Mengenal Metode Evaluasi Kinerja Reksa Dana

Evaluasi terhadap kinerja merupakan salah satu hal penting yang harus diperhatikan dalam memilih jenis reksa dana yang menjadi tujuan investasi. Oleh karena itu, sebelum memilih berinvestasi pada reksa dana sebaiknya investor melakukan penilaian terhadap kinerja yang ingin dimilikinya. Namun bagaimana cara melakukan evaluasi terhadap kinerja reksa dana? apakah cukup hanya dengan return? Jika tidak, indikator apa yang harus digunakan oleh investor? Bagaimana pula cara untuk mengetahui baik buruknya kinerja tersebut?

Dalam buku dan literatur investasi, reksa dana adalah sekumpulan dari portofolio. Oleh karena itu, pengukuran kinerja reksa dana dikenal juga dengan istilah Evaluation of Portfolio Performance.

Metode evaluasi kinerja portofolio secara khusus hanya mengukur risk and return dari portofolio investasi (reksa dana) yang bersangkutan. Meski menurut kami cara ini belum komplit, namun memang bobot terbesar dalam penilaian kinerja reksa dana harus memperhatikan faktor ini.

Beberapa metode yang sering digunakan dalam evaluasi kinerja reksa dana antara lain:

  1. Risk Adjusted Return
  2. Sharpe Ratio (Reward to Variability Ratio [RVAR])
  3. Treynor Ratio (Reward to Volatility Ratio [RVOL])
  4. Capital Asset Pricing Model
    • Pendekatan Securities Market Line (SML)
    • Pendekatan Capital Market Line (CML)

Dimana formula untuk melakukan perhitungan di atas adalah sebagai berikut:

Untuk kepentingan pengukuran kinerja masa lalu, maka tingkat return yang dipergunakan adalah menggunakan rata-rata return geometrik. Dalam kasus pengukuran kinerja dengan pendekatan CAPM yang dimaksud dengan expected return bukanlah return pada masa mendatang, akan tetapi merupakan tingkat return yang seharusnya terjadi berdasarkan tingkat risiko di masa lalu.

Supaya lebih memudahkan contoh perhitungan dan hasil interprestasi dengan menggunakan Indeks Reksa Dana Saham, Campuran, Pendapatan Tetap dan IHSG sebagai indikator Pasar dengan menggunakan data 5 tahun terakhir (2005 – 2010). Sumber data indeks dapat anda download secara gratis pada bagian ini di www.infovesta.com dengan mengklik tombol grafik yang ada pada sebelah kanan.

Hasil perhitungan secara sederhana karena untuk kepentingan ilustratif berikut dengan interprestasinya adalah sebagai berikut:

