Kabar Negatif Lagi dari MSCI. Ini Fakta dan Angkanya

MSCI kembali kasih kabar negatif.

Tidak tanggung-tanggung, dari ancaman ke Frontier Market menjadi langsung ke Stand Alone Market. Jika ini sampai terjadi, praktis Indonesia akan dikucilkan oleh investor global yang menggunakan MSCI sebagai acuan investasinya.

Berikut fakta dan angkanya

Meski sifatnya baru konsultasi, artinya bisa terjadi, bisa juga tidak, menjadi penyebab penurunan IHSG -11.57% pada 16 Oktober lalu.

Dalam materi konsultasinya, poin ke empat :

However, market participants have indicated that, to date, sufficient progress has not been observed consistently across the Indonesian equity market. Significant concerns remain around market dysfunction, including continued suspected coordinated trading behavior and lack of evidence of meaningful enforcement

Meski sifatnya baru konsultasi, artinya bisa terjadi, bisa juga tidak, menjadi penyebab penurunan IH...

Menurut CFA Institute, Market Dysfunction adalah suatu kondisi operasional di mana mekanisme pasar modal gagal memproses informasi secara efisien, mengalami gangguan likuiditas akut, atau mengalami distorsi struktural, sehingga harga aset keuangan menyimpang secara ekstrem dari nilai intrinsiknya.
Ada penekanan dalam pengumuman konsultasi MSCI, including continued suspected coordinated trading behavior and lack of evidence of meaningful enforcement.
Artinya termasuk praktek pom pom / manipulasi harga masih berlangsung dan kurangnya bukti penegakan hukum yang berarti.

Jadi dugaan saya, MSCI melihat bahwa tindakan regulator untuk data kepemilikan dibuka dan pembagian kategori investor itu baru tahap awal saja. Yang diharapkan itu jika sudah tahu ada praktek manipulasi harga, apakah sudah ada penegakan hukum yang tegas dan berarti?
Mungkin itu yang ditunggu-tunggu sehingga terus menerus ada periode freeze meskipun sudah ada perbaikan soal transparansi data. Kalau tidak ada penegakan hukum yang membuat oknum takut untuk berbuat, nanti juga akan terulang lagi.
Terus terang saya juga salah karena mengira dengan transparansi data tersebut concern MSCI sudah selesai, ternyata yang diharapkan itu praktek manipulasi harga diberantas, untuk itu saya mohon maaf.

Bagaimana dengan kebakaran hutan, apakah ini berpengaruh?
Menurut saya tidak, sebab sepengetahuan saya dalam dokumen metodologinya, MSCI lebih fokus pada ukuran, likuiditas, efisiensi pasar, dan investability. Tidak ada ketentuan soal bencana alam. Tapi perlu dipahami bahwa asap dari kebakaran hutan tersebut tidak hanya mengganggu dan meracuni warga WNI saja, tapi Warga Negara lain di Singapore dan Malaysia juga terdampak.
Banyak investor global termasuk MSCI memiliki kantor perwakilan dan karyawannya bekerja di Singapore, menurut kamu bagaimana persepsi mereka tentang kita ketika ada pejabat bilang waktu tidak karhutla dibilang Indonesia mengirim oksigen? Komentar ini juga viral di luar negeri. Tapi again, saya tidak melihat ini ada dampak langsung. Lebih ke secara psikologis saja.

Bagaimana secara angka?
Sebagaimana diketahui, pihak IDX menggunakan daftar saham HSC (High Shareholding Concentration) sebagai jawaban. Saham masuk HSC hanya dimiliki sekelompok pihak tertentu, sehingga meski tidak melanggar peraturan, likuiditas dan harga saham bisa berfluktuasi dengan tajam. Global Index Provider sudah punya aturan sehingga saham HSC tidak masuk dalam seleksi mereka.

Per 13 Oktober 2026, terdapat 80 saham Indonesia yang masuk dalam daftar HSC.
Per 30 September 2026, Market Caps dari Saham HSC mencapai Rp 3.038 T dan setelah crash kemarin per 16 Oktober 2026 menjadi Rp 2.635 T.
Bobotnya konsisten di sekitar 28% dari IHSG.
Artinya hampir 1/3 market caps Indonesia itu HSC.

Per 13 Oktober 2026, terdapat 80 saham Indonesia yang masuk dalam daftar HSC

Per 30 Sept 2026, Mark...

HSC bukan satu-satunya di Indonesia. Justru Hong Kong sudah duluan dan kita belajar dari mereka
Berdasarkan situs https://t.co/Y6A3SCvOtW yang dibantu dengan AI, ada 243 saham di Hong Kong yang pernah dinyatakan masuk HSC, 3 kali lipat dari Indonesia. Tapi kebanyakan small medium caps, dan hanya sekitar 0.7% dari total market caps Hang Seng.
Ini perbedaan utama Hong Kong dengan Indonesia

HSC bukan satu2nya di Indonesia
Justru Hong Kong sudah duluan dan kita belajar dari mereka

Berdasar...

