Mengenal Metode Evaluasi Kinerja Reksa Dana

Evaluasi terhadap kinerja merupakan salah satu hal penting yang harus diperhatikan dalam memilih jenis reksa dana yang menjadi tujuan investasi. Oleh karena itu, sebelum memilih berinvestasi pada reksa dana sebaiknya investor melakukan penilaian terhadap kinerja yang ingin dimilikinya. Namun bagaimana cara melakukan evaluasi terhadap kinerja reksa dana? apakah cukup hanya dengan return? Jika tidak, indikator apa yang harus digunakan oleh investor? Bagaimana pula cara untuk mengetahui baik buruknya kinerja tersebut?

Dalam buku dan literatur investasi, reksa dana adalah sekumpulan dari portofolio. Oleh karena itu, pengukuran kinerja reksa dana dikenal juga dengan istilah Evaluation of Portfolio Performance.

Metode evaluasi kinerja portofolio secara khusus hanya mengukur risk and return dari portofolio investasi (reksa dana) yang bersangkutan. Meski menurut kami cara ini belum komplit, namun memang bobot terbesar dalam penilaian kinerja reksa dana harus memperhatikan faktor ini.

Beberapa metode yang sering digunakan dalam evaluasi kinerja reksa dana antara lain:

  1. Risk Adjusted Return
  2. Sharpe Ratio (Reward to Variability Ratio [RVAR])
  3. Treynor Ratio (Reward to Volatility Ratio [RVOL])
  4. Capital Asset Pricing Model
    • Pendekatan Securities Market Line (SML)
    • Pendekatan Capital Market Line (CML)

Dimana formula untuk melakukan perhitungan di atas adalah sebagai berikut:

Untuk kepentingan pengukuran kinerja masa lalu, maka tingkat return yang dipergunakan adalah menggunakan rata-rata return geometrik. Dalam kasus pengukuran kinerja dengan pendekatan CAPM yang dimaksud dengan expected return bukanlah return pada masa mendatang, akan tetapi merupakan tingkat return yang seharusnya terjadi berdasarkan tingkat risiko di masa lalu.

Supaya lebih memudahkan contoh perhitungan dan hasil interprestasi dengan menggunakan Indeks Reksa Dana Saham, Campuran, Pendapatan Tetap dan IHSG sebagai indikator Pasar dengan menggunakan data 5 tahun terakhir (2005 – 2010). Sumber data indeks dapat anda download secara gratis pada bagian ini di www.infovesta.com dengan mengklik tombol grafik yang ada pada sebelah kanan.

Hasil perhitungan secara sederhana karena untuk kepentingan ilustratif berikut dengan interprestasinya adalah sebagai berikut:

