Juli 2026, saham terkait AI dari Jepang, Korea hingga Amerika mengalami koreksi tajam, yang diperparah margin call. Memasuki Agustus, sebagian mulai rebound.

Pertanyaannya:
Apakah bisa berkelanjutan?

Jensen Huang Nvidia baru saja memberikan satu alasan baru untuk optimis kembali.

Meski perusahaan infrastruktur AI untung besar karena raksasa hyperscaler seperti Oracle, Microsoft, Google belanja besar-besaran, yang pesimis terhadap sektor ini juga ada.

Argumentasi mereka :
– Belanja modal dari hyperscaler ini at some point akan melambat.
– Terjadi loop financing.

Berdasarkan riset dari Goldman Sachs berikut, belanja modal untuk infrastruktur AI memang masih tumbuh hingga 2028. Tapi persentase growth tidak lagi setinggi tahun-tahun sebelumnya.

Berdasarkan riset dari Goldman Sachs berikut, belanja modal untuk infrastruktur AI memang masih tumb...

Loop Financing

Nvidia investasi besar-besaran ke Open AI (ChatGPT), kemudian sebagai gantinya Open AI beli GPU Nvidia dalam jumlah besar. Anthropic (Claude) dengan Amazon dan Google juga sama, 2 perusahaan tersebut investasi besar-besaran, kemudian Antropic sewa AWS dan Google Cloud. Bagi orang awam, loop financing ini terasa seperti skema ponzi, penjualan ada tapi dari uang dia sendiri juga.

Begitu pertumbuhan melambat dan ketika loop financing mencapai batasnya, bagaimana justifikasi kenaikan harga saham infrastruktur AI yang sudah naik ratusan persen?

Kira-kira begitu pandangan dari pihak yang bearish soal infrastruktur AI. POV ini tidak salah.

Tapi POV yang bullish untuk infrastruktur AI setidaknya untuk 1 tahun mendatang juga ada, termasuk saya sendiri.

Argumentasi:
– Waktu harga turun dalam kemarin, valuasi sudah murah
– Selalu ada terobosan entah di teknologi ataupun keuangan dari US yang mendukung pasar modalnya

3 pabrik HBM yang jadi pusat perhatian dunia AI : Hynix, Samsung, dan Micron.
Kalau EPS dari Kuartal 2-2026 disetahunkan atau dikalikan 4, Forward PE dari single digit.

Hynix 2.7x
Samsung 5.3x
Micron 8.57x

Valuasi ini bahkan lebih murah dari saham bluechip Indonesia

3 pabrik HBM yang jadi pusat perhatian dunia AI : Hynix, Samsung, dan Micron

Kalau EPS dari Kuartal...

Untuk terobosan teknologi, selalu ada. Seperti seri GPU Blackwell, Vera Rubin, dan seri-seri terbarunya. Yang menarik, kali ini terobosan datang dari bidang keuangan justru di inisiasi oleh Jensen Huang, CEO Nvidia, perusahaan chip GPU dengan market caps terbesar di muka bumi ini.

Nvdia menandatangani MoU dengan 6 lembaga keuangan raksasa global:
Apollo Global Management
BlackRock Inc.
Blackstone Inc.
Brookfield Asset Management
Goldman Sachs
KKR & Co. Inc.

Menyiapkan platform pendanaan bernilai USD 500 Miliar ~ Rp 8,900 Triliun!!

Nvidia CEO Jensen Huang Says 'First Time' That Chips Have Become An Investable Asset Class as...

Nvidia CEO Jensen Huang Says ‘First Time’ That Chips Have Become An Investable Asset Class as…

Untuk anda yang awam, infrastruktur AI itu mahal. Untuk perusahaan besar seperti Google, Meta, Microsoft dengan laba ratusan triliun, bisa.

Tapi bagaimana dengan perusahaan yang skalanya di bawah mereka?

Kalau pembelinya hanya itu-itu saja juga akan menimbulkan ketergantungan.