Logika saja, kalau hampir 1/3 market caps Indonesia HSC, maka apa jaminan sisanya tidak?
Sebagai investor asing yang memerlukan likuiditas dan pasar modal efisien, saham HSC adalah relatif dihindari karena lebih rawan manipulasi. Dan kalau hampir 1/3nya HSC, mungkin saja keseluruhan pasarnya juga ikut dipertanyakan. Tapi kalau harus fair, saham di luar HSC juga bisa terjadi manipulasi harga sehingga masuk HSC tidak berarti pasti manipulasi. Yang jadi fokus itu seharusnya di enforcement manipulasi harga.

Bagaimana dengan potensi dana asing yang keluar?
Menurut saya ini masih konsultasi, bisa terjadi, bisa juga tidak. Penurunan harga kemarin lebih ke efek “kaget” saja sehingga meski kemarin asing net sell Rp 3.3 T pada 16 Okt lalu, itu terdiri dari Asing Sell Rp 17.4 T dan Asing Buy Rp 14.1 T. Artinya yang panik jual dan panik beli dari lokal dan asing sama-sama ada.

Bagaimana dengan potensi dana asing yang keluar?

Menurut saya ini masih konsultasi, bisa terjadi, b...

Secara angka, berdasarkan :
Data Kepemilikan Asing ETF dan Asing MF (Mutual Fund) Akhir September 26.
Harga Akhir September 26
Harga 16 Oktober 26
Ditampilkan hanya yang nilai di atas Rp 100 M saja.


ETF Asing memiliki 223 saham di Indonesia dengan 58 di atas Rp 100 M dan 165 di bawah Rp 100 M per 30 September. Per September, nilainya mencapai Rp 90.4 T dan waktu crash estimasi menjadi Rp 76 T yang dihitung dengan kepemilikan Akhir September. Angka ini bisa lebih rendah jika ETF juga menjual kepemilikannya.

Secara angka, berdasarkan :

Data Kepemilikan Asing ETF dan Asing MF (Mutual Fund) Akhir Sept 26
Har...

Kepemilikan oleh MF Asing lebih banyak jumlah dan nilainya. Total ada 340 emiten, dengan 117 di atas Rp 100 M dan 223 di bawah Rp 100 M. Total kepemilikan oleh MF Asing mencapai Rp 413 T pada Akhir Sept dan turun pada 16 Oktober 26 estimasi menjadi Rp 351 T yang dihitung berdasarkan kepemilikan akhir September.
Nilai bisa lebih rendah apabila MF juga mengurangi kepemilikan

Kepemilikan oleh MF Asing lebih banyak jumlah dan nilainya

Total ada 340 emiten, dengan 117 di atas...

Untuk kategori MF Asing ini, menurut saya datanya masih belum “rapi”. Ada beberapa investor yang seharusnya tercatat sebagai Corporate, tapi labelnya MF, sehingga angka asli yang benar-beenar MF seharusnya lebih rendah.
Dalam ETF dan MF, ada juga saham-saham HSC yang sudah ditetapkan sejak lama. Dari 80 saham HSC, masih ada 36 yang dimiliki oleh MF dan ETF Asing dengan nilai Rp 19 T pada akhir September 26 dan estimasi jadi Rp 13.6 T pada 16 Oktober 26. Artinya sekalipun HSC, tetap ada kemungkinan dibeli oleh ETF dan MF Asing.

Untuk kategori MF Asing ini, menurut saya datanya masih belum "rapi"

Ada beberapa investor yang seh...

Jumlah keseluruhan kepemilikan asing di ETF dan MF di atas Rp 400 T. Tapi daripada panik dan takut memikirkan seandainya diturunkan ke stand alone atau frontier, ini itu…
Lebih baik kita berikan waktu kepada regulator untuk memperbaiki yang sudah ada yaitu aspek enforcement.
Di tahap awal sudah ada denda Rp 2.1 T ke para pihak yang terlibat dalam manipulasi harga dan sangat mungkin bertambah lagi. Denda yang besar akan punya efek deteren, membuat jera pelaku dan menakutkan bagi orang lain untuk mencoba. Perlu ada pengembangan sistem juga supaya deteksi manipulasi harga ini bisa lebih awal.

Semoga bisa
Have a nice day

Rudiyanto

Tinggalkan Balasan

  1. avatar practicallyface67b73b3ab2
  2. avatar Rudiyanto
  3. avatar practicallyface67b73b3ab2
  4. avatar Rudiyanto
  5. avatar bayu