Sebelum Tarif Resiprokal Trump berlaku, barang-barang diproduksi di China dan dijual di negara lain. Dengan Tarif, Trump bermaksud agar produksi pindah lagi kembali ke Amerika Serikat.

Sebenarnya antara produksi dan distribusi,
mana yang lebih menguntungkan?
Study case: Iphone & Chip

Dari sudut pandang negara, itu sangat normal. Semua negara juga melakukannya. Sebab negara tidak mau hanya menjadi konsumen, tapi bagian dari produksi sehingga ada nilai tambah penciptaan lapangan kerja untuk warga negaranya. Ada yang menghimbau dengan memberikan insentif pajak. Ada juga yang “memaksa” dengan seperti Indonesia dengan kewajiban TKDN (kandungan lokal) minimal sekian persen agar barang dapat dipasarkan di dalam negeri. Cuma yang ekstrim itu adalah Trump dengan Tarif resiprokalnya yang mengenakan dari 10% hingga 145% sesuai dengan defisit.

Dari sudut pandang ekonomi, katakanlah sebagai pemegang saham, sebetulnya mana yang lebih untung? Apakah mendirikan pabrik yang membuat berbagai produk seperti China atau mendirikan perusahaan yang memasarkan produk tersebut seperti Amerika Serikat?

Untuk melihat apakah suatu usaha menguntungkan atau tidak, maka bisa dilihat rasio keuntungan. Mulai dari Gross Profit Margin sampai Net Profit Margin. Semakin tinggi margin, berarti semakin besar pula keuntungannya.

Untuk Iphone, produsen utamanya adalah Foxconn atau nama aslinya Hon Hai Precision Industry asal Taiwan. Foxconn juga merupakan produsen elektronik berbagai merek besar mulai dari Apple, Microsoft, Amazon hingga merek utama lainnya. Foxconn / Hon Hai adalah perusahaan tbk.

Berdasarkan data dari website Foxconn, kinerja laporan keuangan sebagai berikut :

Ternyata Net Profit Margin dari 2013 – 2024 “cuma” berkisar 1.9% – 3.4% dengan rata-rata di 2.61%. Kalau di Indonesia, setara dengan AMRT (Alfamart) perusahaan distribusi yang memang margin tipis.

Bagaimana dengan Apple? Secara bisnis, mereka yang mendesain produk Iphone, Ipad, Macbook, Ipod dan sebagainya, kemudian produksi dilakukan perusahaan lain, baru jualan baik langsung ataupun lewat kerjasama mitra. Sama seperti Foxconn, Apple perusahaan Tbk sehingga data tersedia.

Berdasarkan data dari 2020 – 2024, ternyata net profit marginnya jauh lebih besar

Berkisar antara 20.9 – 25.8% selama 5 tahun terakhir dengan rata-rata di 24.28%. Tentu ini bukan hanya jualan Iphone saja, tapi juga termasuk layanan langganan icloud dan sebagainya. Untuk untuk kasus Iphone, produsennya “hanya” dapat Net Profit Margin sekitar 2.6% sementara distributornya bisa dapat hingga 24%.

Untuk kasus berikutnya adalah Chip NVIDIA. Sama seperti Apple, yang membuat desain dan menjual chip adalah NVDIA, untuk produsen / pabriknya TSMC.

Sama-sama perusahaan Tbk, informasi profitabilitas dari TSMC (Taiwan Semiconductor Manufacturing) dan NVDA berdasarkan data ChatGPT sebagai berikut :

Ternyata berbeda dengan Apple vs Foxconn, rata-rata Net Profit Margin antara TSMC dan NVDA mendekati.

Bahkan secara historis TSMC konsisten di hampir 40%an, sementara untuk NVDA karena ada terobosan teknologi baru meningkat pesat di 2024. Jadi ternyata produsen / tukang rakit, apabila sangat high tech juga bisa mendapatkan profit margin yang tidak kalah dengan distributor.

Melihat hal seperti ini, supaya program Trump berhasil menarik perusahaan untuk membangun pabrik di Amerika Serikat, harus sangat mengandalkan teknologi tinggi. Sebab biaya SDM di AS sudah pasti lebih tinggi, jadi supaya tetap kompetitif, harus high tech dan otomasi alias robot

Bisa berhasil atau tidak, perlu melihat beberapa tahun ke depan. Semoga perseteruan antara AS dengan China ini bisa secepatnya tercapai kesepakatan sehingga dampak ke negara lain tidak terlalu lama.

Have a nice day

Rudiyanto

Tinggalkan komentar

  1. avatar Rudiyanto
  2. avatar amedenthusiast
  3. avatar Rudiyanto
  4. avatar Hardi P
  5. avatar Rudiyanto