Proyeksi, Peluang dan Tantangan Investasi 2019


Ilustrasi investasi(THINKSTOCKS/RIKKYAL)

TIDAK terasa tahun 2018 hanya kurang dari 1 bulan. Sepanjang tahun 2018, pergerakan nilai tukar rupiah, saham, obligasi, dan reksa dana bisa dikatakan sangat fluktuatif karena dipengaruhi berbagai isu domestik dan eksternal. Nah, bagaimana dengan tahun 2019 ?

Nilai Tukar Rupiah

Ilustrasi rupiah dan dollar AS(THINKSTOCKS)

Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada tahun 2018 bisa diibaratkan seperti roller coaster. Dari 13.000an ke 14.000an kemudian dalam waktu tiba-tiba menembus angka Rp 15.000 dan sekarang kembali lagi ke 14.000an.

Pada dasarnya yang namanya nilai tukar itu naik atau turun mengikuti prinsip permintaan dan penawaran. Ketika permintaan dollar AS naik, maka nilainya akan meningkat dan sebaliknya pula ketika permintaannya turun.

Kenaikan permintaan akan dollar AS pada tahun ini disebabkan karena 3 hal. Yakni kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), kondisi ekonomi AS yang meningkat pesat, dan kenaikan harga minyak pada awal hingga pertengahan tahun.

Kenaikan tingkat suku bunga dan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang sangat bagus pada tahun 2018 ini membuat dana dari seluruh dunia termasuk dari Indonesia berbondong-bondong kembali ke sana. Akibatnya permintaan terhadap dolla AS naik. Mata uang dollar AS tidak hanya menguat terhadap rupiah saja tapi juga mata uang lain negara lainnya.

Harga minyak yang sempat naik tinggi hingga hampir mencapai 80 dollar AS per barrel juga ikut meningkatkan permintaan dollar AS.  Indonesia sendiri merupakan negara net importir minyak, sehingga kalau harganya naik maka kebutuhan impor dalam dollar AS juga akan semakin banyak.

Kombinasi dari ketiga faktor di atas, membuat kebutuhan akan dollar AS meningkat pesat pada tahun 2018. Dalam konteks APBN, situasi dimana dana yang keluar dari Indonesia lebih banyak daripada dana yang masuk disebut dengan Defisit Transaksi Berjalan atau Current Account Deficit (CAD).

Selama ini CAD Indonesia selalu di kisaran minus 2 persen alias defisit. Namun kombinasi dari faktor di atas membuat defisit CAD pada Juni 2018 ini meningkat menjadi 3 persen. Secara historis, angka  3 persen termasuk tinggi sehingga membuat nilai tukar rupiah melemah hingga ke 15.000an.

Untuk tahun 2019, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan stabil di kisaran Rp 14.200. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa, Amerika Serikat berdasarkan data-data yang ada menunjukkan tanda-tanda akan menuju resesi (pelambatan ekonomi) di tahun 2020 dan harga minyak yang kembali turun.

referensi: Apakah Amerika Serikat Akan Mengalami Resesi di Tahun 2020?

Untuk mencegah agar perekonomiannya masuk ke resesi di tahun 2020, ada kemungkinan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) akan mengambil kebijakan suku bunga yang cenderung tidak agresif di tahun 2019. Kenaikan suku bunga The Fed bisa naik hanya 1-2 kali dari rencana awal 3 kali, bahkan bukan tidak mungkin akan turun di akhir 2019 atau 2020

Untuk harga minyak, kondisi saat ini bisa dikatakan sedang oversupply karena Amerika Serikat yang dulunya importir minyak sekarang hanya soal waktu sebelum menggeser Arab Saudi sebagai negara eksportir minyak terbesar di dunia. Perkembangan teknologi telah membuat cadangan minyak serpih (shale oil) dalam jumlah besar dapat diproduksi dengan harga yang lebih ekonomis dan Amerika Serikat sebagai salah satu pemilik cadangan minyak serpih terbesar di dunia.

Gejolak harga minyak yang selama ini timbul juga bukan berasal dari kenaikan permintaan, tetapi lebih kepada penawaran dari para produsen. Kenaikan harga yang bukan karena faktor penawaran biasanya tidak bertahan lama. Selama harga minyak stabil di level 60 dollar AS per barrel atau di bawahnya, maka kondisi CAD Indonesia untuk tahun 2019 akan membaik dibandingkan tahun 2018.

Investasi Obligasi

Ilustrasi(KONTAN/BAIHAKI)

Secara teori, harga obligasi ditentukan oleh perubahan suku bunga. Jika suku bunga naik, maka harga obligasi akan turun dan sebaliknya. Di Indonesia, 2 faktor utama yang menentukan perubahan tingkat suku bunga adalah inflasi dan nilai tukar.

