Tingkat kepuasan terhadap Presiden Joko Widodo yang konsisten 70-80%an, salah satu penyebabnya adalah Bantuan Sosial (Bansos). Di pasar modal, ada persepsi bahwa Bansos positif bagi Sektor Konsumen karena belanja masyarakat naik.
Apakah persepsi tersebut didukung data yang valid?

Untuk membuktikan hal tersebut, langkah-langkah penelitian yang saya lakukan sebagai berikut:
1. Menentukan “Definisi” sektor konsumen
Hal ini karena saat ini ada 2 sektor konsumen di IDX berdasarkan klasifikasi yang baru yaitu Consumer Non Cyclical dan Consumer Cyclical.
Consumer Cyclical terdiri dari saham2 sub sektor mulai dari komponen otomotif, kendaraan, barang rumah tangga, elektronik, pakaian dan barang mewah, wisata dan rekreasi, pendidikan, media, hiburan, distributor, internet, department store dan toko khusus.
Kodenya IDXCYCLIC

Consumer Non-Cyclicals terdiri dari makanan dan sembako, minuman, makanan olahan, barang pertanian dan perkebunan, tembakau, barang kebutuhan sehari2, dan personal care Kodenya IDXNONCYC

Cyclicals artinya siklus / musiman Maksudnya barang / jasa yang sifatnya sekunder dan tersier.
Kalau ada duit ya beli, tidak ada ya nanti-nanti saja seperti kendaraan.
Non Cyclicals artinya tidak ada siklus / musiman.
Maksudnya barang / jasa primer seperti sembako, tidak makan ya tidak hidup.
Kalau melihat program Bansos yang dijalankan, sifatnya lebih ke kebutuhan pokok dan untuk masyarakat kelas Menengah Bawah. Jadi IDXNONCYC lebih relevan dengan program Bansos dibandingkan IDXCYCLIC untuk dilakukan penelitian.

2. Menentukan jumlah emiten
Per Des 2023, ada 110 emiten dalam IDXNONCYC dengan subsektor:
- Dairy Products
- Drug Retail & Distributors
- Fish, Meat, & Poultry
- Food Retail & Distributors
- Liquors
- Personal Care Products
- Plantations & Crops
- Processed Foods
- Soft Drinks
- Supermarkets
Khusus untuk Plantation & Crops (Pertanian dan Perkebunan), menurut saya juga kurang relevan karena isinya perusahaan2 sawit seperti AALI, TAPG, SGRO dan sejenisnya sebanyak 29 emiten.
Kemudian karena menggunakan laporan keuangan 5 tahun terakhir, 11 dikeluarkan karena masih baru.
Jadi yang digunakan dalam penelitian adalah total penjualan (sales) dari 62 perusahaan selama 5 tahun terakhir.
3. Membandingkan Penjualan dengan Anggaran Bansos
Untuk 2023, karena baru sampai September, maka untuk jumlahnya disetahunkan dengan cara bagi 9 kali 12, hasilnya:

Dalam grafik, antara Penjualan vs Bansos

Penjualan dari 62 IDXNONCYC konsisten mengalami kenaikan selama 5 tahun kecuali 2020 waktu pandemi.
Bansos naik signifikan dari 308 T 2019 menjadi 498 T 2020 karena pandemi dan menurun terus tiap tahun sampai dengan 2023 seiring pemulihan.
Yang menarik dari grafik, selama 2020-2023, nilai bansos menurun secara perlahan, tapi pada saat yang sama nilai Penjualan dari 62 emiten justru naik.
Hal ini menandakan bahwa Bansos memang meningkatkan belanja masyarakat, tapi bukan satu-satunya andalan emiten.
Dengan inovasi produk, penyesuaian harga, diversifikasi pasar dan berbagai upaya lainnya, emiten perusahaan Tbk di Indonesia dapat mencetak kenaikan penjualan sekalipun bansos berkurang.
Hal ini menjadi sentimen positif karena perusahaan tidak terlalu tergantung program pemerintah.
Hal ini menjadi sentimen positif karena perusahaan tidak terlalu tergantung program pemerintah.
Jadi mengkaitkan antara Bansos dengan sektor konsumen, menurut saya kurang tepat, sebaiknya menggunakan pendekatan fundamental
HAVE A NICE DAY

Tinggalkan komentar