
Review GDX dan GDXJ berikutnya akan diumumkan 11 September 2026.
GDX ada 2 saham Indonesia : BRMS dan AMMN.
GDXJ ada 4 : BRMS, EMAS, ARCI, dan PSAB.
1 lagi potensi menyusul yaitu AMMN.
Berapa bobotnya? Dan berapa potensi dana inflow dan outflow?
BUKAN REKOMENDASI BUY SELL HOLD
Potensi saham AMMN masuk dalam GDXJ sudah dibahas pada konten sebelumnya dimana masuk coverage 60 – 98% Full Market Caps sehingga eligible untuk menjadi anggota. Tentu saja tetap ada kemungkinan perhitungan dan pemahaman saya untuk GDXJ ini bisa salah.
Langkah perhitungan bobot untuk GDXJ agak berbeda dibandingkan GGX.
Ketentuannya sebagai berikut :
1. Saham diurutkan berdasarkan Free Float Market Caps, top 5 langsung dikasih bobot 7%, 6.5%, 6%, 5.5%, dan 5%.
2. Sisanya harus berjumlah 70% dengan 1 saham maks 4.5%.
3. Saham dengan exposure emas / perak kurang dari 50%, totalnya maksimal 20%.
Sama seperti GDX, ketentuan no 3 ini saya skip karena tidak ada data dari daftar tersebut, mana yang exposure emas / perak di atas atau di bawah 50%

Data yang digunakan per tanggal 7 September 2026, dimana yang seharusnya adalah 9 September 2026.

Dari evaluasi sebelumnya, saham GDXJ di coverage 99-100% dikeluarkan. Total ada 27 saham dengan bobot 2.45%, yang selanjutnya akan didistribusikan kembali ke saham2 yang ada. Kemudian karena tidak memiliki data untuk saham pure play emas perak di luar universe, diasumsikan tidak ada saham baru.
1. Penentuan Top 5 Saham
Saham GDXJ tersisa, kemudian diurutkan berdasarkan Free Float Market Caps kemudian langsung diberikan bobot :
Rank 1 – 7%
Rank 2 – 6.5%
Rank 3 – 6%
Rank 4 – 5.5%
Rank 5 – 5%
Total 30%
Ini adalah keunikan GDXJ, bobotnya tidak dihitung berdasarkan FFMC vs total, tapi langsung ditentukan. Index Weight adalah Bobot Saham jika dihitung murni dari FFMC dibagi total FFMC.

2. Saham setelah top 5 mendapat sisa bobot yaitu 70%
Kalau dijumlahkan berdasarkan Index Weight, totalnya 70.67%, kelebihan 0.67% tersebut kemudian dihitung capping factor sehingga bisa didistribusikan ke semua saham lain. Tidak boleh ada saham dengan bobot di atas 4.5% dan kebetulan tidak ada.

Saham Indonesia di GDXJ kebetulan tidak ada di Top 5, adanya di sisa 70%
Bobot Before vs After
AMMN 0% vs 1.03%
BRMS 0.79% vs 0.79%
EMAS 0.70% vs 0.70%
ARCI 0.05% vs 0.05%
PSAB 0.02% vs 0.02%
Apabila AMMN benar-benar bisa masuk di GDXJ pada evaluasi September 2026 ini, kebagian bobot 1.03%. Sisanya tidak ada perubahan karena hingga 2 angka di belakang koma, angkanya sama.
Berapa nilai 1.03% untuk GDXJ bagi AMMN?
Berdasarkan informasi di website VanEck, Manajer Investasi yang ETFnya menggunakan GDXJ, dana kelolaan per 4 Sept 2026 mencapai USD 9.64 Miliar.
Asumsi kurs Rp 17.600 ~ Rp 169.6 Triliun
1.03% x Rp 169.6 T = Rp 1.74 Triliun

Angka Net Asset atau AUM yang dijadikan acuan adalah 17 September 2026 karena GDXJ baru efektif di 18 September 2026. Saya perhatikan, dari hari ke hari, pergerakan AUM GDXJ cukup variatif, beberapa hari lalu sempat > USD 10 M ~ Rp 176 T, faktor kurs juga berpengaruh. ETF biasanya melakukan penyesuaian portofolio pada H-1 tanggal efektif.
Semoga tidak ada drama freeze dan pembekuan dari GDX dan GDXJ untuk saham Indonesia seperti halnya MSCI dan FTSE.
Disclaimer :
1. Prediksi, perhitungan, dan pemahaman untuk saham keluar masuk dan bobotnya di GDXJ bisa salah
2. BUKAN REKOMENDASI BUY SELL HOD
Have a nice day

Tinggalkan komentar