tetap merupakan reksa dana yang berinvestasi pada instrumen obligasi. Oleh karena itu, ketika harga obligasi naik, maka harga reksa dana pendapatan tetap juga akan ikut naik.

Yang sering menjadi pertanyaan adalah kira-kira berapa persen kenaikannya? Sebab berbeda dengan reksa dana saham yang ada patokan IHSGnya, patokan reksa dana pendapatan tetap adalah suku bunga. Misalkan saat ini IHSG adalah 6000 dan diperkirakan bisa naik ke 6600, maka investor bisa membuat perkiraan reksa dana saham akan sekitar 10% mengikuti kenaikan IHSG.

Sementara bagaimana jika suku bunga turun dari 6% menjadi 5.5%. Bagaimana efek dari penurunan 0.50% tersebut terhadap harga obligasi dan reksa dana pendapatan tetap? Tulisan kali ini akan berfokus pada hal tersebut.

Continue reading “Prediksi Return Reksa Dana Pendapatan Tetap”
Advertisements

Fenomena Finansial Generasi “Sandwich”

Sumber : Channel Youtube Panin Asset Management

Tentu Sahabat Panin tahu apa itu sandwich, kan? Roti isi ini kerap disajikan di berbagai kafe dan rumah makan untuk mengganjal rasa lapar. Berikaitan dengan kondisi finansial sebagian besar masyarakat saat ini ternyata bisa diibaratkan dengan sandwich loh.

Lebih tepatnya, kondisi finansial seorang individu yang harus mengurus anaknya, tapi juga sekaligus mengurus orangtuanya. Kondisi si individu yang ‘terjepit’ antara keharusan mengurus dua generasi ini kerap diibaratkan bagai sandwich, mirip isian roti yang terjepit di antara dua lembar roti.

Dari sini, lahirlah istilah sandwich generation. Pastinya gak mudah kalau Sahabat Panin dalam kondisi generasi sandwich ini. Tapi gak perlu khawatir, Panin Asset Management kamu dapat menggunakan kalkulator finansial yang tentunya dapat membantu perencanaan keuangan kamu ke depannya.

Simak videonya sampai tuntas ya. Semoga bermanfaat.

Efek Perang Dagang Terhadap Investasi Reksa Dana

Ilustrasi Perang Dagang, Shutter Stock – Kompas Online

Perang dagang antara dua raksasa ekonomi dunia yaitu Amerika Serikat dan China yang bermula pada awal 2018 ternyata masih berlanjut hingga pada tahun 2019 ini. Tidak hanya saling ancam, kedua negara juga saling menetapkan tarif bea masuk untuk ekspor impor antar negara. Bagaimana efek dari perang dagang terhadap investasi reksa dana?

Perang dagang pada dasarnya adalah penetapan tarif atau bea masuk terhadap barang impor dari suatu negara. Biasanya ada 3 tujuan penetapan tarif ini yaitu untuk menghambat impor barang / jasa luar negeri, melindungi barang / jasa produksi dalam negeri, dan atau menambah pendapatan pemerintah dari pajak.

Pengenaan tarif atau bea masuk sebenarnya merupakan praktik yang lumrah dalam perdagangan internasional. Seperti bea masuk atas barang mewah, minuman beralkohol, bahan baku yang tersedia di dalam negeri dan sebagainya. Hal ini menjadikan barang dari suatu negara lebih murah dibeli di negara asalnya dibandingkan harga ketika sudah diimpor.

Menjadi permasalahan apabila suatu negara merasa keberatan atas tarif bea masuk impor yang ditetapkan negara lain terhadap produknya. Keberatan tersebut dapat direspon dalam bentuk protes, mediasi di pengadilan arbitrase internasional, atau bahkan pembalasan dalam bentuk pengenaan bea masuk kembali.

Efek Samping
Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di dunia, perang dagang antara AS dan China tidak hanya berdampak terhadap ekonomi pada kedua negara itu saja tapi juga menimbulkan efek samping bagi negara lain.

Sebagai contoh turunnya permintaan dan harga komoditas seperti batu bara karena China merupakan importir dan konsumen terbesar di dunia. Bagi Indonesia, batu bara merupakan salah satu komoditas andalan ekspor sehingga membuat defisit neraca perdagangan meningkat. Singapura sebagai negara yang sangat mengandalkan perdagangan, pada tahun ini memprediksikan pertumbuhan ekonomi mendekati 0 persen akibat perang dagang ini.

