
Berdasarkan IDX, kepemilikan ETF pada saham Indonesia turun dari Rp 115 T pada Akhir April 2026 menjadi Rp 100 T pada akhir Mei 2026. Sebagian disebabkan karena harga turun, sebagian lagi karena ada penjualan.
Saham apa saja yang masih dimiliki ETF di atas Rp 100 M ??
39 Klasifikasi IDX tidak membagi asing – lokal, tapi kebetulan data ETF Indonesia juga bisa diakses melalui website OJK.
Dengan menggabungkan kedua data sebagai berikut :
April 2026
ETF Lokal Rp 6.4 T
ETF Asing Rp 109.4 T
Mei 2026
ETF Lokal Rp 6.7 T
ETF Asing Rp 93.8 T ~ 94%
Untuk memudahkan cara baca, data disajikan sebagai berikut :
No Urut : berdasarkan AUM terbesar April 2026
Kode Saham
AUM Mei 2026
AUM April 2026
Nominal :
Down AUM Mei < April
Up AUM Mei > April
ETF Mei 2026
ETF April 2026
Lembar :
Down Lembar Mei < April
Up Lembar Mei > April
Ranking 1 – 15

BBCA ada di nomor 1 dengan Rp 14.7 T, turun dari bulan sebelumnya Rp 15.2 T. Lembar kepemilikan juga menurun, menunjukkan bahwa ETF mengurangi lembarnya, serupa dengan AMMN dan BRMS.
BBRI Rank 2 dan TLKM Rank 4, justru mengalami kenaikan baik dari nominal dan lembarnya, serupa dengan BBNI, BRPT dan CPIN.
BMRI yang ranking 3, meski nominal turun tapi lembar sahamnya naik, serupa dengan ASII, UNTR, GOTO, ADRO, dan PGAS.
AMMN yang dikeluarkan dari MSCI Standard, turun dari Rp 7 T jadi Rp 3.7 T, tapi lembar hanya berkurang sekitar 247 juta (17%).
ANTM yang dikeluarkan dari MSCI Small turun dari Rp 1.8 T ke Rp 1.2 T, secara lembar dari 499 juta menjadi 417 juta.
Dari ranking 1-15, ternyata meski saham dikeluarkan dari MSCI Standard dan Small, kepemilikan tidak serta merta jadi 0. Ada 2 kemungkinan, indeks acuan tidak hanya MSCI, tapi juga lain-lain seperti FTSE, Market Vector, SP Global, dan lainnya, atau belum sempat jual saja meski saya lebih percaya alasan pertama karena nilai transaksi pada akhir bulan Mei lalu sangat besar.
Ranking 16 – 30

Pada bagian ini, banyak yang mengalami penurunan nominal dan lembar sekaligus, mulai dari TPIA, BREN, EMAS, DSSA, AMRT, INKP, dan CUAN. Yang sama-sama naik cuma JPFA.
Sementara yang nominal turun tapi lembar naik ada MDKA, PTBA, ITMG, INCO, ENRG, dan AADI.
Untuk TPIA, DSSA dan BREN yang dikeluarkan total dari MSCI Standard, TPIA karena data 1% digunakan, sisanya karena HSC, tapi yang menarik lembar pada Mei 2026 masih sekitar 50% dari lembar April.
Selanjutnya DSSA juga akan dikeluarkan dari FTSE pada 22 Juni 2026 ini, baru bisa dilihat apakah lembarnya serta merta jadi 0, jika tidak, seperti penjelasan sebelumnya MSCI dan FTSE bukan satu-satunya acuan, masih ada referensi indeks lain.
Ranking 31 – 45

Pada range ini, banyak yang nominal turun tapi lembarnya justru naik.
Ibarat bahasa orang pasar, justru diserok waktu lagi turun, mulai dari MEDC, BUMI, KLBF, EXCL, AKRA, BBTN, EMTK, PTRO, TOWR, ISAT, MBMA, dan CTRA. Yang sama-sama naik ada MAPI dan UNVR. Yang nominal naik tapi unit turun karena harga saham naik ada ISAT.
Ranking 46 – 60

Sama seperti sebelumnya, banyak yang nominal turun tapi Lembar malah naik seperti TCPI, SMGR, BUKA, SCMA, INTP, ESSA, TAPG, dan PWON. Yang sama-sama turun ada ARCI, BSDE, MIKA, dan HEAL. Yang sama-sama naik ada JSMR, TINS, dan ICBP.
Ranking 61 – 77

Sama seperti di atas, masih dominan yang nominal turun tapi lembar naik seperti FILM, ELSA, APIC, BFIN, KPIG, AVIA, ARTO, DEWA, dan STAA. Yang sama-sama turun ada NCKL, SIDO, DSNG, PGEO, dan AALI. Yang sama-sama naik ada GGRM,MAPA, dan MTEL.

Secara statistik pada April 2026 terdapat 77 saham yang dimiliki ETF > Rp 100 M. Angka ini turun menjadi 71 pada Mei 2026. Penurunan ini didominasi karena penurunan harga saham yang terjadi selama bulan itu. Menariknya dari 77 saham tersebut, hanya 23 yang lembarnya turun, dan yang naik ada 54 saham. Mungkin benar yang orang-orang sebut, justru penurunan ini dimanfaatkan untuk serok di harga bawah dan banyak ETF yang melakukannya termasuk pada saham-saham bluechip.
Kalau ETF serok bawah mengapa harga justru turun? Maka kemungkinan besar penyebab turunnya harga bukan lagi ETF tapi reksa dana yang kepemilikannya sekitar 5x lipat dari ETF.
Pembahasan mengenai kepemilikan oleh reksa dana akan dilanjutkan pada konten berikutnya.
Have a nice day
BUKAN REKOMENDASI BUY SELL HOLD

Tinggalkan komentar