Berapa Lama Periode Investasi Berkala Yang Ideal?

Data Angka Tahun

Metode investasi dengan cara berkala atau autodebet cukup banyak dikenal dan diterapkan investor reksa dana dalam 1-2 tahun terakhir ini. Meski tersedia berbagai jenis reksa dana, kebanyakan investor masih memilih reksa dana saham sebagai pilihan utama. Permasalahan terjadi ketika setelah 1-2 tahun berjalan, kebanyakan reksa dana saham tidak memberikan hasil yang diharapkan.

Memang kondisi pasar selama beberapa 2 tahun terakhir ini tidak terlalu menggembirakan untuk investor saham. Tahun 2012, return IHSG hanya 12,94% dan bahkan -0,98% pada tahun tahun 2013. Tentu bagi investor reksa dana saham yang memiliki ekspektasi 15 – 20% per tahun merasa kecewa. Sebagian besar investor memang masih tetap komitmen dengan investasi jangka panjang atau minimal 5 tahun.

Namun menjadi pertanyaan, bagaimana jika kondisi ini terus terjadi? Apakah investor harus tetap setia pada prinsip investasi yang menganjurkan bahwa investasi saham sebaiknya di atas 5 tahun, dengan harapan dalam periode tersebut hasil investasi akan menguntungkan?

Bukankah jangka waktu 5 tahun tersebut berlaku untuk investor yang berinvestasi secara sekaligus? Bagaimana dengan investor yang melakukan investasi berkala secara bulanan, apakah timeline 5 tahun ini masih tetap berlaku?

Berangkat dari pemikiran tersebut, saya mencoba mencari tahu, sebenarnya berapa lama periode investasi berkala yang ideal pada reksa dana saham? Apakah 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun atau bahkan 10, 15 tahun? Penelitian dilakukan terhadap data IHSG dari Juli 1997 – Desember 2013.

Tahapan Penelitian yang digunakan adalah sebagai berikut

Langkah Pertama, yaitu data dan simulasi data. Informasi mengenai IHSG akhir bulan dari periode Juli 1997 – Desember 2013 diambil dari website Yahoo Finance. Selanjutnya dari data tersebut dilakukan simulasi investor melakukan investasi berkala pada IHSG.

Sebagai contoh, untuk periode 1 tahun, investasi berkala dilakukan setiap akhir bulan dari Januari 1998 hingga Desember 1998. Unit investasi yang terkumpul selama periode tersebut kemudian dijual pada Akhir Januari 1999. Simulasi dilakukan secara terus menerus dari Februari 1998 – Februari 1999 dan seterusnya hingga Desember 2012 – Desember 2013. Periode simulasi dibuat dari 1 tahun hingga 15 tahun. Setiap bulan diasumsikan investor berinvestasi sebesar Rp 1 juta dengan biaya masuk 0%.

Langkah Kedua yaitu membuat angka ekspektasi. Dalam melakukan perencanaan keuangan ataupun memberikan rekomendasi kepada pada investor, para penjual dan financial planner biasanya memberikan asumsi return pada reksa dana saham yang berkisar antara 15% – 20%. Yang dimaksud dengan angka ekspektasi adalah berapa Rupiah hasil investasi yang aktual apabila asumsi tersebut benar-benar terjadi.

Sebagai contoh dengan asumsi 20%, maka hasil investasi berkala sebesar 1 juta per bulan adalah sekitar Rp 13,26 juta untuk investasi berkala selama 1 tahun, Rp 29,18 juta untuk 2 tahun, dan Rp 48,28 juta untuk 3 tahun. Hasil investasi tersebut sudah termasuk modal pokok investor. Angka ekspektasi dihitung dengan metode Future Value Annuity dengan metode pembayaran di awal. Asumsi yang digunakan adalah 15% dan 20% dengan periode waktu antara 1 sampai 15 tahun.

Langkah terakhir, adalah membandingkan antara Hasil Simulasi dan Angka Ekspektasi serta menghitung Probabilitas Tujuan Tercapai. Sebagai contoh, misalkan dengan asumsi 20%, maka angka ekspektasi yang diharapkan dari investasi berkala selama 5 tahun adalah sebesar Rp 100 juta. Kemudian berdasarkan data historis, ternyata ada 80 dari 100 kali kejadian dimana hasil investasi berkala menghasilkan di atas Rp 100 juta.

Dengan demikian, kemungkinan si investor bisa mencapai tujuannya dengan berinvestasi 5 tahun adalah 80%. Angka 80% tersebut kemudian saya sebut dengan istilah Probabilitas Tujuan Tercapai. Semakin tinggi angka tersebut, tentu semakin baik.

Berdasarkan dari langkah-langkah di atas, hasil penelitiannya adalah sebagai berikut:

Simulasi Investasi Berkala Terhadap IHSG Juli 1997 – Desember 2013

Simulasi IHSG

Cara Membaca Hasil Penelitian

Dengan menggunakan data 8 tahun sebagai contoh:

  1. Investasi Rp 1 juta per bulan selama 8 tahun sama dengan total investasi sebesar Rp 96 juta
  2. Hasil simulasi pada IHSG, investasi Rp 96 juta selama 8 tahun dalam periode Juli 1997 – Desember 2013, tertinggi pernah menghasilkan Rp 401 juta dan terendah Rp 160 juta. Rata-rata adalah Rp 257 juta. Artinya jika berinvestasi selama 8 tahun, secara historis bisa dikatakan investor pasti untung karena hasil terendah yang dihasilkan masih lebih besar dari modal yang dikeluarkan.
  3. Dengan Ekspektasi 15% dan 20% per tahun, seharusnya nilai investasi Rp 96 juta setelah 8 tahun adalah sebesar Rp 177 juta dan Rp 218 juta. Jika hasilnya di bawah angka tersebut, secara teknis, Tujuan Investor tidak tercapai dan sebaliknya.
  4. Pada Probabilitas Tujuan Tercapai 15%, tertulis angka 92%. Artinya selama Juli 1997 – Desember 2013, kemungkinan investor bisa mencapai tujuannya adalah 92%. Sementara pada probabilitas yang menggunakan asumsi return 20%, probabilitasnya lebih kecil, hanya 74%.

