
Tadi pas sedang menunggu giliran, sempat dengar ada pertanyaan kurang lebih seperti ini.
“Apakah keputusan MSCI itu sebetulnya cuma akal-akalan asing supaya bisa serok bawah saham Indonesia?
Terus terang saya juga penasaran, sehingga saya cek datanya
Pertama-tama adalah FAKTA bahwa sejak awal tahun, entah karena “ancaman” MSCI akan turun ke frontier, kekhawatiran pada pengelolaan APBN, dan alasan lainnya, asing net sell masif dari Indonesia. Per 24 Agustus 2026, asing net sell Rp 96 T di pasar reguler dan net buy Rp 25 T di pasar nego, totalnya net sell Rp 70 T. Nilai net sell ini, sedikit banyak berkontribusi pada deficit transaksi berjalan (Current Account Deficit). Berita bagusnya, pada Juli dan Agustus sudah ada beberapa grafik warna hijau yang artinya mulai net buy lagi di pasar reguler.

Jika asing yang dimaksud adalah ETF (Exchange Traded Fund) dan MF (Mutual Fund), Maka kita perlu melihat data kepemilikan sahamnya. ETF pendekatannya pasif dengan indeks acuan tertentu. Tidak semua ETF menggunakan MSCI sebagai acuan, ada yang pakai FTSE, GDX, GDXJ, dan sebagainya untuk ETF Luar Negeri dan untuk yang dalam negeri ada yang pakai IDX30, Sri Kehati, dan sebagainya.
Kemudian kategori investor MF, meskipun pendekatannya aktif, ada juga yang menjadikan MSCI sebagai benchmark atau bahkan investment universe, sehingga perubahan MSCI juga berdampak meski tidak sebesar ETF.
Berdasarkan Factsheet MSCI Indonesia per Juli 2026, daftar saham Indonesia dalam MSCI Standard (Medium dan Large Caps) dan persentasenya adalah sebagai berikut :

Disebut ada 11 Constituent, tapi baru kelihatan 10 saja. Yang ke 11, kemungkinan besar adalah CPIN, yang pada pengumuman Agustus 2026 turun kasta dari Standard ke Small Caps.
Sejak adanya ancaman turun ke frontier pada awal 2026, semua saham Indonesia tidak hanya mengalami outflow, tapi juga penurunan harga yang dalam.
Pertanyaannya :
1. Apakah nilai kepemilikan ETF dan MF juga mengalami penurunan? atau malahan naik?
2. Apakah mereka aktif membeli waktu harga turun?

Cara baca tabel
ASII pada 30 April 2026 dimiliki ETF sebesar Rp 7.2 T. Pada 29 Mei 2026 turun menjadi Rp 6.1 T, oleh karena itu ada tanda ⬇️ merah di sebelah angka Rp 7.2 T.
Kemudian lanjut turun jadi Rp 5.2 T di Juni 2026, baru naik lagi menjadi Rp 5.9 T pada Juli 2026. Ketika naik ada tanda ⬆️ hijau.
Posisi 30 April ke 29 Mei adalah posisi bulan efektifnya MSCI Mei 2026. Jika ada pengurangan / penambahan bobot, maka tandanya akan merah turun atau hijau naik di kolom 30 April dengan angka baru di kolom Mei.
Terlihat meski ada pengumuman dan orang mengira ETF jual, kenyataannya masih ada BBNI, BBRI, BRPT, CPIN, dan TLKM yang naik. Dari dari Mei ke Juni semua turun kecuali GOTO, pada bulan Juni, padahal efek rebalancing MSCI sudah lewat. Kemudian dari Juni ke Juli, semuanya naik termasuk GOTO.
Supaya lebih jelas naik turunnya ini karena faktor harga atau lembar yang berubah, maka menggunakan data sebagai berikut :

