
Salah satu nasihat yang paling sering kita dengar adalah diversifikasi. Jangan taruh seluruh dana di satu jenis aset.
Pertanyaannya, berapa porsi saham dan obligasi yang ideal?
Berikut studi kasus data historis Indonesia

Tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua. Komposisi investasi perlu disesuaikan dengan tujuan investasi, kondisi keuangan dan profil risiko investor. Saham dan reksa dana saham perlu untuk return lebih maksimal, Obligasi atau reksa dana pendapatan tetap tetap mengurangi risiko.
Misalkan untuk tujuan pensiun yang masih 10-15 tahun lagi, kebutuhan sehari-hari terpenuhi dari gaji, dan profil moderat agresif bisa lebih besar porsi di saham. Untuk dana pendidikan anak yang 3-5 tahun, profil risiko moderat konservatif, bobot bisa lebih besar di obligasi.
Teorinya demikian, tapi ketika praktek banyak sekali cobaan.
Beli reksa dana saham yang sedang naik atau turun?
Inflasi tinggi dan suku bunga tinggi, apa masih aman beli reksa dana pendapatan tetap?
Sudah untung 5%, haruskah profit taking? Turun 10%, haruskah cutloss?
Konsep diversifikasi bukan mencari aset yang semuanya harus naik pada saat yang sama. Yang dilihat justru bagaimana beberapa aset dengan karakter berbeda bekerja bersama untuk mencapai tujuan investasi. Salah satunya melalui kombinasi reksa dana saham dan pendapatan tetap.
Untuk melihat bagaimana hasilnya di Indonesia, saya mencoba simulasi historis.
Periode: Januari 2008 – September 2026
Horizon investasi: rolling 5 tahun secara harian
Saham = IHSG
Obligasi = Indeks RD Pendapatan Tetap
Portofolio direbalancing setiap tahun
Komposisinya dibuat dari:
0% saham / 100% obligasi
10% / 90%
20% / 80%
…
hingga
100% saham / 0% obligasi.
Kemudian dilihat Median, Worst dan Best Total Return selama 5 tahun. Artinya metode ini utk investor yang periode investasinya minimal 5 tahun.
Hasilnya sebagai berikut

Cara baca:
Contoh 80% Saham 20% Obligasi
Median Total Return +29.24%
artinya dengan komposisi ini, jika investasi selama 5 tahun, peluang 50% bisa untung +29.24%. Yang digunakan adalah Total Return, bukan CAGR yang disetahunkan.
Worst Total Return -17.43%
Artinya jika timing masuk anda di pucuk, selama 5 tahun paling rugi -17.43%.
Best Total Return +257.30%
Artinya jika timing masuk anda di dasar terendah, selama 5 tahun tertinggi pernah untung +257.30%. Portofolio rebalancing tiap tahun, misalkan awal 80-20, jika di akhir tahun berikutnya jadi 90-10, maka akan disesuaikan lagi jadi 80-20.
Poin menarik:
1. Median return 5 tahun dari komposisi all in saham hingga all in obligasi ternyata cuma berkisar di 28-30%. Artinya kalau anda taroh Rp 100 juta di saham atau obligasi dengan berbagai kombinasi, “ekspektasi yang wajar” untuk hasilnya di tahun ke 5 Rp 28-30 juta.
2. Yang worst return selalu positif, artinya selama 5 tahun tidak pernah rugi adalah kombinasi dengan bobot obligasi minimal 60% ke atas. Artinya kalau anda tidak mau rugi secara portofolio, maka minimal 50% aset alokasi anda “harus” di reksa dana pendapatan tetap.
3. Best return berkisar antara 75% hingga 313%, atau sekitar 2.6x hingga 11x lipat median return. Dengan “keberuntungan” dimana anda mulai ketika market sedang turun, atau “keberanian” untuk beli ketika semua orang teriak “sell”, bisa saja hasil investasi di atas Median.
4. Dalam kondisi untung ataupun rugi, setiap 1 tahun investor harus melakukan rebalancing. Dengan demikian, investor terhindar dari FOMO mengejar yang lagi naik, beli waktu, disiplin beli waktu harga di bawah, dan belajar melihat investasi secara utuh bukan per instrumen.

Untuk anda yang konservatif tapi ingin ada eksposur di saham, sepanjang periode investasinya 5 tahun dan bisa melihat secara portofolio, bukan saham per saham, maka bobot maksimal di saham masih bisa sampai 40%.
Semoga bermanfaat
Have a nice day

Tinggalkan Balasan