Dalam beberapa tahun terakhir, tingkat inflasi selalu rendah dan stabil serta masuk dalam target pemerintah di level 3,5 persen plus minus 1. Yang di luar dugaan adalah nilai tukarnya.

Untuk tahun 2018, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS menyebabkan kenaikan BI Rate. Sesuai dengan teori, kenaikan BI Rate membuat harga obligasi dan reksa dana pendapatan tetap yang berinvestasi pada obligasi mengalami penurunan.

Untuk tahun 2019, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diproyeksikan akan menguat di sekitar Rp 14.200an karena perubahan kebijakan suku bunga bank sentral AS. Dengan asumsi inflasi 2019 tetap terkendali di 3,5 persen plus minus 1, maka BI Rate di tahun 2019 berpeluang untuk naik hanya 1 kali, tetap atau bahkan turun pada akhir tahun.

Skenario ini, apabila terjadi, akan memberikan efek positif bagi harga obligasi pemerintah dan reksa dana yang berinvestasi pada obligasi pemerintah seperti reksa dana pendapatan tetap.

Untuk itu, tahun 2019 seharusnya akan menjadi tahun yang bagus untuk investasi di obligasi pemerintah dan reksa dana pendapatan tetap berbasis obligasi karena kemungkinan terjadinya penurunan harga lebih kecil.

Investasi Saham dan Tahun Politik

Suasana Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (21/5/2018).(KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG)

Tahun 2019 yang merupakan tahun diselenggarakannya Pemilu dan Pilpres secara serentak pertama kali dalam sejarah demokrasi di Indonesia, diyakini merupakan tahun yang baik bagi investasi di pasar modal.

Entah kebetulan atau tidak, setiap tahun politik di Indonesia, biasanya kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan pertumbuhan yang positif. Sebagai referensi, kinerja IHSG pada tahun 1999 naik sebesar 70,06 persen, tahun 2004 naik sebesar 44,56 persen, tahun 2009 naik sebesar 86,98 persen dan terakhir tahun 2014 naik sebesar naik 22,29 persen.

Sistem pemilihan secara serentak untuk Presiden dan DPR merupakan terobosan yang sangat bagus dalam demokrasi karena menghemat waktu konsolidasi politik. Sebab Presiden dipilih bersama dengan partai pendukungnya dalam satu paket.

Presiden yang didukung oleh DPR akan memberikan wewenang yang lebih kepada Presiden dalam pemilihan posisi menteri sehingga eksekusi program dapat dilakukan lebih cepat.

Sepanjang pemilihan berjalan aman, damai dan lancar, siapapun pemenangnya baik petahana maupun penantang, tidak berdampak negatif terhadap perkembangan investasi di pasar modal.

Untuk fundamental sendiri, walaupun di tengah isu pelemahan nilai tukar dollar AS dan kenaikan harga minyak, laporan keuangan perusahaan hingga kuartal III tahun 2018 sejauh ini masih cukup bagus. Penjualan dan laba bersih masih tetap tumbuh.

Penurunan harga yang terjadi selama 2018 akan membuat valuasi saham menjadi semakin menarik baik bagi investor lokal ataupun investor asing. Aliran dana asing yang keluar secara massif dari pasar saham Indonesia sejak 2 tahun terakhir juga sudah berangsur-angsur masuk.

Selain kebijakan yang bersifat populis seperti penentuan tarif BBM dan listrik, pemerintah juga mulai mengambil kebijakan yang berdampak positif ke perekonomian seperti upaya peningkatan sektor properti. Mulai dari pelonggaran ketentuan Loan to Value (LTV atau DP rumah), percepatan pembayaran ke kontraktor, hingga PPnBM untuk properti mewah yang dinaikkan dari Rp 20 miliar menjadi Rp 30 miliar.

Sektor properti merupakan sektor yang banyak turunannya dan berimplikasi positif bagi banyak sektor lain mulai dari bahan bangunan, kontraktor, furniture, pembangunan infrastruktur pendukung, agen properti, kredit dari perbankan dan penyerapan tenaga kerjanya. Dengan kondisi di atas, perkiraan harga wajar IHSG pada tahun 2019 adalah di level 7.200.

Sebagai instrumen yang high risk high return, pergerakan IHSG dan reksa dana saham akan tetap berfluktuasi. Investor perlu memahami risiko tersebut sebelum berinvestasi.

Demikian artikel ini, semoga bermanfaat.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Proyeksi, Peluang, dan Tantangan Investasi 2019”, https://ekonomi.kompas.com/read/2018/12/10/113911326/proyeksi-peluang-dan-tantangan-investasi-2019

Editor : Erlangga Djumena

Advertisements

Published by Rudiyanto

Berbagi tentang Keuangan dan Investasi. Silakan bertanya, komentar atau memberikan saran melalui kolom komentar di bawah.

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: