
Dalam perjalanan pulang dari Semarang beberapa waktu lalu, ada buku atau lebih tepatnya manga yang saya beli di Periplus bandara judulnya “Strategi Perang Sun Tzu”.
Ada satu bagian cerita menarik yaitu Sun Tzu dan Dua Selir Kesayangan Raja Helu
Kisahnya sebagai berikut
Dalam buku itu, dikisahkan Sun Wu (nama asli Sun Tzu), sejak kecil sudah berbeda dengan anak-anak seumurannya. Dalam usia Balita, dia berani melawan elang, menangkap ular, bahkan menyusun batu seperti formasi perang.

Setelah kedua orang tuanya meninggal dalam epidemi, dia mengurung diri dan membaca buku-buku militer selama bertahun-tahun dan melanjutkan buku yang oleh Kakek dan Orang Tuanya yang belum selesai. Dia sempat dihukum wajib militer selama 1 tahun dan meneruskan buku setelah kembali.

Wu Zixu, keluarganya adalah pejabat di kerajaan Chu. Tapi karena politik, keluarganya dihukum mati. Dia melarikan diri ke kerajaan Wu, menjadi pejabat disana dan berharap suatu saat bisa balas dendam. Kerajaan Chu adalah negara dengan ekonomi dan militer terbesar saat itu.
Suatu ketika Wu Zixu berkenalan dengan Sun Tzu dan sangat terkesan dengan buku militer yang dia tulis. Dia percaya bahwa Sun Tzu dapat membantu balas dendamnya ke Chu dan membuat Wu menjadi penguasa baru di China. Diapun kemudian memperkenalkan Sun Tzu ke pemimpin Wu – Raja Helu.
Raja Helu tidak lahir sebagai penguasa yang aman di singgasana. Ia merebut takhta Kerajaan Wu melalui kudeta yang terkenal dalam sejarah Tiongkok. Setelah menjadi raja, Helu tidak puas mempertahankan kekuasaan. Ia ingin mengubah Wu dari negara pinggiran menjadi kekuatan besar.
Karena Sun Tzu belum pernah memimpin tentara, Raja Helu tidak yakin buku yang dia tulis dapat diterapkan dalam lapangan. Diapun memberi ujian dengan meminta Sun Tzu memimpin tentara kepada para wanita pelayan kerajaan. Sun Tzu menyanggupi dan meminta 2 selir raja juga ikut.
2 Selir kesayangan Raja Helu – Meihu dan Huahong menjadi bagian dari pasukan bersama para pelayan wanita di istana. Sun Tzu meminta mereka berbaris dan bergerak sesuai perintahnya. Pasukan tersebut dibagi 2 dengan Meihu dan Huahong menjadi kapten team-nya.

Untuk wanita-wanita yang belum pernah perang, apalagi selir kesayangan, hasilnya bisa ditebak. Perintah Sun Tzu ditanggapi malas-malasan dan bahkan tidak diikuti. Sun Tzu menegaskan bahwa dia mendapat mandat dari raja sebagai Jendral dan ada hukuman militer bagi yang membangkang.

Dalam perang, perintah Jendral adalah absolut. Karena dilawan, maka Sun Tzu memerintahkan agar kapten team untuk dieksekusi. Raja Helu kaget dan meminta dihentikan, tapi dalam perang, pemegang kekuasaan tertinggi adalah Jendral. Keduanya tetap dieksekusi walaupun Raja memohon.

Melihat itu, semua yang berbaris kaget kemudian mengikuti perintah Sun Tzu dengan serius. Tidak ada lagi yang berani main-main dan menjalankan perintah sesuai instruksi yang diberikan. Teori buku militer Sun Tzu tentang disiplin militer terbukti.

Meski sedih, akhirnya Raja mengakui kemampuan Sun Tzu dalam militer. Selanjutnya menjadi sejarah, kerajaan Wu dipimpin Raja Helu bersama Sun Tzu dan Wu Zixu mereka berhasil mengalahkan Raja Chu – negara adidaya China waktu itu yang tentara dan ekonominya 4-5 kali lebih besar.
Mudah-mudahan ini bisa menjadi referensi bagi pemimpin yang sedang mencari menteri / orang kepercayaan. Kalau sudah dapat orang yang tepat, berikan kekuasaan dan jangan campurkan kesenangan dan kepentingan pribadi dan partai dengan kepentingan negara.
Have a nice day
Referensi :
– Sun Tzu’s Art of War
– The Full Story Behind Sun Tzu’s Masterpiece – Takashi Momonari

Tinggalkan komentar