4 Juli 2025, berbagai saham Prayogo Pangestu (PP) mengalami Auto Reject Atas (ARA) karena berita perubahan metode MSCI. Ekspektasi investor, perubahan ini membuka peluang saham PP dibeli investor asing.
Sebelum ini, berapa banyak saham milik PP yang sudah dimiliki asing?

Pembahasan ini menggunakan kombinasi data kepemilikan asing – lokal di KSEI, Free Float yang ada di IDX, dan dibantu AI. Untuk kepemilikan, karena MSCI merupakan acuan bagi reksa dana indeks dalam menyusun portofolio, maka yang dilihat hanya kepemilikan reksa dana asing. Alasan reksa dana lokal juga ikut dianalisis karena saham PP seperti BRPT masuk dalam IDX30 dan LQ-45. Untuk kategori lain seperti Asuransi, Sekuritas, Institusi Keuangan dan sebagainya juga mungkin menggunakan indeks MSCI sebagai acuan, tapi sifatnya tidak wajib.
Selanjutnya lembar saham kepemilikan asing dan lokal reksa dana dibandingkan dengan Free Float di IDX
Dalam statistik IDX, lembar Free Float ditulis dengan nama Weight For Index. Angkanya kurang lebih sama dengan lembar saham yang dimiliki masyarakat umum
Hasil analisanya sebagai berikut :
BRPT
Cara baca, contoh di Januari 2025
Harga saham pada akhir Januari 920
Free Float 25.54 miliar lembar
MF = Mutual Fund
MF Asing memiliki 1.7 Miliar lembar BRPT setara 6.67% dari Free Float
MF Lokal memiliki 539 juta lembar setara 2.11% dari Free Float

Berdasarkan data, seiring dengan kenaikan harga BRPT, kepemilikan Reksa Dana Asing di BRPT malah menurun terutama di Juni 2025. Dari rata-rata 1.7 miliar lembar menjadi 1.57 miliar lembar senilai Rp 2.6 T. Sementara untuk reksa dana lokal naik ke 577 juta setara Rp 959 miliar.
CUAN
Lembar kepemilikan MF Asing stabil dan terus meningkat baik ketika harganya sedang naik ataun turun. Sebaliknya kepemilikan MF Lokal terlihat entah taktis atau salah timing.
Per Juni 2025, Reksa Dana Asing memiliki Rp 502 Miliar dan Reksa Dana Lokal Rp 87 M

Waktu harga CUAN > 10.000 di Desember 2024 dan Januari 2025, kepemilikan mencapai 9 juta lembar, tapi di Feb waktu harga 6700 tinggal 2 juta lembar. Ketika harga CUAN > 10.000 lagi di Mei dan Juni, kepemikikan MF Lokal kembali naik menjadi 7 jutaan lembar.
CUAN tidak masuk dalam indeks acuan, sehingga kalau ada reksa dana lokal yang beli, pertimbangannya lebih ke stock picking dan timing. Dari sisi timing, kelihatannya MF lokal kurang beruntung. Baik asing maupun lokal, kepemilikan sahamnya amat kecil dibandingkan free float.
PTRO
PTRO stock split 1:10 awal 2025
Sama seperti CUAN, kepemilikan Reksa Dana Asing dan Lokal vs free float kecil sekitar 3%-an.
PTRO juga tidak masuk dalam indeks saham yang populer seperti IDX30 dan LQ45 sehingga pemilihan sahamnya juga berbasis stock picking dan market timing

Kepemilikan reksa dana asing di PTRO terlihat terus meningkat sejak awal tahun, dari 11 juta di Desember 2024 (setelah stock split) menjadi 29 juta lembar Juni 2025 setara Rp 81 M. Reksa dana lokal juga sama, dari 51 juta di Desember 2024 menjadi 91 juta Juni 2025 setara Rp 254 M
Waktu harga PTRO turun dari 3150 di Febuari 2025 menjadi 2440 di Maret 2025, reksa dana asing menambah kepemilikan sementara reksa dana lokal mengurangi. Baru sejak April hingga Juni 2025, reksa dana lokal terus menambah kemilikan sahamnya di PTRO.
BREN
BREN merupakan saham dengan Market Caps terbesar mendekati BBCA. Yang menarik, free float BREN sekitar 15.5 miliar lembar, sekitar 31-34% dimiliki oleh Reksa Dana Asing.
Hanya saja kepemilikan oleh reksa dana asing terus menurun dari 5.3 miliar Desember 2024 menjadi 4.9 miliar Juni 2025

Nilai kepemilikan reksa dana asing, jika dikalikan dengan harga pada akhir bulan mencapai Rp 28,9 T di akhir Juni 2025. Puncaknya malah Rp 49.6 T Desember 2025 waktu harganya 9275. Kepemilikan oleh Reksa Dana Lokal tertinggi di Juni 2025 sebanyak 61.5 juta lembar setara Rp 361 Miliar.
Kalau dari BREN sendiri, meski tidak masuk MSCI, kepemilikan oleh reksa dana asing bahkan 1/3 dari free float beredar.
Ada 2 kemungkinan,
Pertama, reksa dana asing yang beli bukan reksa dana indeks tapi reksa dana aktif dengan pertimbangan stock picking dan market caps.
Kedua, reksa dana asing ini bisa saja berbasis indeks, tapi bukan menggunakan MSCI atau FTSE tapi indeks lain.
Secara aturan, Manajer Investasi bisa membuat benchmark sendiri, tidak harus mengacu ke MSCI atau FTSE. Bisa juga mereka tetap pakai MSCI, tapi minta yang versi custom. Kustomisasi indeks acuan itu salah satu layanan dari penyedia indeks seperti MSCI.
Jika Manajer Investasi asing meminta provider indeks menggunakan acuan market caps, bisa jadi saham BREN memiliki bobot yang besar sehingga kepemilikan asing juga besar. Dari semua saham PP, yang berpeluang masuk di MSCI dengan pertimbangan market caps terbesar adalah BREN. Namun mengingat porsi kepemilikan Reksa Dana Asing di Free Float sudah cukup besar, ada kemungkinan kalaupun masuk, mungkin penambahannya belum tentu besar juga.
Masuk atau keluarnya suatu saham dalam indeks bukan jaminan harga sahamnya akan naik atau turun. Efek terhadap harga biasanya menjelang dan pada tanggal saham tersebut masuk saja, setelah itu business as usual tergantung kinerja perusahaan.
Penyebutan saham bukan rekomendasi BUY, SELL, HOLD

Tinggalkan komentar