Per tanggal 1 Oktober 2025, pemerintah US resmi dinyatakan dalam kondisi shutdown atau berhenti beroperasi. Ini bukan pertama kalinya, tapi sudah berkali-kali.
Mengapa pemerintah US doyan shutdown?
Apa dampaknya ke pasar modal?

Shutdown: kondisi sebagian lembaga pemerintah AS terpaksa berhenti operasi karena anggaran tidak disetujui Kongres. Yang berhenti / dirumahkan sementara, antara lain dari taman nasional, museum, riset, data ekonomi, program sosial, pajak, izin usaha, pendidikan.
Departemen penting seperti militer, rumah sakit, penjara, transportasi udara tetap beroperasi walaupun pembayaran gajinya tertunda sampai dengan anggaran disahkan. Bisa dibayangkan betapa kacaunya jika hal ini terjadi pada pemerintah Indonesia, untunglah kita belum pernah
Apakah ini pertama kali pemerintah US mengalami shutdown? Ternyata tidak, rupanya shutdown sudah jadi “budaya” karena saking seringnya terjadi. Dari 1979-2019 terjadi 21x shutdown dengan terlama sekitar 35 hari waktu Trump jadi Presiden di 2018 lalu. Kini shutdown lagi per 1 Oktober 2025.

Apakah artinya waktu pemerintahan Biden – Kamala, tidak terjadi? Memang tidak, tapi hampir. Kesepakatan baru tercapai pada menit terakhir sehingga shutdown terhindarkan.
Mengapa Trump yang didukung partai Republik yang mayoritas di DPR masih mengalami masalah terhadap pengesahan anggaran? Setelah saya cari tahu, ternyata sistem perpolitikan di 🇺🇸 lebih rumit daripada di Indonesia Mereka ada Senat (seperti DPD) dan House of Representatif (DPR)
Senat dipilih tiap 6 tahun. DPR dipilih tiap 2 tahun. Presiden dipilih tiap 4 tahun. Kalau Indonesia, DPD itu tidak terikat partai alias independen, di 🇺🇸 Senator bisa Republik, Demokrat, atau independen. Karena singkatnya masa jabatan DPR, partai dominan bisa berubah tiap 2 tahun. Dalam kasus Shutdown 2025, partai Republik di 🇺🇸 menguasai 53% kursi Senat dan 50.3% kursi DPR sehingga menjadi partai yang dominan.
Lantas mengapa untuk anggaran masih tetap tidak disetujui? Khusus soal anggaran 🇺🇸 ada istilah Filibuster yang mewajibkan persetujuan 60% Senat.
Jadi DPR 50%+1 sudah cukup, tapi Senat harus minimal 60%. Maksudnya baik, agar jangan sampai mayoritas memaksa yang minoritas sehingga butuh 60% suara. Pasal filibuster ini sering menjadi ajang negosiasi antara legislatif dengan eksekutif.
Untuk kasus 2025, ada 4 poin:
1. Presiden dan Republik ingin memotong subsidi sosial dengan cukup ekstrem, mungkin karena ternyata sebagian penerimanya termasuk imigran ilegal yang menjadi basis suara Demokrat. Sementara oposisi ingin ada anggaran stabil untuk jangka panjang.
2. Demokrat ingin pendanaan untuk bantuan luar negeri terkait Ukraina, Israel, dan Taiwan tetap jalan. Sementara Republik ingin menurunkan signifikan.
3. Republik ingin anggaran militer naik sambil menurunkan pengeluaran lain. Senat ingin naiknya tidak berlebihan.
4. Trump punya wewenang Rescission di 2025. Wewenang ini memungkinkan bagi dia untuk memotong anggaran setelah disetujui. Jadi anytime dia bisa potong anggaran walaupun sudah disepakati DPR dan Senat, hal ini membuat oposisi tidak nyaman.

Kondisi ini berbeda pada masa pemerintahan Trump yang pertama, dimana waktu itu dia mau bangun tembok perbatasan di Meksiko, tapi DPR yang didominasi Demokrat menentang keras.
Dengan perbedaan tersebut, bagaimana kondisi Shutdown bisa berakhir?
Jawabannya cuma 1, kompromi.
Biasanya kedua pihak ketemu untuk mencari titik tengah. Misalkan Republik ingin memotong dari 100 jadi 30, tapi karena Demokrat tidak setuju, nego ketemunya di 100 jadi 70. Kompromi harus tercapai, sebab makin lama akan berdampak pada kemarahan publik dan persepsi investor.
Makin lama shutdown, makin lama gaji tertunda. Di shutdown 1 Oktober 2025 ini, diperkirakan ada sekitar 800ribu++ PNS 🇺🇸 yang dirumahkan. Jika berlarut-larut, mereka tidak gajian. Kemudian pengumuman inflasi, pengangguran, dan data makro bisa tertunda karena mereka masuk non esensial.
Sementara keputusan suku bunga, perkiraan inflasi, kebijakan aset alokasi dana puluhan ribu triliun Rp menjadikan data tersebut sebagai salah satu acuan penting. Jadi ibarat investor adalah supir mobil, shutdown membuat GPS mati dan jendela buram sehingga sulit lihat arah.
Apakah tertundanya data-data tersebut membuat pasar modal jadi negatif? Belum tentu juga, 1 minggu terakhir sejak berita Shutdown santer terdengar SP500 naik-naik saja. Harga obligasi US juga naik, kalaupun ada koreksi, itu normal karena mekanisme pasar, bukan crash.
Dalam jangka panjang, apabila shutdown berlarut-larut dan semakin sering terjadi, akan membuat kredibilitas 🇺🇸 di investor global turun. Efeknya sudah terasa dari 3 lembaga rating yang menurunkan peringkat surat hutang 🇺🇸 dari setara AAA menjadi AA+. Tapi pengaruh ke yield 🇺🇸 minim.
Jadi apa efek ke pasar modal? Dalam istilah bahasa Mandarin, ada istilah 见怪不怪 (jiàn guài bù guài), yang padanan peribahasa Indonesia mendekati “sudah jadi makanan sehari-hari”. Artinya karena sudah terlalu sering, sudah tidak kaget lagi.
HAVE A NICE DAY

Tinggalkan komentar