
Berdasarkan 39 klasifikasi investor IDX Juli 26, kategori Private Equity (PE) sebesar Rp 247 T. Terbesar ke 6 setelah Corporate, Individu, Mutual Fund, Firm, dan Bank.
MSCI dan FTSE secara spesifik menyebut Private Equity bukan Free Float.
Siapa yang sebetulnya dimaksud PE ini?
Data kepemilikan saham dalam Rp berdasarkan 39 klasifikasi adalah sebagai berikut :

Dari Mei – Juli 26, berada di ranking 6, sempat ranking 5 di April 26
Berdasarkan data kepemilikan >1% Juli 2026, contohnya sebagai berikut :
Sektor Pertambangan
BUMI Total 48.96%
Mach Energy (HK) Limited 45.78%
Treasure Global Investment 3.18%
BRMS
Emirates Tarian Global Ventures SPC 25.1%
Nama-nama di atas bukan investor baru, sudah ada cukup lama


Dari sektor lain seperti Perbankan ada BBHI (Allo Bank) dengan total 13% terdiri dari Abadi Investment 7% dan Indolife Investama Perkasa 6%. Kemudian CMRY hanya yaitu General Atlantic dengan 5.64%.

Kepemilikan saham oleh perusahaan Private Equity ini tidak terbatas hanya pada 1 perusahaan. Ada juga yang memiliki kepemilikan di beberapa perusahaan sekaligus, seperti Kingswood Union Corporation, Paninvest Tbk, Dwimuria Investama Andalan, dan Windsor Investment Fund Limited.

Menurut KSEI yang memuat data klasifikasi di atas
Private Equity adalah Jenis investasi modal yang dananya dihimpun untuk membeli saham perusahaan yang tidak terdaftar di bursa (perusahaan swasta) atau mengambil alih perusahaan publik dari bursa, dengan tujuan aktif mengembangkan bisnis tersebut untuk meningkatkan nilai, lalu menjualnya kembali demi keuntungan jangka panjang
Ada beberapa poin :
– Perusahaan non listed bisa
– Perusahaan tbk juga bisa
– Aktif mengembangkan
– Jual dalam jangka panjang
Kata aktif mengembangkan, artinya investor tersebut bisa ikut dalam manajemen seperti menunjuk direktur, komisaris, eksekutif (CFO, CEO, COO), memberikan pendanaan, ikut membuka pasar, dan bentuk lainnya sehingga memiliki karakteristik seperti pemegang saham pengendali meskipun tidak dideklarasikan ke otoritas. Karena alasan inilah, MSCI dan FTSE mengeluarkan dari kategori Free Float, sebab mereka maunya Free Float itu non pengendali.