  1. Rata-rata return tahunan geometrik adalah rata-rata return dari keempat indikator di atas selama 5 tahun terakhir setelah memperhitungkan faktor bunga berbunga. Pengukuran return dilakukan dengan menggunakan metode rata-rata return geometrik. Hasil diatas menunjukkan IHSG sebagai market merupakan instrumen dengan kinerja paling baik yang diikuti dengan rata-rata Reksa Dana Saham, Campuran dan kemudian reksa dana pendapatan tetap
  2. Standar Deviasi (Risiko), dalam definisi statistik adalah simpangan baku dari rata-rata. Dalam definisi keuangan, standar deviasi merupakan suatu angka yang merncerminkan total risiko dari suatu portofolio investasi. Yang dimaksud dengan total risiko adalah risiko sistematis dan risiko tidak sistematis. Semakin besar angka tersebut semakin besar pula risiko yang berarti semakin besar fluktuasi harga suatu reksa dana.
  3. Beta dalam definisi keuangan, adalah menunjukkan “hanya” risiko sistematis dari suatu portofolio investasi. Meski hanya mewakili sebagian dari risiko reksa dana, indikator ini lebih investor friendly karena lebih mudah diterjemahkan. Misalnya Infovesta Equity Fund Index memiliki beta 1.0259. Maka ketika IHSG bergerak naik 1% maka diperkirakan indeks tersebut akan bergerak naik sebesar 1.0259% dan sebaliknya. Jika suatu reksa dana memiliki beta lebih kecil dari satu maka pengaruh fluktuasi harga IHSG terhadap harga reksa dana tersebut juga semakin kecil. Secara umum interprestasinya sama dengan total risiko.
  4. Risk Free Rate yang dipergunakan adalah SBI 9 bulan terakhir. Penggunaan ini bersifat opsional, ada pula yang menggunakan Yield Obligasi 5 atau 10 tahun sebagai indikator Risk Free.
  5. Risk Adjusted Return (RAR) sebesar 0.9601 pada IHSG dapat diinterprestasikan atas 1% risiko yang ditanggung, maka IHSG memberikan return 0,9601%. Semakin besar RAR, maka semakin baik pula kinerja suatu reksa dana karena memberikan return yang tinggi atas risiko yang ditanggungnya.
  6. Sharpe Ratio sebesar 2,6935 pada Infovesta Fixed Income Fund Index dapat diinterprestasikan atas 1% risiko yang ditanggung, maka rata-rata reksa dana pendapatan tetap memberikan excess return sebesar 2,6935%. Yang dimaksud dengan Excess return yaitu selisih return reksa dana dengan Risk Free. Dasar pemikirannya, selain return positif, return reksa dana juga seharusnya di atas tingkat return instrumen bebas risiko. Interprestasi baik buruknya sharpe ratio sama dengan RAR.
  7. Treynor ratio sebesar 0.1630 pada Infovesta Balanced Fund Index, dapat diinterprestasikan bahwa atas 1% risiko sistematis yang ditanggung, reksa dana memberikan excess return sebesar 0.1630%. Selanjutnya baik buruknya interprestasi sama dengan Sharpe Ratio dan RAR, perbedaan hanya pada risiko yang digunakan.
  8. Capital Asset Pricing Model (CAPM) dengan pendekatan Securties Market Line (SML) adalah pengukuran berapa “Pantasnya” return reksa dana berdasarkan risiko sistematisnya.
    1. Expected Return sebesar 26,58% pada Infovesta Equity Fund Index menunjukkan bahwa dengan risiko sistematis (beta) sebesar 1.0259, Risk Free 6,75% dan Return Market (IHSG) sebesar 26.08%, maka sepantasnya rata-rata reksa dana saham harus membukukan return 26,58%
    2. Actual Return adalah hasil aktual dari return selama 5 tahun terakhir yakni sebesar 21,61%
    3. Alpha adalah selisih antara Return Actual dengan Expected Return (Return yang diharapkan). Angka -4,96% menunjukkan performa Infovesta Equity Fund Index 4,96% lebih rendah dari yang diharapkan (underperform)
  9. Capital Asset Pricing Model (CAPM) dengan pendekatan Capital Market Line (CML) adalah pengukuran berapa “Pantasnya” return reksa dana berdasarkan risiko Totalnya.
    1. Expected Return sebesar 26,58% pada Infovesta Fixed Income Fund Index menunjukkan bahwa dengan risiko total (standar deviasi) sebesar 4.07%, Risk Free 6,75%, Return Market (IHSG) sebesar 26.08% dan risiko totalnya sebesar 27,16%, maka sepantasnya rata-rata reksa dana pendapatan tetap harus membukukan return 9,65%%
    2. Actual Return adalah hasil aktual dari return selama 5 tahun terakhir yakni sebesar 10,97%
    3. Alpha adalah selisih antara Return Actual dengan Expected Return (Return yang diharapkan). Angka 1,32% menunjukkan performa Infovesta Fixed Income Fund Index 1,32% lebih tinggi dari yang diharapkan (outperform)

Dalam melakukan evaluasi terhadap kinerja reksa dana, seluruh perhitungan dilakukan dengan cara membandingkan antara kinerja reksa dana yang satu dengan reksa dana yang lain. Jadi, investor harus memilih 1 rasio yang ingin dipergunakan sebagai dasar pemilihan kinerja, selanjutnya dihitung rasio tersebut untuk sekelompok reksa dana dengan menggunakan data yang sama panjang. Selanjutnya rasio tersebut diperingkat, reksa dana dengan rasio yang paling tinggi berarti reksa dana tersebut berdasarkan metode yang digunakan merupakan reksa dana yang paling baik kinerjanya.

