
Perang USA dan Iran masih terus berlanjut tanpa ada tanda-tanda akan berhenti. Omongan Trump lama-lama juga sulit dipegang lagi.
Logikanya jika perang berlanjut, harga emas akan naik karena instrumen safe haven. Kenyataannya dari all time high USD 5.645 sekarang di USD 4600an, ada apa?
Pada konten lalu, dijelaskan bahwa harga Emas dalam USD, secara fundamental berbeda dengan saham dan obligasi karena tidak menghasilkan dividen atau kupon. Oleh sebab itu, dalam melakukan analisa harga, dasar yang digunakan lebih cocok menggunakan supply demand, bukan valuasi.
Supply emas cenderung stabil, jadi naik turunnya lebih karena aspek Demand.
Ada 4 sumber utama Demand yaitu:
– Perhiasan (Jewelry)
– Bank Sentral
– Investasi
– Teknologi
Yang paling kecil adalah teknologi. Dan kalau harganya mahal, biasanya makin canggih dan dicari alternatif.
Perhiasan itu price taker. Waktu harga emas tinggi, yang beli perhiasan sedikit.
Malahan perhiasan lama didaur ulang jadi emas murni dan dijual mahal. Waktu harga emas rendah, baru pada borong perhiasan. Jadi Demand perhiasan “dipengaruhi” harga, bukan sebaliknya.
Yang berperan aktif terhadap harga didominasi oleh Bank Sentral dan Investasi. Bank Sentral dalam pengelolaan Surplus Ekspor dan Cadangan Devisanya dapat memilih untuk menyimpan dalam bentuk emas. Kemudian dalam kondisi harus menstabilkan mata uang, bisa jual emas utk beli USD.
Kondisi sekarang dimana harga minyak tinggi, inflasi naik, nilai tukar melemah dan terjadi Capital Outflow dengan signifikan dapat “memaksa” Bank Sentral menjual Emas untuk beli USD. Jika perang sampai memaksa inflasi tinggi, demand dari Bank Sentral bisa turun, contoh Turki.
Jadi meski perang menciptakan kondisi investor beralih ke safe haven seperti emas, tetap ada syarat dan ketentuannya yaitu dengan catatan inflasi tidak naik tinggi dan kurs nilai tukar terhadap USD stabil. Jika tidak, malahan ada kemungkinan bank sentral jual emas.

Investasi emas dalam bentuk ETF, Emas Batangan, dan Koin juga berpengaruh dominan terhadap harga emas meskipun baru 2 tahun terakhir ini. Berbeda dengan Bank Sentral yang berbasis kebutuhan, Investasi emas berbasis story dan sentimen yang bisa berubah-ubah dengan cepat.
Story dan sentimen yang positif untuk Demand Investasi antara lain :
– Pembelian oleh bank sentral
– Bank sentral AS akan menurunkan suka bunga
– Safe haven ketika ada konflik perang USA-Iran
Sayangnya sentimen mulai pudar..
Bank sentral ada yang beli emas, tapi ada juga yang terpaksa jual karena kebutuhan stabilitas negara. Bank Sentral AS yang tadinya mau turunkan suku bunga, gara-gara perang dan inflasi naik, bisa jadi malah naik bunganya.
Ketika perang jadi “new normal” dan suku bunga berpeluang naik, safe haven bagi perspektif investoe global pindah dari Emas ke US Dollar. Belum lagi terobosan teknologi di bidang teknologi menciptakan “new story” AI dan semikonduktor yang lebih “seksi”.
Ketika ada peluang investasi yang lebih baik atau istilahnya better opportunity, yang tadinya beli emas bisa pindah ke saham dengan tema AI dan Semikonduktor. Kenaikan saham terkait AI dan Semikonduktor di atas, jauh lebih besar dibandingkan emas, jadinya investor juga pindah.
Begitu Demand dari Investasi turun karena pindah ke lain hati, menjadi salah satu pemicu penurunan harga emas. Grafik harga emas periode Year To Date menunjukkan harga emas naik karena konflik USA-Iran tapi turun setelah itu. Dugaan saya karena “Story” berubah.

World Gold Council sudah mempublikasikan data Supply Demand emas dunia untuk Q1-2026. Perbandingan antara Demand Q4-2025 dan Q1-2026 dan selisihnya dalam ton sebagai berikut :

Perhiasan turun -103 ton
Teknologi turun 0.5 ton
Bank sentral naik 36 ton
Investasi turun 67 ton
Penurunan investasi yang -67 ton dan lebih besar dari kenaikan Central Bank +36 ton, menurut saya adalah pemicu turunnya harga emas 3 bulan terakhir ini. Simple, story berubah, narasi emas naik karena perang sudah “basi” dan ada peluang lebih baik di luaran.
Have a nice day

Tinggalkan komentar