Menakar Efek Tapering dan Debt Ceiling Terhadap Reksa Dana

Kompas / Thinkstock

Akhir-akhir ini istilah tapering dan debt ceiling di Amerika Serikat banyak menjadi pembahasan di media massa. Kedua kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak negatif terhadap pasar modal. Bagaimana efeknya terhadap investasi reksa dana di Indonesia? Apa yang sebaiknya dilakukan investor?

Tapering

Saat ini, Bank Sentral Amerika Serikat melakukan program stimulus dengan membeli 120 Miliar USD per bulan dengan perincian 80 M untuk obligasi pemerintah dan 40 M untuk surat hutang swasta berbasis KPR. Tindakan ini dikenal dengan istilah Quantitave Easing (QE)

QE bertujuan untuk memastikan sumber pendanaan program pemerintah dan mencegah agar bank tidak sampai mengalami kesulitan likuiditas. Pencegahan atas risiko likuiditas sangat penting, karena krisis keuangan yang besar biasanya dipicu ada bank yang kolaps karena kesulitan likuiditas

Dengan membaiknya perekonomian, maka stimulus dianggap sudah tidak relevan sehingga perlu dikurangi secara perlahan. Caranya pembelian obligasi berjumlah 120 M per bulan tersebut akan diturunkan bertahap dan ditargetkan menjadi 0 pada pertengahan atau kuartal 3 tahun 2022. Tindakan ini disebut tapering.

Ada kekhawatiran , stimulus yang berkurang dan hilang nanti ini akan membuat dana asing kembali ke negara asalnya sehingga menyebabkan gejolak pada harga saham dan obligasi.

Debt Ceiling

Istilah ini lebih mengacu pada batasan jumlah hutang yang boleh diterbitkan oleh pemerintah. Biasanya batasan ini ditetapkan dalam Undang-Undang, bisa berbentuk persentase dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) atau dalam nominal tertentu.

Amerika Serikat dalam Undang-Undang terakhirnya menetapkan batasan nominal yaitu USD 28.4 Triliun (setara Rp 404.700 T @ Kurs Rp 14.250 / USD). Saat ini batasan tersebut sudah hampir terlewati, sehingga jika UU tidak direvisi, maka pemerintah Amerika Serikat tidak dapat menerbitkan hutang baru.

Konsekuensinya bisa cukup gawat, ibarat perusahaan, tidak dapat dana lagi sehingga tidak bisa gaji karyawan dan melaksanakan kegiatan usahanya. Dalam konteks pemerintah, program pembangunan, gaji PNS, vaksin, bantuan sosial, layanan kepolisian, pemadam kebakaran, kependudukan, bea cukai dan sebagainya bisa berhenti.

Sebagaimana di seluruh dunia, persetujuan UU membutuhkan kesepakatan 2 pihak yaitu Eksekutif (Presiden) dan Legislatif (DPR – Senat), sehingga drama tarik ulur politik juga sering terjadi.

Dari kacamata investor, kondisi debt ceiling ini menjadi sentimen negatif untuk harga obligasi. Karena jika mau menerbitkan yang baru, bunga harus lebih tinggi baru menarik bagi investor. Untuk obligasi yang sudah terbit, dampaknya adalah penurunan harga.

Mengapa berdampak terhadap pasar modal Indonesia?

Kedua sentimen di atas, secara spesifik berdampak negatif bagi harga obligasi di Amerika Serikat. Karena merupakan perekonomian terbesar di dunia, turunnya harga obligasi di Amerika Serikat juga turut berdampak terhadap harga obligasi di Indonesia menjadi ikut turun.

Kondisi ini juga diperburuk oleh tingginya inflasi yang disebabkan tingginya harga batu bara, minyak, sawit dan berbagai komoditas lain yang meningkat pesat beberapa bulan terakhir. Secara teori, inflasi yang tinggi juga akan menyebabkan sentimen negatif terhadap harga obligasi.

Dalam konteks reksa dana, dampak ini akan dirasakan bagi reksa dana pendapatan tetap, reksa dana campuran dan reksa dana USD yang berinvestasi pada obligasi pemerintah baik yang mata uangnya Rp maupun USD.

Bagaimana dampaknya terhadap harga saham? Pergerakan harga saham dan obligasi di Indonesia terkadang tidak selalu searah. Sebagai contoh ketika saham turun di 2020, harga obligasi malah naik. Sehingga jenis reksa dana pendapatan tetap masih membukukan return positif pada tahun lalu.

Meski demikian, dalam jangka pendek, sentimen tapering dan debt ceiling ini bisa menjadi sentimen negatif untuk harga saham. Misalkan jika pengurangan stimulusnya dilakukan terlalu agresif atau terjadi deadlock dalam diskusi revisi Undang-Undang di Amerika Serikat, harga saham bisa turun.

Tapi ya namanya juga saham, sentimen yang berpengaruh sangat banyak. Sentimen positif dari kinerja laporan keuangan yang membaik, IPO saham teknologi besar seperti GoTo, harga komoditas yang baik, bisa dengan cepat membalikkan arah pasar.

