Setelah mendapatkan gambaran yang lebih jelas dari Gubernur Bank Sentral 🇺🇸 bahwa penurunan suku bunga 🇺🇸 akan terjadi September, yang merupakan good news, kini tema pasar berubah – Resesi.

Good news atau bad news?

Resesi adalah perlambatan ekonomi yang indikatornya berupa pertumbuhan GDP negatif selama 2 kuartal berturut-turut. Berita resesi ini tidak dari Indonesia, tapi dari 🇺🇸.
Di tengah ekonomi yang terkait satu sama lain, meski 🇮🇩 tidak resesi sekalipun, akan ikut terdampak.

Tanda-tanda resesi biasanya dimulai dari pelemahan mata yang secara signifikan. Sehubungan suku bunga tinggi di seluruh dunia untuk menahan agar mata uangnya tidak melemah signifikan terhadap USD, 🇯🇵 adalah negara yang mengambil kebijakan berbeda dengan bunga tetap rendah.

Dampaknya ke Nilai tukar USD terhadap Yen, biasanya berkisar 1 USD = 100-110 Yen, kini di level 150-160. Kalau misalkan dianalogikan dengan Rp, misalkan 5 tahun lalu USD sekitar Rp 13.000, maka setara hampir Rp 20.000. Saat ini di sekitar Rp 16.000, maka Rp menguat terhadap Yen juga.

Pelemahan mata uang biasanya diikuti juga bergejolaknya harga saham. Nikkei (IHSGnya 🇯🇵 ) yang sempat mencetak all time high di 42rb++ atau naik 30%++ dari awal tahun, sekarang di 34rb++ atau turun hampir 20%!!
Penurunan ini begitu dalam sampai-sampai saham di 🇺🇸 juga ikut terdampak.

Mengapa 🇺🇸 terdampak? Sebab diberitakan resesi 🇺🇸 adalah pemicunya. Prediksi resesi menggunakan selisih imbal hasil Obligasi 10 tahun dan 2 tahun. Jika imbal hasil 10 tahun misalnya 4%, tapi yang 2 tahun 4.5% sebesar -0.5%. Sebaliknya jika 10 tahun 4%, 2 tahun 3.5% sebesar +0.5%.

Angka negatif dianggap tidak normal, kok mau orang pegang obligasi 10 tahun dikasih imbal hasil lebih kecil dari 2 tahun. Hal ini disebut sebagai Inverted Yield (imbal hasil terbalik) dan merupakan alat prediksi suku bunga akan turun ke depan karena ekonomi sedang resesi.

Meski demikian, inverted Yield sudah terjadi dari 2022, resesi tidak kunjung terjadi di 🇺🇸.

Belakangan mulai dibahas indikator lain yaitu Sahm Rule. Pembuatnya Claudia Sahm, adalah pejabat Bank Sentral 🇺🇸 pada waktu itu, yang menggunakan indikator tingkat pengangguran.
Sahm Recession Indicator dihitung dari moving average 3 bulan tingkat penggangguran dibandingkan nilai minimum rata-rata 12 bulan sebelumnya. Jika angkanya naik lebih dari 0.5%, menjadi sinyal dimulainya resesi. Per Juli 2024 angkanya di 0.53%, artinya 🇺🇸 resesi.

Apa artinya 🇺🇸 resesi?

Dalam konteks pasar modal, berarti tingkat pengangguran sedang tinggi. Banyak pengangguran itu tidak baik untuk bisnis dan kinerja laporan keuangan bisa tidak baik. Dalam konteks bank sentral, resesi itu berarti ekonomi sedang kurang baik, perlu stimulus.

Salah satu caranya adalah dengan melakukan kebijakan yang bersifat longgar seperti menurunkan suku bunga, memperlambat bakar uang (quantitative tightening), atau bahkan perlu cetak uang kembali (quantitative easing – QE).

Bagi pasar modal, terutama Obligasi, QE adalah good news. Sebab secara teori, suku bunga turun maka harga obligasi naik. Kemudian ketika cetak uang dilakukan, biasanya yang dibeli adalah obligasi sehingga juga ada peluang kenaikan. Penurunan suku bunga dan QE juga cenderung akan melemahkan nilai tukar USD terhadap mata uang negara lain.

Jadi, di awal resesi ini, kemungkinan akan ada imbas negatif ke harga saham terutama di 🇺🇸.

Tapi bisa juga sebetulnya karena S&P500 sudah naik tinggi, resesi hanya alasan untuk jual saja. Tapi jika suku bunga turun dan QE, akan berdampak positif ke harga obligasi.

Bagaimana dengan saham?
Penggerak dan story saham amat beragam dan cepat berubah. Bisa positif, bisa juga negatif.

Bagaimana dengan 🇮🇩?
Obligasi dan reksa dana pendapatan tetap akan mendapat sentimen positif.

Untuk saham, gejolak tetap ada, tapi harusnya cenderung positif juga.

Rudiyanto

Tinggalkan komentar

  1. avatar Rudiyanto
  2. avatar amedenthusiast
  3. avatar Rudiyanto
  4. avatar Hardi P
  5. avatar Rudiyanto