
Menurut estimasi UBS, seandainya Indonesia MSCI Standalone,
potensi dana asing yang keluar:
Dana pasif Rp72 T
Dana aktif Rp270 T
Total ±Rp342 T
Ini bukan angka yang kecil, seandainya skenario terburuk itu terjadi, siapa yang bisa menahan IHSG?
Satu hal penting, Rp342 T itu adalah estimasi potensi outflow, bukan berarti Rp342 T pasti langsung dijual. Dana pasif relatif lebih mekanis karena tanggal pengumuman. Sementara dana aktif lebih fleksibel, bisa bertahan, mengurangi, keluar total, atau malah beli dari sekarang.
Sekarang kita lihat “pasukan institusi lokal”-nya.
Setidaknya ada 4 sumber yang berpotensi menjadi penahan:
🏥 BPJS Tenaga Kerja dan Kesehatan / Asuransi Sosial
🇮🇩 Danantara
🏢 Buyback Emiten
🏦 Likuiditas Perbankan
Berapa besar “amunisinya”?
BPJS Tenaga Kerja dan Kesehatan
Data OJK Agustus 2026
Total investasi Rp1.003 T
Reksa Dana Rp35 T
Saham Rp65 T
Kalau bobot saham dinaikkan 1% saja, secara kasar setara: ±Rp10 T. Sempat ada wacana bobot saham naik menjadi 20% dalam 3 tahun sejak 2025 lalu tapi belum realisasi. BPJS bisa masuk ke bursa dengan beli saham langsung atau tidak langsung melalui reksa dana.

Danantara
Danantara disebut menyiapkan tambahan US$1 miliar atau sekitar Rp18 T untuk masuk ke pasar modal Indonesia. Bahkan ketika IHSG bergejolak, Danantara menyatakan sudah mulai membeli saham yang dinilai menarik. Sayang sekali sampai konten ini dibuat, belum ada informasi mengenai laporan keuangan Danantara.

Buyback Emiten
Sepanjang 2026 ada 59 program buyback.
Per 20 Oktober:
12 selesai
46 masih aktif.
Dari plafon program aktif yang nilainya dapat diidentifikasi:
≥ Rp43,2 T.
Tapi sekali lagi, ini plafon maksimum, bukan berarti seluruh dana belum digunakan dan pasti dibelanjakan. Mengingat ada relaksasi tidak perlu RUPS sampai Juni 2027, jumlah ini bisa bertambah setiap harinya.

Relaksasi GWM Bank Indonesia
BI menurunkan GWM sebanyak 2% secara bertahap. Menurut BI, kebijakan ini berpotensi menambah likuiditas perbankan sekitar Rp190 T. Ini angka paling besar, tapi juga yang paling perlu hati-hati dibaca. Ketika BI relaksasi GWM, yang dapat likuiditasnya adalah bank. Dana ini bisa ke obligasi pemerintah yang harganya sedang diskon, bisa kredit, bisa juga dipinjam para pemilik perusahaan untuk buyback atau investor saham untuk margin beli saham. Jadi belum tentu semuanya ke saham, tapi menambah likuiditas perbankan dan menggerakkan ekonomi.

Kalau semua angka tadi dijumlahkan:
BPJS: Rp10 T
Danantara: Rp18 T
Buyback: Rp43,2 T
Relaksasi GWM: Rp190 T
Total: Rp261,2 T
Angka ini masih lebih kecil dibandingkan estimasi UBS yang Rp 342 T. Tapi belum tentu juga, karena angka outflow ini bisa saja lebih kecil karena sejak pengumuman outflow sudah terjadi terutama dari dana aktif dan tidak semua dana aktif mengikuti MSCI. Dana aktif asing yang mulai berani masuk ke Indonesia juga ada karena valuasi yang sangat murah dan masih terdapat saham-saham berkualitas bagus yang bisa dibeli.

Meski kelihatannya lebih sedikit, tapi masih ada 1 pemain yang belum masuk skenario
Dia tidak punya mandat investasi
Tidak perlu rapat komite
Beli kadang-kadang pakai feeling saja
Dan jumlahnya makin banyak.
INVESTOR RETAIL

Perang penentuan melawan White Walker dalam Game of Throne ditentukan serangan mendadak Arya Stark yang mengubah kekalahan menjadi kemenangan. Investor retail juga bisa menjadi game changer. Sebab persoalan utama dari Dana Aktif asing adalah khawatir ga ada lawan transaksi.
Ga ada lawan transaksi maksudnya waktu mau beli terpaksa harus beli di harga tinggi karena likuiditas seret. Sebaliknya waktu mau jual, terpaksa harus ARB karena ga ada lawan pembeli. Investor ritel yang besar bisa menjadi pertimbangan dana asing aktif untuk tetap berinvestasi di Indonesia meskipun status MSCI Stand Alone.
Pertanyaan sebenarnya adalah:
Siapa yang tetap punya likuiditas dan keberanian membeli ketika tekanan jual sedang paling besar?
BPJS?
Danantara?
Emiten lewat buyback?
Perbankan?
Atau justru investor retail yang selama ini kita anggap kecil?
Winter may come ❄️
Tapi belum tentu White Walker yang menang
Have a nice day

Tinggalkan Balasan