
Review MSCI akan diumumkan 12 Mei 2026 dengan efektif 1 Juni 2026. BREN dan DSSA dikeluarkan karena masuk HSC, tidak ada penambahan free float, dan data 1% “mungkin” akan digunakan untuk menentukan free float.
Apakah ETF sudah jual duluan atau sebaliknya malah beli?
Sebagai informasi, cara kerja daripada reksa dana indeks dan ETF yang mengacu ke indeks tertentu, baik itu IDX30, Sri Kehati, ataupun MSCI pada dasarnya sama. Sebisa mungkin kinerja mendekati indeks acuan, sehingga portofolio investasi akan menyerupai komposisi indeks acuan.
Dalam kasus MSCI akan mengumumkan di 12 Mei 2026 dengan tanggal efektif 1 Juni 2026, maka susunan portofolio reksa dana indeks dan ETF diupayakan sama pada H-1 sebelum 1 Juni 2026 yaitu 29 Mei 2026. Akan lebih ideal lagi, pembelian / penjualan saham dilakukan pada harga close.
Jadi misalkan saya mengelola reksa dana indeks MSCI, ada saham BREN dan DSSA keluar, supaya kinerja saya sama dengan indeks acuan yang baru di 1 Juni 2026, maka penjualan dilakukan pada 29 Mei 2026 harga penutupan. Untuk bisa dapat harga close, jualnya di pasar FCA.
Jika saham yang dijual misalkan Rp 250 M, tapi ternyata likuiditas harian Rp 50 M, maka pilihannya adalah FCA dengan ARB atau cicil jual beberapa hari. Sebaliknya juga kalau saham baru masuk dan likuiditas kurang, di ARA atau cicil beli. Idealnya semua beres H-1 tanpa lonjakan harga.
Makanya bagi investor asing, likuiditas lebih penting dari fundamental. Loss adalah bagian dari risiko pasar. Tapi tidak boleh nyangkut. Salah satu kriteria likuiditas adalah Free Float, makin banyak, makin likuid sehingga data free float harus benar-benar riil bukan tipu-tipu.

Kebetulan data 39 klasifikasi investor April 2026 sudah terbit, sehingga bisa dilakukan perbandingan data periode Maret dan April 2026. Data saham yang diamati adalah 17 saham dalam MSCI Standard pada periode Februari 2026
AMMN AMRT ASII BBCA
BBNI BBRI BMRI BREN
BRMS BRPT CPIN CUAN
DSSA GOTO TLKM TPIA UNTR
Data lembar saham ETF Maret dan April dibandingkan, selanjutnya selisih dikalikan dengan harga saham 30 April untuk mendapatkan estimasi inflow outflownya. Surprisingly, ETF yang lebih dari 90%nya dimiliki asing, ternyata lembar kepemilikan malah naik dari Maret ke April 2026

Hanya 2 saham yang outflow dalam daftar di atas yaitu BRMS dan BRPT. BRMS karena review Market Vector GDX dan GDXJ, dimana bobot BRMS di GDXJ turun sehingga ada penyesuaian. Untuk BRPT, saya belum ada informasi ada review di indeks lain sehingga tidak tahu alasannya.
DSSA dan BREN yang sudah pasti dikeluarkan MSCI pada review nanti, ternyata malah ada kenaikan lembar oleh ETF. BREN bertambah 22,9 juta lembar atau sekitar Rp 102 M. DSSA yang ada stock split 1:25 bertambah 27.1 juta lembar atau sekitar Rp 43 M.
Dari 17 saham MSCI Standard, malah estimasi total inflow selama 1 bulan mencapai Rp 1.68 T. Bahkan DSSA dan BREN yang sudah pasti keluar juga masih inflow. Dari sini, saya menyimpulkan ETF belum jual duluan. Karena rebalancingnya memang dilakukan menjelang tanggal efektif saja.
Mengapa malah terjadi inflow?
Dugaan saya karena di Emerging Market, saham Korea, Taiwan dan Brazil naik signifikan sehingga bobot ikut naik. Di periode yang sama harga saham kita paling turun. Kenaikan bobot di negara lain mungkin terlalu besar terutama saham chip dan AI related seperti TSMC, Samsung dan SK Hynix, sehingga ada penyesuaian bobot agar tidak terlalu mendominasi dengan cara membagi bobotnya ke saham lain. Di LQ-45 dan IDX-30, bobot satu saham di caps maksimal 15%, belum ada referensi untuk MSCI berapa persen. Sebagai referensi bobot Indonesia di iShares Emerging Market pada Des 2025 adalah 1.15%, pada April 2026 tinggal 0.74%.
Meski dari Maret ke April ada inflow, tapi pada waktu review Mei nanti, dipastikan ada outflow di saham yang dikeluarkan karena HSC. Sangat berharap, tidak ada lagi saham selain HSC yang di downgrade atau keluar dari MSCI Standard supaya efek outflow terbatas.
Have a nice day

Tinggalkan komentar