Salah satu dari 8 agenda reformasi pasar modal adalah Free Float minimal 15%. Hal ini menuai reaksi beragam, kapan batas waktunya? darimana likuiditas untuk menyerap tambahan free float?
Tapi yang ga ditanya,
Seperti apa Free Float < 15% di mata Global Index Provider?
Sebetulnya pernyataan dari regulator cukup jelas. Yang wajib 15% itu adalah emiten BARU yang mau IPO. Sementara untuk emiten yang ada, akan diberikan waktu yang memadai meski belum dijelaskan batas waktunya. Regulator juga mengerti, yang ini ga bisa dipaksa cepat.
Tapi namanya market dengan teori konspirasi yang terkadang penuh nuansa clickbait, dianggap semua saham harus segera 15%, padahal tidak. Untuk meningkatkan free float, ada berbagai mekanisme. Paling umum pemilik jual sahamnya ke masyarakat, biasanya ada keterbukaan informasinya.
Dengan menjual saham kepada masyarakat, maka total lembar saham tetap sama, tapi pemilik / pengendali berkurang dan milik masyarakat bertambah. Tapi yang dapat uang cuma pemilik saham, bukan perusahaannya. Jadi tidak ada efek positif ke perusahaan.

Cara kedua adalah menambah lembar sahamnya dgn mekanisme Right Issue / Private Placement. Ini positif karena company dapat dana segar yang bisa digunakan. Beda dengan cara pertama yang harganya mungkin beda-beda tergantung timing, kalau ini semua orang dapat di harga yang sama.
Repotnya private placement / right issue, butuh proses pengajuan ke regulator, perusahaan mungkin lagi tidak butuh dana, timing penawaran sangat menentukan, dan butuh story kuat supaya laku. Jadi cara pertama lebih diminati karena tidak repot dan pemilik dapat dana langsung.
Secara teori, kalau pemilik publik semakin banyak, maka pembentukan harganya akan semakin wajar. Beda kalau pemilik publik sedikit, dan terkonsentrasi di beberapa pihak, kadang disebut bandar, kadang disebut Market Maker, pembentukan harga lebih mudah dimanipulasi / digoreng.
Di mata institusi dan investor global, free float itu semakin besar semakin baik. Tapi untuk yang senang saham konglo, mungkin sebaliknya karena kalau sedikit, harga gampang ditarik ke atas. Menjadi masalah ketika saham ditarik ke atas itu kemudian “exit” ke investor global.
Nah bagaimana dengan pandangan global index provider seperti MSCI, FTSE, dan GDX/GDXJ?
Berdasarkan dokumen metodologi indeks yang saya baca, tidak ada ketentuan yang mewajibkan Free Float minimal 15% untuk bisa masuk dalam indeks. Saham dengan free float <15% tetap boleh masuk.
Hanya saja ketika free float di bawah angka tertentu, global index provider punya perlakuan yang berbeda-beda
MSCI
Untuk saham yang bukan anggota MSCI, jika mau masuk, market caps dan free float market caps dalam nominal harus di atas angka cut off. Jika free float <15%, ada syarat tambahan yaitu free float market caps 1.8 x Cut Off. Jadi misalnya cut off 10, untuk free float <15% menjadi 18. Selama memenuhi, maka saham tetap bisa masuk dalam MSCI.
FTSE
Ketentuan FTSE jauh lebih longgar, yaitu minimal 5%. Jika kurang dari 5%, maka untuk cut off x 10. Dengan melanjutkan contoh di atas, jika angka cut off 10, saham dengan free float <5%, maka untuk bisa masuk harus di atas 100. Fyi, cut off MSCI dan FTSE berbeda cara dan angkanya.
GDX / GDXJ
Hanya indeks berbasis emas yang dikelola Market Vector ini punya batasan free float minimal yaitu 10%. Saham dengan free float kurang dari 10% tidak bisa masuk jadi member indeks berapapun angka Market Caps dan Free Float Market Capsnya. Jadi sebetulnya 15% bukan angka mati.
Di sisi lain, berdasarkan studi MSCI 2023 rata-rata dari free float emerging market itu di 46.5%. Saham-saham yang 2025 ini masuk MSCI, angka free float yang publikasi belum dikurang investor strategis.
BREN 12.29% – BRMS 51% – DSSA 20.4%.
Kecuali BRMS, 2 lainnya jauh di bawah

Kemudian saham-saham konglo yang belakangan banyak dispekulasikan untuk masuk rata-rata kurang dari 30%, bahkan banyak di bawah 20% sebelum data dicek benar-benar. Kalau dari sudut pandang ini, minimal free float 15% yang benar-benar “free” dari investor strategis menyamar publik ini, BAGUS.
Menurut saya free float murni 15% bukan untuk masuk indeks global, tapi lebih ke supaya harga transaksi di pasar memang harga wajar. Yang mau borong harga, silakan. Jika di atas 1%, maka harus publikasi itu saja. Tapi untuk efektif, pembersihan data free float mesti jalan dulu.
Koreksi IHSG di Senin 2 Februari ini, kalau dibedah, saham bank bluechip naik dan saham lain yang selama ini dikenal saham konglo turun. Mungkin sudah waktunya harga saham balik ke fundamental lagi dan harga sesuai demand dan supply.
Have a nice day


Tinggalkan komentar