Memanfaatkan Bulan Baik Investasi Reksa Dana Saham

Shutter Stock, Kompas Online

Sebenarnya secara teori, investasi reksa dana apalagi yang berbasis saham adalah untuk jangka panjang. Oleh karena itu, mau memulai di kapan saja sebenarnya tidak terlalu masalah. Meski demikian, kadang-kadang ada waktu-waktu tertentu yang memungkinkan bagi investor untuk mendapatkan timing yang tepat sehingga bisa mendapat keuntungan jangka pendek / menengah.

Waktu-waktu tertentu ini saya sebut dengan istilah bulan baik. Kapan bulan baik untuk investasi di reksa dana saham?

Bagi investor, tentu saja bulan baik itu adalah bulan dimana ketika ketika beli dan kemudian jual, selisih harganya positif alias naik.

Berikut ini ada 2 bulan “baik” yang bisa dimanfaatkan investor untuk memaksimalkan hasil investasi reksa dana sahamnya.

Continue reading “Memanfaatkan Bulan Baik Investasi Reksa Dana Saham”
Advertisements

Millennial Rich Update Digital Wealth Style : Uang Elektronik Bisa Bikin Lo Gaya dan Kaya, Gimana Caranya?

Millennial Rich Update Digital Wealth Style “Uang Elektronik Bisa Bikin Lo Gaya dan Kaya, Gimana Caranya?”

Harris Vertu Hotel – Jakarta
Minggu, 3 November 2019
Jam 08.30 WIB – Selesai
Ballroom lantai 5
Jalan Hayam Wuruk No 6 – 10120

Biaya pendaftaran Rp 100.000
Pendaftaran http://bit.ly/Daftar-Event

Event Book of The Week : Sumpah (Investasi) Pemuda Indonesia

Elex Media Komputindo dan Smart FM bekerjasama dengan Bursa Efek Indonesia mempersembahkan

Book of The Week Live @BursaEfekIndonesia dengan topik “Sumpah (Investasi) Pemuda Indonesia

Acara ini akan diisi dengan Talkshow bersama penulis buku investasi Elex Media Komputindo.

Acara ini diselenggarakan pada :

Jumat, 25 Oktober 2019
Jam 14.00 – 16.00 WIB
Main Hall Bursa Efek Indonesia
Jalan Jend. Sudirman Kav 52 – 53, Jakarta Selatan

Untuk registrasi bisa klik bit.ly.botwsumpahinvestasi

Seminar PPK – PWMII – Industry Trends Impacting Research Workflows

Dalam rangka Pendidikan Peningkatan Kompetensi (PPK). Diselenggarakan oleh Perkumpulan Wakil Manajer Investasi Indonesia (PWMII) yang bekerja sama dengan Bloomberg dengan topik “Industry Trends Impacting Research Workflow” yang diadakan pada :

Hari/tanggal       : Rabu / 02 Oktober 2019

Pukul                     : 13.30 WIB – selesai

Tempat                : Ruang Pelatihan PWMII

                                  Gedung Artha Graha Lantai 31

                                  Jl. Jend. Sudirman Kav 52-53. Jakarta Selatan 12190

Jumlah peserta maksimal 60 orang (first come first served).

Untuk pendaftaran bisa melalui website www.pwmii.or.id atau scan QR Code terlampir.

Seminar ini dapat diikuti oleh anggota maupun non Anggota PWMII

NOTE : Khusus bagi Anggota PWMII yang sudah mendaftar atau melakukan booking seat PPK, apabila tidak dapat hadir, mohon pemberitahuannya dapat diinformasikan ke Sekretariat PWMII maksimal H-3. Apabila informasi pembatalan disampaikan kurang dari 3 hari sebelum pelaksanaan, maka hak Sdr/Sdri. Untuk mengikuti PPK secara gratis satu kali pada tahun ini dianggap tidak berlaku/tidak dapat digunakan.

Tata cara pendaftaran bagi Anggota PWMII

Prediksi Return Reksa Dana Pendapatan Tetap

Dalam kondisi suku bunga turun, salah satu instrumen investasi yang menjadi perhatian adalah obligasi atau reksa dana pendapatan tetap. Sebab secara teori, ketika Suku Bunga Turun maka harga Obligasi akan naik dan sebaliknya.

Reksa dana pendapatan tetap merupakan reksa dana yang berinvestasi pada instrumen obligasi. Oleh karena itu, ketika harga obligasi naik, maka harga reksa dana pendapatan tetap juga akan ikut naik.

Yang sering menjadi pertanyaan adalah kira-kira berapa persen kenaikannya? Sebab berbeda dengan reksa dana saham yang ada patokan IHSGnya, patokan reksa dana pendapatan tetap adalah suku bunga. Misalkan saat ini IHSG adalah 6000 dan diperkirakan bisa naik ke 6600, maka investor bisa membuat perkiraan reksa dana saham akan sekitar 10% mengikuti kenaikan IHSG.