Hanya GOTO dan BMRI yang lembar kepemilikan terus mengalami peningkatan walaupun harganya turun. GOTO dari 40.26 miliar lembar menjadi 42.63 miliar lembar atau ketambahan sekitar 370 juta lembar meskipun harga konsisten di 50. BMRI lebih besar, dari 2.23 miliar menjadi 2.40 miliar lembar, sekitar 170 juta lembar, tapi harganya di 4000an. BBCA sempat down weight / pengurangan bobot, terlihat pada bulan April ke Mei berkurang, turun lagi di Mei ke Juni, baru terakhir naik pada Juni ke Juli.
Jadi kalau melihat tabel ini, pada 11 saham Indonesia waktu MSCI rebalancing efektif di Mei, justru lembarnya ditambah, hanya BBCA dan BRMS yang dikurangi. Bulan berikutnya dari Mei ke Juni, lembar saham mayoritas turun, tapi bukan karena ada pengumuman MSCI tapi faktor lain. Dari Juni ke Juli, terlihat kepemilikannya naik semua. Jadi ETF itu baru pada serok bawah di periode bulan Juli waktu harga baru rebound.
Jadi kalau dari perubahan lembar di atas, kesimpulan saya untuk ETF :
1. Waktu Pengumuman MSCI Mei 2026, yang terjadi justru ada penambahan bobot, terlihat dari April ke Mei yang naik.
2. BRMS turun bukan faktor MSCI, kemungkinan karena GDX dan GDXJ.
3. Lembar kepemilikan mayoritas turun di Mei ke Juni, ini bukan karena pengumuman MSCI, kemungkinan karena merespon perkembangan situasi Indonesia.
4. Pada Juni ke Juli, kepemilikan bertambah, artinya ETF baru mulai inflow ke Indonesia waktu IHSG rebound, bukan sebelumnya.
Dengan cara yang sama, bagaimana kepemilikan investor pada MF?
Berdasarkan data IDX :

Dari April ke Mei waktu pengumuman MSCI Mei, secara umum nilainya turun kecuali BBNI, BRPT, CPIN dan TLKM.
Dari Mei ke Juni semuanya turun.
Dari Juni ke Juli semua naik kecuali GOTO dan CPIN.
Berdasarkan data lembar kepemilikan MF :

Terdapat pola yang random pada April ke Mei dan Mei ke Juni, sebab ada yang naik dan turun. Baru pada Juni ke Juli, kebanyakan turun kecuali TLKM dan BBCA. Hanya TLKM yang lembar kepemilikannya konsisten naik sejak April dan BBCA sejak bulan Mei.
Dari data di atas, kesimpulan saya untuk MF
1. Waktu IHSG terkoreksi hingga bulan Juni, MF bukan pihak yang aktif serok bawah, malah lebih banyak menjual yang bisa jadi karena mengurangi bobot Indonesia dan atau untuk bayar redemption.
2. Meski IHSG sudah strong rebound di Juli, terlihat dari posisi Juni ke Juli tetap mayoritas melakukan penjualan.
3. Jadi meski ETF sudah menambah saham Indonesia, MF belum. Kemungkinan mereka menunggu adanya perbaikan fundamental dulu atau sampai benar2 yakin dengan kondisi Indonesia.
Selama ini MF dan ETF mungkin dianggap Smart Money atau Institutional Money, tapi meski aktif menambah contoh misalnya TLKM, harga saham belum balik ke posisi tertingginya. Sebaliknya saham yang mereka jual seperti BBRI, masih bisa naik harganya. Aliran follow the money seperti dengan cara baca broker summary atau sejenisnya mungkin lebih cocok pada saham medium small caps. Saham big caps lebih tergantung fundamental dan story macro.
Ini juga yang sebetulnya diinginkan MSCI. List saham yang mereka sediakan benar-benar bisa dibeli atau jual dengan harga pasar sesuai fundamental. Bad news-nya saham-saham medium small caps menjadi semakin sulit masuk dengan aturan HSC dan pengecekan kepemilikan 1%. Jadi kalau dibilang ETF dan MF memanfaatkan MSCI untuk serok bawah, rasanya tidak tepat. Tapi ketika saham turun, tetap ada pihak yang beli.
Dari 39 klasifikasi investor, menurut anda itu tipe yang mana?
Bisa sampaikan di kolom komen ya
Have nice day

Tinggalkan komentar