 

Analisa dan Kesimpulan

  1. Semakin lama periode investasi, semakin tinggi pula probabilitas tujuan tercapai. Terjadi pengecualian untuk masa 14 dan 15 tahun untuk asumsi 20%, hal ini disebabkan karena data yang tersedia tidak banyak.
  2. Jika periode investasi berkala yang ideal adalah probabilitas mencapai tujuan 100%, maka asumsi yang wajar adalah 15% dengan masa investasi minimal 12 tahun. Asumsi 20% mungkin “agak tinggi” mengingat tidak ada yang berhasil mencapai probabilitas 100%. Paling mendekati adalah 95% untuk masa investasi 13 tahun.
  3. Dari perbandingan antara terendah dengan modal, ternyata untuk masa investasi berkala antara 1 – 5 tahun, investor masih berpotensi rugi karena angka terendah lebih kecil daripada modal. Untuk itu, investor harus siap jika ternyata dengan masa investasi sampai dengan 5 tahun, masih memungkinkan untuk mengalami kerugian.

Sebagai referensi, berikut juga saya tampilkan hasil simulasi dengan menggunakan reksa dana Panin Dana Maksima.

Simulasi Investasi Berkala Panin Dana Maksima April 1997 – Desember 2013

Simulasi Panin Dana MaksimaDengan menggunakan contoh Panin Dana Maksima, maka dengan ekspektasi return 15%, periode investasi berkala yang ideal adalah 7 tahun. Sementara jika anda berasumsi ingin mendapatkan 20%, maka periode investasi berkala yang ideal adalah 11 tahun dengan anggapan pada periode tersebut probilitas tujuan tercapai adalah 100%.

Demikian artikel ini saya sampaikan, semoga bermanfaat bagi anda.

Mau Sekalian Promosi Buku
20130919-210339.jpg

Teman2 dan para pembaca blog yang setia, biasanya saya memberikan rekomendasi tentang buku-buku yang bagus. Kali ini saya ingin memperkenalkan buku saya sendiri. Judulnya “Sukses Finansial Dengan Reksa Dana”.

Buku ini membahas tentang segala sesuatu yang harus anda tahu tentang reksa dana, mulai definisi, peraturan, tata cara investasi, praktek reksa dana dan riset-riset berkaitan tentang reksa dana, investasi pasar modal di Indonesia dan bagaimana caranya untuk mencapai kesuksesan finansial melalui investasi reksa dana. Semua esensi, pengetahuan dan pengalaman saya selama bertahun-tahun baik sebagai investor reksa dana, konsultan yang memberikan masukan tentang investasi, hingga saat ini sebagai pelaku pasar modal yang memasarkan produk reksa dana kepada masyarakat diringkas dalam buku ini.

Menurut informasi dari penerbit, yaitu Elex Media Komputindo, buku akan tersedia di toko buku Gramedia paling lambat tanggal 25 September. Ada 2 versi yang tersedia yaitu Versi Softcover yang bisa anda peroleh di Toko Buku Gramedia dengan harga Rp 99.800.

Versi kedua yaitu Versi Hardcover, untuk yang ini hanya bisa anda beli dengan memesan langsung kepada saya. Harga versi Hardcover termasuk ongkos kirim untuk Jakarta adalah Rp 135.000

Dengan membeli edisi Hardcover, anda juga akan mendapatkan Excel yang berisi:

  • Kalkulator Time Value of Money
  • Kalkulator Biaya dan Return Reksa Dana
  • Perhitungan Sharpe, Treynor dan Jensen Alpha lengkap dengan contoh data historis dan rumus perhitungan

Apabila anda berminat dengan versi Hardcover ini, maka prosedur pembelian dan pengiriman adalah sebagai berikut:

  1. Lakukan transfer ke rekening sebagai berikut:
    • Bank BCA KCP Mall Ciputra Jakarta
    • Atas nama Vonny Susilo
    • No Rekening 466 13 58 674
    • Nominal Transfer sesuai ketentuan di bawah
    • Masukkan Berita: Nama Lengkap

    Total Transfer adalah sebagai berikut

    • Untuk pengiriman daerah Jakarta Rp 135.000
    • Untuk pengiriman daerah Jawa Rp Rp 140.000
    • Untuk pengiriman Domestik Luar Jawa Rp 150.000

     

  2. Selanjutnya Nama Lengkap, Bukti Transfer, Alamat Pengiriman Buku, dan Nomor Telepon yang bisa dihubungi bisa di Email ke vonnysusilo.zh@gmail.com
  3. Harap teman2 dapat mencantumkan Alamat Pengiriman Lengkap dengan Kode Pos dan Nomor Telepon yang aktif untuk mempermudah proses pengiriman.
  4. Selanjutnya kami akan mengirimkan email konfirmasi mengenai tanggal pengiriman buku ke alamat dan softcopy Excel Time Value of Money dan Investasi beserta Password untuk membuka file ke alamat email anda

Apabila ada yang ingin ditanyakan bisa langsung di bagian comment.