Sementara bagaimana jika suku bunga turun dari 6% menjadi 5.5%. Bagaimana efek dari penurunan 0.50% tersebut terhadap harga obligasi dan reksa dana pendapatan tetap? Tulisan kali ini akan berfokus pada hal tersebut.

Continue reading “Prediksi Return Reksa Dana Pendapatan Tetap”

Fenomena Finansial Generasi “Sandwich”

Sumber : Channel Youtube Panin Asset Management

Tentu Sahabat Panin tahu apa itu sandwich, kan? Roti isi ini kerap disajikan di berbagai kafe dan rumah makan untuk mengganjal rasa lapar. Berikaitan dengan kondisi finansial sebagian besar masyarakat saat ini ternyata bisa diibaratkan dengan sandwich loh.

Lebih tepatnya, kondisi finansial seorang individu yang harus mengurus anaknya, tapi juga sekaligus mengurus orangtuanya. Kondisi si individu yang ‘terjepit’ antara keharusan mengurus dua generasi ini kerap diibaratkan bagai sandwich, mirip isian roti yang terjepit di antara dua lembar roti.

Dari sini, lahirlah istilah sandwich generation. Pastinya gak mudah kalau Sahabat Panin dalam kondisi generasi sandwich ini. Tapi gak perlu khawatir, Panin Asset Management kamu dapat menggunakan kalkulator finansial yang tentunya dapat membantu perencanaan keuangan kamu ke depannya.

Simak videonya sampai tuntas ya. Semoga bermanfaat.

Efek Perang Dagang Terhadap Investasi Reksa Dana

Ilustrasi Perang Dagang, Shutter Stock – Kompas Online

Perang dagang antara dua raksasa ekonomi dunia yaitu Amerika Serikat dan China yang bermula pada awal 2018 ternyata masih berlanjut hingga pada tahun 2019 ini. Tidak hanya saling ancam, kedua negara juga saling menetapkan tarif bea masuk untuk ekspor impor antar negara. Bagaimana efek dari perang dagang terhadap investasi reksa dana?

Perang dagang pada dasarnya adalah penetapan tarif atau bea masuk terhadap barang impor dari suatu negara. Biasanya ada 3 tujuan penetapan tarif ini yaitu untuk menghambat impor barang / jasa luar negeri, melindungi barang / jasa produksi dalam negeri, dan atau menambah pendapatan pemerintah dari pajak.

Pengenaan tarif atau bea masuk sebenarnya merupakan praktik yang lumrah dalam perdagangan internasional. Seperti bea masuk atas barang mewah, minuman beralkohol, bahan baku yang tersedia di dalam negeri dan sebagainya. Hal ini menjadikan barang dari suatu negara lebih murah dibeli di negara asalnya dibandingkan harga ketika sudah diimpor.

Menjadi permasalahan apabila suatu negara merasa keberatan atas tarif bea masuk impor yang ditetapkan negara lain terhadap produknya. Keberatan tersebut dapat direspon dalam bentuk protes, mediasi di pengadilan arbitrase internasional, atau bahkan pembalasan dalam bentuk pengenaan bea masuk kembali.

Efek Samping
Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di dunia, perang dagang antara AS dan China tidak hanya berdampak terhadap ekonomi pada kedua negara itu saja tapi juga menimbulkan efek samping bagi negara lain.

Sebagai contoh turunnya permintaan dan harga komoditas seperti batu bara karena China merupakan importir dan konsumen terbesar di dunia. Bagi Indonesia, batu bara merupakan salah satu komoditas andalan ekspor sehingga membuat defisit neraca perdagangan meningkat. Singapura sebagai negara yang sangat mengandalkan perdagangan, pada tahun ini memprediksikan pertumbuhan ekonomi mendekati 0 persen akibat perang dagang ini.

Perang dagang juga dapat meningkat menjadi perang mata uang. Dimana dalam rangka menjaga daya saing produk ekspornya, nilai tukar mata uang negara tersebut mengalami pelemahan. Entah disengaja atau tidak, ketika nilai tukar Renmimbi (RMB) China melemah dari sekitar level 6 koma-an menjadi 7 per 1 dollar AS, Amerika Serikat menuduh China sebagai manipulator mata uang.

Tidak semua efek samping perang dagang bersifat negatif. Ada juga negara yang diuntungkan karena perusahaan di China memindahkan basis produksinya ke negara lain yang tidak dikenakan bea masuk seperti Malaysia, Vietnam dan Thailand.

Hingga saat ini belum ada kepastian bahwa kapan perang dagang ini akan mereda. Perubahan hasil perundingan dari yang sebelumnya baik bisa berubah menjadi buruk dan sebaliknya dalam hitungan minggu bahkan hari. Dan perkembangan mengenai sikap Amerika Serikat bisa dilihat dari cuitan Presiden AS di akun Twitternya.

Continue reading “Efek Perang Dagang Terhadap Investasi Reksa Dana”