
Perhatian yang besar pada MSCI dan FTSE, membuat kepemilikan saham oleh ETF menjadi perhatian. Padahal secara size, kepemilikan saham oleh MF (Mutual Fund) itu 5x lipat dari ETF.
Terdapat 169 saham Indonesia yang dimiliki MF lebih dari Rp 100 M, ada apa saja?
Berdasarkan data 39 klasifikasi IDX, kepemilikan saham sebagai berikut :
April 2026
ETF Rp 115 T
MF Rp 562 T
Mei 2026
ETF Rp 100 T
MF Rp 515 T
Perbandingannya sekitar 1:5 untuk 2 bulan terakhir. Keduanya sama-sama turun. Porsi asing pada ETF dan MF sekitar 93% dan 79%. Bisa jadi penjualan oleh MF inilah yang berkontribusi signifikan terhadap Net Sell Mei lalu dibandingkan ETF.
Data ditampilkan dalam format berikut :
Ranking berdasarkan Nominal April
Nominal Rp April 2026
Nominal Rp Mei 2026
Perubahan
– Up : Nominal naik
– Down : Nominal turun
Lembar April 2026
Lembar Mei 2026
Perubahan
– Up : Lembar naik
– Down : Lembar turun
Ranking 1 – 25

Ternyata BBCA adalah saham nomor 1 yang dipegang oleh MF dan nilainya > Rp 100 T. Dan >85% dari MF itu adalah asing, no wonder ketika view asing terhadap Indonesia memburuk, saham BBCA ini yang nomor 1 dijual, sebaliknya ketika membaik, saham ini juga yang dibeli pertama. Nominal BBCA turun sekitar Rp 3 T, dari Lembar berkurang 82 juta lembar.
Yang Nominal dan Lembar sama-sama turun juga ada BMRI, BREN, UNTR, ANTM, AMMN, GOTO, MDKA, KLBF, AADI, BRMS, dan AKRA.
BREN yang dikeluarkan karena HSC, secara nominal turun Rp 5 T, tapi lembar hanya berkurang tipis 55 juta.
Tapi khusus BREN, kategori MF sepertinya tidak bisa jadi acuan karena sebagian besar dimiliki Jupiter Tiger yang sudah jadi pemegang saham sejak IPO.
Dari ranking 1-25, yang Nominal turun tapi Lembar naik ada BBRI, ASII, AMRT, EMAS, ADRO, dan PGAS. AMRT yang diturunkan dari MSCI Standard ke MSCI Small, ternyata lembarnya tetap naik.
Yang keduanya sama-sama naik di bulan Mei lalu ada TLKM, BBNI, INDF, ICBP, ISAT, dan BRPT. Tampaknya MF aktif, ada yang serok bawah karena valuasi murah.
Ranking 26 – 50

Yang Nominal dan Lembar turun ada INKP, TINS, BINA, INCO, BUMI, DSSA, ALII, MEDC, SMGR, CTRA, ADMR, dan EMTK. DSSA secara nominal turun dari Rp 2.59 T menjadi Rp 758 M, tapi secara lembar hanya dari 1.6 miliar lembar menjadi 1.54 miliar lembar sekitar 60 juta lembar, hal ini karena harganya turun dalam.
Yang Nominal turun tapi lembar naik ada SMSM, BBTN, PWON, dan ITMG.
Yang sama-sama naik ada UNVR, CPIN, CMRY, MAPA, JPFA, MYOR, EXCL, dan PTBA.
Sementara yang Nominal naik tapi lembar turun cuma BRIS.
Ranking 51 – 75

Yang Nominal dan Lembar sama-sama turun ada NCKL, TPIA, TOWR, HRTA, INDY, ARCI, MBMA, ESSA, APIC, BOGA, MSIN, DEWA, CASA, BFIN, dan SSIA.
Yang sama-sama naik ada JSMR, AVIA, INTP, GGRM, dan MTEL.
Nominal turun tapi lembar naik ada CUAN, MIKA, TAPG, HEAL, dan ENRG.
Nominal naik tapi lembar turun tidak ada.
Ranking 76 – 100

Di bagian ini banyak yang nominal dan lembar sama-sama turun, ada TKIM, LSIP, SILO, BHAT, ELSA, NISP, BTPS, YUPI, SRTG, BUKA, ARNA, DSNG, PNBN, KIJA, ULTJ, BULL, RIMO.
Yang sama-sama naik ada CARE dan ERAA.
Yang Nominal turun tapi lembar naik ada HMSP, MNCN, BANK, NIRO, POWR, dan SIDO.
Ranking 101 – 125

Yang nominal dan lembar sama-sama turun ada KBLI, IIKP, DRMA, BSDE, RAJA, ABMM, ARTO, MTDL, MYOH, STAR, SCMA, dan TRAM.
Yang sama-sama naik ada PNLF, ACES, PTRO, PGEO, MPMX, BNGA, SMMA.
Yang nominal turun tapi lembar naik ada AALI, AUTO, SMRA, SUPA, BKSL, dan PANI.
Yang nominal naik tapi lembar turun tidak ada.
Ranking 126 – 150

Yang nominal dan lembar sama-sama turun ada BACA, SPTO, PRDA, BALI, FORE, BIPI, IMPC, MABA, LPKR, LCGP, BUVA, BBYB, BIRD, dan SMDR. Yang sama-sama naik ada WSKT, kemungkinan antara investor beli di pasar nego atau ini bagian dari konversi hutang ke saham.
Yang Nominal turun tapi lembar naik ada MIDI, WIFI, NATO, WINS, MDLA, TOTL, dan KPIG.
Yang Nominal naik tapi lembar turun ada GJTL saja.
Ranking 151 – 169

Yang nominal dan lembar sama-sama turun ada ELTY, ASSA, HOME, HEXA, BJBR, MINA, SSMS, SIMP, SMRU dan TUGU.
Yang sama-sama naik ada LPPF, MDIY, dan CNMA.
Yang Nominal turun tapi lembar naik ada RATU, WIIM, AGII, dan TCPI.
Yang Nominal Naik tapi lembar turun ada CFIN dan DNET.
Special Mention untuk BDMN dan MLBI, per April kepemilikannya < Rp 100 M, tapi di Mei naik 1-2 kali lipat dengan kenaikan unit tinggi.
Apabila angkanya dikesampingkan, hanya lihat Up – Down pada Nominal dan lembar, bisa diasumsikan MF sedang :
Nominal 🔼 Lembar🔼 = Serok Atas
Nominal 🔻 Lembar🔻 = Buang Bawah
Nominal 🔼 Lembar🔻 = Buang Atas
Nominal 🔻Lembar🔼 = Serok Bawah
MF itu tidak selalu smart money, pengelolanya juga manusia yang bisa FOMO, salah prediksi, dan kurang bijaksana. Kalau market sedang jatuh, tidak jarang mereka juga rugi dan cutloss. Jadi data di atas cukup digunakan sebagai referensi saja.
Dari 169 saham yang dimiliki MF minimal Rp 100 M per April 2026, ada 71 saham lembar kepemilikan MF meningkat dan sisanya 98 saham berkurang. Per Mei 2026, kepemilikan MF minimal Rp 100 M turun menjadi 166. Saham yang dikeluarkan dari MSCI dan FTSE karena HSC, ternyata tetap ada kepemilikan oleh MF sama juga ETF. Hal ini menunjukkan bahwa MSCI bukan satu2nya acuan bagi investor MF dan ETF.
Semoga bermanfaat
BUKAN REKOMENDASI BUY SELL HOLD

Tinggalkan komentar