Sebagai referensi, Indosat (ISAT) mengumumkan akan melakukan transformasi besar menjadi perusahaan teknologi berbasis kecerdasan buatan melalui pengembangan infrastruktur dan inovasi digital. Kalau berhasil, akan jadi saham tema AI di Indonesia. Untuk mencapai hal tersebut, mereka tengah menjajaki pinjaman hingga USD 2 Miliar ~ Rp 35.6 T. Total aset ISAT per Juni 2026 adalah Rp 138 T, jadi pinjaman Rp 35 T sekitar 26% dari total asetnya. Ini transaksi yang material bagi perusahaan.

Indosat cari pinjaman US$2 miliar untuk pembelian chip AI

Indosat berupaya untuk memperluas bisnis AI di tengah tingginya permintaan di Asia

Itu baru Indosat di Indonesia, belum negara lain dan perusahaan lainnya. Adanya investasi besar-besaran selain perusahaan hyperscaler menunjukkan bahwa argumentasi loop financing itu tidak sepenuhnya benar. Permintaan infrastruktur dan komputasi AI itu nyata dari berbagai sektor.

MoU Nvidia dengan 6 lembaga global seperti Blackrock juga terobosan baru. Kalau ada perusahaan seperti Indosat mau beli GPU Nvidia, mereka bisa meminjam melalui platform pendanaan bernilai USD 500 Miliar tersebut. Kalau pinjaman, harus ada jaminan. Jaminannya adalah GPU Nvidia,

Konsep ini mirip dengan Asset Backed Securities atau di Indonesia dikenal dengan Efek Beragun Aset (EBA). Contoh ada tagihan KPR bank yang lunasnya baru 10-15 tahun lagi, sementara bank sedang butuh dana. Kumpulan tagihan tersebut diubah jadi EBA melalui proses yang disebut sekuritisasi. Selanjutnya EBA dijual kepada investor pasar modal. Bank dapat uang dari pasar modal dan bisa dipakai untuk ekspansi. Investor pasar modal dapat semacam surat utang yang isinya tagihan KPR bank yang proses penagihannya tetap dilakukan oleh bank.

Konsep EBA ini diterapkan pada AI. Jadi perusahaan beli GPU pakai uang pinjaman
GPU ini kemudian disekuritisasi menjadi jaminan. Yang melakukan seleksi atas kelayakan pinjaman adalah 6 perusahaan keuangan sebagaimana proses kredit. Nvidia tidak lagi yang menentukan apakah perusahaan layak dapat pinjaman atau tidak dan mungkin juga tidak berinvestasi di sana, sehingga tuduhan Loop Financing benar-benar dihapus. Yang beli, memang murni mau beli produknya dan disetujui lembaga peminjam.

Setelah meminjam, ada kewajiban bunga dan pokok. Perusahaan dapat menggunakan GPU tersebut untuk menghasilkan produk atau jasa yang menghasilkan keuntungan.

Bagaimana jika ternyata produknya gagal dan perusahaan bangkrut?
Nvidia menjamin resale value sebesar 25% dari GPU.

Artinya ketika GPU disita, Nvidia menjamin akan buyback hingga 25%. Hal ini akan mengurangi risiko bagi peminjam. Tinggal berapa bunga yang akan dikenakan dan termin pembayarannya. Melalui skema ini, GPU yang tadinya seperti komputer dan laptop yang bisa usang, menjadi aset yang bisa dijaminkan. Waktu yang disekuritisasi adalah tagihan KPR, ABS disebut juga Mortgage Backed Securities (MBS). Kalau ini GPU yang dijadikan aset dasar, maka bisa juga disebut AI Backed Securities (AIBS).

AIBS dengan skala sebesar ini adalah terobosan baru yang berpotensi menciptakan gelombang permintaan baru terhadap infrastruktur AI. Tidak lagi perusahaan besar, yang skala kecil menengah bahkan start up juga bisa bangun infrastruktur AI dengan skala mereka sendiri.

Harapannya jika permintaan berkesinambungan, maka kinerja perusahaan dan harga saham masih bisa terus mengalami kenaikan. Semoga kondisi tersebut dapat berdampak positif terhadap kinerja reksa dana yang berinvestasi pada luar negeri.

HAVE A NICE DAY

Rudiyanto

Tinggalkan komentar

  1. avatar practicallyface67b73b3ab2
  2. avatar Rudiyanto
  3. avatar practicallyface67b73b3ab2
  4. avatar Rudiyanto
  5. avatar bayu