Ini Saham Yang Investornya Paling Banyak

Berdasarkan publikasi dari Bursa Efek Indonesia, tercatat per Mei 2020 terdapat total 2.81 juta Investor pasar modal, dan 1.19 juta di antaranya merupakan investor saham. Pertambahan jumlah investor tetap terjadi di tengah pandemi COVID-19.

Bahkan dari diskusi dengan rekan-rekan pelaku di perusahaan sekuritas, pembukaan rekening baru pada saat puncak COVID-19 justru lebih tinggi dibandingkan kondisi normal. Kemungkinan para investor melihat adanya kesempatan harga sedang terkoreksi, ditambah jadi punya lebih banyak waktu luang karena adanya PSBB.

Yang menjadi pertanyaan, saham-saham apa yang investor tersebut beli? Tentu sulit untuk menanyakan ke masing-masing orang. Belum lagi dengan pola investasi jangka pendek, bisa saja suatu saham hanya dimiliki beberapa hari bahkan beberapa jam saja.

Dengan semakin berkembangan teknologi informasi dan tuntutan akan keterbukaan, data-data perusahaan terbuka dipublikasikan semakin beragam serta lebih mudah diakses.

Tidak hanya data laporan keuangan saja, tetap juga laporan jika ada Informasi atau Fakta Material, tanggapan jika harga saham berfluktuasi, Transaksi Afiliasi dengan nilai signifikan, risalah RUPS, hingga jumlah pemegang saham setiap bulan.

Sebenarnya laporan-laporan ini dulunya juga sudah ada, tapi dengan adanya perkembangan teknologi informasi, menjadi semakin mudah untuk diakses. Bisa dari aplikasi transaksi saham, bisa juga dari aplikasi dengan fitur gratis dan berbayar seperti RTI.

Salah satu laporan yang saya cermati adalah Laporan Pemegang Saham Bulanan. Dari laporan ini, masyarakat bisa melihat siapa pemegang saham pengendali, berapa saham yang dimilikinya, jumlah saham yang dimiliki oleh direksi dan komisaris, alasan pemegang saham pengendali, direksi dan komisaris membeli atau menjual saham perusahaan, hingga jumlah investor pemegang saham setiap bulan.

Dari data jumlah investor pemegang saham inilah, masyarakat bisa mengetahui sebenarnya seberapa banyak saham perusahaan yang dimiliki investor.

Berhubung jumlah emiten per Juli 2020 sudah mencapai 696 perusahaan, saya menggunakan data LQ-45 saja karena jumlah saham yang lebih sedikit dan transaksinya likuid sehingga jumlah investornya lebih banyak.

LQ-45 adalah kumpulan 45 saham yang transaksinya paling likuid dan dievaluasi setiap 6 bulan. Tidak ada jaminan bahwa saham LQ-45 lebih baik atau buruk dari non LQ-45, hanya saja transaksinya yang lebih likuid.

Berikut ini rangkuman jumlah pemegang saham per akhir bulan yang diolah dari situs Bursa Efek Indonesia dan RTI

Warna biru artinya jumlah investor lebih banyak dibandingkan bulan sebelumnya, sebaliknya jika warna merah maka jumlah investor lebih sedikit dibandingkan bulan sebelumnya.

Berdasarkan data per bulan Mei 2020, ternyata BBRI merupakan saham LQ-45 dengan jumlah investor terbanyak. Jika dilihat dari bulan Januari 2020, jumlahnya juga mengalami peningkatan yang signifikan dari  180rb menjadi 262rb.

Banyak Investor = Prospek Bagus?

Dalam transaksi saham, terdapat perilaku yang disebut herding behavior. Secara sederhana jika suatu saham sedang naik dan signifikan, akan membuat orang berbondong-bondong membeli saham tersebut sehingga jumlah investornya naik

Saham gorengan waktu sedang naik tinggi, sebelum gosong, bisa saja jumlah investornya juga mengalami peningkatan yang signifikan.