Demikian atas perhatian dan dukungannya, saya mengucapkan banyak terima kasih.
Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Sumber Gambar : istockphoto.com

Sumber Data : Panin Asset Management, Yahoo Finance dan http://www.infovesta.com

Advertisements

36 thoughts on “Berapa Lama Periode Investasi Berkala Yang Ideal?

  1. Salam pak Rudi,
    Sepengetahuan pak Rudi sendiri, apakah ada investor retail Panin yg memperoleh hasil paling maksimal seperti yg disimulasikan reksadana PAM?
    Terima kasih

    Like

  2. @niko
    Salam Niko,

    Program investasi berkala (Autodebet) baru ada 2 tahun terakhir. Jadi kalau yang mengikuti program investasi berkala sejak tahun 1997 pada dasarnya tidak ada. Kalaupun ada, itu berarti inisiatif dari investornya yang membeli secara berkala tanpa program autodebet.

    Yang pasti, saya mengetahui ada investor yang membeli reksa dana Panin Dana Maksima ketika harganya masih 1000an dan belum menjualnya hingga sekarang. Namun ada juga yang ketika memulai investasinya, IHSG sedang berada di titik tertinggi di level 5200an dan masih merugi hingga sekarang.

    Paling gampang kamu ikut dan rasakan sendiri, dengan demikian bisa kamu pastikan apakah angkanya masih akal atau tidak. Semoga bermanfaat.

    Like

  3. Menurut saya sebaiknya para analis juga menggunakan indikator Harmonic dan Fibonacci Fan. Mohon maaf kalau saya salah, saya hanyalah orang bodoh 😀

    Like

  4. Salam pak Rudi,

    Saya bergabung dgn PDM bbrp bulan sebelum puncak tertinggi IHSG sebelum terjun bebas dgn program auto debet, jg top up sesekali. Betul, saya masih merugi. Kurang lebih saya paham naik turunnya NAB/Up seiring kinerja IHSG. Mudah2an investasi PDM tetap memberikan prestasi terbaik minimal atau lebih baik dari kinerja history 15 tahun terakhir. Apakah mungkin NAB/Up PDM mencapai katakanlah 250.000 yang merupakan nilai investasi minimal ato bahkan lebih? Kalo boleh membandingkan, saya pernah dengar mutual fund milik Berkshire milik Warren Buffet jg sudah bernilai sangat mahal hingga dia sendiri tidak mengajurkan orang2 untuk membelinya. Apakah bisa sampai sedemikian halnya dgn PDM? Terima kasih

    Like

  5. Dear Pak Rudi, bagaimana dengan jenis reksadana yang lain Pak? Untuk RD Pasar Uang sebagai contoh, ada yang merekomendasikan untuk tujuan keu di bawah 1 tahun, ada pula yang di bawah tiga tahun dan tidak merekomendasikan untuk di bawah 1 tahun.
    Begitu juga RD fixed income dan RD campuran. Berapa lama waktu ideal berinvestasi di produk2 RD non saham tsb.

    Satu hal lagi yang juga sering menggelitik saya sebagai investor reksadana, bagaimana sebenarnya evaluasi tahunan yang bisa kita lakukan terhadap produk RD kita? Semisal, untuk tujuan keu dana pendidikan anak TK (empat tahun lagi), di RD pasar uang, asumsi return anggap saja 6% per tahun, nah saat sudah jalan dua tahun, return ga sesuai dengan asumsi hitungan kebutuhan dana. Dalam situasi tsb, apakah kita harus memutuskan switch produk atau dibiarkan saja hingga empat tahun? Memenej risiko melesetnya asumsi hitungan itu yang masih jarang dibicarakan oleh para analis dan perencana keuangan. Jadinya kan investor deg2an juga, hehe.

    Terima kasih atas penjelasannya. Saya selalu suka ulasan Pak Rudi di blog karena analitis dan ngebantu banget investor ritel kayak saya hehe.. Tetap menulis Pak!

    Like

  6. @anjani
    Salam Anjani,

    Untuk jenis reksa dana lain, perlu dilakukan penelitian terlebih dahulu. Untuk data pasar uang mungkin agak sulit mengingat data yang ada NAB/Upnya baru ada tahun 2013. Untuk data reksa dana, indeksnya baru tersedia dari tahun 2001. Jadi kalau mau membuat penelitian hingga di atas 15 tahun datanya belum tersedia. Selain itu, jenis reksa dana campuran terlalu bervariasi sehingga belum tentu indeks yang ada mencerminkan kinerja reksa dana tersebut. Well let see, nanti saya akan coba lihat apakah memungkinkan untuk dihitung atau tidak.

    Kemudian terkait evaluasi, menurut kamu bisa baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/04/25/pensiun-dengan-reksa-dana-anda-yakin/ di Fitur website Panin Asset Management juga memungkinkan untuk membuat mencari target yang harus dicapai tersebut. Anda bisa berkomunikasi dengan CS atau tenaga pemasar anda.

    Semoga informasi ini bermanfaat.

    Like

  7. @niko
    Salam Niko,

    Terima kasih atas kepercayaan anda kepada Panin Asset Management. Terkait pertanyaan NAB/Up 250.000 dan perbandingannya dengan Warren Buffet, menurut saya Panin Dana Maksima itu reksa dana sementara Berkshire adalah Saham.

