Saham RI Keluar Dari MSCI, Uangnya Pindah Kemana?

Sesuai dengan update terakhir MSCI, pada Review Mei 2026 nanti, dipastikan saham yang High Shareholding Concentration (HSC) akan dikeluarkan. Saham lainnya di-review,kemungkinannya tetap, turun ke small atau keluar.
Pertanyaannya : Jika saham keluar, Uangnya pindah kemana?

Sebelumnya kita perlu memahami cara kerja reksa dana indeks / ETF. Ketika suatu reksa dana indeks / ETF menggunakan MSCI sebagai acuan, maka struktur dari isi portofolionya mesti mengacu ke struktur MSCI. Jika MSCI masukkan saham A, maka reksa dana indeks / ETF akan beli saham A.

Sebaliknya jika MSCI keluarkan saham B, maka reksa dana indeks / ETF juga akan jual saham B. Pembelian dan penjualan saham sesuai indeks acuan itu tidak hanya soal nama tapi juga bobot. Misalkan bobot saham A 10%, maka reksa dana indeks / ETF akan beli sebesar 10% juga.

Pada prakteknya, reksa dana indeks / ETF juga punya fleksibilitas. Mengacu pada aturan di Indonesia, fleksibilitasnya ada 2 yaitu Jumlah Anggota dan Bobot. Misalkan anggota indeks 100, reksa dana boleh beli cukup 80 saja, minimal 80% jumlah anggota.

Misalkan bobot saham 10%, reksa dana boleh antara 8 – 12%, range bobot antara 80 – 120% dari bobot asli dalam indeks. Jadi ketika institusi berlangganan MSCI, setiap hari mereka dikirim daftar saham dalam suatu indeks itu namanya apa saja dan bobotnya berapa. Contoh BBCA – 0.17%.

Indeks MSCI juga beragam, ada MSCI ACWI (All Country World Index) – berisi saham MSCI Standard di seluruh dunia. MSCI EM (Emerging Market) – berisi saham MSCI Standard di negara berkembang saja. MSCI Standard mengacu kepada saham kapitalisasi besar dan sedang yang lolos seleksi.

Saham Indonesia ada di MSCI ACWI dan juga MSCI EM. Tapi ada juga yang Indonesia tidak masuk misalnya di MSCI World Index. Sebab walaupun namanya World (dunia), tapi yang masuk hanya negara maju saja. Indonesia masih negara berkembang sehingga tidak ada dalam anggota indeks ini.

Berdasarkan Factsheet MSCI EM per Maret 2026
Bobot per negara adalah
25.48% – China
22.53% – Taiwan
15.48% – Korea Selatan
12.58% – India
5.15% – Brazil
18.78% – Negara Lainnya

Indonesia itu masuk dalam Others bersama negara lainnya dengan estimasi bobot antara 1-1.2%.

Berdasarkan Factsheet MSCI EM per Maret 2026

Bobot per negara adalah
25.48% - China
22.53% - Taiwan...

Bobot suatu negara ditentukan dari
FIF x Harga Saham x Total Lembar

FIF – Foreign Inclusion Factor

Free Float versi MSCI yang sudah dilakukan pembulatan dan penyesuaian batas maksimal kepemilikan asing
Contoh BBCA
42.5% x 6000 x 123.275.050.000
Rp 314.35 Triliun

Angka Rp 314.35 T ini disebut dengan Free Float Market Caps, selanjutnya akan dibandingkan dengan semua saham dalam MSCI EM. Karena MSCI EM satuannya dalam USD, maka angka Rp 314.35 T juga harus dihitung dalam USD, asumsi kurs Rp 17.250 maka setara USD 18.22 miliar

Berdasarkan Factsheet MSCI EM, pada Maret 2026 total Free Float Market Caps adalah USD 10,205.15 miliar. Bobot BBCA adalah 18.22 / 10,205.15 x 100% = 0.1777%.

Berdasarkan Factsheet MSCI EM, pada Maret 2026 total Free Float Market Caps adalah USD 10,205.15 mil...

Berapa estimasi bobot DSSA dan BREN?

DSSA :
13% x 1720 x 192.638.080.000
Rp 43.07 T ~ USD 2.49 miliar
Bobot 2.49 / 10,205.15 x 100%
0.0243%

BREN :
6% x 4650 x 133.786.220.000
Rp 3.73 T ~ USD 2.16 miliar
Bobot 2.16 / 10,205.15 x 100%
0.0212%
Dari 2 saham jika dijumlahkan 0.0455%.

Apakah 0.0455% ini akan diberikan ke Saham Indonesia, diambil negara lain atau seperti apa?
Jawabannya akan dihitung ulang dan dibagi proporsional ke semuanya
Secara matematis seperti ini :
Pertama, Angka Free Float Market Caps akan dijumlahkan ulang sesuai list saham terbaru.

Asumsi, sebelum BREN dan DSSA keluar dan tidak ada saham lain yang keluar masuk, totalnya USD 10.205,16 Miliar
Jika hanya BREN dan DSSA keluar angkanya akan berkurang menjadi 10,205.16 – 2.49 – 2.16 = 10,200.51
Sehingga bobot BBCA
Before 18.22 / 10,205.15 x 100% = 0.1777%
After 18.22 / 10,200.51 x 100% = 0.1786%

Asumsi, sebelum BREN dan DSSA keluar dan tidak ada saham lain yang keluar masuk, totalnya USD 10.205...

Bobot BBCA naik bukan karena dapat limpahan dari BREN dan DSSA, tapi dari perhitungan Free Float Market Caps saham dibagi dengan Total Free Float Market Caps semua saham. Angka FF Mcaps akan semakin besar jika harga saham naik dan atau FIF (Free Float) naik, dan sebaliknya harga saham dan Free Float turun maka bobotnya semakin kecil.

Tanpa ada penyesuaian free float sekalipun, harga saham yang turun jelang periode review MSCI Mei 2026 ini juga akan merugikan karena pada saat yang sama harga saham dari Korea sedang naik tinggi. Kemudian saham masuk keluar itu tidak hanya Indonesia saja tapi juga negara lain.

Contoh, pada MSCI Review Februari 2026 lalu, di kawasan Asia Pacific, ada 37 saham. China masuk MSCI Standard dan 16 keluar.
Korea ada 2 masuk dan 3 keluar.
Taiwan 1 masuk dan 4 keluar.
Belum yang Brazil, Turki, dan negara berkembang lainnya.

Contoh, pada MSCI Review Februari 2026 lalu, di kawasan Asia Pacific, ada 37 saham China masuk MSCI...

Jika jumlah Saham yang masuk tambah banyak, maka Free Float Market Caps secara keseluruhan juga akan bertambah. Bobot dari masing-masing saham selanjutnya adalah angka FF Mcaps saham dibagi dengan total FF Mcaps keseluruhan yang baru. Jadi tidak ada istilah pindah, pure matematika.

Review MSCI Mei 2026 ini, Indonesia dalam posisi yang kurang menguntungkan. Selain ada yang keluar, harga sahamnya juga sedang turun meskipun negara lain juga sama. Semoga pada review mendatang, bobot Indonesia bisa semakin besar.


Have a nice day
BUKAN REKOMENDASI BUY SELL HOLD

Rudiyanto

Tinggalkan komentar

  1. avatar Rudiyanto
  2. avatar practicallyface67b73b3ab2
  3. avatar Rudiyanto
  4. avatar bayu
  5. avatar Rudiyanto