Reksa Dana Saham Panin Beta One

Panin Beta One

Reksa Dana Saham Panin Beta One adalah reksa dana terbaru dari Panin Asset Management yang akan terbit pada 31 Maret 2017. Apa latar belakang Panin Asset Management kembali menerbitkan produk reksa dana saham yang ke 7 ini? Bagaimana cara kerjanya dan apa yang membedakan reksa dana ini dengan reksa dana saham yang sudah ada? Bagaimana tata cara transaksinya? Penjelasan lebih lengkap mengenai Panin Beta One adalah sebagai berikut. Continue reading “Reksa Dana Saham Panin Beta One”

Suku Bunga The Fed Naik, Harusnya IHSG Naik Atau Turun ?

Federal Reserve Bank

Biasanya kenaikan suku bunga Amerika Serikat yang dikenal dengan suku bunga Federal Reserve Rate (Fed Fund Rate) diasosiakan sebagai sesuatu yang negatif untuk pasar modal Indonesia. Logikanya jika suku bunga di Amerika Serikat naik, maka investasi dalam bentuk USD akan memberikan imbal hasil yang menarik, akibatnya dana ditarik dari Indonesia dan pindah ke luar negeri. Akibatnya saham dan obligasi dijual sehingga harganya juga turun, demikian pula kinerja reksa dana.

Pada tanggal 15 Maret 2017 yang lalu, Bank Sentral AS mengumumkan kenaikan suku bunga the Fed. Namun bukannya turun, malahan harga saham dan obligasi pada tanggal 16 Maret 2017 meningkat cukup signifikan sebesar 1.58%. Mengapa fenomena ini bisa terjadi ? Dan apakah penurunan ini akan terus berlanjut atau hanya bersifat sementara saja?

Kenaikan IHSG 16 Maret 2017

Continue reading “Suku Bunga The Fed Naik, Harusnya IHSG Naik Atau Turun ?”

Analisa Aliran Dana Asing dan IHSG 2017

Cash (money on white background)

Dalam ilmu perencanaan keuangan atau investasi pada umumnya, periode atau horison investasi pada instrumen saham dan reksa dana saham adalah jangka panjang. Bisa 5 tahun, 7 tahun, 10 tahun bahkan lebih. Namun apakah pakem ini juga berlaku untuk investor asing? Rasanya tidak. Jika anda rajin mengikuti perkembangan, berita tentang dana asing masuk dan keluar dari bursa saham Indonesia bisa berubah secara bulanan, mingguan, bahkan harian. Bagaimana dengan tahun 2017 ini, Apakah dana asing akan net buy atau net sell dari saham Indonesia?

Definisi Aliran Dana Asing

Dalam bursa saham, investor diklasifikasikan menjadi 2 kategori yaitu Lokal dan Asing. Transaksi di sekuritas asing tidak menjadikan investor tersebut dikategorikan sebagai asing karena tetap mengacu ke identitas investor tersebut. Transaksi bisa dibagi dalam kategori Beli dan Jual. Pembelian dan penjualan bisa terjadi antara investor asing dengan investor lokal, investor asing dengan investor asing, dan investor lokal dengan investor lokal. Setiap harinya di Koran Kontan, transaksi investor asing yang beli dan jual dipisahkan sehingga diperoleh net buy dan net sell asing.

Contoh tampilan transaksi net buy dan net sell asing adalah sebagai berikut :

Net Buy dan Sell Asing Kontan 18 Januari 2017Sumber : Kontan, 18 Januari 2017

Dari data di atas, bisa dilihat dari tanggal 11 Januari hingga 17 Januari 2017, asing setiap hari melakukan penjualan saham. Total penjualan selama 5 hari adalah net sell Rp 941.56 milliar. Jika dihitung dari awal tahun sudah net sell sekitar Rp 1.4 Triliun.

Tentu saja, asing tidak melulu jual, ada waktunya juga mereka melakukan net buy. Sebagai contoh, saya kutip dari Kontan 30 Desember 2016.

Net Buy dan Sell Asing Kontan 30 Desember 2016Sumber : Kontan, 30 Desember 2016

Aliran Dana Asing dan IHSG Dalam Jangka Panjang

Dari gambar di atas diketahui bahwa dana asing di saham memang cenderung keluar dan masuk. Bagaimana trennya dari tahun ke tahun ? Jika digambarkan akumulasi net buy sell asing dari tahun 2006 hingga 2017 adalah sebagai berikut : Continue reading “Analisa Aliran Dana Asing dan IHSG 2017”

Investasi Reksa Dana Paska Pemilihan Presiden AS

American press Donald Trump new USA president

Kemenangan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) ke 45 pada pemilihan yang dilakukan pada 8 November 2016 yang lalu memang diluar dugaan. Namun suka atau tidak, semua harus menerima bahwa beliau yang terpilih sebagai Presiden AS. Dalam sudut pandang investasi, yang menjadi fokus adalah mencoba menebak dan memahami kebijakan yang akan diambil pada masa mendatang.