    Kemudian pembelian reksa dana itu didasarkan pada nominal investasi dan bukan harga. Katakanlah harganya Rp 2 juta sekalipun, dan kamu setor 250.000 berarti unit yang kamu dapat nol koma sekian unit dan itu tidak masalah. Berbeda dengan saham yang pembeliannya dari harga dikalikan jumlah lembar. Kamu tidak beli saham dengan satuan nol koma.

    Dan ada baiknya kamu membaca artikel sbb:
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2010/10/10/reksa-dana-mahal-reksa-dana-murah-1/
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2011/04/18/reksa-dana-mahal-reksa-dana-murah-2/
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/02/26/reksa-dana-mahal-reksa-dana-murah-3/

    Semoga informasi ini bermanfaat.

    Like

  8. Pak Rudi,
    Sekedar usul bagaimana kalo tabel di atas juga memperhitungkan laju inflasi per tahunnya. Misal uang 1000 rupiah th 97 tidak akan sama nilainya dgn th 2014 skr ini walau nominal tetap sama. Juga sangat bagus jika di-peg thd nilai emas dan atau USD, akan keliatan berapa sesungguhnya nilai ‘intrinsic’ investasi kita itu yang sebenarnya.
    Pertimbangannya adalah saya pernah beli rumah th 1998 seharga Rp 79 juta ketika harga emas rata2 di Rp. 55.000 per gram, atau setara dgn 1436 gram emas.
    Sekarang rumah saya ditawar Rp. 750 juta, kenaikannya selama 16 th ini hampir 10x lipat. Jumlah yang luar biasa, saya tak tau bagaiman perhitungannya kalau keuntungannya di-annualized, mungkin sekitar 20%?
    Tapi tunggu dulu, saat dikurs ke emas, dgn asumsi emas skr 500 rb/gram, maka harga rumah saya itu hanya naik sedikit saja.. yaitu setara 1500 gram emas, atau naik hanya (1500-1436)/1436 = 4.4%/16 th !
    Jumlah yang sangat-sangat kecil utk investasi selama 16 th dengan return yang cuma 4.4%.

    Disinilah kebanyakan para perencana keuangan sering menyembunyikan kenyataan ini, mereka hanya perpatokan pada angka nominal yg terus naik ( sementara inflasi juga mengikis terus nilai intrinsic uang kita) dan prosentase yang menggiurkan ( 15-20%/th).

    Saya tidak menganjurkan orang utk investasi emas ( selama 2 th ini harga emas mandeg di 500 ribuan/gr), hanya saja perhitungan sederhana di atas pada peristiwa nyata yg saya alami telah membukakan mata saya, bahwa ada hal lain yang perlu diperhatikan jika kita ingin melakukan simulasi perhitungan investasi utk masa depan.

    Salam,
    Agus

    Like

  9. @Agus
    Salam Agus,

    Terima kasih atas usulan yang anda berikan. Saya akan coba respon, mungkin tidak sesuai urutan komentar anda.
    1. Harga Rumah 79 jt 16 tahun yang lalu dan dijual senilai 750 juta sama dengan annualized return 15.10% per tahun
    2. Jika anda menganggap 15-20% menggiurkan, maka return rumah anda sudah termasuk menggiurkan
    3. Sebagai alat investasi saya juga tidak menyukai emas. Kalau sebagai perhiasan atau alat untuk membuat istri senang, bolehlah. Lebih detail artikel ttg itu dan komentarnya yang panjang lebar bisa anda baca di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/04/20/saatnya-beli-emas/
    4. Terkait angka perhitungan yang disesuaikan dengan inflasi, menurut saya, di tabel kan ada perhitungan 15% dan 20% asumsi return. Jika anda beranggapan inflasi lebih kecil dari angka tersebut berarti hasil anda akan di atas inflasi. Namun jika hasil yang anda harapkan adalah 15% – 20% di atas inflasi, tinggal disimulasikan dengan angka tersebut. Yang pasti, probabilitas untuk mencapai tujuannya akan semakin kecil.

    Semoga bermanfaat.

    Like

  10. Pak Rudi,
    Saya mahasiswa umur 19 thn pada kamis 23 januari lalu saya memulai berinvestasi di Panin cabang pondok indah dengan jenis RD Panin Dana Prima dengan pembelian awal Rp 250.000 . Saya dijelaskan oleh CS bahwa akan dikirimkan bukti kepemilikan +3 hari kerja melalui @mail dan pos setelah saya melakukan transfer dan mengirim bukti transfer melalui @mail. Tetapi sampai hari ini saya belum menerima bukti kepemilikan melalui @mail maupun pos. Hari ini saya telfon ke CS saya juga minta supaya bisa login di http://www.panin-am.co.id kata CS hari ini pasti dikirim melalui @mail tapi belum sampai juga bukti kepemilikannya di @mail saya.
    Apa karena ada kealahan atau bagaimana? tolong dijelaskan Pak Rudi

    Salam,
    Wijayanto

    Like

  11. @Wijayanto
    Salam Wijayanto,

    Sebelumnya saya berterima kasih atas kepercayaannya menjadi nasabah Panin Asset Management. Atas nama perusahaan, saya mohon maaf atas ketidaknyamanan yang anda rasakan. (meski saya sering bilang kalau ini adalah blog pribadi dan bukan blog perusahaan, tapi tidak ada masalah he he..)

