
Utang AS tembus US$40 triliun ≈ Rp712.000 triliun. Kalau MBG butuh Rp1 triliun/hari, jumlah itu cukup untuk 1.950 tahun 😅
Defisit AS pun hampir 6% PDB.
Kini US Treasury mencoba “Operation Twist”
Bagaimana cara kerjanya & dampaknya ke Indonesia? 🧵
Untuk memahami hal tersebut, pertama kita harus mengerti tentang yang namanya Kurva Imbal Hasil atau Yield Curve. Di Indonesia, penerbitnya adalah PT. Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) dengan bentuk seperti di bawah ini :

Cara bacanya
Tenor 10 tahun
Today (21 Aug 26) 7.0659%
Artinya
Kalau pemerintah mau menerbitkan obligasi dengan jatuh tempo 10 tahun, imbal hasil yang “wajar” adalah 7.0659%. Makin tinggi, artinya makin besar “bunga” yang harus dibayar pemerintah. Bentuk yield curve yang normal itu seperti di bawah, rendah untuk jangka pendek, dan semakin tinggi untuk jangka panjang.
Yield Curve ini memiliki banyak fungsi. Contoh misalkan Tenor pemerintah 3 tahun 6.6%, maka kalau ada perusahaan dengan rating AAA mau terbitkan obligasi dengan jatuh tempo yang sama, harus lebih tinggi dari 6.6%. Logikanya, kalau pemerintah itu risk free 6.6%, kalau swasta berarti ada risiko / risk premium sehingga harus bayar kupon lebih tinggi lagi. Di Amerika, Yield 30 tahun menjadi acuan suku bunga KPR, jadi ketika suku bunga sudah masuk ke masa floating, bunganya mengikuti Yield 30 tahun.
Harga minyak tinggi karena dampak perang Iran, kekhawatiran Jepang selaku pemegang obligasi US terbesar menjual obligasi untuk menyelamatkan nilai tukarnya, membuat Yield Curve makin bergerak naik.
Contoh Yield 30 tahun yang jadi acuan KPR, pada 1 Januari, 31 Maret, dan 30 Juni 2026 di sekitar 4.9%. Tapi pada 21 Agustus jadi 5.27%. Kenaikan 0.37% ini mungkin terasa kecil, tapi itu besar untuk penurunan harga obligasi dan cicilan KPR.

Buat Trump ini penting, Yield tinggi bisa buat dukungan politik menurun, beban APBN melonjak, dan biaya cicilan KPR naik.
Yang sedang dilakukan Scott Bessent ~ Purbaya-nya US, adalah berusaha menurunkan Yield jangka panjang yang 30 tahun supaya cicilan KPR lebih terjangkau dan pembayaran bunga cicilan tidak membebani APBN. Upaya tersebut, karena dianggap “memelintir” kurva imbal hasil, oleh para analis Wall Street disebut Operation Twist.
Tidak ada kata itu dalam istilah resmi kementerian keuangan. Disebutkan dia akan memperbesar buyback obligasi jangka panjang dengan menerbitkan obligasi jangka pendek, Sell Short Buy Long.

Seperti apa cara kerjanya?
Pernah lihat website Bank BCA yang Obligasi Pasar Sekunder?
Di situ ada banyak sekali seri FR, dari nomor seri 50an sampai yang terbaru 110
Itu adalah seri-seri FR yang pernah diterbitkan pemerintah dari dulu sampai saat ini dan belum jatuh tempo. Dari sekian banyak seri tersebut, ada yang disebut Obligasi Benchmark.

Informasi seri Benchmark bisa di cek di PHEI.
Seri konvensional :
FR109, FR108, FR106, dan FR107
mewakili 5, 10, 15 dan 20 tahun
Seri Syariah :
PBS30, PBS40, PBS34, PBS38
mewakili 2, 4, 13 dan 25 tahun
Penetapan benchmark dilakukan setiap awal tahun dan berlaku 1 tahun. Misalkan setelah Purbaya menghitung APBN akan defisit Rp 300 T, maka dia akan menerbitkan Rp 300 T obligasi baru spesifik 8 seri di atas selama 2026 setiap minggu. Biasanya Konvensional lalu Syariah bergantian setiap minggu. Karena diterbitkan terus menerus, maka seri ini disebut juga on the run. Ada bandar atau Primary Dealer untuk seri obligasi benchmark sehingga likuid dan harganya lebih mencerminkan kondisi pasar. Seri benchmark ini juga dipakai indikator utama untuk pembentukan Yield Curve.

