
Tidak hanya IHSG yang lesu, kemilau harga emas juga termasuk yang pudar di 2026 ini. Sempat USD 5.400 di awal tahun, harga emas terus menurun dan saat ini sekitar USD 4000an atau Year to date Juni 2026 minus hampir 8%.
Ada ada dengan Emas?
Mengapa harganya turun?
Harga emas melambung tinggi di Februari 2026 setelah operasi militer Epic Fury yang dilancarkan US dan menewaskan pemimpin besar Iran. Selanjutnya pada Maret 2026, perang kemudian memuncak hingga selat Hormuz ditutup dan menyebabkan mandeknya arus barang di seluruh dunia. Sebagai instrumen safe haven – tempat investor berlindung ketika ada ketidakpastian, emas seharusnya menjadi pilihan utama. Benar, emas “sempat” jadi pilihan utama tapi hanya sebentar saja dan harga terus menurun setelahnya. Tidak hanya itu, harga Perak dan Kripto juga mengalami hal yang sama.

Fenomena ini dalam Bloomberg disebut sebagai berakhirnya era The Debasement Trade. Debasement Trade adalah strategi investasi investor menjual mata uang fiat/obligasi pemerintah, lalu memindahkan ke aset keras seperti Emas dan Bitcoin demi melindungi kekayaan mereka dari inflasi.

Masih ingat masa-masa ketika kripto naik tinggi?
Uang tunai USD disebut sebagai mata uang fiat yang lama-lama akan tidak berharga karena inflasi dan pemerintah US yang terus menerus berhutang dengan mencetak uang. Karena USD dianggap akan makin tidak berharga, maka investor beralih ke alternatif yang menjadi pelindung mata uang dan kebetulan sedang naik daun yaitu Bitcoin dan variasi kripto lainnya.
Argumen yang digunakan waktu itu adalah bahwa jumlah bitcoin itu terbatas, tidak seperti US Dollar yang dapat dicetak tidak terbatas, sehingga lebih aman menyimpan Bitcoin. Jadi kripto berkembang pesat pada waktu itu karena strategi debasement trade.
Perang Russia – Ukraina yang berlangsung sejak 2022 memicu Bank Sentral berbagai negara membeli emas sebagai cadangan devisa daripada USD atau Obligasi US yang bisa sewaktu-waktu jadi alat politik. Karena harganya naik, muncullah ETF Emas dalam berbagai bentuk dan menjadi porsi yang dominan dalam menggerakkan harga emas – jadi investasi ke emas juga sama seperti kripto, merupakan bagian dari Debasement Trade.
Berdasarkan data Gold Org dari 2025 hingga Q1-2026, permintaan emas didominasi dari investasi. Sebagai referensi pada Q1-2026, total kebutuhan emas adalah sebanyak 1.195 ton, hampir 45% berasal dari investasi dalam berbagai bentuk seperti ETF, batangan dan dinar.

Bagi para Manajer Investasi dan investment banker, ketika Emas dan Kripto ini sudah masuk ke dalam sistem, tidak ada bedanya dengan saham
Ketika ada story bagus, buy, overweight
Ketika ada story jelek, sell, underweight
Debasement Trade = Story Bagus untuk Emas dan Kripto.
Nah, kondisi Debasement Trade ini mulai mengalami “tantangan” sejak booming AI, ada story lain yang tidak kalah menariknya sehingga uang berpindah. Ini yang terjadi pada ETF emas, ketika AI menjadi headline, mulai terjadi outflow seperti yang terlihat pada Maret dan Mei 2026. ETF di US dan Asia melakukan penjualan emas jauh lebih banyak daripada yang beli.

Titik balik puncaknya adalah ketika Kevin Warsh ditunjuk sebagai Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat. Kevin Warsh “dianggap” lebih “galak” daripada Jerome Powell dalam pengendalian inflasi. Di rapat perdana, meski tidak menaikkan suku bunga, pasar langsung berekspektasi bahwa suku bunga bisa naik 1-2x hingga akhir tahun sebagai upaya mengendalikan inflasi.
Jerome Powell rajin memberikan forward guidance kepada para pelaku pasar saham, sementara Kevin Warsh terus menyatakan kurang nyaman dengan tradisi ini dan akan mengurangi frekuensi dan isi guidance yang diberikan. Hasilnya DXY menguat.
DXY = US Dollar Index, kurs US Dollar terhadap sekumpulan mata uang utama dunia yang turun ke level terendah sejak Trump menjabat karena pasar yakin dia akan memaksakan suku bunga rendah, langsung berubah. Dari level 96-98 langsung naik ke 101 dan terus menunjukkan tren kenaikan. Artinya pelaku pasar percaya, US akan terus menguat.

Apa artinya bagi Indonesia?
Terus terang waktu debasement trade sedang terjadi dimana DXY melemah dari 109 ke level 96-98, adalah kesempatan langka bagi Rp untuk menguat terhadap USD, sayangnya disia-siakan dengan pengelolaan APBN dan program-program yang tidak tepat guna.
Kini DXY sudah di atas 101 dan berpotensi naik terus, menjadi semakin sulit bagi Rp untuk menguat terhadap USD, level Rp 16rb-an kini terasa seperti mimpi. Sebagai masyarakat, mau tidak mau, harus bisa menerima bahwa nilai tukar USD akan bergerak di kisaran Rp 17.500 ke atas.
Untuk investor emas batangan, ketika USD menguat, harga emas cenderung turun atau stagnan. Momentum pembelian emas oleh Bank Sentral yang pada awal-awalnya mengerek harga emas juga sudah lewat meski masih ada inflow masih tetap ada. Akibatnya harga emas kemungkinan akan cenderung turun dan stagnan, apalagi 2 tahun terakhir ini sudah naik tinggi.
Dalam kondisi ini, diversifikasi yang ideal bisa mempertimbangkan US Dollar. Untuk anda yang portofolio investasinya sudah di atas Rp 1 M, ada baiknya 20-50% dalam bentuk USD sebagai strategi diversifikasi.
Have a nice day

Tinggalkan komentar