    Saya sudah melakukan pengecekan, kemungkinan aplikasi anda belum diproses atau ada dokumen yang kurang. Saran saya kamu bisa mencoba registrasi log in sendiri melalui website dengan link ini http://www.panin-am.co.id/RegisterOnline.aspx

    Untuk nomor CIF, kamu bisa dapatkan dengan bertanya kepada Cs baik melalui email di cs@panin-am.co.id ataupun telp kantor.

    Demikian, sekali lagi mohon maaf atas ketidaknyamanan yang anda rasakan, semoga hal ini tidak mengurangi keyakinan anda terhadap investasi di Panin Asset Management. Dan semoga tujuan keuangan kamu dapat tercapai.

    Terima kasih atas perhatiannya.

    Like

  12. pak rudi,
    saya mw mnt saran sedikit, sy perempuan usia 29th blm menikah pak, sy telah mengikuti reksadana pendapatan tetap selama 1 th belakangan ini. yg ingin sy tanyakan adalah menurut bapak manakah yg paling efektif yg saya lakukan sehubungan dgn kenaikan gaji saya bbrp bln kedepan:

    saya berencana menaikan jumlah nominal autodebet reksadana saya tiap bulannya menjadi 800rb (semula 500rb) atau saya membeli lagi reksadana saham dgn nominal 500rb tiap bulannya. rencana saya lainnya adalah sisa kenaikan gaji saya mw beli asuransi tradisional (naik gaji 1juta asumsi)

    sekedar informasi saya sudah mempunyai prudential tiap bulan 500rb sudah berjalan 7bulan masuk instrumen saham.
    untuk kesehatan sy sudah dicover dr kantor rawat jalan sistem reimburse dan rawat inap memakai kartu.
    saya juga masih mempunyai hutang atas logammulia 20gr yg saya gadai total 4,7juta.

    perlukah unit link prudent saya di close? saya tertarik untuk masuk ke panin asset management instrumen saham.

    menurut saran bapak, manakah yg mesti saya selesaikan lebih dahulu.

    makasih banyak pak.

    Like

  13. @lanny

    Salam Lanny,

    Menurut saya, semangat kamu untuk berinvestasi itu sudah sangat bagus. Sebelum memutuskan menjadi investor, ada beberapa hal yang menurut saya perlu kamu cek dulu.
    1. Apakah kamu sudah sehat secara keuangan ? http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2010/11/04/sehat-dulu-investasi-kemudian/
    2. Setelah sehat, maka kamu harus pastikan apakah kamu sudah terlindung dari asuransi. Pada dasarnya ada 2 jenis asuransi.
    Pertama, Asuransi jiwa jika kamu merupakan tulang punggung keluarga. Menurut saya kamu perlu asuransi jiwa yang uang pertanggungannya (UPnya) sekitar 5 – 8 tahun penghasilan tahunan. Asuransi prudential yang kamu miliki saat ini, kemungkinan besar adalah unit link sehingga manfaat uang pertanggungannya akan lebih kecil daripada asuransi murni. Namun jika menurut anda UPnya sudah cukup, ya tidak perlu diapa2kan lagi.
    Kedua, jika kamu bukan tulang punggung keluarga, maka cukup asuransi kesehatan. Jika asuransi kantor yang menurut kamu sudah cukup, maka cukup kamu pertimbangkan asuransi jiwa pada point pertama di atas.
    3. Jika sudah sehat dan terlindungi asuransi, maka barulah kamu berinvestasi. Kalau bingung mau investasi apa dan bagaimana silakan baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/05/07/seni-menyusun-tujuan-investasi-dengan-prinsip-smart/

    Demikian, semoga bermanfaat.

    Like

  14. Stlh 1 thn, sy melihat kembali account Rd panin saham syariah( a/n istri saya) yang sejak thn lalu ikut program autodebet selama 5 thn sejak maret 2013 nilai total investasi reksadana pertanggal 18/2-2014 hanya minus di bawah 1 % tanpa memperhitungkan biaya yang kita anggap 2 %. (saat maret 2013 ihsg berada diposisi +/-4800, posisi sekarang ihsg berada di posisi 4592 ,hasil investasi – 1%) , sebagai investor saham, asumsi yang sy pakai bukan setahun profit berapa persen, tetapi apakah hasil investasi diatas /di bawah pasar. Dan dari riset sy pribadi selama 1 thn ini, sy berkesimpulan investasi rutin di reksadana dpt memberikan hasil yang mengembirakan untuk jangka panjang untuk dana pensiun dan sekolah anak( mungkin untuk temen2 yang berusia 20an investasi reksadana cocok untuk biaya pernikahan ;p ) .
    Tetap berinvestasi yang smart demi masa depan yang lebih baik.

    Like

  15. @karim
    Salam Pak Karim,

    Terima kasih atas kepercayaannya. Namun perlu saya ingatkan bahwa yang namanya kinerja reksa dana saham dibandingkan IHSG, terkadang bisa di atas dan terkadang bisa di bawah. Tidak ada jaminan pasti akan selalu di atas, meski Panin Asset Management akan selalu berupaya memberikan return yang konsisten mengalahkan pasar.

