
Menurut saya, HSC versi baru IDX yang memasukkan Price Impact Ratio berpotensi menjadi “obat mujarab” bagi concern MSCI. Peluang freeze dicabut pada November 2026 ini pun terbuka, tetapi tantangan berikutnya lebih sulit, cut-off atau batasan market size yang terus meningkat.
Masuk HSC tidak berarti melanggar aturan, hanya saja kepemilikan terkonsentrasi pada sekelompok orang sehingga risiko likuiditas dan fluktuasi harganya tinggi. Risiko likuiditas adalah perhatian utama global index provider seperti MSCI dan FTSE, mereka mau daftar saham acuan yang diterbitkan itu investor asing bisa entry dan exit dengan leluasa pada harga yang wajar. HSC memudahkan global index provider, tidak perlu cek manual data kepemilikan 1% untuk mengecek validitas free float.
Dengan Price Impact Ratio, saham masuk HSC dari hitungan jari menjadi 51. Dari 51 saham HSC berdasarkan data 23 Juli 2026, total Kapitalisasi Pasarnya mencapai Rp 3002 T atau sekitar 27.15% dari semua saham di IHSG, artinya hampir 1/3 dari Market Caps IHSG ternyata dimiliki hanya sekelompok investor saja meskipun belum tentu mereka terafiliasi.

Dalam konteks perhitungan IHSG yang menggunakan Free Float Adjusted Market Capitalization mencapari Rp 474 T atau sekitar 17.28% dari IHSG. Artinya ketika MSCI melakukan seleksi, sekitar 27% atau 51 perusahaan bisa langsung dilewati, karena untuk bisa masuk syaratnya harus lepas dari status HSC, Foreign Inclusion Factor (Free Float versi asing) minimal 15%, dan menunggu 1 tahun. Itupun masih ada pertimbangan subjektif dari MSCI. Jadi akan cukup lama bagai saham HSC untuk bisa masuk kembali.
Apakah mungkin status freeze dicabut lebih cepat mengingat pengumuman daftar saham HSC baru ini di bulan Juli 2026?
Semua kemungkinan ada, meskipun menurut saya relatif kecil. Sebab timingnya terlalu dekat dengan jadwal Agustus, lebih mungkin di November nanti.
Namun apakah setelah status freeze dicabut, akan ada saham-saham Indonesia non HSC dan non member MSCI yang akan masuk jadi anggota?
Nanti dulu, tetap ada kriteria seleksi MSCI mulai dari size, likuiditas, extreme price increase, frequency of trade, dll yang harus dipenuhi.
Untuk size ada 2 kategori :
– Company Size (Full Market Caps) : Harga x Lembar
– Security Size (Free Float Market Caps) : Harga x Lembar x Free Float
Setiap periode review, MSCI selalu menentukan cut off minimal agar bisa masuk yang angkanya berubah dari waktu ke waktu.
Contoh berdasarkan dokumen MSCI Juli 2026, ketentuan Cut off Emerging Market Caps yang berlaku untuk evaluasi Mei lalu adalah :
– Full Market Caps USD 3,937 Miliar ~ Rp 70.8 T
– Free Float Market Caps USD 1,969 Miliar ~ Rp 35.4 T
Perhitungan di atas dengan asumsi kurs Rp 18.000

Untuk yang Agustus 2026 ini, pada saat konten ini dibuat, kebetulan belum ada. Kemudian berdasarkan data-data dokumen lama yang dikumpulkan, angka historis dari Nov 2022 Hingga Mei 2026 sebagai berikut :
Angka Free Float Mcaps
Nov 22 ~ Rp 13.9 T
Nov 23 ~ Rp 16.85 T
Nov 24 ~ Rp 21.88 T
Nov 25 ~ Rp 29.79 T
Mei 26 ~ Rp 35.21 T
Untuk November 2026 nanti bukan tidak mungkin angkanya bisa mencapai Rp 39-40 T karena faktor kurs dan angka yang terus meningkat.

Sebetulnya angka cut off ini tidak selalu meningkat. Ada periode dimana Feb 2025, cut off Free Float Market Caps dari USD 1,544 Miliar menjadi USD 1,482 Miliar. Angka cut off itu menggunakan distribusi normal dari seluruh saham dalam universe MSCI, kalau harga saham seluruh dunia naik, maka cut off akan naik, dan sebaliknya. Sebagai informasi ada 2 periode yaitu Agustus 2023 dan November 2024, dimana saya tidak menemukan datanya sehingga menggunakan asumsi sama seperti sebelumnya.
Baru-baru ini beredar di sosial media ada emiten DEWA yang merayakan masuk dalam IDX30 dan Konsisten di LQ45.

Dengan harga Rp 444 :
Full Market Caps : Rp 18 T
Free Float Mcaps (49.83%) : ~ Rp 9 T
Katakan untuk bisa masuk dalam MSCI Standard (kategori medium dan large caps) dengan cut off Mei 2026, berarti :
Market Caps ~ Rp 70,5 T
Free Float Market Caps ~ Rp 35.2 T
Artinya harga saham harus naik sekitar ~ 291%.
Kenaikan setinggi ini, apabila terjadi dalam waktu singkat, akan kena pasar Extreme Price Increase. Jadi untuk bisa masuk dalam MSCI Standard, dalam waktu dekat tampaknya sangat sulit, tapi kalau makin lama cut off akan terus bergerak naik.
Kondisi ini tidak hanya dihadapi oleh saham DEWA, tapi juga emiten-emiten lain di Indonesia yang ingin masuk MSCI. Namun di satu sisi, batasan yang tinggi ini juga bagus. Kalau berhasil masuk secara organik, berarti ini benar-benar perusahaan berukuran besar dan sahamnya aktif ditransaksikan.
Semoga semakin banyak emiten Indonesia yang bisa masuk MSCI dan FTSE.
PENYEBUTAN SAHAM BUKAN REKOMENDASI BUY SELL HOLD

Tinggalkan komentar