  1. Rata-rata return tahunan geometrik adalah rata-rata return dari keempat indikator di atas selama 5 tahun terakhir setelah memperhitungkan faktor bunga berbunga. Pengukuran return dilakukan dengan menggunakan metode rata-rata return geometrik. Hasil diatas menunjukkan IHSG sebagai market merupakan instrumen dengan kinerja paling baik yang diikuti dengan rata-rata Reksa Dana Saham, Campuran dan kemudian reksa dana pendapatan tetap
  2. Standar Deviasi (Risiko), dalam definisi statistik adalah simpangan baku dari rata-rata. Dalam definisi keuangan, standar deviasi merupakan suatu angka yang merncerminkan total risiko dari suatu portofolio investasi. Yang dimaksud dengan total risiko adalah risiko sistematis dan risiko tidak sistematis. Semakin besar angka tersebut semakin besar pula risiko yang berarti semakin besar fluktuasi harga suatu reksa dana.
  3. Beta dalam definisi keuangan, adalah menunjukkan “hanya” risiko sistematis dari suatu portofolio investasi. Meski hanya mewakili sebagian dari risiko reksa dana, indikator ini lebih investor friendly karena lebih mudah diterjemahkan. Misalnya Infovesta Equity Fund Index memiliki beta 1.0259. Maka ketika IHSG bergerak naik 1% maka diperkirakan indeks tersebut akan bergerak naik sebesar 1.0259% dan sebaliknya. Jika suatu reksa dana memiliki beta lebih kecil dari satu maka pengaruh fluktuasi harga IHSG terhadap harga reksa dana tersebut juga semakin kecil. Secara umum interprestasinya sama dengan total risiko.
  4. Risk Free Rate yang dipergunakan adalah SBI 9 bulan terakhir. Penggunaan ini bersifat opsional, ada pula yang menggunakan Yield Obligasi 5 atau 10 tahun sebagai indikator Risk Free.
  5. Risk Adjusted Return (RAR) sebesar 0.9601 pada IHSG dapat diinterprestasikan atas 1% risiko yang ditanggung, maka IHSG memberikan return 0,9601%. Semakin besar RAR, maka semakin baik pula kinerja suatu reksa dana karena memberikan return yang tinggi atas risiko yang ditanggungnya.
  6. Sharpe Ratio sebesar 2,6935 pada Infovesta Fixed Income Fund Index dapat diinterprestasikan atas 1% risiko yang ditanggung, maka rata-rata reksa dana pendapatan tetap memberikan excess return sebesar 2,6935%. Yang dimaksud dengan Excess return yaitu selisih return reksa dana dengan Risk Free. Dasar pemikirannya, selain return positif, return reksa dana juga seharusnya di atas tingkat return instrumen bebas risiko. Interprestasi baik buruknya sharpe ratio sama dengan RAR.
  7. Treynor ratio sebesar 0.1630 pada Infovesta Balanced Fund Index, dapat diinterprestasikan bahwa atas 1% risiko sistematis yang ditanggung, reksa dana memberikan excess return sebesar 0.1630%. Selanjutnya baik buruknya interprestasi sama dengan Sharpe Ratio dan RAR, perbedaan hanya pada risiko yang digunakan.
  8. Capital Asset Pricing Model (CAPM) dengan pendekatan Securties Market Line (SML) adalah pengukuran berapa “Pantasnya” return reksa dana berdasarkan risiko sistematisnya.
    1. Expected Return sebesar 26,58% pada Infovesta Equity Fund Index menunjukkan bahwa dengan risiko sistematis (beta) sebesar 1.0259, Risk Free 6,75% dan Return Market (IHSG) sebesar 26.08%, maka sepantasnya rata-rata reksa dana saham harus membukukan return 26,58%
    2. Actual Return adalah hasil aktual dari return selama 5 tahun terakhir yakni sebesar 21,61%
    3. Alpha adalah selisih antara Return Actual dengan Expected Return (Return yang diharapkan). Angka -4,96% menunjukkan performa Infovesta Equity Fund Index 4,96% lebih rendah dari yang diharapkan (underperform)
  9. Capital Asset Pricing Model (CAPM) dengan pendekatan Capital Market Line (CML) adalah pengukuran berapa “Pantasnya” return reksa dana berdasarkan risiko Totalnya.
    1. Expected Return sebesar 26,58% pada Infovesta Fixed Income Fund Index menunjukkan bahwa dengan risiko total (standar deviasi) sebesar 4.07%, Risk Free 6,75%, Return Market (IHSG) sebesar 26.08% dan risiko totalnya sebesar 27,16%, maka sepantasnya rata-rata reksa dana pendapatan tetap harus membukukan return 9,65%%
    2. Actual Return adalah hasil aktual dari return selama 5 tahun terakhir yakni sebesar 10,97%
    3. Alpha adalah selisih antara Return Actual dengan Expected Return (Return yang diharapkan). Angka 1,32% menunjukkan performa Infovesta Fixed Income Fund Index 1,32% lebih tinggi dari yang diharapkan (outperform)

Dalam melakukan evaluasi terhadap kinerja reksa dana, seluruh perhitungan dilakukan dengan cara membandingkan antara kinerja reksa dana yang satu dengan reksa dana yang lain. Jadi, investor harus memilih 1 rasio yang ingin dipergunakan sebagai dasar pemilihan kinerja, selanjutnya dihitung rasio tersebut untuk sekelompok reksa dana dengan menggunakan data yang sama panjang. Selanjutnya rasio tersebut diperingkat, reksa dana dengan rasio yang paling tinggi berarti reksa dana tersebut berdasarkan metode yang digunakan merupakan reksa dana yang paling baik kinerjanya.