    Semoga semua tujuan keuangan anda dapat tercapai dan berikut saya berikan referensi artikel tentang konsistensi http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/01/16/apakah-ada-reksa-dana-saham-yang-konsisten-mengalahkan-ihsg/

    Like

  16. @Rudiyanto
    Pak Rudyanto,dlm posisi sy sebagai karyawan sy ada rencana untuk mempersiapkan dana pensiun, usia sy skrg 33 thn, rencana pensiun 50-55thn, idealnya berapa persen dari pendapatan yang harus sy sisihkan untuk dana pensiun.adapun alokasi sy skrg dari salary sbb ;18% dr pendapatan untuk (asuransi,reksadana,meningkatkan dana darurat yang saya tambahkan tiap bulan), 33% untuk kebutuhan hidup, 35 % untuk kpr rmh… sisa dana nganggur 14% persen. apakah ideal jika sisa 14% dr pendapatan mulai di sisihkan untuk dana darurat.

    Like

  17. @karim
    Salam Pak Karim,

    Untuk persiapan pensiun anda bisa baca artikel ini http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/06/08/perencanaan-pensiun-dengan-reksa-dana/

    Kemudian terkait, alokasi pengeluaran. Nasehat saya persis seperti ibu Lanny di atas
    1. Apakah kamu sudah sehat secara keuangan ? http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2010/11/04/sehat-dulu-investasi-kemudian/
    2. Setelah sehat, maka kamu harus pastikan apakah kamu sudah terlindung dari asuransi. Pada dasarnya ada 2 jenis asuransi.
    Pertama, Asuransi jiwa jika kamu merupakan tulang punggung keluarga. Menurut saya kamu perlu asuransi jiwa yang uang pertanggungannya (UPnya) sekitar 5 – 8 tahun penghasilan tahunan. Asuransi prudential yang kamu miliki saat ini, kemungkinan besar adalah unit link sehingga manfaat uang pertanggungannya akan lebih kecil daripada asuransi murni. Namun jika menurut anda UPnya sudah cukup, ya tidak perlu diapa2kan lagi.
    Kedua, jika kamu bukan tulang punggung keluarga, maka cukup asuransi kesehatan. Jika asuransi kantor yang menurut kamu sudah cukup, maka cukup kamu pertimbangkan asuransi jiwa pada point pertama di atas.
    3. Jika sudah sehat dan terlindungi asuransi, maka barulah kamu berinvestasi. Kalau bingung mau investasi apa dan bagaimana silakan baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2012/05/07/seni-menyusun-tujuan-investasi-dengan-prinsip-smart/

    Semoga bermanfaat.

    Like

  18. Salam Pak Rudy.
    Saya pegawai usia 26 tahun.
    Saya sudah mulai investasi reksadana saham dgn auto invest sebesar 500rb per bulan.
    Tujuan saya 5 tahun ke depan hasil nya untuk DP KPR .
    Yg ingin saya tanyakan :
    Saat ini saya memiliki dana 20 jt untuk investasi.
    Dari dana itu sebaiknya saya pakai untuk :
    1. Top up reksadana saham saya scr berkala atau
    2. Beli reksadana berkinerja bagus scr langsung dgn metode buy n hold?

    Like

  19. @Ashari
    Salam Ashary,

    Pertanyaan tersebut bisa dijawab dengan menggunakan kalkulator Panin Asset Management http://www.panin-am.co.id/InvestmentCalculator.aspx dengan cara sebagai berikut:
    1. Investasi berkala
    A. Pilih Hasil Investasi Berkala, Periode Bulanan, Nilai Investasi Rp 500.000, Periode 5 Tahun, Ekspetasi Imbal Hasil 20%. Klik hitung dan catat hasilnya.
    B. Kemudian lakukan sekali lagi dengan nominal yang berbeda, dimana rencananya Rp 20 juta itu, mau dimasukkan berapa setiap bulannya selama 5 tahun. Dengan asumsi 20 juta dibagi 5 tahun = Rp 4 juta per tahun. (atau mau bulanan juga silakan kamu ganti sendiri)
    C. Jumlah dari A dan B dijumlahkan

    2. Buy and Hold
    A. Ulangi langkah 1 A
    B. Gunakan pilihan Hasil Investasi. Masukkan Jumlah Investasi awal Rp 20 juta, Periode 5 tahun, ekspektasi imbal hasil 20% dan kemudian klik hitung.
    C. Jumlahkan A dan B

    Tinggal lihat pada poin 1 C dan 2 C, apakah bisa mencapai target nilai DP KPR yang anda harapkan. Jika masih belum jelas atau ingin melakukan modifikasi silakan baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/08/10/3-langkah-menjadi-investor-reksa-dana-bagi-pemula/

    Semoga bermanfaat.

    Like

  20. Halo Pak!

    Senang baca blognya bapak, apalagi respon kepada pembaca juga okeeee..

    Anyway, nanya dong paaakk..
    Saya baru akhir-akhir ini tercerahkan untuk menambah investasi di reksadana (sebelumnya sudah tapi jumlah nya tidak signifikan). Berdasarkan perhitungan finplan saya, sejumlah beberapa ratus juta (wuihh, gaya ya, pdhl angka boongan) mesti dimasukkan ke dalam reksadana untuk mencapai tujuan di masa depan. Nah masalahnya, angka bulk amount itu sungguh tidak nyaman rasanya (buat suami) untuk dimasukkan ke dalam reksadana yg mana suami tersayang belum menguasai sepenuhnya produk tsb (dan skill invest rd saya pun belum oke oke bgt).

    Mnurut bapak solusinya gimana doong?apa masukkinnya dispread selama beberapa tahun? apakah ada instrumen lain yg bs memberi return seperti reksadana saham, tapi risikonya kurang lebih sama?

