Informasi mengenai 20 pemegang saham terbesar suatu perusahaan, ternyata bisa diperoleh dalam Laporan Keuangan Tahunan meski tidak semua perusahaan menampilkannya.

Siapa saja 20 top investor BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI?
Apakah mereka menambah / mengurangi pada 2024 lalu?

Berikut adalah contoh tampilan di Laporan Keuangan Tahunan BBCA

Untuk mengetahui apakah mereka net buy / sell di tahun 2024, selanjutnya data berbentuk gambar ini saya olah dengan Chat GPT

Metode pengolahannya sederhana. Convert tampilan di atas dari gambar menjadi Excel. Kemudian tambahkan keterangan, apakah ada yang baru masuk atau keluar dari top 20. Bagi yang tidak berubah, selanjutnya dihitung selisih perubahan lembar saham kepemilikannya.

Untuk penamaan ada kasus dimana itu sebetulnya investor yang sama tapi kemungkinan ditulis berbeda karena format pelaporan, contoh : STATE STREET BANK-ISHARES CORE MSCI EMERGING MARKETS ETF di 1 Jan 2024 vs SSB 2Q27 ISHARES CORE MSCI EMERGING MARKETS ETF -2183966403 di 31 Desember 2024.

Untuk kasus di atas, saya asumsikan itu investor yang sama dan ada tulisan “Penyamaan” pada kolom keterangan.

Tampilan untuk BBCA sebagai berikut :

Dari 20 namanya, yang lokal cuma 5 yaitu No 1, 3, 4, 6 dan 17 sisanya asing.

Investor asing juga beragam. Mulai dari Pemerintah Singapore, Pemerintah Norwegia, Bank of China, Monetary Authority of Singapore (OJKnya Singapore), Dana Pensiun Malaysia (Provident), hingga berbagai reksa dana aktif dan pasif. Perlu diperhatikan keterangan Baru dan Keluar.

Baru artinya investor tersebut baru masuk jadi top 20 investor. Tapi belum tentu dia baru beli, bisa saja sudah akumulasi dan urutannya di 20++, tapi karena nambah terus, peringkatnya jadi Top 20. Contoh MAS Singapore yang di urutan 20 punya 411 juta lembar saham. Atas kepemilikan 411.777.306 lembar asumsi harga di Rp 9000, setara dengan Rp 3.7 Triliun. Tapi bukan berarti dia beli sekaligus Rp 3.7 T di 2024, bisa saja sudah akumulasi beberapa tahun. Buat anda yang mau jadi Top 20 investor BCA, perlu siapkan modal setidaknya Rp 4 Triliun.

Kemudian no 20 yang masuk di 1 Januari 2024, kemudian terlempar adalah JPMCB NA RE-VANGUARD FIDUCIARY TRUST COMPANY INSTITUTIONAL TOTAL INTERNATIONAL STOCK MARKET IT II, adalah suatu reksa dana global yang informasinya bisa dibaca di : https://t.co/tCSF0QJ5gZ

Sebagai gambaran, per Maret 2025, reksa dana global ini mengelola USD 235 Miliar setara Rp 3.877 Triliun. Untuk perbandingan, total dana kelolaan industri reksa dana dan KPD dari SEMUA Manajer Investasi di Indonesia, cuma sekitar Rp 800 – 900 T. Reksa dana global ini memiliki 360 juta lembar BBCA setara Rp 3.2 Triliun. Angka ini cuma setara 0.08% dari portofolionya. Padahal untuk manajer investasi di Indonesia, bobot BBCA itu setidaknya 6-10% untuk reksa dana aktif, dan sekitar 15% untuk reksa dana indeks.

Di Investor terbesar ke 5 ada BBH BOSTON S/A GQG PARTNERS EMERGING MARKETS EQUITY FUND yang punya 873.75 juta lembar setara Rp 7.86 Triliun BBCA. Investor ini juga menambah sekitar 250 juta lembar di tahun 2024 lalu, asumsi beli di Rp 9000 maka setara Rp 2.2 Triliun.