Beberapa hal yang harus diperhatikan investor adalah bahwa pengukuran kinerja tersebut hanya melihat dari sisi risk and return. Kewajaran isi portofolio, faktor besar kecilnya jumlah dana kelolaan, layanan dan transparansi informasi merupakan indikator yang tidak kalah penting dan tidak tercermin secara langsung dari pergerakan harga reksa dana.

Demikian semoga artikel ini bermanfaat dan menjadi referensi bagi anda yang ingin melakukan penelitian di reksa dana.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa lalu tidak akan selalu terulang pada masa mendatang.

Keterangan IHSG (Market) Infovesta Balanced Fund Index Infovesta Fixed Income Fund Index Infovesta Equity Fund Index
Rata-rata Return Tahunan Geometrik 26.08% 16.24% 10.97% 21.61%
Standar Deviasi (Risiko) 27.16% 16.76% 4.07% 28.40%
Beta 1.0000 0.5821 0.0527 1.0259
Risk Free Rate (SBI 9 bulan) 6.75% 6.75% 6.75% 6.75%
Risk Adjusted Return (RAR) 0.9601 0.9688 2.6935 0.7609
Sharpe Ratio (RVAR) 0.7116 0.5661 1.0364 0.5232
Treynor Ratio (RVOL) 0.2013 0.0980 0.0157 0.1953
CAPM – Pendekatan SML
Expected Return 26.08% 18.00% 7.77% 26.58%
Actual Return 26.08% 16.24% 10.97% 21.61%
Alpha SML 0.00% 1.76% -3.20% 4.96%
CAPM – Pendekatan CML
Expected Return 26.08% 18.68% 9.65% 26.96%
Actual Return 26.08% 16.24% 10.97% 21.61%
Alpha CML 0.00% 2.44% -1.32% 5.35%

202 thoughts on “Mengenal Metode Evaluasi Kinerja Reksa Dana

  1. Pak Rudi, saya mau bertanya tentang metode penilaian kinerja reksa dana melalui metode treynor dan jensen. Saya meneliti reksa dana saham Panin Dana Prima periode 2008-2011 dengan menggunakan kedua metode tersebut. Menurut metode Treynor, hasil yang di dapat tahun 2008 kinerja reksa dana saham PAnin Dana PRima adalah yang terburuk sedangkan menurut metode Jensen, tahun 2008 menunjukkan kinerja yang terbaik. MEngapa hal tersebut bisa terjadi ya pak? Mohon bantuan bapak, terima kasih

    Like

  2. selamat pagi pak rudi,
    saya mahasiswa matematika.dan skripsi saya tentang jensen.mau tanya, kalo rumus jensen itu di dapat dari asumsi2 apa ya pak?trus, apa bapak tau buku apa yang menjelaskan tentang analisisnya rumus jensen?
    trimakasih pak sebelumnya.

    Like

  3. selamat siang pak,
    saya mau tanya tentang size reksadana.
    cara menghitungnya itu bagaimana dan pengaruhnya terhadap kinerja reksadana itu seperti apa?
    terimakasih pak sebelumnya

    Like

  4. Malam pak Rudi.

    Saya ingin bertanya apabila ingin bermain reksadana secara swing trade dalam jangka waktu yang singkat (misal per 2 minggu atau per bulan), metode apa ya pak yang paling OK buat analisa pergerakan agar bisa melihat signal dan timing yang tepat untuk membeli dan menjual.

    Yang saya tahu ada beberapa analisa teknikal seperti fast stochastic, Williams %R, dan MACD.

    Mungkin Bpk ada saran dan masukan?

    Btw apakah di buku bapak ada membahas hal seperti itu?

    Thx

    Like

  5. @Nikko
    Dear Nikko,

    Kalau tidak salah ada artikel yang judulnya analisa teknikal dan reksa dana. Anda juga bisa lihat dibagian arsip artikel.

    Saran saya, kalau mau swing trade dengan reksa dana, sebaiknya langsung di saham saja. Karena di reksa dana kamu tidak bisa memastikan harga yang anda dapat sementara di saham bisa. Lagipula biaya transaksi akan sangat mahal sekali jika kamu melakukannya di reksa dana. Semoga bermanfaat.