    Demikian pakkk,, makasih banyak yaa..
    Keep on writing ya pak, trimmsss

    Like

  21. @arisona
    Selamat Sore Ibu Arisona,

    Kalau persoalannya adalah suami anda, saya punya 2 solusi.
    Pertama, bilang sama dia, Duitku ya Duitku, Duitmu ya Duitku juga. Jadi persoalan nyaman atau tidak nyaman sudah selesai. Kemudian, sering2 ikut Workshop berdua. Karena pada prinsipnya, Kalau Suami itu WORK, Maka istri itu SHOP.

    Solusi kedua, anda bisa melakukan investasi secara berkala (autodebet) dan berdoa hasil reksa dana saham pada tahun anda melakukan investasi, positif. Bagi banyak orang SEEING is BELIEVING, ketika investasi menunjukkan hasil keuntungan, maka akan timbul niat untuk memasukkan hasil lebih banyak. Sayangnya cara ini akan back fired kalau ternyata hasil investasi negatif. Jadi penekanan jangka panjang harus ada.

    Kalau secara autodebet, anda tinggal minta Financial Planner hitung lagi, kalau tidak bulk, maka masuk secara berkala berapa setiap bulan. Anda juga bisa baca di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/08/10/3-langkah-menjadi-investor-reksa-dana-bagi-pemula/

    Alternatif dari reksa dana saham, ya saham langsung. Tapi akan sedikit lebih berisiko.

    Semoga menjawab pertanyaan anda.

    Like

  22. Selamat Malam Pak Rudy…

    Setelah melihat hasil RD di infovesta, tampaknya RD campuran jika dibandingkan dengan RD saham untuk periode tertentu (1 thn, 3 thn, 5 thn) ada yang tingkat return nya lebih baik dari RD jenis saham, bukankah RD saham mempunyai tingkat risk dan return yang lebih tinggi dari RD campuran sehingga return nya pun mesti lebih tinggi. Kebetulan saya baru 4 bulan ini membeli RDU sehingga saya berpikir apakah jika membeli RD campuran mungkin lebih baik dari pada RD saham karena toh bisa menghasilkan return yang lebih baik.

    Like

  23. @Oscar
    Selamat Siang Pak Oscar,

    Yang namanya reksa dana campuran di Indonesia, berarti sesuai dengan peraturan berarti dalam setiap waktu harus memiliki instrumen saham, obligasi dan pasar uang serta maksimal 79% pada masing-masing instrumennya.

    Penerapan peraturan tersebut terkadang bisa berbeda antara Manajer Investasi yang satu dengan yang lain. Sebagai contoh, ada reksa dana campuran yang memaksimalkan komposisi saham atau obligasinya sehingga kinerjanya sudah mirip dengan reksa dana saham atau pendapatan tetap yang komposisinya di saham dan obligasi minimal 80%. Ada juga Manajer Investasi yang menyusun portofolio reksa dana campuran dengan komposisi yang benar2 berimbang.

    Dengan kondisi di atas, terkadang untuk reksa dana campuran yang komposisinya 79% di saham kinerjanya bisa sama atau bahkan lebih baik dibandingkan reksa dana saham. Namun itu berarti ketika kinerja saham sedang kurang baik, maka kinerjannya juga akan turun cukup dalam sama seperti reksa dana saham.

    Ada pula kondisi dimana kinerja saham kurang begitu baik, namun di waktu yang sama kinerja obligasi malah lebih baik. Maka meskipun komposisinya berimbang, dalam suatu waktu kinerja reksa dana campuran bisa lebih baik dari reksa dana saham.

    Untuk itu dibutuhkan pemahaman akan reksa dana campuran itu sendiri, terutama di kebijakan manajer investasinya, apakah banyak di saham, obligasi atau komposisinya berimbang.

    Pada prinsipnya reksa dana campuran cocok utk tujuan 3- 5 tahun sementara reksa dana saham cocok untuk > 5 tahun.

    Semoga bermanfaat.

    Like

  24. Selamat pagi Pak Rudi,

    Setelah membaca tulisan bapak, saya tertarik untuk mencoba investasi di RD

    Namun saya masih sangat awam,
    Saya seorang karyawan dengan estimasi masa pensiun sekitar 56th
    usia saya saat ini 28th,
    dana yg rencananya mau saya alokasikan tiap bulan kira2 2jt

    Menurut bapak instrumen RD apa yg cocok untuk bisa saya gunakan dalam 15th kedepan?
    dengan menganalisah resiko, apakah saya harus membagi plafon investasi ke beberapa instrumen RD?

    Mohon masukan dan sarannya

    Thanks..

    Like

  25. @Teguh
    Selamat Malam Pak Teguh,

    Senang sekali ada calon investor reksa dana yang baru.
    Untuk instrumen yang cocok, rule of thumb menurut saya adalah jika tujuan keuangannya
    5 tahun = Reksa Dana Saham

    Dengan tujuan hari tua yang 15 tahun ke depan maka jenis reksa dana yang cocok adalah reksa dana saham.

    Mengenai analisa risiko dan pembagian ke beberapa instrumen reksa dana, sebenarnya yang harus dilakukan adalah menghitung dulu untuk mencapai tujuan pensiun anda berapa yang harus diinvestasi. Misalkan jika butuhnya 1,5 juta per bulan, maka cukup segitu di reksa dana saham sisanya baru di reksa dana lain atau bahkan bila perlu tidak diinvestasikan. Namun jika yang dibutuhkan lebih dari 2 juta, maka membagi ke beberapa jenis cuma akan menghambat pencapaian jangka panjang anda.