Beberapa hal yang harus diperhatikan investor adalah bahwa pengukuran kinerja tersebut hanya melihat dari sisi risk and return. Kewajaran isi portofolio, faktor besar kecilnya jumlah dana kelolaan, layanan dan transparansi informasi merupakan indikator yang tidak kalah penting dan tidak tercermin secara langsung dari pergerakan harga reksa dana.

Demikian semoga artikel ini bermanfaat dan menjadi referensi bagi anda yang ingin melakukan penelitian di reksa dana.

Penyebutan produk investasi  (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, ataupun rekomendasi jual beli atau tahan untuk instrumen tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa lalu tidak akan selalu terulang pada masa mendatang.

Keterangan IHSG (Market) Infovesta Balanced Fund Index Infovesta Fixed Income Fund Index Infovesta Equity Fund Index
Rata-rata Return Tahunan Geometrik 26.08% 16.24% 10.97% 21.61%
Standar Deviasi (Risiko) 27.16% 16.76% 4.07% 28.40%
Beta 1.0000 0.5821 0.0527 1.0259
Risk Free Rate (SBI 9 bulan) 6.75% 6.75% 6.75% 6.75%
Risk Adjusted Return (RAR) 0.9601 0.9688 2.6935 0.7609
Sharpe Ratio (RVAR) 0.7116 0.5661 1.0364 0.5232
Treynor Ratio (RVOL) 0.2013 0.0980 0.0157 0.1953
CAPM – Pendekatan SML
Expected Return 26.08% 18.00% 7.77% 26.58%
Actual Return 26.08% 16.24% 10.97% 21.61%
Alpha SML 0.00% 1.76% -3.20% 4.96%
CAPM – Pendekatan CML
Expected Return 26.08% 18.68% 9.65% 26.96%
Actual Return 26.08% 16.24% 10.97% 21.61%
Alpha CML 0.00% 2.44% -1.32% 5.35%
Advertisements

200 thoughts on “Mengenal Metode Evaluasi Kinerja Reksa Dana

  1. @haren
    Malam Haren,

    Variance Covariance, Monte Carlo Simulation, dan berbagai hal lainnya adalah rumus. Sepanjang komponen2 yang tersedia dalam rumus tersebut ada, maka perhitungan bisa dilakukan. Yang penting adalah bagaimana kamu melakukan justifikasi atas indikator yang kamu gunakan (dalam hal ini harga saham secara individual) kepada dosen pembimbing dan dosen penguji kamu.

    Semoga berhasil dengan justifikasinya.

    Like

  2. pak, saya mau tanya ni pak, saham yang sesuai untuk tipe investor moderat itu saham yang nilai betanya kisaran berapa ya pak kalau pendekatanya dengan melihat nilai beta? terimakasih

    Like

  3. Pak saya ingin bertanya, bagaimana cara menghitung daily return suatu reksadana? Saya sudah mencoba menghitung sesuai rumus akan tetapi hasil nya tetap decimal walaupun sudah memakai percentage.. trima kasih

    Like

  4. Perhitungan daily return saya tidak sebesar bapak punya, mohon pencerahan pak.. sehabis itu bagaimana menentukan SBI rate pak? Saya sedang menghitung kinerja reksadana saham dr 1 nov 2011 – 31 oct 2014, karena hasil daily return saya cuma decimal mengakibatkan minus karena dikurangin RFR dan dibagi standard deviasi pa, mohon bantuan 🙂

    Like

  5. @ivan
    Salam Ivan,

    Data di atas menggunakan data tahunan. Tentu beda kalau pakai harian.

    Mengenai SBI Rate ya cari di sumber SBI Rate ini diumumkan.

    Saran saya, anda bisa baca kembali buku referensi seperti buku manajemen investasi dan keuangan yang membahas topik tersebut.

    Semoga bermanfaat.