    Like

  6. selamat pagi pak,
    saya mau bertanya tentang stock selection dengan metode treynor, mungkin bapak bisa menjelaskannya.
    terima kasih

    Like

  7. @risyad
    Selamat malam Risyad,

    Kalau saya tidak salah itu adalah salah satu cara yang digunakan untuk menentukan bobot masing-masing saham dalam suatu portofolio yang optimal. Metode yang digunakan, seingat saya menggunakan metode Single Index Model. Keunggulan dari cara ini adalah bobot portofolio yang optimal bisa ditentukan dengan cara menghitung hingga ke detail ..% pada saham tertentu dan bukannya dengan cara simulasi dengan berbagai kombinasi sehingga lebih menghemat waktu dan lebih presisi.

    Metode ini juga setahu saya telah banyak digunakan dalam skripsi dan thesis. Harusnya tidak sulit mencari referensi di universitas atau website. Semoga bermanfaat.

    Like

  8. selamat malam pak,
    mau nanya soal risk free. biasanya kalo risk free itu dibagi lagi dengan jumlah harinya gak pak? misalnya sbi 9bln/270.
    mohon penjelasannya pak.

    terima kasih

    Like

  9. @Rudiyanto
    iya pak, soalnya saya pernah liat di jurnal penelitian ttg reksadana. ada yang membaginya dengan dengan jumlah hari dalam 1 thn (365hr), ada jg yang membaginya dengan jumlah hari dalam 1 bln(30hr) tergantung jumlah tenor sbi nya. sedangkan contoh yg bapak berikan di atas itu tidak dibagi dengan jumlah hari/periode ya pak? mohon penjelasannya

    Like

    1. Dear Ateng,

      Misalkan kamu adalah orang yang membaca suatu laporan / penelitian, kamu lebih enak baca Risk Free 0.01643% per hari atau 6% per tahun?

      Like

  10. Selamat malam pak,
    saya ingin bertanya. kebetulan sekarang saya sedang melakukan skripsi tentang analisa pengukuran kinerja performa suatu reksadana. metode yang saya gunakan ada treynor dan sharpe. saya sedang mencari 1 metode lagi, tapi apakah ada metode selain Jensen, VAR, Roy’s Safety, dan Sortino? Karena saya tidak diperbolehkan menggunakan metode-metode yang barusan saya sebut itu. saya juga search di internet belum ditemukan, mungkin saya kurang dalam lagi mencarinya, tapi apakah bapak tahu metode lainnya itu?

    terima kasih

    Like

  11. Selamat pagi pak..
    Saya mau tanya, kalau untuk metode Sharpe, Risk Free Rate itu perlu dicari returnnya dulu atau tidak? Jadi dari suku bunga SBI dicari return nya dulu, lalu hasilnya dimasukkan ke dalam rumus Sharpe? Atau suku bunga SBI langsung dimasukkan ke dalam rumus Sharpe?

    Terima kasih…

    Like

  12. Misal, mencari Return RFR bln Maret : (suku bunga SBI bln Maret – suku bunga SBI bln Februari) / suku bunga SBI bln Februari

    Cara itu sama dengan perhitungan mencari Return pasar, Apakah bisa pak?

    Terima kasih…

    Like

  13. Memang agak aneh pak…

    Kalau mau mencari rata-rata RFR itu kan jumlah suku bunga SBI dibagi periode. Periodenya itu sesuai dengan tenor suku bunga SBI yang diambil atau bukan pak? Misalnya digunakan suku bunga SBI 9 bln, maka untuk mencari rata-ratanya dibagi 273?
    Lalu ketika akan dicari rata-ratanya itu tetap dalam bentuk persentase atau tidak?

    Mohon penjelasannya pak…

    Terima Kasih…

    Like

  14. Dh. Pak Rudi

    bagaimana cara menghitung bunga efektif bila diketahui :
    kredit tanpa anggunan dengan bunga flat sebesar 1,5% per bulan selama 3 tahun setara dengan kredit bunga efektif berapa…??

    Like

  15. @Edy Fatman
    Salam Pak Edy,

    Misalkan pinjam Rp 10 juta. Bunga flat 1.5% flat selama 3 tahun.
    Jadi perhitungannya
    Bunga = 1.5% x 36 x Rp 10 juta = Rp 5.400.000
    Pokok = Rp 10 juta
    Bunga + Pokok = Rp 15.400.000
    Cicilan = Rp 15.400.000 / 36 = Rp 427.778

    Kalau dimasukkan dalam rumus time value of money angka itu setara bunga efektif 2.55% per bulan atau 35.27% per tahun.