Jadi efeknya memang lebih kepada reksa dana yang berinvestasi di obligasi seperti reksa dana pendapatan tetap dan campuran. Untuk reksa dana saham, sifatnya lebih sentimen sesaat saja.

Apa yang sebaiknya dilakukan?

Sebagai pengelola dana, terutama reksa dana yang berbasis obligasi, bukan berarti semuanya buruk. Beberapa strategi antisipasi tetap dapat dilakukan seperti dengan cara membeli obligasi korporasi, membeli obligasi pemerintah jangka pendek, dan mengoptimalkan penempatan pada deposito.

Secara historis, harga obligasi korporasi relatif stabil. Jadi reksa dana pendapatan tetap dengan bobot obligasi korporasi yang lebih besar, dapat menurunkan risiko fluktuasi harganya. Dan ketika harga obligasi pemerintah sudah turun cukup dalam, bisa menjadi kesempatan beli di harga murah.

Untuk reksa dana campuran yang ada porsi saham dan obligasi, bobot di saham akan lebih diandalkan untuk mencari keuntungan di tahun mendatang. Sentimen untuk obligasi memang sedang kurang baik, tapi untuk saham sebaliknya.

Pemulihan aktivitas masyarakat setelah vaksinasi, tingginya harga komoditas dan insentif pajak dari pemerintah, bisa mengangkat perekonomian di kota besar dan daerah sehingga kinerja perusahaan diperkirakan bisa lebih baik.

Untuk investor reksa dana, bisa mempertimbangkan untuk memperbesar bobot di reksa dana yang berbasis saham sambil melakukan diversifikasi pada jenis reksa dana lain sesuai dengan profil risiko, tujuan investasi dan kondisi keuangannya.

Untuk anda yang konservatif, investasi di reksa dana berbasis obligasi tetap dapat dilakukan namun ada baiknya memilih yang ada kombinasi antara obligasi pemerintah dan korporasi.Semoga bermanfaat.

6 thoughts on “Menakar Efek Tapering dan Debt Ceiling Terhadap Reksa Dana

  1. pantesan rekasadana pendapatan tetap turun yang berisi ORI turun , penurunannya sudah sangat lama..
    sementara reksadana yang koperasi adem2 saja…
    boleh minta grup telegram Pak ?

    Terima kasih Pak Rudiyanto,

    Like

  2. Berarti strategi utk rdpt berbasis obligasi pemerintah utk yg belum punya, jangan masuk dulu ya pak sampai akhir tahun ini (harga cenderung turun).

    Yg udah punya, bisa lepas dulu, nanti masuk lagi setelah harga rdpt obligasi pemerintah mulai reversal dari bottom setelah tapering.

    Kira2 apa bisa begitu strategi nya pak?

    Like

    1. Menurut saya, jawabannya bisa bervariasi tergantung bbrp hal
      1. Apakah niatnya memang utk beli dan jual berdasarkan Yield atau niatnya pegang lama katakan 3-5 tahun krn sesuai profil risikonya

      Waktu mau dieksekusi, yield sudah berapa. Bisa saja harga obligasi mahal, wajar, murah.

      Kalau jualnya waktu sudah murah kan salah juga. Idealnya dijual pas lagi mahal2nya.

      Tidak ada yg bisa jamin 100% harga obligasi akan turun dalam setelah tapering, bisa saja harganya malah terus naik. Dan ketika momen utk beli obligasi sudah sampai, kadang2 orang jg tidak eksekusi

      Menurut saya, mau lakukan yg di atas silakan, tapi buy and hold dgn melakukan diversifikasi juga boleh
      Semoga bermanfaat

      Like

  3. Makasih masukannya pak.

    Pemahaman saya pembentukan nab rdpt obligasi pemerintah mengacu pd harga underlying obligasi pemerintah yg ada di porto nya. Nab bisa turun terus terlepas pembagian kupon yg rutin diterima oleh rdpt tsb.

    Jd kalo mau pegang utk jangka >1 thn, yg lebih pengaruh kpd nab rdpt obligasi pemerintah adlh harga underlying obligasi pemerintah (yg saat ini potensi harga dipengaruhi oleh tapering dan kecilnya kemungkinan turunnya lagi suku bunga perbankan), sehingga potensi upside rdpt obligasi pemerintah menjadi sudah sangat terbatas.

    Apa runtutan pemikiran saya sudah tepat? Mohon pencerahan pak

    Like

    1. Menurut saya efek tapering itu di awal saat pengumuman saja

      Utk ke depannya adalah lebih kepada inflasi dan kebijakan suku bunga. Bisa saja ada situasi yg menyebabkan situasi berbalik

      Contoh 2020 lalu, sudah bahas tapering, kenaikan bunga dll. Eh datang pandemi, malah obligasi pemerintah jadi salah satu asset class yg terbaik di tahun lalu.

      So.. tidak ada yg pasti di dunia investasi.

      Mau melakukan jual beli scr aktif silakan, aset alokasi juga tidak kalah bijaksana

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s