    Like

  6. Selamat siang

    Saya mau tanya terkait dengan metode Sharpe dan Modigliani Risk-Adjusted Performance (M2). Menurut pengetahuan saya, karena Treynor berdasarkan Beta, maka seperti melihat seberapa sensitif terhadap pasar (beta = 1, atau lebih besar dari 1, atau lebih kecil dari 1)

    kalau Sharpe kurang lebih seperti melihat penyimpangan dari market berdasarkan standard deviation, nah kalau M2 itu kan rumus modifikasi dari Sharpe, yang diakhir rumus dikalikan dengan standard deviation market lagi. Tujuannya untuk apa ya?

    Terima kasih pak

    Like

  7. @Geraldi
    Selamat Malam Geraldi,

    Pada berbagai literatur yang ada di internet, disebutkan bahwa tujuannya hanya supaya angka sharpe ratio bisa dinyatakan dalam persentase sehingga lebih mudah dipahami investor awam.

    Silakan baca2 buku teori yang jadi acuan anda.

    Semoga bermanfaat.

    Like

  8. Selamat pagi, Pak Rudi.
    Saya ingin menanyakan apakah penggunaan metode CAPM dalam menganalisis risk and return saham terbukti secara empiris?
    Jika terbukti secara empiris alasannya apa?
    Jika tidak, metode apa yang recommended untuk digunakan dalam menganalisis risk return saham?

    Like

  9. Maksudnya seperti ini Pak Rudi, ketika kita akan melakukan investasi dengan menganalisis risk and return menggunakan metode CAPM, apakah hasil pengujian itu bisa kita jadikan pedoman sebagai keputusan investasi?
    Akurat atau tidak?
    Karena pada penelitian-penelitian sebelumnya banyak pro dan kontra.
    Mohon sarannya ya, Pak.
    Terima kasih.

    Like

  10. Selamat malam pak. Saya sedang mengerjakan pembentukan portofolio. kebetulan perlu menghitung excess return (return ekspektasi – Risk free rate). return ekspektasi penelitian saya dihitung secara bulanan. Kalo begitu untuk mengetahui risk free rate (BI rate) nya saya hanya perlu bagi 12 ya pak? apakah benar begitu pak? terimakasih banyak.

    Like

  11. @kamidya
    Salam Kamidya,

    Berbagai metode analisis, Risk and Return, CAPM, dan berbagai metode lainnya adalah metode untuk menganalisis kinerja MASA LALU. Nah, apakah kinerja masa lalu akan terulang di masa depan?

    Itu bisa anda bayangkan begini, anda adalah seorang HRD suatu perusahaan yang sedang interview anak baru. Ada 2 kandidat, yang satu IPK 4.00 dan satu lagi IPK 2.00. Kira2 yang mana yang akan anda terima? Apakah yang IPKnya tinggi atau yang rendah? Apakah ada jaminan kalau IPK tinggi kinerja pasti bagus? Jika tidak, apakah kamu lebih memilih orang yang bekerja keras selama kuliah sehingga bisa mendapatkan IPK 4 atau orang yang leha-leha selama kuliah sehingga IPK 2.00 tapi tetap anda terima karena terinsipirasi Bill Gates dan Menteri Susi, yang Kuliahnya saja tidak tamat bahkan pendidikannya hanya SMA?

    Kamu sendiri yang pro atau kontra?

    Like

  12. @Dhea
    Salam Dhea,

    Kalau misalkan anda datang ke bank mau deposito. Nilai uangnya Rp 10 juta. Sama petugasnya dibilang bunga deposito 6%. Nah setelah 1 bulan uang anda jadi berapa?

    Like

  13. Bapak saya mau bertanya, saya melakukan penelitian dari tahun 2010 sampai dengan 2014. saya butuh sbi rate bulanan. untuk tahun 2011 sampai dengan 2014 saya pakai tenor 9 bulan (karena hanya itu yg tersedia). Nah, untuk tahun 2010, bagaimana ya pak? soalnya bulan januari sd Juli 2010, tenor 9 bulan belum ada? saya jadi bingung untuk menghitung rata-rata rate tahunnya.

    pertanyaan kedua, saya ingin memastikan saja. sbi rate itu sudah tahunan yah pak? baik untuk tenor 1 bulan maupun 9 bulan? begitu?
    terimakasih banyak atas bantuannya 🙂

    Like

  14. @kevin
    Salam Kevin,

    Setahu saya tenor SBI memang sempat dipanjangkan dari 1, 3 dan 6 bulan menjadi 9 bulan beberapa tahun yang lalu. Tapi saya tidak begitu ingat lagi apa alasannya waktu itu.

