Posted in Investasi dan Keuangan

Inflasi Tinggi dan Resesi, Bagaimana Kinerja Reksa Dana?

Secara umum, penyebab dari inflasi dan resesi sudah cukup banyak dibahas di media massa. Mulai dari gangguan rantai pasok harga minyak, gas, dan batu bara serta komoditas lainnya akibat perang Russia – Ukraina yang belum selesai, dan menguat kurs USD terhadap mata uang diseluruh dunia termasuk Indonesia sehingga menyebabkan harga barang impor semakin tinggi.

Dalam kondisi seperti ini bagaimana kinerja reksa dana? Berdasarkan jenisnya, perkiraan dampak terhadap masing-masing reksa dana adalah sebagai berikut

Reksa Dana Pasar Uang

Jenis reksa dana ini menempatkan investasinya 100% pada deposito dan obligasi yang jatuh tempo kurang dari 1 tahun.

Inflasi yang tinggi memicu kenaikan suku bunga yang agresif di Amerika Serikat. Efek samping dari kebijakan ini adalah membuat nilai tukar USD menguat terhadap mata uang di seluruh dunia. Untuk kurs nilai tukar USD terhadap Rp yang pada awal tahun berkisar di 14.400-14.600, sekarang sudah bergerak di level 15.000an.

Sebagai bentuk antisipasi terhadap kurs yang telah mendekati level Rp 15.000an dan inflasi dalam negeri yang terus meningkat, Bank Indonesia diperkirakan akan mulai menaikkan BI 7 Days Reverse Repo Rate di bulan Juli. Kebijakan ini biasanya akan diikuti oleh Bank Umum yang menaikkan suku bunga depositonya meskipun tidak serta merta.

Kondisi ini menguntungkan porsi deposito dalam reksa dana pasar uang sehingga berpotensi memberikan tingkat return yang lebih baik. Bobot obligasi di reksa dana pasar uang biasanya lebih minim dan sudah mau jatuh tempo, sehingga tidak ada efek naik turun harga.

Untuk obligasi baru yang mau diterbitkan, Kenaikan suku bunga akan menguntungkan karena perusahaan yang menerbitkan obligasi baru harus memberikan kupon yang lebih tinggi supaya menarik bagi investor.

Resesi ekonomi yang terjadi Amerika Serikat seharusnya tidak berdampak signifikan kecuali sampai menyebabkan perusahaan penerbit obligasi atau bank mengalami gagal bayar. Sejauh ini belum ada dan kemungkinannya amat kecil.

Jadi bisa disimpulkan bahwa inflasi tinggi justru positif untuk kinerja reksa dana pasar uang. Sementara untuk resesi, bisa dikatakan tidak ada dampak apapun.

Reksa Dana Pendapatan Tetap

Jenis reksa dana ini memiliki kebijakan Maksimal 20% di instrumen deposito dan Minimal 80% di obligasi. Tergantung Manajer Investasi untuk jenisnya, bisa di obligasi negara, korporasi, dan atau syariah.

Perbedaan antara obligasi yang ada di reksa dana pendapatan tetap dan obligasi yang ada di reksa dana pasar uang adalah jatuh temponya. Di reksa dana pasar uang, shanya ada obligasi dengan jatuh tempo di bawah 1 tahun, sementara yang di reksa dana pendapatan tetap antara 2-5 tahun untuk korporasi dan 2-30 tahun untuk pemerintah.

Jatuh tempo yang lebih panjang menyebabkan harga obligasi lebih sensitif terhadap kebijakan suku bunga. Untuk obligasi yang sudah mau jatuh tempo (di bawah 1 tahun) harganya sudah pasti akan kembali ke nominal (100). Kecuali ada kejadian gagal bayar, harganya tidak banyak berubah.

Kondisi sebaliknya bisa berbeda untuk obligasi dengan jatuh tempo yang lebih panjang. Harga obligasi bisa naik turun menjauhi angka 100 karena situasi yang tidak pasti.

Sebagai contoh beberapa seri obligasi pemerintah dengan jatuh tempo 5 dan 10 tahun, dari awal tahun hingga pertengahan Juli ini harganya sudah turun sekitar 5-6% karena ekspektasi suku bunga akan naik. Padahal sampai dengan Juni 2022, suku bunga BI 7 Days RR masih belum berubah sama sekali.

Pergerakan harga ini sejalan dengan teori, dimana jika suku bunga naik, maka harga obligasi turun. Sebaliknya jika suku bunga turun, harga obligasi naik. Dalam praktek, ada sedikit penyesuaian terhadap teori itu dimana yang digunakan bukan suku bunga naik atau turun saja, tapi lebih ke “ekspektasi” suku bunga naik atau turun.

Pelaku pasar modal cenderung sudah bertindak dari jauh-jauh hari sebelum suatu berita jadi kenyataan. Sehingga hanya dengan ekspektasi saja, harga obligasi sudah mulai berubah.

Secara umum, efek inflasi tinggi adalah negatif untuk reksa dana pendapatan tetap. Mengingat harga obligasi rata-rata sudah cukup turun banyak dari awal tahun hingga ke pertengahan Juli, penurunan harga walaupun masih ada seharusnya sudah terbatas.

