Market Outlook Agustus 2020 : Anomali Di Tengah Pandemi dan Resesi

Acara ini bersifat gratis. Untuk pendaftaran silakan klik : https://linktr.ee/paninassetmanagement

Mengenal Indeks Acuan Reksa Dana Index

View this post on Instagram

Indeks Acuan Reksa Dana Indeks Sharing hari ini adalah salah satu bagian dari artikel yang sedang saya persiapkan. Reksa dana indeks merupakan reksa dana yang pengelolaannya mengacu ke indeks tertentu. Dalam keseharian di perusahaan Manajer Investasi, produk ini juga disebut dengan reksa dana dengan pengelolaan pasif. Maksudnya daripada mencoba mengalahkan Indeks, pengelolaannya lebih berupaya untuk meniru indeks tertentu. Bisa saham bisa juga obligasi. Untuk meniru Indeks ini ada aturan dari OJK yang harus dipenuhi – minimal 80% dari anggota indeks harus dimiliki – bobot per efek antara 80-120% dari bobot efek di indeks – MI menetapkan tracking error (semacam satuan penyimpangan antara RD Indeks dan acuannya) Per 30 Juni 2020, terdapat 32 Reksa Dana Indeks di Indonesia, kebetulan semuanya berbasis saham. Total dana kelolaannya sekitar Rp 7.4 Triliun Relatif tidak besar, tapi menunjukkan pertumbuhan minat dari tahun ke tahun baik dari investor perorangan ataupun institusi. Apa Indeks Saham yang jadi favorit? Ternyata bukan LQ45 yang selama ini dikenal tapi IDX-30 dengan Asset Under Management (AUM) Rp 4.7 T Berikutnya disusul Indeks Sri Kehati dengan Rp 1.09 T dan LQ45 ada diposisi ketiga dengan Rp 917 M Reksa Dana Indeks bisa menjadi salah satu instrumen diversifikasi yang baik selain reksa dana saham dari sisi kinerja. Kalau reksa dana saham bisa di atas dan kadang juga di bawah indeks acuan, maka kinerja reksa dana indeks kurang lebih sama dengan indeks acuan Demikian sharing hari ini Semoga hari anda menyenangkan dan siap masuk kerja dengan semangat yang lebih baik

A post shared by Rudiyanto (@rudiyanto_zh) on

Stimulus – Quantitative Easing – Cetak Uang… Bagaimana cara kerjanya??

View this post on Instagram

Stimulus – Quantitative Easing atau sering disebut dengan istilah Cetak Uang adalah faktor utama pendorong kenaikan harga Saham, Obligasi, Reksa Dana dan Emas sejak bulan april Di negara seperti China, bahkan harga properti juga terus mengalami kenaikan.. Kebijakan stimulus dari Bank Sentral di seluruh dunia yang dilakukan secara serentak mulai dari Amerika Serikat, Jepang, China, Uni Eropa, Asia Tenggara termasuk Indonesia merupakan upaya utk memulihkan kondisi ekonomi krn Covid19 Stimulus menambah uang beredar (supply) sementara penambahan aset (demand) tidak secepat itu, akibatnya ya harga aset jadi naik Yang menjadi pertanyaan, kalau dibilang stimulus itu apakah sama dengan artinya Bank Indonesia mencetak uang kertas kemudian dibagi2kan ke masyarakat? Kalau demikian kok perasaan saya ga dapat? Bank Sentral tidak membagikan uang ke masyarakat, perusahaan, atau negara secara langsung secara cuma-cuma Yang benar (kalau di 🇮🇩) pemerintah menerbitkan surat hutang. Namanya juga hutang, berarti ada bunga / kupon dan ada jatuh temponya Surat ini akan jadi uang di saldo kas pemerintah kalau ada yang beli. Biasanya surat hutang ini ditawarkan ke masyarakat salah satunya seperti penawaran ORI dan Sukuk Ritel. Ketika dibeli, uangnya pindah dari tabungan milik masyarakat ke tabungan atas nama pemerintah. Baru nantinya disalurkan dalam berbagai program seperti prakerja, BLT, bangun infrastruktur, gaji PNS dsbnya Dalam kondisi COVID19, kebutuhan pemerintah sangat besar sekali. Kalau mengandalkan penjualan ke masyarakat, dipastikan tidak cukup. Jadi solusinya sebagian dibeli masyarakat, sebagian lagi dibeli sama Bank Sentral atau BI. Darimana BI punya duit? Itulah salah satu kewenangan Bank Sentral di seluruh dunia, mereka bisa mencetak uang sendiri. Jadi surat hutang pemerintah yang tidak terserap masyarakat dibeli sama Bank Sentral. Jadinya pemerintah punya uang untuk menjalankan program ekonominya. Kalau begitu kenapa tidak Bank Sentral cetak uang sebanyak2nya utk dibagikan kepada masyarakat agar cepat pulih? Jika dilakukan seperti bisa saja, tapi kalau tidak terkendali bisa menyebabkan hiperinflasi. (Sambung di komen..)

A post shared by Rudiyanto (@rudiyanto_zh) on

IG Live : Pasien COVID-19 Naik Terus, Kok IHSG Juga Ikutan Naik?