    Untuk datanya kenapa tidak menggunakan BI Rate saja?

    Mengenai tenor 9 bulan itu, saran saya kamu coba datang ke counter bank. Trus kamu tanya, apa artinya tenor 1, 3, 6 dan 9 bulan yang dipasang di atas beserta persentase yang ada pada papan hitam bunga deposito bank tersebut.

    Semoga bermanfaat

    Like

  15. assalamualaikum..slmt pgi pak.sy ingin brtanya..kan rumus untuk mngetahui kinerja manajer investasi >> Rerur pprtofolio-Return free risk = a + b1 (Return market-Return free risk) + b2 (return market-return free risk) Dummy + eror..
    nah itu variabel dummy kan bernilai 1 jika R porto > R free..dan 0 jika R porto<return free…
    yg sy tanyakan,berarti untuk mndapat B2 sy harua mengalikan dahulu dg variabel dummy..atau vriabel dummy trsebut bisa sy masukkan langsung ke Spss pak?

    Like

  16. sy bingung pak hasil pembahasan skripsi,sy pakai cara langsung memasukkan variabel dummy ke spss.. bukan mengalikan variabel dummy dg (R.porto-R.free).. yg benar bgmna pak..mohon bantuannya pak..

    Like

  17. @fitrining astutik
    Selamat Siang Ibu Astutik,

    Kalau feeling saya, rumus kamu masih belum 100% benar. Coba cari yang benar dulu rumusnya seperti apa. Silakan baca buku panduan atau cari referensi paper dengan baik.

    Terima kasih

    Like

  18. oh iya pak..sy salah . seharusnya Variabel Dummy adalah bernilai 1 jika Rm>Rfr dan bernilai 0 jika Rm<Rfr..
    nah selanjutnya bgmna pak? apakah langsung memasukkan nilai 1 dan 0 dalam Spss atau nilai 1 dan 0 dikalikan lbh dlu dg selisih (Rm-Rf) ?

    Like

  19. malam pak

    saya mau naya pak
    keunggulan metode Shapre, Treynor, dan M2 dalam pengukuran kinrja reksa dana saham dibandingkan dengan metode ang lain itu apa ya pak
    soalnya saya lagi ngerjain skripsi dan belum dapat untuk menjawab alasan itu pak

    terima kasih pak, mohon bantuanya

    Like

  20. @Asmawi
    Malam Asmawi,

    Coba kamu bandingkan hasil pengukuran antara metode yang kamu sebutkan di atas dengan “metode yang lain” kemudian lihat mana yang hasilnya lebih masuk akal. Dengan demikian, kamu bisa mengetahui keunggulannya. Alternatif lain, kamu bisa membaca dasar teori metode-metode tersebut dibuat.

    Semoga bermanfaat.

    Like

  21. pagi pagi rudiyanto

    saya mau tanya pak rudi. kalo rata-rata return reksa dana perbulannya 1,84% dan rata-rata rate bi sebagai risk free rate of return perbulannya sebesar 7%. hasil risk premium-nya menjadi -5,26%. apakah -5,26% itu baik atau buruk pak? dan kalo mengitung SML jadi alpha hasilnya minus karena risk free rate nya lebih besar dari pada rata-rata return reksa dana apkah berarti performanya jelek?

    Like

  22. @adi
    Malam Pak Adi,

    Pertanyaan saya, misalkan kamu punya uang Rp 1 juta.
    BI Rate 7%. Kamu simpan selama 1 bulan. Bulan berikutnya uang kamu jadi berapa?