Di sisi lain, resesi ekonomi justru positif untuk obligasi. Berkaca pada pengalaman 2020 lalu dimana perekonomian seluruh dunia mengalami resesi akibat pandemi COVID-19, bank sentral di seluruh dunia memutuskan untuk menurunkan suku bunga dan

Untuk anda yang konservatif sehingga menjadi reksa dana pendapatan tetap sebagai portofolio utama, namun tidak nyaman karena khawatir suku bunga akan naik, bisa memilih yang reksa dana pendapatan tetap yang isinya lebih dominan di obligasi korporasi karena lebih tahan goncangan harga.

Bisa juga tetap masuk ke reksa dana pendapatan tetap yang portofolionya lebih dominan di obligasi pemerintah karena harganya sudah turun cukup banyak. Namun periode investasinya minimal 3 tahun dan memahami ada risiko fluktuasi harga.

Reksa Dana Saham

Jenis ini memiliki kebijakan minimum 80% di instrumen saham dan maksimal 20% di instrumen lainnya.

Dibandingkan deposito dan obligasi, saham lebih kompleks karena faktor yang mempengaruhi pergerakan harganya amat banyak. Mulai dari faktor yang bersifat makro seperti inflasi, suku bunga, resesi ekonomi, pajak, kuota dan tarif ekspor, sentimen investor hingga yang bersifat mikro yang mengacu pada manajemen masing-masing perusahaan menjalankan kegiatan usahanya.

Secara umum, inflasi tinggi yang disebabkan kenaikan harga komoditas memang berdampak negatif terhadap kinerja perusahaan. Sebab dalam kondisi daya beli yang belum sepenuhnya pulih, agar penjualan masih tetap terjaga, perusahaan mungkin akan memilih untuk mempertahankan harga sehingga keuntungan berkurang/

Namun mengingat banyaknya perusahaan yang ada di Bursa Efek Indonesia, tentu saja ada perusahaan yang tetap mampu mempertahankan margin atau bahkan meningkat apabila berorientasi ekspor atau memiliki model bisnis yang baik.

Bagaimana dengan resesi ekonomi? Resesi tentu negatif untuk ekonomi dan kinerja perusahaan. Untunglah yang mengalami resesi itu Amerika Serikat bukan Indonesia. Meski demikian, potensi untuk mengalami resesi ekonomi tetap ada.

Untuk anda yang menjadikan reksa dana saham sebagai portofolio investasi utama, inflasi dan resesi memang bukan sentimen positif. Ke depan volatilitas harga juga akan masih akan tetap tinggi.

Namun jika berkaca pada pengalaman sebelumnya, koreksi harga seperti pada waktu 2020 lalu justru menjadi kesempatan yang bagus untuk masuk. Asalkan bisa menerima risiko dan punya orientasi investasi jangka panjang di atas 5 tahun.

Reksa Dana Campuran

Jenis reksa dana ini memiliki kebijakan 1-79% pada instrumen Saham, Obligasi dan Deposito. Efek inflasi tinggi dan resesi ekonomi pada masing-masing efek sudah dibahas di atas.

Reksa dana campuran sendiri bukanlah jenis reksa dana yang aktif melakukan perpindahan jenis aset sesuai dengan kondisi ekonomi. Mungkin ada beberapa yang seperti itu, tapi mayoritas lebih ke komposisi yang berimbang antara saham, obligasi dan pasar uang. Sehingga jika terjadi risiko, fluktuasi harganya tidak tinggi seperti reksa dana saham.

Untuk anda yang menjadi reksa dana campuran sebagai portofolio utama, perlu memperhatikan apakah isinya lebih dominan di saham atau obligasi. Agar nanti tidak kaget kalau volatilitasnya tinggi jika dominan di saham, atau naiknya agak pelan jika dominannya di obligasi.

Sentimen Positif

Kebijakan pemerintah untuk terus mempertahankan harga BBM Subsidi dengan konsekuensi defisit anggaran, merupakan berita positif. Inflasi memang meningkat, tapi inflasi Indonesia masih jauh lebih rendah dibandingkan negara lain. Inflasi yang terkendali juga mengurangi kemungkinan Indonesia mengalami resesi, sebab daya beli masyarakat kelas menengah bawah yang rentan masih terjaga.

Inflasi yang tinggi tidak hanya memiliki konsekuensi ekonomi saja tapi juga ongkos sosial. Kenaikan harga BBM biasanya memicu demo yang bisa berlangsung beberapa bulan sehingga merusak momentum pemulihan ekonomi dan sentimen bisnis.

Berdasarkan laporan keuangan Maret 2022, secara keseluruhan perusahaan di Bursa Efek Indonesia masih mengalami kenaikan penjualan dan laba bersih di atas 20% dibandingkan periode yang sama sebelumnya. Laporan keuangan Juni 2022 yang mulai dipublikasikan periode Juli – September ini juga diperkirakan masih akan tetap baik.

Kebijakan pemerintah masih mempertahankan harga BBM subsidi dan laporan keuangan yang bagus menjadi sentimen untuk Indonesia. Sentimen positif ini termasuk langka, karena mungkin hanya ada di Indonesia.

Dengan demikian, efek dari inflasi tinggi dan resesi ini dapat lebih diminimalkan dan diharapkan kinerja reksa dana juga tetap positif.

Demikian artikel ini, semoga bermanfaat.

Author:

Berbagi tentang Keuangan dan Investasi. Silakan bertanya, memberikan komentar atau saran melalui kolom tersedia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s