Sebagaimana definisi KSEI, mereka masuk, ikut mengelola, kemudian setelah perusahaan membaik kemudian baru exit. Untuk generasi milenial dan sebelumnya yang pernah nonton film Pretty Women yang diperankan Julia Robert dan Richard Gere, itu kerjaan si Richard.
Private equity biasanya berfokus pada perusahaan yang sudah matang. Jadi dia bukan angel investor yang kasih pendanaan ke start up yang belum menghasilkan seperti Venture Capital (VC). Makanya secara risiko, dia lebih rendah dibandingkan VC.
Kemudian secara struktur PE itu unik.
Ada 2 pihak dalam PE yaitu :
General Partner (GP) : pihak manajemen
Limited Partner (LP) : penyedia modal
Jadi sumber uang PE berasal dari LP, kemudian ketika sudah mendapatkan perusahaan target GP yang ditunjuk untuk mengelola perusahaan. Dalam beberapa diskusi, disebut bagian dari GP adalah 2-20. Artinya dia mendapat management fee 2% dan kemudian jika berhasil exit dengan keuntungan di atas target, dia dapat 20%nya.
Tidak ada bentuk hukum PE di Indonesia, karena dalam 1 PE, LP itu bukan pemegang saham dan bisa beberapa LP. Yang paling mirip adalah CV, dimana ada sekutu aktif dan sekutu pasif. Tapi itu analoginya seperti direktur dan pemegang saham serta bisa orang yang sama. Sementara PE itu 2 pihak berbeda.
Salah satu kisah sukses PE di Indonesia adalah BTPN. Sebelum diakuisi, BTPN adalah Bank “Pensiunan”. Pensiunan militer dan sipil, sesuai skema negara dibayar bulanan hingga meninggal. Karena nilainya relatif kecil, atas manfaat bulanan ini dijadikan agunan kredit yang diterima dimuka. Buat pensiunan dapat uang di depan, buat bank relatif aman karena manfaat pensiun pasti dibayar tiap bulan hingga meninggal. Risikonya relatif kecil dan sangat segmented.
Pada waktu itu TPG, raksasa Private Equity asal AS, bersama partner lokalnya Northstar masuk ke BTPN melalui TPG Nusantara melalui IPO. Tahun 2008 TPG Nusantara membeli 71,61% BTPN 2 hari setelah IPO dan menjadi pemegang saham pengendali. Nilai investasinya sekitar US$195 juta atau ±Rp1,8 T, pada harga Rp2.650–2.730 / saham. Pada tahun 2011, ada stocksplit 1:5 sehingga harga pembeliannya diperkirakan Rp530–550.
Selanjutnya TPG Nusantara mengangkat Jerry Ng, yang sebelumnya pernah berpengalaman sebagai Direktur di BCA, Danamon, dan FIF Finance menjadi Direktur BTPN dan melakukan transformasi bisnis. Sektor pensiunan tetap dipertahankan dan kemudian membuka segmen baru seperti kredit usaha rakyat, Digital Bank melalui aplikasi Jenius, merapikan organisasi dan transformasi bisnis. Hasilnya Total Aset naik hampir 10x lipat, dari tidak mencetak laba menjadi laba hampir Rp 2 T di 2018. Pada waktu tersebut, banyak bank asal Jepang dan Korea yang berminat untuk masuk ke Indonesia. Akhirnya BTPN dijual secara bertahap ke Sumitomo Mitsui Banking Corporation – SMBC, bank terbesar no 2 di Jepang.

Secara time line
TPG Nusantara
Masuk Rp 1.8 T tahun 2008
harga Rp 530-550
Punya 71.61%
10 Mei 2013
Jual 16,87% ke SMBC
Rp 6.500
±Rp6,40 T
14 Maret 2014
Jual 15,12% ke SMBC
Rp 6.500
±Rp5,74 T
18 Februari 2015
Jual 17,50% ke SMBC
Rp 5.800
±Rp5,92 T
19 Oktober 2017
Jual 3,48% ke SMBC
Tidak ada informasi harga, namun pada hari yang sama ada crossing di harga Rp 2.500
±Rp 508 M
Setelah Oktober 2017, tersisa 4.9% sehingga tidak ada kewajiban pelaporan publik. Apabila diasumsikan sisa 4.9% dijual pada harga Rp 2500, maka ±Rp 715 M.
Total estimasi exit TPG :
Rp6,40 T + Rp5,74 T + Rp5,92 T + Rp 508 M + Rp 715 M
±Rp 19.28 T
vs modal investasi Rp 1.8 T
Untung Rp 17.48 T
Hampir 10x lipat dari modal selama 11 tahun

Investor teknikal : baca indikator dan broker summary.
Investor fundamental : baca laporan keuangan dan prospek bisnis, beli harga murah dan berharap value unlock sendiri.
Private Equity : baca laporan keuangan dan masuk untuk kembangkan bisnis dan unlock value.
Dalam bahasa Dragon Ball, Private Equity adalah versi Super Saiya dari investor fundamental yang cuma jadi penonton saja. Untuk bisa dari manusia Saiya jadi Super Saiya, Son Goku harus marah besar karena sahabatnya Kuririn dibunuh oleh Freeza. Untuk bisa jadi saham yang naik 10x lipat dari bantuan PE, ternyata juga butuh hampir 10 tahun dan tidak jaminan pasti berhasil juga.
Tapi perlu berhati-hati dengan data Private Equity di kategori IDX. Seperti Paninvest itu saya yakin dia bukan Private Equity, tapi memang kendaraan investasi dari owner, ada kemungkinan salah pelabelan entah dari sekuritas, KSEI, atau investornya sendiri karena tidak memahami kategori yang baru. Tidak semua saham akan unlock value-nya meskipun ditangani oleh PE handal, masa investasi mereka juga bisa lebih lama.
BUKAN REKOMENDASI BUY SELL HOLD

Tinggalkan komentar