Pada 2027 nanti biasanya ada penetapan seri yang baru lagi sebagai benchmark, karena FR109 yang tadinya 5 tahun di 2026, tinggal 4 tahun di 2027.
Bagaimana dengan nasib obligasi benchmark seri 2026 ini?
Seri-seri lama tetap aktif karena belum jatuh tempo. Tapi begitu tidak ditetapkan sebagai benchmark, maka tidak ada kewajiban dari bandar alias primary dealer untuk memberikan kuotasi harga beli jual setiap hari. Otomatis seri ini menjadi kurang likuid, kalau bahasa trader obligasi disebut seri off the run.
Yang dilakukan Bessent adalah melakukan Buyback atas obligasi seri off the run ini terutama yang jangka panjang 20-30 tahun. Karena kurang likuid, dianggap gejolak harganya terlalu fluktuatif dan belum tentu mencerminkan kondisi pasar yang sebenarnya.
Pertanyaannya darimana uangnya?
Treasury itu kalau di Indonesia setara Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Kemenkeu bukan Bank Sentral, dia bisa operasi pasar buyback obligasi, tapi tidak bisa cetak uang. Kondisi ini sama mau di US dan di Indonesia. Untuk itu, yang dilakukan Bessent adalah menerbitkan surat hutang jangka pendek atau disebut T-Bills.
Di Indonesia, Government Bond itu setara FR, sementara T-Bills disebut dengan SPN (Surat Perbendaharaan Negara) yang jatuh temponya kurang dari 12 bulan. Mirip SRBI, tapi penerbitnya Kemenkeu. Kalau penerbitnya BI baru disebut SRBI.
Contoh pada lelang obligasi di 21 Juli, Kemenkeu melelang obligasi konvensional. 3 Seri SPN yang jatuh temponya antara Agustus dan Oktober 2026 dan Juli 2027 dan 6 seri Benchmark senilai Rp 32 T. Pada 28 Juli, obligasi syariah. 3 Seri SPNS dan 5 seri PBS senilai Rp 10 T.

Contoh pada 18 Agustus 2026 lalu, Kemenkeu US melakukan Buyback obligasi sebesar USD 2 Miliar.
Salah satu yang dibeli adalah
Seri 912810SC3
Kupon 3.125%
Jatuh tempo 15 Mei 2048
Senilai USD 1 Miliar
Harga 71.469
Setara YTM 5.36%
Buyback ini dilakukan dengan menerbitkan T-Bills yang jatuh temponya kurang dari 12 bulan. Supaya buyback berhasil, harganya mesti tinggi, maka supaya T-Bills berhasil maka harganya mesti rendah. Dengan cara ini Yield jangka pendek naik, dan Yield jangka panjang turun.

Apakah berhasil?
Pertama buyback yang dilakukan pada 18 Agustus 2026 adalah operasi rutin biasa. Yang disampaikan Bessent adalah nilai buyback akan naik menjadi USD 4 Miliar sekali beli itu baru akan efektif September 2026 nanti. Jadi dia belum mulai, baru signalling alias kasih kode.
Namanya buyback, harganya perlu lebih tinggi supaya menarik. Dengan harga naik, maka Yield akan turun. Waktu kasih kode, besok Yield turun dari 5.4an ke 5.2an, tapi hanya berhasil bertahan 1 hari. Perlahan naik ke 5.3an lagi, tapi ingat 18 Agustus lalu baru kode, nanti baru bisa lihat efektif atau tidak di September dan seterusnya.

Mengapa harga emas dan kripto seperti bitcoin naik setelah itu?
Kedua instrumen ini adalah antitesis US Dollar. Waktu Kevin Warsh, Gubernur Bank Sentral US baru naik, dia kasih kode keras kalau naikkan suku bunga itu bisa dilakukan jika perlu US Dollar menguat, emas dan kripto melemah.
Waktu Scott Bessent, Kemenkeu US sampaikan akan double buyback, oleh pasar dipandng US Dollar akan melemah karena APBN US dibiarkan defisit besar terus menerus. Rapat FOMC berikutnya akan jadi perhatian karena kebijakan lanjutan dari Kevin Warsh sangat menentukan, apakah sejalan atau berbeda jalan.
Apakah pasar modal Indonesia diuntungkan?
Kita beruntung, Rp terhadap USD menguat ke level 17.700an. Yield obligasi yang tadinya 7.3an% sekarang di bawah 7%.
Sampai kapan ini akan berlanjut?
Tergantung kode yang dikasih Scott Bessent ke depan dan tergantung juga apakah Kevin Warsh akan kasih kode yang mendukung atau berlawanan. Sementara US sedang susah, semoga momentum emas ini dimanfaatkan pemerintah Indonesia untuk meningkatkan tata kelola APBN dan pemerintahannya.
Have a nice day

Tinggalkan komentar