    Kalau mau gampang, bunga bulanan flat x 2 x 12 = kira2 bunga efektif tahunan

    Semoga bermanfaat

    Like

  16. Dh. Pak Rudi

    kemarin hari Rabu t.16.04.2014 ada staff dari bank menawar produk Reksadana equity, bagaimana mengukur kelayakan reksadana layak atau tidaknya kita masuk ke reksadana tersebut

    regards.
    edy fatman

    Like

  17. @Rudiyanto
    Ikut menyambung tentang model Henriksson Merton dan Treynor Mazuy. Dari kedua model ini bagaimana kita bisa menentukan indikator lebih baik/tidak? apakah semakin besar semakin bagus kemampuan manajer investasinya atau sebaliknya?

    thx.

    Like

  18. @Amal
    Salam Amal,

    Apakah sudah membaca dasar teori dari kedua metode tersebut? Dan kalau sudah, apakah sudah membandingkan hasil penelitian menggunakan metode2 di atas. Manakah yang paling baik menurut anda?

    Like

  19. Dear Pak Rudy,

    Mengenai Beta, saya lihat reksadana saham Millenium Equity in termasuk nyeleneh dengan beta 0.55. Kalau dilihat pergerakan NAB/UP nya memang kadang berkebalikan dengan IHSG, saat IHSG sedang turun dia malah naik. Kalau dilihat returnnya selama 1-3 tahun ini baik dan konsisten sekitar 20%.
    Pertanyaan saya, bagaimana strategi MI sehingga beta bisa tidak sejalan dengan IHSG? apakah dengan perputaran portofolia yang aktif.
    Adakah kekurangan reksadana saham yang betanya kecil?

    Terima kasih.

    Like

  20. @Chandra
    Salam Chandra,

    Pendapat saya tentang konsep Beta adalah sebagai berikut http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/04/17/mengenal-kelemahan-konsep-beta-dalam-investasi/

    Pada dasarnya return reksa dana itu diperoleh dengan cara penyusunan portofolio dan market timing. Dan pada kebanyakan riset, penyusunan portofolio itulah yang menentukan sebagian besar dari kinerja suatu reksa dana. Kalau portofolio terdiri dari saham2 yang betanya kecil, otomatis beta reksa dana saham juga akan kecil dan sebaliknya.

    Perputaran portofolio itu kurang lebih sama dengan market timing yaitu jual beli dilakukan secara sering. Semakin aktif perputaran, maka secara teori beta juga akan semakin besar.

    Mengenai kekurangan dan kelebihan, itu relatif tergantung tingkat return yang diberikan. Kalau beta kecil tapi return besar mengapa tidak? Namun sesuai dengan referensi artikel yang saya berikan di atas, beta itu tidak konsisten.

    Mengenai kinerja konsisten yang anda maksud, saran saya coba kamu lihat dengan lebih teliti lagi return per tahun selama beberapa tahun terakhir termasuk kinerja YTD tahun ini.

    Semoga bermanfaat. Terima kasih.

    Like

  21. Dear Pak Rudi,

    Saya sangat berterima kasih sebelumnya atas artikel yang bapak muat, kebetulan saya sedang menyusun tugas skripsi dengan tema besar evaluasi kinerja RD saham mnggunakan sharpe, treynor & jensen periode 2009-2013 (5 tahun). salah satu rumusan saya adalah melakukan analisis komparatif dari hasil RD yang saya peringkatkan setelah saya evaluasi menggunakan masing2 metode, saya komparasikan dengan peringkat RD terbaik versi majalah investor 2014…

    daftar RD terbaik versi investor yang saya gunakan sebagai pembanding adalah RD saham terbaik periode 5 tahunan. apakah penelitian ini memungkinkan dilakukan pak?

    tujuan akhirnya adalah saya ingin melihat signifikansi perbedaan antara peringkat RD versi Sharpe vs versi Investor, peringkat RD versi Treynor vs versi Investor dan peringkat RD versi Jensen vs versi Investor…

    saya sudah menjalani sidang proposal dan diterima, dalam pengolahan data, saya mendapati kesulitan pada saat menghitung BETA…. metode beta yg mana ya pak yang paling relevan yang saya gunakan? sementara ini saya mengunduh data Beta portfolio tiap RD dari web bloomberg… tapi pembimbing saya meminta saya untuk mencantumkan salah satu ilustrasi penghitungan Beta secara manual… mohon bantuannya pak Rudi…

    Like

  22. @Andri
    Salam Andri,

    Kalau proposal tersebut sudah diterima, tentu dimungkinkan utk dilakukan.

