
Sambil berharap semoga status Freeze Indonesia dicabut MSCI November 2026 nanti, perhatian berikutnya adalah pada Cut Off. Di dokumen MSCI, ada 3 referensi cut off yang angkanya berbeda, 2 dari tabel dan 1 dari hitungan.
Mana yang digunakan dan berapa angkanya untuk Indonesia?
Adakah saham Indonesia yang potensi bisa masuk?

Sebagai referensi, berdasarkan ukurannya MSCI membagi jadi 3 :
– Large Caps : ranking hingga 70%
– Medium Caps : ranking 70 – 85%
– Small Caps : ranking 85 – 99%
Kemudian MSCI membagi jadi 2 kategori :
Standard : Large dan Medium Caps
Small : hanya small caps
Ada juga micro caps, tapi setahu saya belum ada ETF untuk daftar tersebut.
#1 Global Minimum Size Reference (GMSR)
Berdasarkan dokumen MSCI GIMI versi Agustus 2026, untuk bisa masuk dalam MSCI Standard bagi Indonesia adalah USD 8.138 juta ~ Rp 146,48 Triliun dengan asumsi kurs Rp 18.000 / USD. Angka di atas berlaku untuk Full Market Caps, artinya harga saham x total lembar harus minimal Rp 146,5 T.

#2 Market Classification Framework (MCF)
Masih pada dokumen yang sama, di lampiran 2 ada bagian yang menyatakan kalau untuk bisa masuk ke Emerging Market :

Full Market Caps USD 4,069 Juta ~ Rp 73.2 T
Free Float Market Caps USD 2,039 juta ~ Rp 36.6 T
Angka Full Market Caps-nya setengah dari GMSR.
Free Float Market Caps dihitung dari Full Market Caps dikalikan dengan Free Float versi MSCI yaitu FIF (Foreign Inclusion Factor). FIF itu semacam Free Float tapi disesuaikan dengan kepemilikan oleh investor strategis dan dalam konteks Indonesia, data kepemilikan >1%.
#3 Dihitung dengan Coverage 50 – 115% dari GMSR
Masih di dokumen yang sama, ada contoh perhitungan dengan menggunakan pasar saham Hungaria.

Disebutkan tahapannya
1. Sort saham berdasarkan Full Market Caps.
2. Hitung coverage berdasarkan Free Float Market Caps sampai dengan 85%.
3. Bandingkan no 1 dengan rentang 50-115% GMSR dimana angka saham terakhir di atas rentang menjadi cut off meskipun coverage di atas 85%.
Karena masih belajar, biasanya saya menggunakan #2 sebagai referensi cut off. Namun setelah dibaca berulang-ulang dan sekarang dibantu dengan AI juga, ternyata yang lebih tepat adalah #3. Sebetulnya #3 yang ada rentang 50% hingga 115% tersebut juga sudah dibahas di #1. #2 berfungsi sebagai referensi angka minimal.
Sekarang saya coba praktekkan cara perhitungan #3.
Asumsi dan langkah-langkah yang digunakan sebagai berikut :
1. Posisi Free Float Akhir Juli 2026.
2. Harga saham dan lembar saham 18 September 2026.
3. Free Float kemudian dibulatkan dengan ketentuan MSCI yaitu 2.5%, 0.5% dan 0.1% terdekat.
4. TIDAK ADA penyesuaian terhadap kepemilikan saham >1%, artinya jika ternyata porsi free float dimiliki oleh pihak strategis menurut MSCI tetap saya hitung.
Karena jumlah saham di IHSG lebih dari 900, maka saya sederhanakan sebagai berikut :

Rank 1 – 10 berdasarkan Free Float Market Caps dari BBCA hingga DSSA.
Saham dengan Full Market Caps > cut off Rp 73.2 T terletak di BRIS.
Saham dengan coverage 85%, titik potongnya di AALI.
Cara bacanya :
Berdasarkan ketentuan coverage top 85%, seharusnya saham yang masuk MSCI Standard adalah dari BBCA hingga AALI. Namun Full Market Caps AALI hanya Rp 16.5 T, jauh dari GMSR Rp 146.4 T. Karena itu digunakan ketentuan 50% : Rp 73.2 T sebagai cut off minimal. Dengan angka ini yang masuk berdasarkan seleksi awal Total Full Market Caps adalah BBCA hingga BRIS.
Selanjutnya saham yang Total Full Market Capsnya memenuhi, dicek Free Float Market Caps. Berbeda dengan Full Market Caps yang mengambil minimum ranking 85%, untuk Free Float Market Caps menggunakan minimal Rp 36.6 T.
Berdasarkan seleksi ini, terdapat 16 saham yang memenuhi syarat antara lain :

Dari 16 saham di atas 5 di antaranya sudah mendapat status HSC yaitu DCII, BYAN, BREN, MORA, dan DSSA.
Kemudian yang sudah menjadi anggota MSCI Standard ada : BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, ASII, BBNI, BRMS, UNTR dan BRPT.
Nanti 2 yang tersisa belum masuk tinggal AMMN dan SMMA.
Apakah ini berarti AMMN dan SMMA akan masuk?
Belum tentu, masih ada penilaian lain seperti likuiditas ATVR, Extreme Price Increase (EPI), dan ketentuan lainnya. Bahkan untuk evaluasi di atas, Free Float juga akan dicek ulang dengan data kepemilikan 1%. Untuk SMMA, sahamnya sendiri kurang likuid, jadi otomatis akan tidak lolos ketentuan likuiditas.
Untuk AMMN, saham Free Float versi IDX adalah 22.75% yang berdasarkan kelipatan MSCI jadi 23%. Di RTI, tercantum data porsi masyarakatnya 25.25%. Namun begitu data >1% di cek, terdapat 15% yang dimiliki oleh berbagai investor. Apabila data ini digunakan, maka estimasi FIF AMMN menjadi sekitar 10%.

Dengan asumsi FIF 10%, maka AMMN
Full Market Caps Rp 339 T
Free Float Mcaps Rp 34 T
Hal ini akan menyebabkan saham ini gagal masuk. Belum lagi untuk saham dengan FIF <15%, syarat masuk yang digunakan jadi lebih tinggi. Jadi peluang AMMN masuk ke MSCI apabila data >1% digunakan praktis jadi 0.
Jadi untuk anda yang membuat penelitian tentang MSCI, patokan #2 masih bisa digunakan dengan catatan ranking 85% lebih kecil dari 50% GMSR. Apabila saham secara keseluruhan rally, ada potensi angka yang digunakan bukan lagi 50% GMSR, tapi lebih tinggi maksimal 115% dari GMSR berdasarkan ranking saat tanggal cut off.
Urutan yang benar waktu menghitung Free Float Market Caps, seharusnya angka free float saham disesuaikan terlebih dahulu dengan kepemilikan >1%. Tidak semua yang kepemilikan >1% mengurangi free float, hanya investor strategis dan afiliasi saja.
Pembahasan di atas bukan rekomendasi buy sell hold
Have a nice day

Tinggalkan komentar