    Like

  23. hai pak adi

    sedikit membantu meluruskan
    BI rate sebesar 7% itu pertahun, bukan perbulan seperti pak adi sebutkan diatas, terimakasih

    jabat erat

    Like

  24. selamat sore

    jadi Rp 1.005.833 pak rudiyanto ?
    saya kira bi rate tersebut perbulan karena di keluarkan setiap bulannya.
    terima kasih

    Like

  25. Selamat malam pak Rudiyanto, saya ingin tanya tentang beta yang ada di reksa dana..
    Setahu saya, diversifikasi itu bukankah tujuannya untuk mengurangi risiko ya? Mengurangi risiko kan berarti seharusnya betanya di bawah 1..? Benar nggak ya pemahaman saya ini?

    Akan tetapi, tadi saya mencoba mencari tahu nilai beta untuk setiap reksa dana yang dana kelolanya besar (dengan regresi sederhana), kenapa kok semua nilai betanya di atas 1 ya?
    Saya sempat baca juga di internet, kalau beta di atas 1 berarti memiliki potensi untuk memberikan return yang lebih tinggi dibandingkan pasar. Nah kok kebalikan sama pemahaman yang saya miliki saat ini..

    Berarti yang bagus itu betanya di atas 1 atau yang di bawah 1 ya pak?
    Dengan beta di atas 1, apakah berarti reksa dana tersebut tidak berhasil didiversifikasi (karena betanya meningkat) dan juga menambah risiko?

    Salam.. Terima kasih bapak, semoga bapak berkenan menjawab pertanyaan saya..! 🙂

    Like

  26. @Nico
    Selamat Malam Nico,

    Diversifikasi memang bertujuan mengurangi risiko. Mengurangi berarti dulunya A sekarang lebih kecil dari A. Akan tetapi tidak disebutkan kalau diversifikasi itu berarti beta di bawah 1. Sebab jika memang anda mencari beta di bawah 1 langsung saja beli reksa dana yang betanya di bawah 1, mengapa harus melakukan diversifikasi?

    Kalau cara menghitung kamu sudah benar, berarti dalam periode yang kamu ukur memang beta reksa dana saham lebih besar dari 1. Trus apa masalahnya?

    Beta sendiri adalah koefisien regresi, jika pasarnya positif dan beta lebih besar dari 1, maka secara statistik kenaikan harga reksa dana bisa lebih besar dari pasar. Tapi bagaimana jika pasarnya negatif? Silakan anda cari tahu di buku statistik.

    Melihat reksa dana hanya dari beta saja itu ibaratnya kamu hanya melihat risiko tapi mengabaikan return. Keduanya harus dilihat sekaligus, tidak bisa hanya satu sisi saja.

    Kalau beta di atas 1, ya artinya reksa dana tersebut risikonya lebih tinggi dibandingkan pasar. Tidak bisa disebut dia berhasil atau gagal karena kamu juga harus melihat returnnya juga.

    Mengenai beta, saya sendiri pernah membahasnya di bawah ini
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/04/17/mengenal-kelemahan-konsep-beta-dalam-investasi/

    Mengenai diversifikasi juga pernah saya bahas di
    http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/05/20/berapa-jumlah-kepemilikan-reksa-dana-saham-yang-ideal/

    Semoga bermanfaat.

    Like

  27. Bapak saya mau bertanya .cara mencari bobot capm bagaimana ? Dan penjabarannya gimana ya pak .mohon bantuannya bapak .terimakasih .

    Like

  28. @wulan
    Selamat Sore Ibu Wulan,

    Metode mengenai bobot CAPM bisa ditemukan dalam buku tentang investasi ataupun riset yang membahas metode tersebut. Silakan mencari lebih dalam dari sumber2 yang anda punya.

    Terima kasih

    Like

  29. Selamat pagi Bapak

    Perkenalkan saya dewi MHS disemster 6 Ingin bertanya diskripsi saya akan menganalisis kinerja reksa Dana saham yang ada di Bursa Efek Indonesia (jakarta) periode 2013-2015 Indonesia menggunakan Metode-Metode yang Bapak sebutkan diatas.(treynor,Sharpe,Jensen,dan CML)

    Sblum saya melakukan analysis data-data APA saja yang Saya butuhkan dan ajukan ke BEI?
    Bagaimana cara perhitungan dengan Metode tersebut atau adakah software yang dapat membantu dalam perhitungan? Jika ada mohon rekomendasinya.