Berbeda dengan Vanguard index fund yang mengelola hingga Rp 3.8 kuadriliun, berdasarkan https://markets.ft.com/data/funds/tearsheet/summary?s=IE00BN15GK62:USD…, reksa dana global ini pendekatannya aktif mengelola sekitar GBP (Pound) 1.89 Miliar ~ Rp 40.6 T. BBCA masuk dalam top 10 holding dengan kepemilikan 2% lebih.

Pada tabel di atas, selain GQG, penambahan BBCA terbesar dilakukan oleh Pemerintah Norwegia 101 juta lembar (Rp 909 M). Untuk investor asing lainnya, ada yang mengurangi, tapi ada juga yang menambah dan secara agregat, kelihatannya Top 20 di BBCA lebih banyak net buy.

Dibandingkan BBCA, di BBRI terdapat banyak investor yang berubah dalam top 20

Menariknya penjual terbanyak adalah no 7 Government of Singapore yang selama 2024 mengurangi kepemilikan sahamnya sebanyak 1.650 juta lembar, asumsi harga Rp 4000 setara Rp 6.6 Triliun.

JP Morgan Fund (No 14) merupakan net sell terbesar kedua yaitu 458 juta lembar setara Rp 1.8 T. Pembeli terbesar ternyata investor lokal yaitu No 4, BPJS Tenaga Kerja program Jaminan Hari Tua (JHT) yang membeli 636 juta lembar setara Rp 2.5 T. Dana Pensiun Malaysia (Provident) juga beli 351 juta lembar setara Rp 1.4 T. Jika masih ingat RUPS BBRI yang dihadiri bapak Lo Kheng Hong dengan 64 juta lembar saham setara Rp 230 M++, ternyata untuk masuk ke top 20 perlu setidaknya 370 juta lembar setara Rp 1.48 Triliun.

BMRI ini mirip dengan BBCA dan BBRI. Mirip dengan BBCA, adalah dimana Top 20 terutama urutan 1-14. lebih banyak investor yang menambah. Sementara mirip BBRI dimana untuk top 20, banyak yang berubah.

BPJS JHT menjadi top 20, tapi hanya 282 juta lembar asumsi 5000 setara Rp 1.4 T.

Untuk menjadi top 20 investor di BMRI, butuh 264 juta lembar, dengan asumsi harga 5000, setara Rp 1.32 Triliun. Dari 20 besar investor, hanya ada 3 investor lokal yaitu Negara Republik Indonesia, Indonesia Investment Authority, dan BPJS TK – JHT.

Untuk BBNI agak unik. Ternyata dari top 20, no 1-3 adalah investor lokal bahkan no 3 adalah Retail Individual. Total kepemilikannya adalah 746 juta lembar, dengan asumsi Rp 5000, setara Rp 3.7 T. Retail individual ini juga menambah 68 juta lembar tahun 2024 lalu setara Rp 340 M.

Top 20 dari BBNI ini juga termasuk yang lebih banyak menambah daripada mengurangi di tahun 2024 lalu. Tapi di no 16 ke bawah, perubahannya memang cukup banyak seperti BBRI dan BMRI. Untuk jadi top 20 di BBNI, “cukup” dibutuhkan 112 juta lembar saham atau setara Rp 560 M.

Meskipun tekanan net sell asing sangat deras, tapi kalau melihat top 20 investor, mungkin cuma di BBRI yang investornya lebih banyak jual. Sisanya memang ada yang jual, tapi yang menambah lebih dominan. Jadi net sellnya lebih banyak investor urutan 21++, top 15nya masih “setia”.

Semoga ke depan, lebih banyak investor lokal yang masuk di Top 20 Investor.
Semoga juga masuknya bukan karena asing out, tapi kemampuan keuangan lokal yang semakin baik sehingga menjadi tuan di negeri sendiri.

Have a nice day

PENYEBUTAN SAHAM BUKAN REKOMENDASI BUY, SELL, HOLD

Rudiyanto

Tinggalkan komentar

  1. avatar practicallyface67b73b3ab2
  2. avatar Rudiyanto
  3. avatar practicallyface67b73b3ab2
  4. avatar Rudiyanto
  5. avatar bayu