    Untuk referensi berapa kebutuhan pensiunya bisa baca http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/03/28/panduan-mempersiapkan-pensiun-dengan-reksa-dana/

    Semoga informasi ini bermanfaat

    Like

  26. Selamat Pagi Pak Rudi,
    Saya tertarik sekali dengan tulisan-tulisan Pak Rudi mengenai persiapan keuangan masa depan melalui investasi reksa dana, kebetulan saya baru memulai investasi di reksa dana sejak Februari 2016. Saat ini saya memiliki 2 produk reksa dana saham yang salah satunya adalah produk PAM. Menurut bapak, kalau saya memiliki tujuan menikah pada tahun 2020 (4 tahun lagi) dengan estimasi biaya pernikahan 100 juta apakah tepat saya memilih RD Saham?

    Kalau tidak, Produk RD apa dari panin yang cocok buat saya dan berapa jumlah investasi (berkala) yang mesti saya alokasikan?

    Terima kasih Pak Rudi

    Like

  27. @Rendy
    Selamat Sore Pak Rendy,

    Kalau untuk tujuan keuangan 4 tahun, memilih reksa dana saham itu kurang tepat karena yang lebih sesuai adalah reksa dana campuran.

    Di Panin AM tersedia reksa dana campuran mulai dari :
    Panin Dana Prioritas dengan strategi investasi di saham maks 30%
    Panin Dana Syariah Berimbang dengan investasi di saham maks 50%
    Panin Dana Unggulan dengan investasi di saham sekitar 60 – 70%
    Panin Dana Bersama Plus dengan investasi di saham sekitar 70 – 79%

    Jadi dari campuran yang konservatif sampai dengan agresif ada. Otomatis reksa dana yang semakin agresif maka asumsi returnnya juga makin tinggi demikian pula dengan risikonya.

    Mengenai jenis reksa dana apa yang cocok, anda bisa menggunakan kalkukator keuangan dengan menghitung berapa yang dibutuhkan investasinya setiap bulan / sekaligus berdasarkan asumsi return. Sebagai gambaran saja, asumsi return untuk pasar uang adalah di 11% – 15%.

    Untuk reksa dana campuran yang konservatif, maka asumsinya bisa 11 atau 12% dan semakin agresif semakin tinggi. Anda bisa mencoba simulasinya di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/08/10/3-langkah-menjadi-investor-reksa-dana-bagi-pemula/

    Alternatifnya, anda bisa menghubungi tenaga penjual untuk melakukan simulasi tersebut untuk anda.

    Semoga bermanfaat dan semoga pernikahan anda kelak bahagia dan sejahtera.

    Like

  28. investasi tanah atau properti nilainya keuntungannya pasti lebih besar dari Reksadana, tapi kebanyakan orang gak punya modal atau uang untuk beli properti secara langsung, bagusnya kita ikut reksadana autodebet perbulan, untuk melatih kedisiplinan menyimpan uang, terlepas dari untung rugi selama 1-3 tahun, rugipun juga gak akan besar, habis itu bila cukup beli tanah bisa diambil untuk dibelikan tanah..itu pengalaman saya

    Like

  29. Salam pak rudi
    saya adi karyawan swasta.
    saya orang awam yg belum memahami reksadana. Saya berencana ikut investasi reksadana dengan berkala perbula 250 -300.
    Saya ingin minta pendapat dari bapak apa yg harus saya lakukan utk memulai reksadana ?

    Terima kasih,
    Salam

    Adi

    Like

  30. @adi mulyadi
    Salam Pak Adi Mulyadi,

    Untuk memulai reksa dana cukup sederhana pak, cukup punya tabungan di bank dan KTP saja. Karena anda masih awam dan butuh penjelasan, saran saya anda bisa menghubungi tenaga pemasar untuk menjelaskan kepada anda.

    Untuk investasi reksa dana di Panin Asset Management bisa anda :
    1. Email ke cs@panin-am.co.id dan informasikan nomor kontak anda yang bisa dihubungi atau
    2. Via WA ke CS Panin AM di 081806990633 minta dihubungi untuk penjelasan tata cara menjadi investor

    Proses ini tidak dikenakan biaya dan jika lokasi anda bisa dijangkau oleh cabang, nanti akan ada tenaga pemasar yang berkunjung. Jika di luar lokasi cabang, pembelian bisa dilakukan secara online.

    Semoga bermanfaat

    Like

  31. @Monik
    Selamat malam bu Monik,

    Pertanyaan yang bagus, kamu bisa hitung manual dengan menggunakan fungsi Rate pada Excel.
    Masukkan -Rp 1 juta sebagai Payment, angka hasil akhir sebagai FV, jumlah bulan sebagai NPER, dan 1 sebagai type (pembayaran di awal) maka akan didapat angka rate of return per bulan. Kemudian angka tersebut disetahunkan dengan metode bunga berbunga (annualized), dengan cara tambah 1, pangkatkan 12 kemudian minus 1.

    Perlu diperhatikan bahwa angka tersebut dihitung dengan menggunakan data hingga 2013 dimana kinerja saham sedang baik-baiknya. Jika memasukkan hingga 2018, kemungkinan angka rate of return tersebut akan menurun. Dengan kata lain, riset ini memang perlu dibuat lagi dengan data terbaru.

    Semoga bermanfaat

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s