    Terimkasih .

    Like

  30. @Dewi
    Selamat malam Ibu Dewi,

    Kalau data apa saja yang dibutuhkan masih belum tahu padahal metode yang mau digunakan sudah dipilih, saran saya anda mengganti judul skripsi anda dengan data dan metode yang kamu ketahui sumbernya.

    Mengenai cara perhitungan anda bisa membaca buku yang membahas tentang manajemen keuangan dan manajemen investasi. Tapi kembali lagi, kalau tidak ketemu juga, rekomendasi saya segera ganti judul.

    Semoga bermanfaat.

    Like

  31. @Ria
    perkenalkan mbak ria nama saya cana mahsiswi UB dan sedang mengerjakan skripsi yang persis dengan mbak. Masih bingung juga soal return dan risk free. karena jika saya menghitung rata2 return per bulan yang dikurangio dengan rata-rata return risk free perbulan juga semua sampel saya uaitu 41 reksadana saham pada 5 tahun (2010-2014) adlah negatif atau minus Yang berarti kinerja RDS dibawah investasi bebas risiko. Apakah perhitungan risk free saya salah… jika mbak sudah menemukan jawabannya, jika mbak berkenan…saya mohon untuk membagi infrmasinya agar penelitian saya tidak keliru mbak. Terimakasih banyak 🙂

    Like

  32. selamat malam bapak Rudiyanto,
    maaf kalau menggangu. Saya mau tanya pak kalo dari metode sharpe, treynor, jensen yang mana sih yang bisa jadi pegangan dalam dalam mengevaluasi kinerja reksadana ?

    Like

  33. @adi
    Salam Pak Adi,

    Kalau anda adalah seorang mahasiswa, saran saya anda bisa mencoba ketiga cara tersebut dan membandingkannya. Dari hasil perbandingan tersebut, anda bisa menyimpulkan mana yang paling baik dan alasannya.

    Semoga bermanfaat.

    Like

  34. Selamat sore pak.
    Pak, saya mau bertanya pak, jika kita ingin melihat pengaruh makro ekonomi terhadap kinerja reksa dana saham. maka metode apa yang paling baik kita gunakan untuk kinerja reksa dana saham pak ?
    terimakasih sebelumnya pak.

    Like

  35. @Riani
    Selamat Pagi Ibu Riani,

    Metode hanya cara. Namanya cara, bisa saja jalan di suatu periode tapi tidak jalan atau butuh pengembangan di periode lainnya. Kalau memang ini skripsi kamu, ya tugas kamu untuk tahu metode apa yang paling baik dengan melakukan berbagai pengujian.

    Semoga bermanfaat.

    Like

  36. @arif
    Salam Arif,

    Rumusnya sbb :
    1. Jalan kaki ke Perpustakaan Kampus
    2. Cari buku tentang Manajemen Keuangan, Investasi atau Statistik
    3. Buka halaman yang membahas tentang perhitungan Kovarian
    4. Coba aplikasikan di Excel sampai hasilnya sama dengan contoh
    5. Prosesnya diulang hingga berhasil

    Semoga berhasil

    Like

  37. pagi pak rudy,
    pak maaf, saya mau bertanya, apakah ada blog bapak yang membahas tentang capital asset allocation dan capital market line ?
    terimakasih pak…

    Like

  38. selamat siang pak rudy.
    maaf pak saya mau bertanya pak. saya sudah menghitung return saham pak, dan saya juga sudah menghitung resiko saham menggunakan metode VaR mean dan VaR zero. pertanyaannya bagaimana menghitung kinerja sahamnya pak.

    Like

  39. selamat siang pak rudi.
    pak saya lagi menyelesaikan tugas akhir tentang reksadana. saya masih bingung pak bagaimana cara menghitung stadar deviasi pada reksadana? apakah NAB per perusahaan reksadana di hitung petahunnya kemudian di bagikan dengan jumlah tahun? atau di kuadratkan saja retrunnya?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s