Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) data Indeks Harga Konsumen (IHK) Agustus 2024 sebesar 106.06, angka ini turun 0.03% dibandingkan Juli 2024.

IHK naik = Inflasi
IHK turun = Deflasi

Deflasi sudah terjadi selama 4 bulan berturut-turut,
apa dampaknya ke pasar modal?

Angka inflasi tahunan tertinggi tahun ini di 3.05% pada bulan Maret. Seiring dengan deflasi, per Agustus 24 menjadi 2.12%. Jadi secara tahunan, dihitung dari tahun lalu, harga masih naik. Tapi secara bulanan, dihitung dari bulan lalu, harga mengalami penurunan.

Apakah ini positif atau negatif? Tergantung perspektif darimana.

Analisa saya sebagai berikut:

-Pencapaian target ekonomi makro
Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) pada 2024 menetapkan target pengendalian inflasi di 2.5% plus minus 1%. 2.12% artinya masih masuk dalam target.
Jika target inflasi tercapai dan terkendali, maka Bank Indonesia memiliki kelonggaran untuk menurunkan tingkat suku bunga. Jika suku bunga turun, maka akan berdampak positif terutama bagi obligasi karena secara teori, harganya akan naik.

– Sektor riil
Ada anggapan bahwa deflasi = pelemahan daya beli.
Terhadap daya beli ini, ada beberapa sudut pandang.
Sejak pilpres dan pemilu serentak berakhir, “rasanya” memang bisnis riil lebih sepi ditambah dengan harga komoditas sawit dan batu bara tidak setinggi tahun lalu.
Tapi ada juga yang mengatakan bahwa bisnis sebenarnya sama, cuma yang tadinya pembeli sekarang beralih jadi penjual karena ecomerce. Jadinya kue yang tadinya dibagi misalnya untuk 100 pelaku, sekarang diperebutkan oleh 500 pelaku.
Terhadap daya beli sektor riil, pemerintah menggunakan analisa berdasarkan tipe inflasi.
Inflasi total yang 2.12% itu bisa dipecah jadi 3 komponen:
1. Inflasi Bahan Pangan : harga pangan yang bisa bergejolak tinggi tergantung musim dan panen.
2. Inflasi Energi : harga yang dikendalikan pemerintah seperti Bbm, tarif listrik, bahan bakar gas.
3. Inflasi inti / Core Inflation : harga mengeluarkan faktor 1 dan 2.

Dalam pandangan pemerintah, penguatan daya beli itu lebih menggunakan Inflasi Inti sebagai acuan.

Berdasarkan data BPS yang diakses melalui Tradingeconomics, inflasi inti (core inflation) dari awal tahun hingga Agustus terus mengalami kenaikan dan terakhir 2.02% 🟦

Inflasi bahan pangan yang sempat naik tinggi hingga Maret 7.43%, turun menjadi 3.39% di Agustus ⬜

Jadi deflasi lebih banyak terjadi pada inflasi harga pangan seperti gambar di bawah ini yaitu harga bawang, daging, tomat, telur dan jeruk, bukan inflasi inti.
Atas dasar itu, secara ekonomi, tidak terjadi penurunan daya beli.

– Kinerja Emiten
Untuk ini lebih mudah dilihat yaitu cukup cek angka pertumbuhan penjualan dan laba bersihnya. Secara umum, hingga Semester 1-2024, relatif flat. Memang ada yang naik seperti perbankan meskipun tidak double digit, tapi yang turun seperti energi juga ada.
Melemah atau tidak, perlu dipantau sampai laporan keuangan Full Year atau setidaknya kuartal 3-2024 ini.

– Masyarakat umum
Memang ada Judi Online yang melemahkan daya beli masyarakat yang pemberantasannya baru-baru mulai belakangan ini. Tapi ada faktor bulan daftar sekolah juga.
Biasanya pada bulan-bulan ini, yang punya anak khususnya, cukup terkuras karena harus membayar biaya pendaftaran / sekolah anak dan bukan tidak mungkin menggunakan jasa keuangan seperti pinjaman / pergadaian.
Pengeluaran yang lain akan berkurang sehingga berdampak ke daya beli.


Kesimpulannya
– Terhadap Obligasi dan Reksa Dana Pendapatan Tetap, Deflasi adalah sentimen positif karena berpotensi mempercepat penurunan bunga.
– Terhadap Reksa Dana Saham, masih harus melihat kinerja laporan keuangan Q3 atau Q4 yg kemungkinan relatif flat.

HAVE A NICE DAY

Rudiyanto

Tinggalkan komentar

  1. avatar Rudiyanto
  2. avatar amedenthusiast
  3. avatar Rudiyanto
  4. avatar Hardi P
  5. avatar Rudiyanto