Bagaimana Dampak Perlambatan Ekonomi Amerika Serikat Terhadap Investasi Reksa Dana Indonesia ?

Thinkstock Photo / Kompas Online

Belakangan ini, pembahasan tentang kemungkinan terjadinya resesi atau perlambatan ekonomi Amerika Serikat (AS) semakin banyak bisa ditemui. Bagaimana dampaknya terhadap investasi saham, obligasi dan reksa dana di Indonesia?

Referensi : https://ekonomi.kompas.com/read/2018/11/12/113800626/apakah-amerika-serikat-akan-mengalami-resesi-di-tahun-2020

Per tanggal 19 Desember 2018 indeks S&P 500 yang merupakan cerminan dari nilai saham 500 perusahaan terbesar di AS turun ke 2567. Titik tertinggi pada tahun 2018 adalah pada 2930 bulan September 2018.

Jika diukur dari titik tertingginya, Indeks saham S&P 500 sudah turun 12% dari titik tertingginya hanya dalam waktu kurang dari 3 bulan. Dibandingkan posisi pada awal tahun, juga terhitung -4.77%.

Kenyataan ini sangat bertolak belakang dengan kondisi perekonomian AS yang sangat baik pada tahun 2018 ini. Tingkat pengangguran rendah dan pertumbuhan ekonomi tinggi. Sampai pada bulan September, sebenarnya angka S&P 500 di 2930 juga merupakan yang tertinggi dalam 20 tahun terakhir.

Turunnya harga saham ini bisa disebabkan karena tensi perang dagang antara China dan AS yang terus bergejolak. Namun bisa juga karena turunnya harga saham merefleksikan kekhawatiran akan terjadinya resesi pada tahun-tahun mendatang.

Sebagaimana diketahui resesi AS yang terakhir terjadi pada periode Desember 2007 –  Juni 2009. Pada tahun 2008, penurunan harga saham yang dalam tidak hanya terjadi pada AS tapi juga pada investasi reksa dana di Indonesia.

Ada kekhawatiran efek dari resesi di AS ini juga akan berdampak pada investasi saham, obligasi dan juga reksa dana di Indonesia. Seperti apa analisanya?

Continue reading “Bagaimana Dampak Perlambatan Ekonomi Amerika Serikat Terhadap Investasi Reksa Dana Indonesia ?”
Advertisements

Proyeksi, Peluang dan Tantangan Investasi 2019


Ilustrasi investasi(THINKSTOCKS/RIKKYAL)

TIDAK terasa tahun 2018 hanya kurang dari 1 bulan. Sepanjang tahun 2018, pergerakan nilai tukar rupiah, saham, obligasi, dan reksa dana bisa dikatakan sangat fluktuatif karena dipengaruhi berbagai isu domestik dan eksternal. Nah, bagaimana dengan tahun 2019 ?

Nilai Tukar Rupiah

Ilustrasi rupiah dan dollar AS(THINKSTOCKS)

Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada tahun 2018 bisa diibaratkan seperti roller coaster. Dari 13.000an ke 14.000an kemudian dalam waktu tiba-tiba menembus angka Rp 15.000 dan sekarang kembali lagi ke 14.000an.

Continue reading “Proyeksi, Peluang dan Tantangan Investasi 2019”

Boom and Bust Saham IPO 2018


Kenaikan tersebut berkisar antara 50 – 70% yang menyebabkan saham tersebut kena auto reject batas atas dan beberapa di antaranya bahkan terkena suspensi karena pergerakan harga yang tidak wajar (Unusual Market Activity – UMA)

Berikut ini adalah kutipan dari Harian Kontan

Sumber : E-Paper Harian Kontan 26 November 2018 (klik untuk memperbesar)

Sebagai investor saham, tentu saja senang karena harga saham IPO mengalami kenaikan (boom) yang signifikan sehingga menawarkan peluang investasi yang menarik. Namun tidak semua pengalaman investasi saham IPO di tahun 2018 ini menyenangkan.

