Berdasarkan data Bank Indonesia, kepemilikan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI, baik oleh investor asing terus merosot dengan signifikan. Sementara untuk kepemilikan terhadap Obligasi Pemerintah terus meningkat.
Apa yang terjadi, good news atau bad news?

Berdasarkan data publikasi Bank Indonesia, kepemilikan investor asing terhadap SRBI mencapai puncaknya Rp 262 T di Oktober 2024. Turun menjadi Rp 224 T di Desember 2024, terbaru di Juni 2025 tinggal Rp 190 T. Dari puncak sudah turun lebih dari Rp 72 T!! Sementara kepemilikan asing di SUN, dari sekitar Rp 877 T di Desember 2024, menjadi Rp 932 T di Juli 2025 atau naik Rp 55 T.
Ada 2 kondisi yang sedang terjadi
1. SRBI jangkanya pendek, 6 bulan, 9 bulan dan 12 bulan. Yang jatuh tempo tidak diperpanjang dan atau
2. Pindah ke SUN
Mengapa investor asing tidak memperpanjang SRBI yang jatuh tempo?
Buat investor sederhana, semua kembali ke tingkat imbal hasil. Ibarat deposito jatuh tempo, kalau ditawarkan dengan rate yang sama atau lebih tinggi, tentunya akan dilanjutkan.
Imbal hasil SRBI sebagai berikut

Dari tabel bisa dilihat bahwa pada akhir Desember 2024 lalu, SRBI baik yg 6, 9, 12 bulan masih menawarkan imbal hasil di atas 7%. Angka ini terus menurun dan terbaru per 18 Juli 2025, malah sudah di bawah 6% yaitu 5.69%. Ditambah pajak yang lebih tinggi yaitu 20%, otomatis pindah
Apakah pindah ke Surat Utang Negara? Ya
Pada tabel di bawah bisa dilihat, sejak Januari 2025, SUN 10 tahun mulai secara konsisten membukukan imbal hasil di atas SRBI meski ikut tren turun juga

Ditambah pajaknya lebih murah yaitu 10%, menjadikannya lebih menarik. Sebagai informasi, pajak 20% dan 10% itu berlaku untuk non perbankan. Sebab bank mencatat sebagai pendapatan bunga, sehingga berlaku pajak progresif badan setelah dikurang dengan biaya-biaya, sehingga maksimal 22% atau 19% bagi yang Tbk dengan saham publik 40%
Apakah ini bad news atau good news?
Keduanya ada
SRBI selama ini menjadi salah satu instrument bagi Bank Indonesia untuk menjaga kurs nilai tukar Rp terhadap USD. Biasanya ketika imbal hasil SRBI tinggi, Rp sedang melemah dan dijaga agar tidak turun terlalu signifikan. Entah karena sudah yakin bahwa US akan segera menurunkan suku bunga, level Rp 16rb++ diterima sebagai new normal baru, atau ada alasan lain…
Tampaknya BI tidak terlalu ngoyo untuk mengusahakan nilai tukar ke level Rp 15rb-an lagi. Satu-satunya harapan, US Dollar melemah sendiri. Sebenarnya US Dollar sudah melemah, tapi somehow investor asing juga tidak terlalu melihat sisi positif Indonesia sehingga Rupiah juga ikutan melemah. Jadi bad news-nya adalah masih butuh waktu lama Rp kembali ke level Rp 15rb-an dan mungkin harus melupakan level Rp 14rb-an
Good News-nya apa?
Harga obligasi pemerintah mengalami kenaikan signifikan tahun ini karena ekspektasi suku bunga turun. Dan memang benar, suku bunga turun. Kenaikan harga obligasi membuat Yield SUN 10 tahun sudah turun ke level 6.5%an, termasuk cukup rendah secara historis.

Meski 6.5% bukan level yang paling rendah, karena sempat mencapai 6.2 atau 6.3%, tapi biasanya di level 6.5% ini rawan terjadi koreksi harga obligasi. Entah karena angka inflasi di luar dugaan, pernyataan Bank Sentral US masih agresif belum akan turun bunga, hingga lainnya. Tapi dengan adanya gelombang perpindahan dana asing dari SRBI ke Surat Utang Negara karena mengejar imbal hasil yang lebih tinggi, maka hal ini bisa menjadi sentiment positif bagi obligasi
Dengan kepemilikan asing SRBI Rp 190 T per Juni 2025 dan pindah ke SUN, ini inflow besar. Inflow ini bisa saja membuat rally di harga obligasi pemerintah terus berlangsung meskipun sudah naik cukup tinggi. Yang pindah dari SRBI ke SUN tidak hanya investor asing saja, perbankan punya SRBI Rp 532 T juga bisa melakukan hal yang sama meski bertahap dan tidak semua.
Adanya rotasi dari SRBI ke SUN ini seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, nilai kurs mungkin akan agak melemah, tapi di sisi lain, masih ada peluang kenaikan harga di obligasi pemerintah dan reksa dana pendapatan tetap. Sepanjang kita yakin dengan tren penurunan suku bunga, reksa dana pendapatan tetap bisa menjadi bagian yang penting dalam portofolio investasi. Sebab ketika saham gonjang ganjing, yang ini anteng-anteng saja.
Semoga bermanfaat dan have a nice day

Tinggalkan komentar