
Bersamaan dengan pengumuman MSCI Mei 2026 lalu, beberapa perusahaan sekuritas asing membuat prediksi outflow. Estimasinya antara USD 1.7 – 3.4 Billion, dengan kurs Rp 17.500 antara Rp 29.75 T – Rp 59.5 T.
Jika dihitung berdasarkan data kepemilikan ETF dan MF, kira-kira berapa?
Berdasarkan pengumuman MSCI Mei 2026, untuk saham Indonesia :
MSCI Standard
BREN, DSSA, AMMN, TPIA, CUAN –> Dihapus AMRT –> Turun ke Small Caps.
MSCI Small Caps
ANTM, MSIN, TAPG, TKIM, MIKA, APIC, DSNG, BSDE, AALI, SIDO, SSMS, MIDI, BANK –> Dihapus.
Dari 39 Klasifikasi Investor, saat ini dapat diketahui kepemilikan saham oleh ETF dan Mutual Fund (MF). Per April 2026, ETF memiliki saham Indonesia sebanyak Rp 115 T dengan 94% Asing. Periode yang sama, MF memiliki saham Indonesia sebanyak Rp 559 T dengan 85% Asing.
ETF adalah reksa dana dengan strategi pasif, artinya pemilihan saham berdasarkan indeks acuan baik dari provider lokal ataupun global. Saat ini ada 3 global index provider yang punya pengaruh besar di Indonesia yaitu MSCI, FTSE, dan Market Vector (berbasis emas- GDX dan GDXJ).
Yang paling dekat ini adalah MSCI. Sejak diumumkan 12 Mei 2026, daftar saham yang baru akan berlaku efektif di 1 Juni 2026. Dari pengumuman hingga tanggal efektif, biasanya ETF sudah akan berdiskusi dengan broker untuk menjalankan rencana penyesuaian portofolionya.
Sayangnya selain emiten yang punya data investor tiap bulan, tidak ada yang tahu persis berapa kontribusi dari 3 global index provider tersebut. Untuk itu, metode estimasi yang digunakan untuk estimasi outflow hingga 1 Juni adalah posisi April 2026 dikalikan persentase Asumsi.

Persentase Asumsi
Jika hanya MSCI : 80% contoh BREN.
Jika MSCI dan FTSE : 50% contoh AALI, karena FTSE baru efektif di 22 Juni dan belum tentu keputusan sama.
Jika MSCI, FTSE, dan GDX : 30%, contoh AMMN, karena FTSE dan GDX belum tentu keputusan sama.

Persentase Asumsi Estimasi Outflow dengan Harga dan Lembar Kepemilikan ETF per Akhir April 2026 sebagai berikut :

Total estimasi outflow mencapai Rp 7.8 T dengan angka terbesar di AMMN Rp 2.1 T, BREN Rp 1.3 T, dan TPIA di Rp 1.3 T. ANTM Rp 934 M dan DSSA Rp 794 M. Perlu diperhatikan bahwa ini angka estimasi hingga akhir Mei, karena efektif MSCI di 1 Juni 2026. Yang FTSE, baru dipastikan DSSA yang keluar saja, jadi sisanya Rp 794 M. Saham yang lainnya belum ada pengumuman akan dihapus.
MF adalah reksa dana dengan strategi aktif, artinya pemilihan saham yang masuk itu belum tentu karena dia anggota MSCI, LQ-45, atau semacamnya. Bisa jadi karena pertimbangan fundamental, teknikal, story, dan kombinasinya termasuk juga keanggotaan dalam indeks seperti MSCI.
Karena keanggotan dalam MSCI belum tentu menjadi yang utama, maka persentase. Asumsinya saya buat lebih konservatif BREN hanya 2%, karena 90% dari MF dikuasai 1 pihak yang merupakan investor awal pada saat IPO. Sisanya menggunakan asumsi 5% dari data kepemilikan akhir April 2026.

Berdasarkan persentase asumsi untuk MF, hasil perkalian antara Lembar x Harga Akhir April x Est Outflow menghasilkan perkiraan outflow Rp 2.1 T. Angka terbesar di AMMN, ANTM, BREN, dan AMRT berkisar Rp 350-445 M Sisanya di bawah Rp 100 M.

Jadi dari ETF sekitar Rp 7.8 T dan dari MF sekitar Rp 2.1 T sehingga totalnya mendekati Rp 10 T. Mengapa angka ini lebih kecil dibandingkan proyeksi sekuritas asing? Ada beberapa kemungkinan:
1. % Asumsi yang digunakan mereka lebih tinggi.
2. Berdasarkan order jual yang mereka terima.
3. Terdapat pihak selain MF dan ETF yang juga melakukan rebalancing.
Anyhow untuk yang ini, saya sangat berharap mereka yang salah. Karena jika mereka benar, artinya nilai outflow yang terjadi akan jauh lebih besar.
Berapa hari harga saham akan terdampak?
Untuk menjawab itu, digunakan estimasi total outflow dibagi dengan Average Daily Transaction Value (ADTV). Saya menggunakan ADTV 3 bulan terakhir karena kebetulan data yang tersedia itu. Estimasi Outflow : ADTV hasilnya bulat ke atas.

Misalkan BREN ada outflow Rp 1.7 T, sementara rata-rata transaksi harian cuma Rp 107 M, artinya jika mau dilepas semua butuh 17 hari. Deadline untuk penyesuaian adalah 29 Mei 2026. Katakan penyesuaian dilakukan dari 18 Mei setelah masuk dari liburan, cuma ada 10 hari kerja. Skenario yang terjadi adalah ARB atau penjual akan mengupayakan transaksi block sale melalui pasar nego dengan pembeli yang bersedia menampung dalam jumlah besar. Untuk itu, kemampuan broker untuk mencarikan pembeli sangat menentukan.
Keluarnya saham dalam indeks ini terkadang menjadi kesempatan “emas” untuk mendapatkan barang bagus + harga diskon + jumlah besar. Semoga setelah rebalancing MSCI dan FTSE ini selesai di Mei dan Juni, ada saham baru yang bisa masuk pada periode rebalancing berikutnya.
Have a nice day

Tinggalkan komentar