
Bukan cuma Rupiah saja yang sedang tertekan terhadap US Dollar. Yen Jepang juga melemah tajam, bahkan ke level terburuk dalam 4 dekade terakhir. Donald Trump sampai ikut bantu Jepang soal ini.
Apa yang terjadi?
Mengapa AS mau bantu?
Dan apa dampaknya bagi Indonesia?

Sekitar 10 tahun yang lalu, untuk menukar 1 USD dibutuhkan 102-103 Yen. Pada puncak-puncaknya di 2026, untuk menukar 1 USD, dibutuhkan 162 yen atau sudah melemah sekitar 57%. Terakhir kali kurs 160an itu di tahun 1980an. Makanya disebut terburuk dalam 4 dekade terakhir.
Mengapa hal ini bisa terjadi?
Kita harus memahami budaya korporasi Jepang yang sudah mengakar sejak tahun 1990an. Bagi mereka, naik harga itu haram. Sebisa mungkin lakukan efisiensi, naikkan penjualan, atau turunkan margin dulu. Kalau sudah terpaksa, baru harga boleh naik
Sampai-sampai dulu sempat viral ada perusahaan eksrim Akagi Nyugyo membuat iklan permintaan maaf atas nama perusahaan karena menaikkan harga dari 60 menjadi 70 Yen setelah harganya bertahan selama 25 tahun.
Karena budaya tersebut, inflasi di Jepang selalu di kisaran 1%, bahkan terkadang negatif dalam jangka waktu lama. Atas inflasi serendah itu, Suku Bunga Bank Sentral juga rendah yaitu -0.1%. Semuanya berubah paska pandemi, terutama setelah perang Rusia-Ukraina, yang dilanjurkan US-Iran.

Inflasi yang tadinya di kisaran 1% kurang, naik menjadi 2%, 3%, dan bahkan sempat mencapai 4% meskipun turun lagi ke level 2% kurang. Logikanya ketika inflasi naik, maka suku bunga perlu dinaikkan. Entah karena budaya yang sudah lama berakar, ingatan buruk krisis saham besar tahun 90an yang dipicu kenaikan suku bunga, keyakinan bahwa inflasi bisa cepat turun, Bank Sentral Jepang dinilai “sangat terlambat” dalam menaikkan suku bunga. Inflasi sudah tinggi sejak 2022, suku bunga baru naik di 2024, itupun awal-awalnya jadi 0.1%, ke 0.25%, baru 0.5%, 0.75% dan terakhir 1%.

Secara teori, ketika inflasi secara signifikan lebih tinggi dibandingkan suku bunga, dan belum ada tanda-tanda akan turun, maka nilai mata uang akan melemah terhadap US Dollar. Itulah penyebab utama nilai mata uang Yen melemah terhadap US Dollar sejak 2022 sampai 2026.

Nilai tukar Yen yang melemah sempat jadi penyebab ramainya kunjungan wisata ke sana karena harga lebih murah. Sampai-sampai terjadi overtourism dari biasanya 10 juta kunjungan per tahun menjadi 30 juta per tahun dan akhirnya ada pajak khusus untuk turis. Di sisi lain, karena minyak dan sumber daya alam lain berasal dari impor yang dibayar dengan USD, pelemahan Yen juga menyebabkan inflasi sebagaimana yang terjadi di banyak negara.
Untuk menahan pelemahan Yen, bank sentral Jepang juga bukan tidak berbuat apa-apa. Mereka sudah melakukan beberapa kali intervensi dalam jumlah besar setiap nilai tukar menyentuh angka 160 Yen per USD. Pada intervensi terakhir tahun 2026, intervensinya senilai USD 63 M – 70 M setara Rp 1,115 T – Rp 1,239 T.

Mengapa US mau bantu?
Mengutip CNN, pihak Jepang meminta bantuan US terkait pelemahan kurs dan Trump menyanggupi.
“They have a weakening yen, and they wanted a little bit of help. And we’re always there for Japan”
Kalau boleh objektif, perang US Iran dan terblokirnya selat Hormuz inilah juga penyebab inflasi naik dimana2, jadi memang sedikit banyak dia harus bantu juga.
Tapi menurut saya Amerika memang “wajib” membantu Jepang, ada 2 alasan:
Pertama, Jepang adalah negara dengan cadangan devisa terbesar kedua dunia sebesar USD 1.31 T ~ Rp 23,187 T , di bawah China USD 3.41 T ~ Rp 60,357 T. Dari USD 1.31 T tersebut, hampir USD 1.1 T adalah Obligasi Negara (Treasury) Amerika Serikat. Kalau Bank Sentral Jepang harus melakukan intervensi terus menerus, mau tidak mau, dia harus bongkar tabungan dengan cara menjual Obligasi Negara AS.