Perang dagang juga dapat meningkat menjadi perang mata uang. Dimana dalam rangka menjaga daya saing produk ekspornya, nilai tukar mata uang negara tersebut mengalami pelemahan. Entah disengaja atau tidak, ketika nilai tukar Renmimbi (RMB) China melemah dari sekitar level 6 koma-an menjadi 7 per 1 dollar AS, Amerika Serikat menuduh China sebagai manipulator mata uang.

Tidak semua efek samping perang dagang bersifat negatif. Ada juga negara yang diuntungkan karena perusahaan di China memindahkan basis produksinya ke negara lain yang tidak dikenakan bea masuk seperti Malaysia, Vietnam dan Thailand.

Hingga saat ini belum ada kepastian bahwa kapan perang dagang ini akan mereda. Perubahan hasil perundingan dari yang sebelumnya baik bisa berubah menjadi buruk dan sebaliknya dalam hitungan minggu bahkan hari. Dan perkembangan mengenai sikap Amerika Serikat bisa dilihat dari cuitan Presiden AS di akun Twitternya.

Continue reading “Efek Perang Dagang Terhadap Investasi Reksa Dana”

Mengenal Instrumen Risk Free Rate di Indonesia

Ilustrasi Shutterstock Kompas – Online

Risk Free Rate (RFR) atau tingkat pengembalian instrumen bebas risiko merupakan komponen penting dalam investasi. Yang menjadi pertanyaan, dimana bisa mencari referensi instrumen Risk Free Rate di Indonesia.

Pada prakteknya terdapat banyak referensi instrumen risk free, mulai dari deposito, obligasi negara, JIBOR dan IndONIA. Penjelasannya sebagai berikut.

Continue reading “Mengenal Instrumen Risk Free Rate di Indonesia”

Suku Bunga Turun, Pilih (Reksa Dana) Saham atau Obligasi?

Ilustrasi investasi.(SHUTTERSTOCK) – Kompas Online

Setelah bertahan selama 8 bulan, Bank Indonesia melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang diselenggarakan pada tanggal 17-18 Juli 2019 lalu mengumumkan penurunan suku bunga acuan dari 6 persen menjadi 5,75 persen. Sehubungan dengan hal tersebut, mana yang lebih baik bagi investor? Pilih reksa dana berbasis saham atau reksa dana pendapatan tetap yang berbasis obligasi ?

Suku bunga acuan atau secara akademis dikenal dengan istilah Risk Free Rate, dimana jika mengalami penurunan, secara teori akan berdampak positif bagi obligasi dan saham.

Untuk obligasi, berlaku teori dimana jika suku bunga turun maka harga obligasi akan naik, sebaliknya jika suku bunga naik maka harga obligasi akan turun. Untuk saham, suku bunga biasanya digunakan sebagai komponen untuk menghitung valuasi harga wajar.

Semakin rendah Risk Free rate, maka harga wajar suatu saham akan semakin tinggi. Sebaliknya semakin tinggi Risk Free Rate, maka valuasi harga wajar suatu saham akan semakin rendah. Jadi secara teori, bisa disimpulkan bahwa penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia berdampak positif baik bagi reksa dana saham dan reksa dana pendapatan tetap.

Meskipun demikian, dalam praktek terkadang tidak selalu sejalan. Sebagai contoh, sejak suku bunga diumumkan turun pada tanggal 18 Juli yang lalu hingga tanggal 23 Juli 2019, IHSG nyaris tidak berubah dan Indeks Obligasi malah turun sekitar 0.22 persen.

Continue reading “Suku Bunga Turun, Pilih (Reksa Dana) Saham atau Obligasi?”

Suku Bunga Turun, Reksa Dana Saham Naik ?

Saat ini, pasar modal meyakini bahwa tingkat suku bunga akan turun. Secara teori, jika suku bunga turun, maka obligasi dan reksa dana pendapatan tetap akan mengalami kenaikan harga dan sebaliknya. Bagaimana dengan reksa dana saham?

