Transparansi bursa memasuki era baru, dari data kepemilikan >1% hingga 39 klasifikasi investor sesuai permintaan Global Index Provider seperti MSCI dan FTSE. Pada 12 Mei 2026 ini, ada Index Review MSCI.
Bagaimana nasib 17 Saham Indonesia MSCI Standard?
Siapa yang tidak aman?
Pada Index Review Februari 2026 lalu, INDF diturunkan dari MSCI Standard ke MSCI Small. Sehingga jumlah saham Indonesia dalam MSCI Standard dari 18 menjadi 17 urutan terbesar sebagai berikut :
BBCA
BBRI
BMRI
TLKM
DSSA
ASII
BREN
AMMN
TPIA
BRMS
BRPT
BBNI
GOTO
UNTR
CUAN
AMRT
CPIN
DSSA dan BREN masuk dalam High Shareholding Concentration (HSC). Mengacu dokumen MSCI, saham Hong Kong yang masuk HSC akan dikeluarkan, rasanya Indonesia juga akan sama. Sisanya baru diuji lagi dengan berbagai ketentuan MSCI dari likuiditas, extreme return, market size, dan sebagainya.
Untuk mengetahui sisa 15 saham ini akan masuk atau tidak, saya pakai ketentuan Market Size dulu. Data >1%, 39 Klasifikasi Investor, ATVR, Extreme Return, FOT, saya kesampingkan dulu. Market Size sederhananya adalah Full Market Caps dan Free Float Market Caps.
Angka cut off MSCI dalam mata uang USD, sehingga dengan asumsi kurs Rp 17.100, minimum untuk masuk ke Standard berdasarkan dokumen Maret 2026 adalah :
Rp 65 Triliun untuk Full Market Caps dan Rp 32.5 Triliun untuk Free Float Market Caps.
Selanjutnya kedua ini akan diuji pada 15 saham.
Berdasarkan data Free Float dokumen IHSG per April 2026 yang kemungkinan mengambil data per Maret 2026 dan harga saham 20 April 2026, data Full Market Caps dan Free Float Market Caps sebagai berikut :

Terdapat 4 saham yang saya beri warna kuning:
GOTO, CUAN, AMRT, dan CPIN

GOTO
Meski Free Float Mcaps > Rp 32.5 T, tapi Full Market caps hanya Rp 60 T, kurang sekitar Rp 5 T untuk tetap bisa bertahan di MSCI Standards. Kemudian jika dilihat data >1%, sangat besar kemungkinan Free Float publik yang 76.93% akan terdiskon besar-besaran karena kepemilikan oleh investor kategori CP – Corporation dan dari namanya kelihatan memiliki hubungan afiliasi atau pendiri sejak zaman sebelum IPO. Katakan Free Float jadi 50%, maka FF Market caps akan lebih kecil.

CUAN
Secara Full Mcaps memenuhi ketentuan tapi FF Mcaps kurang, hanya Rp 27 T dari Rp 32.5 T. CUAN berdasarkan data RTI kepemilikan masyarakat itu 15.86% sama dengan IHSG. Tapi uniknya kepemilikan Pak Prajogo Pangestu yang 84%, ternyata 5%nya berbentuk Scriptless dan sisanya berbentuk Script (warkat) yang kategori non free float. Saham publik yang 15.8% + 5% saham PP berbentuk Script menghasilkan saham. Scriptless sekitar 20% di data KSEI yang 39 klasifikasi investor. Hal ini karena kelemahan data 39 Klasifikasi itu tidak membedakan apakah dia afiliasi atau bukan. Sebelumnya kalau dihitung dengan asumsi 20%, masih memenuhi untuk FF Mcaps, tapi kalau 15.8% maka tidak memenuhi.

AMRT
Baik dari Full Mcaps dan FF Mcaps sudah tidak memenuhi ketentuan. Kalau dilihat data >1%, Free Float versi bursa yang 41% juga akan terdiskon besar karena ada kepemilikan beberapa investor kategori CP dan individual yang kurang dari 5% tapi cukup signifikan. Estimasi asumsi free float bisa turun dari 41% menjadi 32%. Jika angka ini yang dipakai, maka akan semakin jauh untuk mencapai ketentuan FF Mcaps.

CPIN
Dengan harga tanggal 20 April 2026, angka FF Mcaps sudah terlalu jauh dari ketentuan minimal. Kemudian asumsi Free Floatnya 34.14%, jika dilihat keterbukaan >1%, menurut saya bisa terdiskon lebih lanjut ke sekitar 26%. Artinya semakin jauh dari minimal FF Mcaps.

Perlu diperhatikan dalam MSCI ada aturan Index Buffer. Untuk menjaga agar perubahan (turnover) dalam MSCI tidak terlalu sering, baik naik turun ataupun keluar, ditetapkan angka toleransi
Nilainya 2/3 dari cut off
Rp 65 T x 2/3 = Rp 43.3 T
Rp 32.5 x 2/3 = Rp 21.6 T
Index buffer artinya meskipun angka Full atau Free Float Mcaps di bawah cut off, selama dalam buffer, masih dapat bertahan. Jadi tidak serta merta semua saham yang disebut di atas, akan dikeluarkan dari MSCI Standard karena secara angka dalam batasan buffer
Harus saya akui, bisa jadi karena pemahaman terhadap dokumen MSCI yang masih kurang, atau ada ketentuan lain tidak saya ketahui, ada saham tetap dikeluarkan dari MSCI Standard meskipun masuk dalam batasan buffer. INDF salah satu contohnya. Jadi bisa baca lagi sendiri
Saham keluar dari MSCI Standard, ada 2 tujuan : Downgrade ke MSCI Small Caps atau keluar sama sekali. Untuk yang keluar, tidak ada masa tunggu 12 bulan seperti halnya masuk HSC, di review berikutnya tinggal dihitung lagi.
Disclaimer
1. Data diambil dari IDX, iShares, Asumsi Kurs Rp 17.100.
2. Dokumen Metodologi MSCI Maret 2026.
3. Hanya Menggunakan Kriteria Full dan Free Float Market Caps, masih ada kriteria lain.
4. Saya bisa salah baca, salah hitung, dan atau salah interprestasi.
5. Saham masuk keluar indeks tidak jaminan akan naik turun.
Semoga bermanfaat
BUKAN REKOMENDASI BUY SELL HOLD


Tinggalkan komentar