
Dalam klasifikasi investor versi IDX ada kategori Government dan Sovereign Wealth Fund (SWF).
Seperti apa pergerakan kepemilikan saham oleh investor kategori ini?
Apakah juga naik turun mengikuti pergerakan MF (Mutual Fund) dan ETF (Exchange Traded Fund)?
Studi Kasus BBCA
Berdasarkan data IDX terbaru sebagai berikut :
ETF
April 26 Rp 115 T
Mei 26 Rp 100 T
Juni 26 Rp 86 T
MF
April 26 Rp 562 T
Mei 26 Rp 515 T
Juni 26 Rp 462 T
Bagaimana dengan 2 kategori tersebut?
Ternyata sama-sama turun
Government
April 26 Rp 35 T
Mei 26 Rp 31 T
Juno 26 Rp 24 T
SWF
Apr 26 Rp 100 T
Mei 26 Rp 93 T
Jun 26 Rp 84 T

Jika ETF mengikuti indeks acuan seperti MSCI, FTSE, GDX/GDXJ dan MF berdasarkan outlook market, bagaimana dengan Government dan SWF?
Terus terang konsep bahwa Government berinvestasi di saham itu tidak umum, kemungkinan besar itu adalah SWF, namun karena namanya, ditulis sebagai pemerintah. Contoh dalam top 20 pemegang saham BBCA periode 31 Desember 2025, di no 4 ada Citibank Singapore S/A Government of Singapore dan no 9 Citibank New Yerk S/A Government of Norway – 1

Dari data laporan tahunan BBCA, kepemilikan saham oleh Pemerintah Norway
1 Januari 2025 sebanyak 697.688.164
31 Des 2025 sebanyak 607.938.960
Sementara dari laporan data kepemilikan >1% periode April 2026, Government of Norway memiliki sebanyak 1.267.492.336 lembar. Angka ini 2x lipat dari posisi per 31 Desember 2025, selisihnya sekitar 600 jutaan lembar, dengan harga rata-rata 7000 selama periode Januari – April 2025, itu setara dengan net buy Rp 4.2 T.
Ada 2 kemungkinan,
Pertama, Government of Norway membeli saham BBCA dalam jumlah besar periode Januari – April 2026, tapi kalau lihat data net buy sell riil, sepertinya tidak ada net buy Rp 4.2 T di BBCA, adanya malah net sell dari awal tahun.
Kedua, kepemilikan saham menggunakan beberapa nama lewat kustodian yang berbeda, kalau dilihat ada tulisan – 1, jadi ada kemungkinan ada akun kedua – 2, ketiga – 3 dan seterusnya.
Opsi kedua lebih masuk akal menurut saya

Yang menarik, berdasarkan data >1%, Investor Type dari Government of Norway adalah SWF, bukan Government. Menurut saya seharusnya tidak ada kategori Government, sebab ketika suatu negara berinvestasi di saham negara lain, biasanya melalui lembaga SWF, bukan langsung atas namanya.
Di Indonesia sekalipun, kepemilikan atas BUMN menggunakan nama PT. Danantara Asset Management (Persero) yang merupakan SWF Indonesia. Anehnya dalam data kepemilikan >1% versi IDX, Danantara dianggap Corporate, sementara dalam 39 klasifikasi, belum jelas masuk yang mana.

Makanya dalam pengumuman MSCI untuk review Indonesia yang berlaku Agustus 2026, disebutkan data 1% akan digunakan apabila diperlukan. Kalimatnya mirip dengan yang periode lalu untuk data 1%, may use.
Kenapa tidak diputuskan saja dipakai atau tidak? sebab kategori investor dari data >1% ini masih ada yang bisa diperdebatkan. Untuk case SWF ini saja sudah salah, selain itu ada juga nama2 pemegang saham yang jelas2 bukan MF tapi kemungkinan besar Corporate, tapi kategorinya ditulis MF. Kemungkinan investor salah mendaftarkan, sekuritas salah mengklasifikasi, atau memang sengaja ditulis MF supaya dianggap free float sama MSCI dan FTSE.
Pengelolaan investasi SWF ke negara lain bisa sendiri ataupun melalui Manajer Investasi
Dari semua SWF, yang terbesar adalah dari Norwegia atau dikenal dengan nama Norway Government Pension Fund Global – Norgess, negara asal Erling Haaland. Mereka adalah investor aktif, artinya beli saham dan evaluasi dari waktu ke waktu.

Data kepemilikan Norgess pada BBCA sebagai berikut :
1 Januari 2025 – 697.688.164 ~ Rp 6.9 T
31 Des 2025 – 607.938.960 ~ Rp 4.9 T
Feb 2026 – tidak tersedia
Mar 2026 – tidak tersedia
Apr 2026 – 1.267.492.336 ~ Rp 7.4 T
Mei 2026 – 1.242.345.154 ~ Rp 7 T
Juni 2026 – tidak tersedia

Apakah ini berarti Norgess menjual semua saham BBCA di Juni senilai Rp 7 T? Rasanya tidak. Tapi mengurangi mungkin, sehingga kepemilikan menjadi kurang dari 1% dan namanya tidak muncul lagi.
Berdasarkan data 39 klasifikasi, terlihat lembar kepemilikan oleh Government turun 50%, sementara SWF turun tipis.

Norgess masuk dalam kategori SWF, tapi ada SWF lain ditulis Government yang dari dulu kepemilikannya kurang dari 1% sehingga nama tidak muncul dan menjual dengan signifikan. Dugaan saya, penjualan oleh SWF inilah yang sempat membuat BBCA turun di bawah 5000 di awal bulan Juni. Baru setelah penjualannya selesai, tekanan jual terhadap BBCA berangsur2 berkurang bahkan sudah sempat net sell.
Namun hal ini bukan berarti tekanan jual sudah mereda. Bisa dilihat SWF juga mengurangi saham BBCA sedikit demi sedikit tiap bulan. BBCA adalah yang dianggap mewakili Indonesia, sama seperti TSMC yang mewakili Taiwan dan Samsung yang mewakili Korea.
Indonesia bagus, asing masuk dan beli BBCA.
Indonesia jelek, asing keluar dan jual BBCA.
SWF dalam investasi di suatu negara juga menggunakan kriteria yang sama, mereka bukan investor tipe buy and hold, tapi secara aktif mengevaluasi portofolio. Apabila kategori SWF dan Government ini sudah lebih jelas dari IDX, bisa menjadi salah satu acuan untuk melihat bagaimana minat asing terhadap Indonesia.
Semoga asing bisa segara kembali ke Indonesia
BUKAN REKOMENDASI BUY SELL HOLD

Tinggalkan komentar