Mengapa disebut menebak? Sebab beliau baru resmi menjabat pada bulan Januari 2017 nanti. Janji-janji yang diucapkan selama masa kampanye masih bisa berubah. Sebagai contoh, sebelumnya pernah disebutkan akan menghapus program perlindungan kesehatan di AS yang dikenal dengan Obamacare. Setelah dilakukan pertemuan dengan Barrack Obama, disebutkan bahwa program tersebut tidak dihapus tapi dipertahankan dengan penyesuaian.

Dari sisi sistem tata negara, suatu kebijakan baru harus didasari dengan Undang-Undang dan itu membutuhkan persetujuan dengan legislatif. Jika ada kebijakan yang dianggap terlalu berlebihan, belum tentu disetujui oleh legislatif. Untuk membuat atau membatalkan undang-undang yang lama pun tentu juga membutuhkan waktu.

Sebagai informasi, kemenangan Donald Trump ini juga disertai kemenangan Republik di kursi legislatif. Dengan kata lain, jika kebijakannya rasional, seharusnya proses pembuatan Undang-Undang akan relatif tidak menemui kendala. Hal ini berbeda dengan era Obama dimana meski menjabat sebagai Presiden, legislatif justru dikuasai partai oposisi sehingga proses menjalankannya pemerintahan banyak mendapat kendala.

Legislatif

Sumber : MSN Politics

Perubahan rezim memang akan membawa ketidakpastian dan rasa tidak nyaman karena keluar dari status quo, namun tidak berarti perubahan harus negatif. Bisa saja perubahannya malah bersifat positif, seperti karena mau meningkatkan ekonomi, pembangunan infrastruktur ditingkatkan. Yang perlu dilakukan adalah mencoba memhami kira-kira seperti apa kebijakan berkaitan dengan ekonomi yang akan dilakukan ke depannya.

Berdasarkan referensi yang ada di berbagai situs keuangan, perkirakan kebijakan ekonomi yang akan diambil adalah sebagai berikut Continue reading “Investasi Reksa Dana Paska Pemilihan Presiden AS”

Apa Dampak Pilpres AS dan Kenaikan Suku Bunga The Fed Terhadap IHSG ?

Wall Street and Election

Akhir-akhir ini pergerakan bursa saham dan obligasi agak stagnan bahkan cenderung turun. Walaupun pada akhir tahun ada yang namanya Window Dressing (kecenderungan IHSG meningkat di akhir tahun), namun sepertinya perhatian investor lebih tertuju pada isu-isu di US seperti Pemilihan Presiden yang akan diselenggarakan pada 8 November 2016 dan suku bunga The Fed yang (rencananya) akan dinaikkan pada bulan Desember tahun ini.

Beredar juga Whatapps yang dikalangan nasabah yang memelintir wawancara sebuah media asing dengan Jim Rogers, dimana topiknya hanya pada denda yang menimpa salah satu bank di Jerman menjadi isu gagal bayar. Padahal dalam wawancara tersebut, tidak disinggung sama sekali gagal bayar dan bahkan angka yang di dalam WA juga sangat berbeda dengan angka dalam wawancara. Bisa jadi tren mengedit berita resmi menjadi berita hoax yang heboh yang terjadi di Indonesia juga dipelajari oleh luar negeri. Ditambah dengan rencana demo besar tanggal 4 November nanti, sedikit banyak membuat investor menjadi lebih wait and see.

Sebelum menjelaskan lebih jauh tentang dampak Pilpres AS dan (rencana) kenaikan suku bunga The Fed, sebenarnya ada statistik return bulanan IHSG yang cukup menarik untuk kita cermati. Berikut statistiknya selama hampir 16 tahun terakhir.

Statistik Return Bulanan IHSG

Sumber : http://www.infovesta.com, diolah

Dari statistik di atas, terlihat bulan Desember adalah bulan yang tidak pernah rugi selama 15 tahun terakhir dari 2001 sampai dengan 2015. Tingkat returnnya bervariasi antara 0.42% hingga 12.12% dalam 1 bulan. Untuk investor yang menunggu IHSG dibawah harga fundamental, sebagaimana yang sering saya kemukakan untuk tahun 2016 antara 5300 – 5500, kalau misalkan tidak dapat-dapat juga dan percaya dengan statistik ini, bisa mencoba untuk masuk selambat-lambatnya akhir November. Namun dalam perjalanan, jika ternyata sempat dibawah 5300, bisa menjadi pertimbangan untuk menambah investasinya di saham.

Kembali ke topik utama, bagaimana dampak kedua isu tersebut terhadap Indonesia, khususnya terhadap IHSG ? Continue reading “Apa Dampak Pilpres AS dan Kenaikan Suku Bunga The Fed Terhadap IHSG ?”