Reksa Dana Baru : Panin Dana Pendapatan Berkala

Panin Dana Pendapatan Berkala

Panin Asset Management akan melakukan launching produk reksa dana pendapatan tetap yaitu Panin Dana Pendapatan Berkala pada tanggal 19 Februari 2016. Agak berbeda dengan reksa dana pendapatan tetap pada umumnya, Panin Dana Pendapatan Berkala menargetkan akan ada pembayaran dividen secara berkala setiap bulannya.

Press Conference Peluncuran Produk di Bursa Efek Indonesia

Press Conference Panin Dana Pendapatan Berkala

Seperti apa latar belakang penerbitan reksa dana ini dan seperti apa fitur2nya? Bagaimana dengan outlook untuk pasar obligasi di tahun 2016 ini? Bagaimana pula pengelolaan reksa dana ini ? Berikut penjelasannya Continue reading “Reksa Dana Baru : Panin Dana Pendapatan Berkala”

Advertisement

Sharpe Ratio dan Kelemahannya Pada Saat Kinerja Negatif

businessman looking at formulaSelama ini metode Sharpe Ratio merupakan metode utama yang digunakan sebagai analisa kinerja reksa dana. Dari rating Infovesta untuk reksa dana di Indonesia, Penghargaan Reksa Dana Terbaik Tahunan yang versi Majalah Investor РInfovesta, Indonesia Mutual Fund Award versi Bloomberg, Reksa Dana Jagoan versi Kontan РInfovesta, hingga rating Morningstar untuk reksa dana di seluruh dunia. Ada yang hanya menggunakan metode Sharpe Ratio saja, ada juga yang mengkombinasikan dengan beberapa indikator lainnya.

Metode dan interprestasi Sharpe Ratio ini juga cukup sederhana, Sharpe Ratio = (Return Reksa Dana – Risk Free) / Standar Deviasi Reksa Dana. Jika nilai Sharpe Ratio adalah 1.5, hal ini berarti untuk setiap 1% risiko yang ditanggung, maka reksa dana tersebut memberikan excess return sebesar 1.5%. Penggunaan Sharpe Ratio biasanya adalah pada perbandingan antar kinerja reksa dana. Misalkan Reksa Dana A memiliki Sharpe Ratio 1.5 dan Reksa Dana B 2, maka Reksa Dana B dikatakan lebih baik daripada reksa dana A karena memberikan excess return yang lebih tinggi untuk tingkat risiko yang sama.

Jika berdiri sendiri, Sharpe Ratio umumnya tidak begitu berguna karena tidak memberikan informasi apa-apa. Sebab tidak ada standar Sharpe Ratio yang bagus itu harus berapa. Sharpe ratio baru bisa dikatakan bagus atau tidak jika bisa dibandingkan dengan reksa dana lain atau benchmark yang sesuai.

Sharpe Ratio memang merupakan suatu indikator yang baik dalam mengukur dan membandingkan kinerja reksa dana. Namun ketika pasar menunjukkan kinerja negatif seperti halnya pada tahun 2015 yang lalu, penggunaan metode ini berpotensi memunculkan kesalahan interprestasi. Sebagai contoh ada 2 skenario perbandingan 2 reksa dana sebagai berikut :

No Return Reksa Dana (Rrd) Risk Free (Rf) Risk (StDev) Rrd – Rf Sharpe Ratio* Interprestasi
A -10% 5% 10% -15% -1.5 Return kedua reksa dana sama, logikanya yang lebih baik adalah reksa dana dengan risiko yang lebih kecil yaitu reksa dana A. Tapi angka Sharpe Ratio menunjukkan reksa dana B lebih baik daripada reksa dana A
B -10% 5% 20% -15% -0.75
C -10% 5% 10% -15% -1.5 Reksa dana C memiliki return yang lebih baik dan risiko yang lebih kecil, namun secara Sharpe Ratio kedua reksa dana tersebut sama sehingga peringkatnya sama.
D -25% 5% 20% -30% -1.5

*Dalam kasus Sharpe Ratio negatif, maka yang lebih baik adalah yang negatifnya paling kecil

Untuk itu diperlukan penyesuaian terhadap metode Sharpe Ratio. Seperti apa penyesuaian yang diperlukan ?

Continue reading “Sharpe Ratio dan Kelemahannya Pada Saat Kinerja Negatif”

Evaluasi Strategi Investasi 2015 : Sekaligus vs Berkala vs Aset Alokasi

Alternatif Strategi Investasi

Tidak terasa dalam hitungan hari kita sudah mau memasuki tahun 2016. Tahun ini bisa dibilang merupakan tahun yang tidak menyenangkan bagi para investor reksa dana. Tercatat dari awal tahun hingga 18 Desember, rata-rata reksa dana saham dan reksa dana campuran secara nasional masing-masing rugi -17% dan -8%. Rata-rata reksa dana pendapatan tetap memang menguntungkan tapi kurang dari 3%, hanya rata-rata reksa dana pasar uang yang kinerjanya sesuai dengan harapan karena rata-rata return-nya di atas 6%. Dalam kondisi demikian, saya yakin banyak dari nilai investasi teman-teman yang nilainya negatif.