Ada yang tidak mendapat alokasi penjatahan saham, ada yang ikut-ikutan membeli pada harga sekunder dan mengalami penurunan (bust) yang signifikan, ada juga yang sahamnya kurang likuid sehingga mengalami kesulitan untuk dijual dalam jumlah besar.

Sebagai contoh, berikut ini adalah pergerakan beberapa saham IPO di tahun 2018. Ada yang naik signifikan dan masih dalam tren kenaikan seperti BTPS, ada yang naik puluhan kali lipat seperti TCPI, Ada yang sempat naik tinggi kemudian turun LCKM, ada juga yang harganya turun di bawah harga IPO seperti TRUK. (Penyebutan saham hanya contoh – bukan rekomendasi untuk jual beli)

Seperti apa Boom dan Bust untuk keseluruhan saham IPO 2018 ini? Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya melakukan penelitian. Proses dan hasilnya sebagai berikut

Continue reading “Boom and Bust Saham IPO 2018”

Window Dressing dan Pergerakan IHSG Bulan Desember

Setiap akhir tahun, biasanya terdapat suatu fenomena di pasar modal yang dikenal dengan istilah aksi Window Dressing. Aksi window dressing adalah upaya mempercantik laporan keuangan oleh emiten / perusahaan dan manajer investasi pengelola dana. Karena upaya ini dilakukan secara bersamaan oleh sebagian besar pelaku, biasanya harga saham meningkat pada akhir tahun.

Di Indonesia sendiri, fenomena window dressing juga terjadi. Dimana sejak tahun 2001 hingga 2017, dalam kondisi seperti apapun apakah sedang ada tahun dilakukan pemilihan umum, krisis ekonomi di dalam ataupun luar negeri, IHSG selalu membukukan tingkat return positif pada bulan Desember.

BerikutΒ ini adalah tingkat return IHSG pada bulan Desember mulai dari tahun 2001 sampai 2017 Continue reading “Window Dressing dan Pergerakan IHSG Bulan Desember”

Apakah Amerika Serikat Akan Mengalami Resesi di Tahun 2020 ?

Ilustrasi : Thinkstock – Kompas.com

Pada bulan November 2018 ini, terdapat beberapa perkembangan indikator ekonomi yang cukup menggembirakan seperti kurs nilai tukar Rp terhadap USD ke level 14.500an, harga minyak yang turun, dan kenaikan harga yang cukup signifikan terjadi pada harga saham, obligasi dan reksa dana. Apa penyebabnya?

Ada analisis yang menyatakan bahwa ini hasil dari sentimen domestik seperti kebijakan yang dilakukan oleh BI dan pemerintah seperti penyediaan sarana hedging mata uang domestik (Non Delivery Forward – NDF), kebijakan minyak sawit pada BBM yang dikenal B20, kenaikan suku bunga the Fed, pembatasan upaya spekulasi mata uang asing, data inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang baik, hingga valuasi saham dan obligasi yang sudah sangat menarik sehingga asing kembali masuk ke Indonesia.

Ada juga analisis yang menyatakan bahwa ini hasil dari sentimen eksternal seperti harga minyak yang turun cukup drastis sehingga berpotensi mengurangi beban defisit transaksi berjalan (current account deficit), hasil dari Pemilu Sela (Midterm Election) di Amerika Serikat dimana partai Demokrat menguasai kursi DPR sehingga diperkirakan kebijakan Presiden Donald Trump akan lebih mendapatkan kontrol dan pengawasan, hingga prediksi yang menyatakan Amerika Serikat akan mengalami resesi pada tahun 2020.

Pada kenyataannya sangat sulit untuk menentukan 1 faktor yang tunggal dan dominan yang menjelaskan suatu kondisi perekonomian. Yang lebih sering adalah gabungan dari beberapa faktor tersebut.

Ada satu hal yang terus terang menarik perhatian saya, yaitu perihal prediksi Amerika Serikat akan mengalami resesi pada tahun 2020. Mengapa prediksi ini bisa muncul di tengah data-data perekonomian AS yang membaik seperti tingkat inflasi rendah dan pertumbuhan ekonomi bahkan di atas target? Continue reading “Apakah Amerika Serikat Akan Mengalami Resesi di Tahun 2020 ?”