Kedua, kondisi US juga sedang kurang baik. Perang Iran – USA tidak bisa selesai cepat seperti yang diperkirakan, akibatnya anggaran perang membengkak dan mulai memakan korban. Harga minyak yang tinggi dan efek blokir selat Hormuz membuat ekspektasi inflasi meningkat. Kemudian Gubernur Bank Sentral baru, Kevin Warsh memberikan kesan kebijakan akan cenderung hawkish alias peluang bunga naik lebih tinggi. Akibatnya Yield US 30 tahun mencapai 5.26% tertinggi dalam 19 tahun terakhir. Hutang pemerintah US itu mayoritas jatuh temponya 30 tahun, sehingga meskipun Benchmark itu 10 tahun, tapi bagi Trump, acuan utamanya tetap yang 30 tahun. Kalau dalam situasi ini pemerintah Jepang jual obligasi lagi, kondisi bisa semakin memburuk.

Trump boleh galak di sosial media. Tapi ketika Yield Treasury terlalu tinggi, dia bisa rem mendadak dan kasih surprise positif. Contoh di tahun 2025 waktu sedang panas2nya perang dagang, tiba-tiba dia menunda pemberlakukan tarif global selama 90 hari. Di konflik dengan Iran, waktu Yield menembus 5% di bulan Mei, dia sempat membatalkan aksi militer ke Iran. Dengan kondisi itu sebagai acuan, ketika Yield 30 tahun di atas 5%, bukan tidak mungkin bisa tiba-tiba ada surprise positif.
Bagaimana cara Bank Sentral Jepang dan US melakukan intervensi bersama?
Pertama, keduanya serentak beli Yen di 31 Juli 2026. Bank Sentral US menjual cadangan Euro senilai Euro 26 Miliar ~ Rp 533 T yang digunakan untuk membeli Yen. Bank of Japan pada tanggal yang sama membeli Yen senilai USD 35.58 M ~ Rp 647 T.
Kedua, fasilitas Repo khusus
Bank Sentral US memberikan fasilitasi repo yang memungkinkan Bank of Japan menggadaikan obligasi untuk membeli Yen tanpa harus menjualnya. Saat ini, ketentuan repo ini dibatasi maksimal USD 60 Miliar per hari per mitra, angka ini cukup mepet dengan intervensi bersama di 31 Juli lalu. Untuk itu, sedang ada diskusi agar batasan tersebut dapat dinaikkan.
Ketiga, dukungan secara lisan
Trump secara terbuka menyatakan dukungan, begitu pula Scott Bessent (Menteri Keuangan US) memberikan statement bahwa dukungan intervensi bersama dapat terus dilakukan di masa depan.
Apakah berhasil?
Yen terhadap USD sempat menguat dari 163 menjadi 158-159. Tapi beberapa hari ini kembali naik lagi meski masih <160 yang merupakan batas psikologis.

Selama masih di level 160an, tampaknya ini bukan hanya soal kepentingan Jepang saja, tapi juga jadi kepentingan US.
Apakah ada dampak ke Indonesia?
Entah berhubungan langsung atau tidak, US Dollar Index (DXY) paska intervensi ini melemah dari 101 ke level 99an. Melemahnya DXY adalah good news bagi Indonesia.

Pengunduran diri mendadak gubernur Bank Sentral adalah bad news untuk Rupiah. Harga minyak tinggi dan prediksi bahwa Bank Sentral US yang lebih hawkish juga bad news untuk Rupiah. Tapi Indonesia beruntung, karena intervensi bersama di atas US Dollar jadi melemah. Sangat beruntung juga pengganti Gubernur BI adalah calon tunggal Ibu Destry yang lebih diterima oleh pasar.
Jadi penguatan Rp ke level Rp 17.800an ini lebih banyak karena faktor US yang sedang melemah. Semoga momentum positif ini dapat dimanfaatkan pemerintah dengan kebijakan yang pro pasar dan pengelolaan APBN yang disiplin sehingga bisa menguat ke level Rp 17.500an.
Have a nice day

Tinggalkan komentar