Sebelum membahas lebih jauh, perlu dipahami terlebih dahulu mengenai suku bunga acuan di Indonesia. Lembaga yang menerbitkan besaran suku bunga acuan adalah Bank Indonesia, sehingga disebut juga dengan BI Rate.

Dalam prosesnya, BI Rate mengalami perubahan dan sekarang dikenal dengan istilah 7 Day Reverse Repo Rate. Apa bedanya? Sebenarnya kedua istilah tersebut sama-sama merupakan suku bunga acuan atau BI Rate.

Perbedaannya secara sederhana terletak pada suku bunga yang dulu menggunakan rata-rata periode deposito 1 tahun sebagai acuan, sementara BI 7 Day Reverse Repo Rate menggunakan rata-rata 7 hari. Hal ini kemungkinan karena transaksi antar bank lebih banyak yang jangka pendek, sehingga menggunakan rata-rata 1 tahun sebagai acuan kurang tepat.

Penggunakan 7 Day Reverse Repo Rate sebagai suku bunga acuan secara efektif berlaku pada tanggal 19 Agustus 2016. Secara akademis, BI Rate atau Suku Bunga Acuan ini juga bisa menjadi salah satu acuan Risk Free.

Pergerakan BI Rate dan 7 Day Reverse Repo Rate sejak tahun 2007 sampai 2019 adalah sebagai berikut

Sumber : Bank Indonesia, diolah

Perubahan Suku Bunga
Suku bunga ditetapkan oleh Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) setiap bulan. Terdapat 3 jenis keputusan terkait suku bunga yaitu:
1. Tetap
2. Naik
3. Turun

Jika naik atau turun, biasanya besaran perubahannya adalah 0.25% atau 25 Basis Point (Bps). Namun dalam beberapa kesempatan, perubahannya juga sempat mencapai 0.50% atau 50 Bps atau bahkan lebih. Memang tidak ada ketentuan baku untuk perubahan ini.

2 Hal yang biasanya menjadi pertimbangan dalam penetapan tingkat suku bunga adalah sebagai berikut:

Continue reading “Suku Bunga Turun, Reksa Dana Saham Naik ?”

Mengenal Seluk Beluk Exchange Traded Fund (ETF)

Kalau boleh terus terang, walaupun sudah bekerja di pasar modal sejak tahun 2005, pemahaman saya tentang Reksa Dana Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif Yang Unit Penyertaannya Diperdagangkan Di Bursa (wheeww panjang sekali), atau populer dikenal dengan Exchange Traded Fund – ETF ini tidak lebih baik dari bapak ibu sekalian.

Baru setelah Panin Asset Management memutuskan untuk menerbitkan ETF yang pertama, tepatnya yang terbit pada 27 Mei 2019 lalu, saya berkesempatan untuk mempelajari lebih dalam mengenai cara kerja produk ini.

Sebagai contoh, dahulu saya selalu beranggapan bahwa ETF adalah reksa dana indeks yang diperdagangkan di bursa. Padahal ETF tidak selalu reksa dana indeks yang pengelolaan bersifat pasif karena meniru indeks tertentu, akan tetapi bisa juga pengelolaan yang sifatnya aktif.

Contoh lain, saya selalu bingung dengan ETF karena pasar sekundernya selalu tidak ada transaksi. Tapi ternyata transaksi di pasar primernya sangat aktif sekali.

ETF yang diterbitkan oleh Panin Asset Management memiliki informasi sebagai berikut :
Manajer Investasi : Panin Asset Management
Bank Kustodian : BCA
Dealer Partisipan : Sinarmas Sekuritas (dan akan bertambah Philip Sekuritas dan Panin Sekuritas)
Indeks Acuan : Indeks IDX-30
Nama Reksa Dana : Panin ETF IDX30 Dinamis
Kode : XPTD
X – Kode Untuk ETF
P – Panin Asset Management
T – Tiga puluh (IDX-30 menjadi acuan)
D – Dinamis (penyesuaian bobot setiap bulan)

Untuk industri ETF, per tanggal 27 Mei 2019, terdapat 28 ETF yang sudah terbit di Indonesia

Sumber : Bursa Efek Indonesia, 27 Mei 2019

Seluk beluk ETF mulai dari pembentukan, cara kerja, dan tata caranya adalah sebagai berikut.

Continue reading “Mengenal Seluk Beluk Exchange Traded Fund (ETF)”