    Kalau boleh tahu, memangnya ada berapa versi perhitungan beta yang kamu ketahui?

    Like

  23. Beragam Pak Rudi,

    beberapa yang saya baca meliputi: Beta Pasar, Beta Akuntansi, Beta Fundamental dan Beta Portofolio. Dari keempat model tersebut, menurut saya yang paling relevan untuk penelitian saya adalah beta portofolio. namun dalam operasi perhitungannya jujur saya sedikit mendapat kesulitan…

    mohon dibantu pak kiranya bapak memiliki ilustrasi perhitungan beta portofolio Reksa Dana tertentu.

    kesulitan saya:
    1. menentukan bobot proporsi sekuritas.
    2. menentukan data historis dalam menghitung beta sekuritas (apakah perhitungannya adalah menggunakan model beta pasar?) kemudian data return historis idealnya diambil berapa banyak pak? kemudian data bulanan/harian/mingguan?

    kemudian pak, terkait dengan analisis komparatif antara peringkat RD metode sharpe vs peringkat RD metode jensen apakah dinilai “apple to apple”??

    kemudian salah satu koreksi pada sidang proposal penelitian saya adalah mengenai kejelasan metode evaluasi yang digunakan Majalah Investor (dalam hal ini infovesta), saya cari2 dari berbagai sumber pak, tapi tidak mendapati metode perhitungan mereka secara utuh, ada yang menyatakan metode pengukurannya adalah Risk adjusted Return (Return dibagi Deviasi) dan pertumbuhan UP. tapi saya bingung bobot dari kedua item itu.

    terus juga ada yang memaparkan, perhitungannya menggunakan modified sharpe ratio… mohon dibantu pak kiranya Pak Rudi tahu metode yg digunakan infovesta dalam membuat rangking RD terbaik.

    Like

  24. @Andri
    Salam Andri,

    Beta-beta yang kamu sebutkan tersebut apakah sudah kamu baca dengan detail definisi dan cara perhitungannya? Dan kalau kamu sudah memutuskan untuk menggunakan beta portofolio, bukankah sudah ada referensi yang bisa kamu gunakan?

    Perhitungan beta bisa dapat dengan mudah dicari di berbagai buku investasi, keuangan dan statistik. Baik itu beta yang dihitung dengan data historis ataupun beta yang dihitung dengan cara data portofolio. Anda hanya perlu usaha yang lebih keras untuk mencarinya.

    Artikel tentang beta sudah pernah saya ulas di http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/04/17/mengenal-kelemahan-konsep-beta-dalam-investasi/

    Mengenai analisa komparatif, boleh tahu apa definisi apple to apple menurut skripsi anda?

    Mengenai perhitungan di Majalah Investor, dalam setiap edisi pemeringkatan biasanya selalu ada artikel yang menjelaskan tentang cara pemeringkatan tersebut. Coba dibaca dengan lebih teliti lagi semua artikel dalam edisi tersebut, termasuk penjelasan Modified Sharpe Ratio. Atau anda bisa langsung menanyakannya ke Infovesta.

    Silakan berusaha lebih keras lagi dan semoga skripsinya berhasil. Terima kasih.

    Like

  25. Pak Rudi, saya lagi melakukan penelitian Reksa dana Syariah dan Konvensional, mau tanya:

    1. Cari Risk Free baik Konvensional maupun Syariah thn 2009,2010,2011,2012,2013, gimana yah caranya?

    2. Cari Return Marketnya, Index LQ45 dan Index JII?
    3. kalau beli data, kemana yah?

    terimakasih ya pak

    Like

  26. @isur
    Salam Isur,

    1. Instrumen yang kamu jadikan sebagai Risk Free itu apa?
    2. Sudah coba Yahoo Finance?
    3. Kedua data yang kamu butuhkan di atas bisa diperoleh dengan sedikit doa dan banyak usaha. Jadi coba dicari dulu.

