
MSCI sudah…
FTSE juga sudah…
Nah di Juni 2026 ini giliran Market Vector atau lebih dikenal dengan nama GDX (Global Gold Miner) dan GDXJ (Global Gold Miner Junior).
Nah seperti apa dampak ke saham produsen emas Indonesia?
Studi Kasus AMMN
BUKAN REKOMENDASI BUY SELL HOLD
Per 29 Mei 26, VanEck Gold Miner ETF berbasis GDX mengelola USD 27.13 Miliar ~ Rp 482.9 Triliun. Hanya ada 2 saham Indo AMMN (0.44%) dan BRMS (0.42%) dengan total sekitar Rp 4 T. Kepemilikan VanEck tercatat dalam data >1% yaitu setara 2.29% di BRMS per Maret 26.
Kemudian pada VanEck Junior Gold Miner ETF berbasis GDXJ mengelola USD 8.65 Miliar ~ Rp 153.9 T. Ada 4 saham yaitu BRMS 0.99%, EMAS 0.94%, ARCI 0.11%, dan PSAB 0.03% dengan total sekitar Rp 3.18 T. BRMS masuk di GDX dan GDXJ. Kepemilikan VanEck Junior setara 1.33% per Maret 26.
Jadi untuk saham berbasis emas, kemungkinan yang bisa terjadi adalah
1. Masuk di GDX saja
2. Masuk di GDXJ saja
3. Masuk di GXX dan GDXJ
4. Turun dari GDX ke GDXJ
5. Naik dari GDXJ ke GDX
Nah untuk review Juni 26 ini, bagaimana AMMN?
Mengingat YTD hingga Mei 26 sudah -48.64%
Tanggal penting terkait dengan GDX dan GDXJ adalah
Pengumuman : 12 Juni 2026
Efektif : 19 Juni 2026
Mungkin masih baru, jadi antara penguman dan dan efektif cuma selisih 1 minggu. Jika jatuh pada hari libur, maka ke hari kerja berikutnya.
ETF yang berbasis GDX dan GDXJ tidak banyak, pemain utamanya yaitu VanEck yang juga menjadi pemilik daripada Global Index Provider yang menghitung GDX dan GDXJ.
Untuk studi kasus AMMN, yang ingin diketahui ada 2:
1. Apakah bertahan di GDX?
2. Apakah masuk di GDXJ?
Untuk GDX, proses seleksi berdasarkan dokumen resmi adalah sebagai berikut :

Hanya ada 5 tahap, paling sederhana dan to the point dibandingkan MSCI dan FTSE
Member baru : Masuk Top 85%
Member lama : kisaran 85% – 98% tetap bertahan
Acuannya Free Float Market Caps
Saat ini “Universe” daripada GDX dan GDXJ ada 122 saham
Dengan asumsi tidak ada tambahan saham baru, maka ranking AMMN dalam universe 122 saham berdasarkan data akhir Mei 2026 sebagai berikut :

AMMN di 89.95%, apa artinya?
Artinya AMMN TETAP Stay di GDX karena range 85 – 98%
Dalam menghitung Free Float Market Caps di atas, data Free Float AMMN disediakan oleh provider GDX dan GDXJ adalah sebesar 20%.Sementara jika menggunakan data >1% dan standar yang sama dengan MSCI, bisa turun ke sekitar 11.1%. Tapi menurut saya GDX/GDXJ akan tetap pakai 20% sesuai data publik. Sebab kebijakan free floatnya itu yang paling longgar, bahkan saham PSAB yang Free Float aslinya 7.5%, tetap dihitung 10% dan eligible dalam GDXJ. Kemudian sekalipun datanya jadi 11.1%, peringkat dari AMMN masih masuk dalam range 85-98%.
Apakah bobotnya akan naik atau turun?
Harga untuk penentuan bobot adalah per 10 Juni 2026. Untuk posisi akhir Mei 2026, digunakan sebagai dasar untuk menentukan saham baru masuk dan saham lama keluar. Jadi bisa dipastikan AMMN pasti stay di GDX, tinggal bobotnya saja.
Apakah AMMN bisa masuk ke GDXJ?
Khusus GDXJ aturannya agak beda. Kalau di GDX pakai Free Float Market Caps, maka di GDXJ pakai Full Market Caps.
Ketentuannya
Member Baru : kisaran 60 – 98%
Member lama : kisaran 55-60% dan 98 – 99% tetap bertahan

Per akhir Mei 26, peringkat full market caps 122 saham GDX dan GDXJ sebagai berikut :

AMMN di 68.76%, apa artinya?
Good News, AMMN berpeluang besar masuk ke GDXJ dan memperoleh inflow dari ETF tersebut. Asumsi data Free Float 20% dan tidak ada tambahan baru dalam universe GDX dan GDXJ.
Seandainya skenario di atas terjadi, maka saham AMMN adalah BERTAHAN di GDX dan Masuk ke GDXJ. Seiring dengan turunnya harga signifikan sejak awal tahun, bisa saja ada penurunan bobot di GDX, tapi perlu diingat acuan harga untuk bobot per 10 Juni. Berlaku juga untuk bobot GDXJ.
Perhitungan saya di atas bisa salah. Tapi jika benar, setidaknya ini menjadi good news di tengah begitu banyaknya lautan bad news di pasar modal Indonesia.
Bagaimana dengan saham lain seperti BRMS, EMAS, ARCI, dan PSAB?
Bisa cek nanti di versi IG Subscription
Have a nice day

Tinggalkan komentar