Kemudian harga saham juga berpengaruh. Harga saham BBRI di kisaran 3000an yang dalam 1 lot setara Rp 300.000. Masih terjangkau untuk sebagian besar investor. Berbeda dengan saham BBCA dan GGRM yang di level Rp 30-40ribuan, sehingga 1 lot setara Rp 3 – 4 juta.

Hal ini membuat investor bermodal kecil cenderung tidak memilih saham tersebut. Padahal secara fundamental, kedua saham tersebut dengan BBRI mungkin tidak berbeda jauh.

Momentum dimana terjadinya penurunan atau kenaikan harga yang signifikan juga berpengaruh terhadap jumlah investor. Biasanya jika terjadi penurunan signifikan hingga menyentuh batas Auto Reject Bawah (ARA), maka kemungkinan akan menarik perhatian banyak investor untuk membeli saham tersebut. Sebaliknya juga ketika terjadi Auto Reject Atas.

Dalam pandangan praktisi, semakin banyak pemegang saham, maka harga saham tersebut akan sulit untuk dimanipulasi. Sebaliknya jika semakin sedikit pemegang sahamnya dan terkonsentrasi pada pihak tertentu saja, maka semakin mudah untuk dimanipulasi alias digoreng.

Saham yang jumlah pemegangnya sedikit juga belum tentu semuanya saham gorengan. Terkadang ada sebagian dari saham tersebut dipegang oleh investor jangka panjang yang tidak melakukan spekulasi. Mereka membeli di harga yang sangat murah dan menunggu dengan sabar sampai saham tersebut naik signifikan.

Momentum saham tersebut naik biasanya jika terjadi turnover bisnis atau peningkatan penjualan dan laba bersih yang signifikan, yang menyebabkan sahamnya secara valuasi sangat murah atau memberikan dividend yield dalam jumlah yang besar.

Sampai saat ini belum ada penelitian yang menyimpulkan berapa jumlah investor yang ideal untuk suatu saham.

Saham dengan Notasi Khusus

Dengan maraknya kasus hukum investasi yang terjadi belakangan ini, tentu saja para investor harus lebih berhati-hati. Ada kalanya perusahaan yang melantai di Bursa ternyata model bisnisnya tidak selalu berhasil atau lebih parah Good Corporate Governance yang buruk sehingga akhirnya menjadi saham gorengan.

Dengan banyaknya saham yang ditransaksi di bursa ditambah dengan kenaikan harga yang tinggi dalam beberapa hari, terkadang investor awam tergoda untuk mencoba peruntungan pada saham-saham tersebut.

Ada investor yang memang sudah tahu bahwa saham tersebut fundamentalnya bermasalah, tapi menawarkan peluang keuntungan dari spekulasi jangka pendek, tapi tidak sedikit juga yang hanya ikut-ikutan saja.

Saat ini sudah terdapat notasi khusus untuk saham-saham yang bermasalah sebagai contoh di bawah ini.

Nama-nama saham yang mendapatkan notasi khusus juga bisa di cek langsung pada situs Bursa Efek Indonesia dengan tautan sebagai berikut https://www.idx.co.id/perusahaan-tercatat/notasi-khusus/.

Aplikasi saham seperti RTI yang dapat diakses secara gratis juga sudah menunjukkan notasi khusus apabila ada. Yang disayangkan, notasi seperti ini belum muncul pada aplikasi trading saham sehingga terkadang tidak disadari oleh semua investor.

Walaupun suatu saham memiliki jumlah investor yang banyak, jika sudah mendapatkan notasi khusus sebaiknya investor sudah berhati-hati. Analisa secara mendalam tetap dibutuhkan dalam berinvestasi di saham, baik itu Analisa teknikal, fundamental ataupun kombinasi dari keduanya.

Demikian artikel ini, semoga bermanfaat.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Instagram : https://www.instagram.com/rudiyanto_zh/

Facebook : https://www.facebook.com/rudiyanto.blog

Twitter : https://twitter.com/Rudiyanto_zh

Belajar Reksa Dana : www.ReksaDanaUntukPemula.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s