Jika kinerja rata-rata reksa dana sudah demikian, maka kinerja reksa dana tentu tidak berbeda jauh. Ada yang returnnya di atas rata-rata dalam artiannya rugi tapi ruginya lebih sedikit, ada pula yang ruginya sama atau bahkan lebih dalam dibandingkan rata-rata yang ditunjukkan di atas. Perbedaan kinerja ini disebabkan karena masing-masing reksa dana memiliki kebijakan dan strategi investasi yang berbeda-beda

Kinerja investor, meski berinvestasi pada reksa dana yang sama juga bisa berbeda antara investor yang satu dengan investor lainnya. Perbedaan ini disebabkan karena perbedaan strategi investasi yang digunakan oleh masing-masing investor. Sebagaimana dalam pembahasan Memilih Strategi Investasi, strategi investasi konvensional yang umumnya digunakan adalah Investasi Sekaligus (Lump Sum), Investasi Berkala (Autodebet) dan Aset Alokasi (Asset Allocation). Bagaimana evaluasi kinerja investor pada tahun 2015 menggunakan ketiga strategi di atas? Continue reading “Evaluasi Strategi Investasi 2015 : Sekaligus vs Berkala vs Aset Alokasi”

Window Dressing Saham dan Reksa Dana

Window DressingSumber : Koran Kontan Harian Edisi 30 November 2015

Window Dressing adalah salah satu fenomena di pasar modal, dimana menjelang akhir tahun atau tepatnya pada bulan Desember harga saham cenderung naik. Penyebab kenaikan saham ini bisa dari emiten (perusahaan) yang menggenjot target penjualan agar pelaporan akhir tahun terlihat bagus. Window Dressing bisa juga berasal aksi manajer investasi yang memborong saham dengan harapan harga bisa naik. Karena aksi memborong saham ini dilakukan juga oleh banyak manajer investasi lainnya, maka permintaan meningkat dan harga saham naik.

Window Dressing sendiri adalah anomali, karena harga saham yang benar adalah yang mencerminkan kinerja fundamental perusahaan. Tidak ada ketentuan harus naik atau turun di bulan apa, tapi karena terjadi secara terus menerus makanya disebut anomali (keanehan).

Apakah Window Dressing terjadi pada saham di Indonesia? Berapakah besaran returnnya? Apakah hal yang sama juga terjadi pada reksa dana? Berikut statistiknya Continue reading “Window Dressing Saham dan Reksa Dana”

Evaluasi Reksa Dana Berdasarkan Umur dan Harga NAB/Up

Analisa Reksa Dana

Pada suatu event yang diselenggarakan oleh Panin Asset Management, ada seorang peserta yang bertanya kepada saya. Pertanyaannya, kurang lebih sebagai berikut :

“Pak, saya sudah memantau reksa dana Panin selama bertahun-tahun. Menurut saya, Panin Dana Teladan lebih baik daripada Panin Dana Ultima. Buktinya, Ultima sudah terbit dari tahun 2014 harganya kurang dari 1000 tidak jauh beda dengan Teladan yang baru terbit tahun ini”

Sebenarnya jika anda memperhatikan reksa dana saham di Panin Asset Management, fenomena yang sama juga terjadi pada Panin Dana Syariah Saham dan Panin Dana Ultima. Usia Panin Danin Dana Syariah Saham lebih panjang karena terbit dari tahun 2012, tapi harganya tidak berbeda jauh dengan Panin Dana Ultima. Jika di teliti lebih jauh di http://www.infovesta.com, sebenarnya contoh-contoh seperti ini juga bisa ditemui dengan mudah. Ada reksa dana saham yang usianya sudah sekian tahun tapi harganya tidak berbeda dengan reksa dana yang baru terbit 1-2 tahun saja.

Sebagai contoh, berikut ini adalah screen capture kinerja reksa dana Panin Dana Ultima dan Panin Dana Syariah Saham dari www.panin-am.co.id per tanggal 13 November 2015

Syariah Saham

Panin Dana Ultima

Pertanyaannya, apakah baik buruknya kinerja reksa dana bisa ditentukan berdasarkan usia dan harga NAB/Upnya ? Continue reading “Evaluasi Reksa Dana Berdasarkan Umur dan Harga NAB/Up”