
IHSG masih turun
Rp masih melemah
Wowo masih jalan-jalan ke luar negeri
Apakah ETF masih jual saham Indonesia setelah rebalancing Mei 2026 lalu?
Studi Kasus MSCI Emerging Market
Setelah rebalancing MSCI Mei 2026, aksi jual asing belum berhenti. Per 5 Juni 2026 tercatat ada net sell 5 hari Rp 13.9 T di pasar reguler. Karena Senin 1 Juni Libur, angka ini termasuk net sell Rp 8.36 T waktu hari terakhir rebalancing. Take out angka ini, masih net sell Rp 5.54 T.

Apakah ini berarti efek MSCI belum selesai?
Maksudnya belum sempat dilepas akhir Mei dan berlanjut pada Juni 2026 ini?
Rasanya tidak, sebab volume transaksi pada 29 Mei 2026 mencapai Rp 50 T. Saham yang dikeluarkan dalam MSCI juga ARA, logikanya investor bisa keluar semua.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya menggunakan data kepemilikan iShares MSCI EM dari waktu ke waktu sebagai berikut :

Data Nilai Kepemilikan Dalam USD.
Dari tabel ini jelas, ETF Ishares MSCI telah exit dari AMMN, AMRT, BREN, CUAN, DSSA, dan TPIA pada akhir bulan Mei lalu. Jadi tidak ada yang carry over ke Juni 2026.
Tapi saham yang lain juga turun.
Contoh saham bluechip yang bisa kita kenal
(Angka dalam Juta US Dollar)
ASII 11.4 –> 10.5
BBCA 37.9 –> 35.8
BBRI 24.2 –> 22.9
BMRI 20.1 –> 19.4
TLKM 18.1 –> 17.2
UNTR 4 –> 3.85
Apakah ini karena ETF jual? belum tentu, sebab tergantung harga saham juga. Sebagaimana kita ketahui IHSG terus menurun, jadi ada kontribusi dari faktor harga juga.
Untuk mengetahui apakah mereka jual atau harga turun, paling tepat lihat lembar kepemilikannya.

Untuk saham yang keluar dari MSCI, lembar jadi 0 di 29 Mei 2026. Nah untuk lembar saham, tercatat yang tidak berubah hanya BBNI, BMRI, BRMS, dan GOTO. Sementara yang berubah dan lebih kecil ada ASII, BBCA, BBRI, BRPT, CPIN, dan TLKM. Saat yang lembarnya susut ini kena efek downweight, artinya misalkan kemarin bobot 1%, sekarang jadi 0.8%, walaupun tidak dikeluarkan dari MSCI, tetap dijual sebagian untuk menyesuaikan bobot di Indeksnya. Hal ini bisa terjadi karena ada pembelian saham treasury sehingga free float mengecil dan atau digunakan data kepemilikan >1%, sehingga angka free float disesuaikan.
Yang menarik, total lembar saham 29 Mei 2026 ke 4 Juni 2026 sama persis. Artinya ETF berbasis MSCI EM TIDAK melakukan penjualan lagi terhadap saham Indonesia.
Lalu siapa asing yang jual saham Indonesia di Juni 2026 ini?
Kemungkinan besar yang jualan itu sudah fund aktif.
Kalau Fund aktif, MSCI bukan acuan utama. Lebih ke story, valuasi, dan trust ke pemerintahan dalam menjalankan fiskalnya. Tidak ada masalah dengan valuasi, penurunan IHSG itu terburuk di dunia, saham yang murah sudah bertebaran dimana-mana. Cuma 1, trust ke pemerintah ga ada.
Bobot Indonesia di MSCI EM yang akhir 2025 sekitar 1.15%, per Mei 2029 waktu rebalancing tinggal 0.58%. Kemudian karena harga turun, jadi 0.42%. 1% saja sudah dikategorikan Others dalam Fact Sheet MSCI, kalau kurang dari 0.5% jangan-jangan nanti dianggap statistical error saja.

Maksudnya statistik error itu, bisa dikesampingkan dan bahkan ga perlu dibeli juga tidak apa-apa toh selisih dengan indeks acuan juga tidak akan besar tanpa saham Indonesia. Jangan sampai itu terjadi.
Semoga ada solusi nyata dan komunikasi publik yang lebih baik dari pemerintah

Tinggalkan komentar