    Terima kasih.

    Like

  27. @Rudiyanto
    saya sedang menghitung kinerja reksadana dengan metode Sharpe, treynor dan jensen, kan dirumus metode ini, ada Risk free, dan return marketnya

    kemudian saya sudah masuk dan mencoba ke Yahoo Finance, cuma yang keluar hanya tahun 2013 sd 2014

    Like

  28. @Rudiyanto
    nah itu dia, pak,,, saya sedang belajar menghitung kinerja, sambil melakukan penelitian sambil mempelajari reksa dana, jadi sepertinya bukan kurang teliti pak (he membela) tapi ketidak tahuan

    Like

    1. Kalau tidak mengerti perhitungan dan tidak menemukan data itu 2 hal yg berbeda. Kalau tidak bisa menemukan data historis di Yahoo Finance itu sudah pasti soal ketelitian.

      Like

  29. pak saya mengambil skripsi dengan judul perancangan model resiko investasi portofolio reksa dana dengan metode varians sbg alat pengambilan keputusan investor. menurut bapak jurnal yang berisi tentang hal itu biasanya didapat darimana ya pak? tolong pak penjelasannya.

    Like

  30. Siang pak, saya mau tanya. Saya sedang mengerjakan penelitian analisa reksadana dengan 3 metode, Sharpe, Treynor, dan M2. Disini kan saya membandingkan benchmark (IHSG) dengan metode dan reksadana dengan metode. untuk sharpe dan treynor saya tidak masalah. Cuma di M2 saya agak bingung. Rumus M2 untuk reksadana kalau dijabarkan kurang lebih seperti ini:

    Average BI Rate + (Average Reksadana – Average BI Rate / Standev Reksadana) x Standev IHSG

    tapi bagaimana jika metode ini dimasukan untuk benchmark? apa rumusnya akan seperti ini?

    Average BI Rate + (Average IHSG – Average BI Rate / Standev IHSG) x Standev IHSG ?

    Beberapa rekan saya, M2 tidak dibandingkan dengan IHSG. tapi ini masih nyangkut di pikiran saya. Mohon sarannya pak. Terima kasih

    Like

  31. @Rudiyanto
    Pagi pak,

    maaf koreksi.

    maksud saya:

    Average BI Rate + ((Average Reksadana – Average BI Rate) / Standev Reksadana) x Standev IHSG

    maksud saya, jika metode itu dimasukan ke benchmark, apa betul rumusnya jadi

    Average BI Rate + ((Average IHSG – Average BI Rate) / Standev IHSG) x Standev IHSG ?

    Like

  32. selamat pagi pak rudy
    dalam, pngerjaan TA sya, saya terkendala dalam mendapatkan standar deviasi. bisakah bpk jelaskan secara detail bagiamana cara mendapatkan standar deviasi untuk menganalisa kinerja reksadana. terimakasih pak

    Like

  33. @dananag
    Selamat Pagi juga,

    Kalau penjelasan saya adalah sebaiknya kamu membaca secara detail buku Manajemen Keuangan, Manajemen Investasi, Statistik dan atau Peramalan Bisnis anda karena dalam buku tersebut biasanya dijelaskan secara detail perhitungan standar deviasi.

    Semoga bermanfaat.

    Like

  34. @dananag

    saya mau coba bantu

    CMIIW
    saya juga sedang bikin TA ttg reksadana, di excel, saya bikin kolom tanggal, NAV, dan daily return

    NAV & Daily return biasanya ada di kontan. NAV dicatat jg kalo mau itung daily return secara manual. penghitungan standard deviation di excel adalah:

    =stedev(daily return paling awal : daily return di akhir periode)

    Like

  35. @rudiyanto
    terimakasih pak atas masukannya

    @Geraldi
    sangat membantu sekali mas, terimakasih.
    mas bisa disertai dengan contoh gak? untuk memastikan pencarian di excel benar. sya hanya terkendala di SD. kalau bisa mas, bisa dikirim via email saya danang_fahreza@yahoo.com
    mohon bantuannya mas

    Like

  36. malam pak..
    saya mau tanya apakah value at risk pendekatan variance covariance bisa digunakan untuk saham individual, di google banyaknya untuk portofolio..
    mohon bantuannya pak rudy 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s