
Jupiter Tiger dan Prime Hill adalah investor institusi asal Singapore yang menjadi pemegang saham BREN sejak sebelum IPO. Kedua nama ini muncul waktu data 1% dibuka dan masih ada hingga saat ini.
Berapa harga rata-rata beli mereka?
Berapa bagger keuntungannya di BREN?
BREN IPO pada Oktober 2023, sementara berdasarkan dokumen prospektus, Jupiter Tiger Holdings dan Prime Hill Fund masuk sebagai pemegang saham pada Mei 2023.
Masing-masing membeli 875.956 lembar saham dari Green Era senilai USD 56.610.000

Pada tahun yang sama sebelum IPO, BREN stocksplit sehingga jumlah lembar saham bertambah. Untuk Jupiter Tiger dan Prime Hill dari 875.956 menjadi 5.839.706.667.
Harga rata-ratanya :
USD 56.610.000
Asumsi kurs 15.000 ~ Rp 849.150.000.000
Dibagi 5.839.706.667
Rp 145.4 per lembar

Lembar kepemilikan 4 Investor awal tidak berubah ketika IPO. Total lembar saham baru yang diterbitkan adalah 4.015 juta lembar setara 3%. Sehingga struktur kepemilikan saham setelah IPO menjadi sebagai berikut :

9 Oktober 2023, BREN resmi melakukan IPO dengan harga Rp 780. Dari harga rata-rata Rp 145.4, untung 436% alias 4 bagger. Bagi Jupiter Tiger dan Prime Hill, investasi awal sebesar Rp 849 M pada harga Rp 145.4, pada harga IPO menjadi Rp 4.55 T pada harga Rp 780 per lembar.

Sebagai investor awal, ada kewajiban founder tax sebesar 0.5% dan larangan menjual sebelum 8 bulan.
Jupiter Tiger dan Prime Hill membayar masing-masing sebesar :
0.5% x 5.839.706.667 x 780
= Rp 22.77 M
Namun dari 4 investor awal, hanya BRPT dan Green Era yang tidak boleh menjual sebelum 8 bulan, tapi Jupiter dan Prime boleh.

Sebagaimana kita ketahui, selanjutnya BREN menjadi fenomena di pasar modal. Harga tertingginya sempat di 11.775 dengan market caps Rp 1575 Triliun, menyalip BBCA yang selama ini menjadi market caps terbesar di Indonesia. Padahal laba bersih BREN di 2025 “cuma” sekitar Rp 2 T vs BBCA yang Rp 57.5 T.

Pada harga 11.775, asumsi Jupiter Tiger dan Prime Hill TIDAK JUAL, maka nilai kepemilikannya akan sebesar :
5.839.706.667 x 11.775
= Rp 68.7 T
Atau dibandingkan harga modal Rp 145.4 setara 7.998 % atau hampir 80x bagger hanya dalam waktu kurang dari 1 tahun.
Apakah mereka jual?
Berdasarkan data kepemilikan 1% IDX, kepemilikan mereka terus berkurang artinya mereka rajin jualan. Dibandingkan kepemilikan awal masing-masing sebesar 5.839.706.667, per Februari 2026 baik Jupiter dan Prime Hill sudah menjual setidaknya 1 miliar lembar dan masih terus menjual

Jupiter Holding masuk kategori Mutual Fund (MF) Asing dan Prime Hill masuk kategori Trustee Bank (IB) yang secara MSCI dan FTSE masuk kategori free float. Tapi tetap saja dianggap Non Free Float dan menjadi penyebab saham ini dilabeli HSC. Bahkan FTSE sudah melakukannya sejak 2024. Jadi 39 klasifikasi investor 1% oleh IDX tidak serta merta digunakan begitu saja oleh MSCI dan FTSE.
Bagaimana dengan periode sebelum Februari 2026?
Karena data 1% baru tersedia, maka saya mencoba data 9 kategori KSEI

Untuk Jupiter Tiger masuk kategori Foreign MF dan angkanya cocok, meskipun seiring waktu bercampur dengan MF Asing lain sehingga tidak murni dia sendiri. Untuk Prime Hill agak sulit karena ada pembelian oleh Foreign IB lain sehingga angka lembar saham kategori IB naik terus. Bahkan pada April 2026, sudah mencapai 7.8 miliar lembar. Karena Foreign MF dan Foreign IB tidak murni Jupiter dan Prime Hill, kurang begitu bisa digunakan.
Jadi berapa bagger kira-kira keuntungan yang diperoleh Jupiter Tiger dan Prime Hill dari penjualan saham dan saham tersisanya?
Murni hanya berdasarkan estimasi (bisa salah), diperkirakan Jupiter Holding hingga April 2026 telah membukukan keuntungan realisasi Rp 10.8 T. Dengan harga akhir April 4460, maka keuntungan belum realisasinya sekitar Rp 18.8 T.

Dengan cara yang sama, jika dilakukan pada Prime Hill, maka estimasi keuntungan realisasi hingga April 2026 diperkirakan mencapai Rp 12.49 T dan keuntungan belum realisasi Rp 17.8 T.

Sedikit OOT, Prime Hill diwakili trustee dengan mana Zhaocai VCC.
Dalam Bahasa Mandarin
Zhao : Memanggil
Cai : Kekayaan
Sesuai artinya, berhasil menambah kekayaan hampir Rp 12.5 T dalam waktu kurang dari 3 tahun. Udah kebayang kalau dia share screenshot porto sahamnya?
Hitung-hitung dan analisis di atas murni hanya iseng karena “kepo” dengan porto saham orang lain. Karena data tidak tersedia sebelum Februari 2026, angka keuntungan realisasi yang ditampilkan bersifat estimasi dan bisa salah. Kemudian diasumsikan kedua investor ini hanya jual dan tidak pernah beli lagi sejak IPO.
BUKAN REKOMENDASI BUY SELL HOLD
Have a nice holiday

Tinggalkan komentar